Selasa, 16 September 2014

Opinion : 100 PERSEN INDONESIA !




"Tantangan yang kita hadapi sangat berat", kata Pak SBY dalam pidato pertamanya sebagai Presiden RI yang ke-6.

Beratnya tantangan kita sebagai Bangsa Indonesia ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa sebagai Bangsa kita masih menghadapi : (1) Rendahnya kualitas keberagaman dan karakter; (2) semakin terkikisnya nasionalitas, rasa persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia; (3) masih rendahnya kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan; (4) masih rendahnya tingkat kecerdasan, keterampilan hidup, dan competitiveness untuk menghadapi persaingan global yang dipimpin oleh para innovation regime; (5) masih rendahnya budaya keunggulan, baik belajar dan berbagai turunannya, budaya tertib hukum, budaya kualitas, kerjasama, kerja keras, dan kerja cerdas, team-net, profesionalitas, pelayanan, apresiasi, hemat dan menabung, wiraswasta, dan lain sebagainya; (6) masih rendahnya kualitas kebudayaan Bangsa ini, terutama menyangkut pola pikir, pola sikap, dan nilai yang sesuai dengan tuntutan perubahan dan tangguh dari pengaruh-pengaruh negatifnya.

Sementara itu, birokrasi pemerintahan kita pun masih jauh dari profesionalitas, pelayanan, transparansi, dan akuntabilitas, Sehingga tingkat korupsi sangat dan kian tinggi. Dan itu justru terjadi di negara yang sedang dilanda badai krisis.

Dengan begitu, Indonesia bukan lagi negara korupsi, tapi sudah menjadi negara kleptokrasi. Negeri yang produktif dalam jual beli hukum, negara yang para penguasanya hanya menjadikan jabatan dan kekuasaan semata-mata untuk memperkaya diri, keluarga, dan kelompok kepentingannya.

Dengan miris kita lihat bersama, perusakan lingkungan baik legal maupun ilegal, pencurian kayu, pembakaran hutan, asap-asap meracuni hingga mengganggu stabilitas negara tetangga, itu semua terus berlanjut seperti tak bisa dihentikan, menambah coreng-moreng wajah kita di hadapan warga dunia. Persoalan ini sudah mencapai tahap yang harus diwaspadai. Lalu apalagi yang akan kita andalkan guna perbaikan masa depan Bangsa Indonesia ?

Di sisi lainnya, kita didesak oleh ekonomi pasar dan globalisasi oleh negara-negara Barat yang bukan rahasia umum sarat akan kepentingan penguasa modal yang kapitalistik, rakus bahkan predatorik. Di tangan mereka yang tak memiliki hati nuranilah sesungguhnya proses peminggiran, dehumanisasi, pemiskinan, dan pembodohan bisa efektif, dengan mengatasnamakan negara, pembangunan, bantuan dan kerja sama internasional. Di tangan mereka pula imperialisme dan terorisme ekonomi, politik, budaya dan gaya hidup global serta negara kuat atas negara lemah berjalan sangat mulus, nyaris tanpa perlawanan.

Lalu bagaimana ? Mau dibawa kemana Bangsa kita ? Yang terpenting yang harus kita perhatikan bersama, Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa kita sudah 69 tahun merdeka dan berdaulat, kita ini 100 PERSEN INDONESIA !

Senin, 15 September 2014

Puisi : Absurditas Otak



Malangnya, kini penghargaan berbentuk materialitas dan hedonitas
Akibatnya hulu hingga hilir termakan kapitalisme
Eksploitasi konsumerisme

Batas-batas tak lagi dipandang
Teori sebab-akibat hanya angin lalu
Hutan terbakar, api dan asap bukan barang baru

Kini mistikalitas dan spiritualitas terabai
Makna hidup nan fitri tak lagi berarti

Eksistensialis yang tak pernah setuju
Melenggang maju
Berkawan debu
Tak gentar walau peluru melaju






Saat alam dan budaya direka-reka
Penuh terka
Segala bentuk kehidupan hanya tinggal sisa
Bencana dan kepunahan kian tiba

DIMANA OTAK KITA ?!


Puisi : Responsi Pribumi


Jika kau tanya, inilah abad ketidakpastian
Hutan tak dikenal
Kawasan tak terpetakan
Tak terduga

Semuanya penuh argumentasi
Membuat bulu kuduk berdiri

Sebagian lagi, masih dengan asa terkonfrontasi

Tentang seberapa cepat sifat dasar bisnis akan berbuat
Tentang seberapa cepat hutan akan menjadi obyek transaksi
Menciptakan penciutan skala

Atas nama otomatisasi, efisiensi dan restrukturisasi
Tanpa memandang interaksi
Kita dengan bumi

Milenium revolusi
Penuh konsekwensi

Kita berada pada tepi-tepi api penuh milisi
Korban globalisasi penuh teori, basa-basi tanpa solusi

Ideologi tak lagi berarti
Hanya jual-beli
Hingga asap-asap membumbung tinggi
Kau tak peduli






Jumat, 25 Juli 2014

Puisi : Engkau dan Sekumpulan Syair


Engkau,
Oase untuk musafir
Sepotong awan putih di langit

Engkau,
Tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang penuh kasih sayang
Menantikan hanya sebuah senyum

Kau penuhi cakrawala dengan kata-kata indah
Kehidupan yang hidup dalam kehidupan
Menaklukkan abad demi abad termasuk tirainya

Rabu, 09 Juli 2014

Puisi : Palestine


Kinilah waktunya
Biarkan lelap membaringkan ragaku
Cinta ini merenggut jiwaku
Biarkan aku menutup mata
Beristirahat dalam diam
Damai

Siang dan malam bersatu dalam batin
Lilin-lilin kecil menyala di atas tanah nan suci
Melati dan mawar bertebaran
Wanginya kian semerbak
Sayup-sayup tangisan memecah hening

Isyarat ini jelas
Terlukis di dahiku

Biarkan aku istirahat
Kedua bola mataku telah teramat lelah
Ku tak sanggup membiarkan sajak-sajak kalian meronta
Bersautan
Bibir bergetar penuh getir

Terbangkan dawai harpa
Menyingkap tabir lara

Nyanyikan lagu juang itu
Dendangkan kedamaian
Kobarkan semangat
Masa-masa pilu menjadi sampul harapan

Menyimpan makna ghaib yang begitu lembut
Selembut alas tempatku terbaring

Tegakkan kepalamu, tajamkan lagi pandang matamu
Seperti bunga-bunga yang menyemai jemari
Menyambut fajar pagi hari

Maut itu kini berdiri gagah di sampingku
Berada di celah antara nadi dan cahaya mentari

Cium mataku dengan senyummu yang tulus
Biarkan jemari merah jambumu membelai rambut-rambut usangku
Ku mohon

Dedebuan di dahiku yang akan menjadi saksi
Bayangan maut dari mataku
Gema takbir, tauhid dan kisah heroik kita
Biarlah abadi bersama hembusan nafas ini

Demi Palestina yang agung

Rabu, 25 Juni 2014

Puisi : Melodi


Aku di sini, wahai melodi yang cantik
Sambutlah naraku
Impianku yang mengajawantah
Dan hakikat harapanku

Peluklah aku, wahai melodi syahdu
Kekasih jiwaku

Engkau kolam yang sejuk
Pikulan buah ranum bagi hati yang lapar
Kau adalah sepotong awan putih di langit

Membuka kelopak mataku
Seberkas cahaya yang tak kunjung padam
Tak terliput gelap malam
Tak lerlipat padang gersang

Kau tundukkan abad demi abad bersama tirainya
Kehidupan dalam kehidupan
Telah sampailah kini di keabadian

Selasa, 10 Juni 2014

Puisi : Resah


Damai, tak abadi
Ia punya angan sendiri
Duniawi
Terpisah di ujung bumi
Jiwa kan tetap di hati
Sampai mati
Menyeret kita ke haribaan Ilahi

Nyanyikanlah keindahan
Niscaya kau didengar

Tangisan hati
Mengetuk lirih
Nestapa merana
Merangkak
Terseok-seok

Tercampakkan dalam diam
Padam

Kamis, 05 Juni 2014

Puisi : Lafadz Suci


Cinta
Sebuah tunas jiwa yang mempesona
Dalamnya tak terselami
Tingginya tak terdaki

Hati keabadian tersentuh
Kebebasan yang menyendiri
Menghidupkan kehidupan

Hukum manusia
Gejala-gejala alami
Tak mampu bendung jalannya

Jikalau tak sekarang
Mungkin nanti

Cinta
Kesesuaian jiwa
Bukan sekedar budaya

Terbalut dalam kerendahan hati
Sucinya jiwa
Terangkai rapi dalam hari yang asing
Begitu bahagia
Congkak meradang di balik pahit nan misteri

Rabu, 04 Juni 2014

Puisi : Menuai Cinta


Tenunan kasih yang kau rajut
Penuh hasrat
Berbincang akan kebebasan

Aku akan berjalan
Bersama engkau yang berjalan

Lelaguan hati
Tegap bersenandung
Walau beratap mendung

Kata-kata ini abadi bersama kita
Bukan sebuah kebenaran
Hanya kebodohanku
Kehormatan pun menyela

Takkan pernah kau tuai aku
Hingga kau rasakan perih getir perpisahan
Kesabaran yang pahit
Kerinduan yang membunuh

Sebab derma Tuhan senantiasa menanti
Kala kau duduk manis di dalam rumahNya dengan penuh suka cita

Puisi : Syair untuk Tuhan

Kau suluh jiwaku
Sinari hampa dan sepiku
Tularkan keindahan dalam setiap palung gelap
Indah

Air mata terhempas
Kaulah aduan kebahagiaan
Ketakjuban

Kau ratu tanpa mahkota
Takhtamu nyata

Kau culik keajaiban dari surga
Berkicau merdu berselimut kasih
Kepakkan sayap-sayap penuh cinta

Kau buka tabir gelap
Kesedihan
Kepedihan

Keindahan
Keabadian yang termangu

Kau bukan lagi sangkar
Kaulah pilar-pilar istana

Irama nan merdu
Mengalun sayu
Menyeka luka
Merajut asa

Kaulah sekumpulan syair
Yang kutulis untuk Tuhan

Selasa, 03 Juni 2014

Puisi : Balada di Balik Jendela

Coba kau tanya aku
Tentang sebuah jalan yang berliku
Itulah cinta
Yang penuh syahdu mendekapmu

Dekap penuh rajam
Bengis mendekam
Suara tak lagi berkata
Hanya lidah yang menganga

Malam pun bersenandung
Menjelma irama tak berdawai
Pandang menerawang
Ke ujung khatulistiwa


Kisah romansa dan narasi memelas
Balada lisan yang terkikis embun

Jendela tua itu meronta
Rindu senyummu
Aroma kasihmu

Ia adalah alam yang dikecap oleh watak
Sesurat yang tersirat

Selasa, 20 Mei 2014

Puisi : Jiwa


Hari yang penuh kabut dan sangat dingin
Bait-bait suci penuh iba
Terangkai khusyuk dalam iman

Kematian menyeringai
di bawah singgasana penuh pujian

Syair, fasih mengecam
Dipertalikan khusus
Membabi buta
Tanpa hati-hati

Sungguh beruntung keteguhan
Yang menyimpan rahasia bintang-bintang

Kau tetap manusia biasa
Fakir
Tidak pula agung
Hanya kalbu yang bercahaya
Tak menyisakan sedikitpun keraguan

Kala yang lain berbantah
Kau datang
Membawa perasaan jiwa tak terabaikan

Puisi : Finally

Kini adalah masa dimana semua kerumitan itu bertemu (lagi)
Sulit diprediksi
Cerminan dari unsur yang lain

Radiasimu memancar jelas
Menyederhanakan serpihan yang (sempat) hilang
Berbuah reaksi dan interaksi

Di dalamnya ada kita
Kita yang berpola
Esensi dari sebuah kisah klasik
Yang khas dan lebih khusus

Batas antar kita mulai kabur
Terlepas satu sama lain
Membentuk kondisi dengan skala keindahan dan kebahagiaan

Semuanya tertelaah dengan rapi
Relevan
Dan menjadi penting

Perasaanku terhantui
Ternafikan oleh logika sesat nan sesaat
Mendatangkan bencana

Rekayasa itu kau mulai
Dukaku adalah hipotesa lalu
Refleksi dari cintamu yang murni

Kau adalah faktor peubah
Sintesis dari kelana panjang
Runtuhkan batasan penuh teori
Sendiri...

Minggu, 18 Mei 2014

Puisi : An introduction


Bentuk keprihatinan di balik secercah harapan
Prinsip dasar dari sebuah stadia kehidupan
Menyelimuti hati

Deskripsi aktual tentang sajak dan prosa
Keadaan yang sesaat terbentuk, lalu berubah
Dinamis, dan sangat rumit.

Keadaan masa lalu
Sintesis klasik tentang karakteristik yang relatif
Sisi waktu yang terlepas satu sama lain

Rekayasa dan penuh kepalsuan
Cerminan dari sebuah unsur yang lain
Sulit diprediksi

Tingkah laku jiwa
Menyederhanakan ruang dan waktu
Esensi dari sebuah neraca peradaban

Semua berbatas
Mulai kabur dan samar
Terlepas satu sama lain

Hidup dan kehidupan
Variabilitas
Kini berinteraksi
Membentuk irama nan menghantui hati
Refleksi mekanistik dari sebuah batas logika dan perasaan.

Senin, 07 April 2014

Puisi : Babilonia


Musik itu mengisi udara antar kita 
Merasuki kesadaranku
Menuntunku
Menyatukan berbagai hal yang tak terkait

Prosa-prosa paradoksal meluncur
Tak terlisankan
Mencengangkan
Kata-kata tak berdaya

Cinta, bukanlah Tuhan yang dipersonalkan
Melainkan sebuah misteri transenden
Tak terselami

Sebuah kenyataan yang merona
Sebuah cerita esensial
Tentang sesuatu yang ada dari sebuah ketiadaan

Aku merasa kita berada di sisi-dalam Babilonia
Mencipta ulang surga yang hilang
Ketika tak ada ilalang yang dianyam
Tak ada dedebuan yang mengeruhkan air

Awan-awan tak lagi punya kuasa
Hanya Bulan, hanya Bulan

Merekah di antara bintang-bintang.

Jumat, 04 April 2014

Puisi : Wujud


Malam nan jujur
Membawa pencerahan
Pembebasan dari rasa sakit dan penderitaan
Surga suci kedamaian

Kebahagiaan dalam syair
Ribuan himne yang diwahyukan
Proposisi yang hanya punya satu arti
Kata yang tidak berambigu

Naik melampaui realita
Menghilangkan egoisme yang mencabik
Menghalangi kita dari nirwana
Semua orientasi hilang
Dan aku berada dalam kegelapan yang tak pernah ditembus matahari 

Kesadaran tentang cahaya
Harus tersandung-sandung

Bersama kerlip lampu kecil
Ditemani gugusan bintang yang membentang 
Kita mendapati banyak hal tampak terpisah
Gelap tak tertembus

Aku pun mulai gila
Mitos-mitos lama tampak acak
Mendekat, dan membuat candu

Segala sesuatu dapat dengan mudah tergelincir ke dalam ketiadaan
Namun setiap tahun, pohon-pohon menumbuhkan tunas baru 
Bulan pun demikian

Kau menjelma menjadi daya yang kekal
Terlihat, tersentuh, dan terdengar
Bagiku...

Kamis, 03 April 2014

Puisi : Hening


Seperti tragedi, ia menghadirkan kebahagiaan
Menantang analisis logis dan bukti empiris
Tafsiran yang dirasionalkan
Rasa ini kompleks

Sebuah langkah besar
Fakta yang tak pernah terbayangkan
Apa yang sebelumnya hanya ada di kuil-kuil bawah sadar
Tatanan suci tak terlukis

Dari ketiadaan
Mencoba melangkah
Melampaui kata-kata dan sensasi
Mengemas dimensinya yang abadi, kekal
Sehimpunan kebenaran kasih sayang
Seolah menjelma dari kedalaman bebatuan

Kini tak lagi gelap
dapat dipahami, bahkan masuk akal
Terpaut, merayap dari dalam peti mati

Seperti langit
Menjulang, makna batin dari semua keberadaan

Kamis, 06 Maret 2014

Puisi : Yang Tertanam


Burung-burung di dalam sangkar...
Memperkuat ingatan itu...
Kita  berada di tepian tipis ini...
Kisah klasik yang tak runtut...
Sebuah intelek abstrak yang tak tersembuhkan...

Bahkan kau bertahan sebagai residual lain...
Sebuah konsonan yang bermakna...

Panah sudah ada di sampan...
Mungkin ini pesta-perang...
Jejak-jejak tak terhitung banyaknya...
Tak bernyawa...
Pray, Love, Remember...

Naramu tersimpan rapi...
Bermetafora dalam memoriku...
Konteks yang tak terkondisi...

Maknamu eksplisit...
Seperti awan...


*Last but not least, 
"Kebahagiaan adalah silau. Ia terkatung-katung, kemudian jatuh. Tertanam di bawah roda kehidupan."
dariku untukmu, 'Renyta Ayu Putri'.

-Muchammad Thoyib Achmad Salim-

Selasa, 04 Maret 2014

Puisi : Belum Ada Judul



Matahari masih terang ketika aku tiba di rumah...
Aku mengangguk dengan pasti...
Ku ambil buku catatan harian yang ku simpan di atas lemari kayu tua...
Mulai ku tuliskan beberapa prosa tentangmu...

Doa dan kalimat-kalimat panjang tak karuan...
Ku pastikan sampai ke tangan Tuhan...
Dan, akhirnya tibalah senja...
Rasanya tak cukup hanya sekali...

Berbaris tanyaku tentangmu...
Cukuplah sekali itu, ya sekali itu saja...
biarkanlah kisah kita tergerai begitu saja...
Pandangan kosong anak 8 tahun...
Meringkuk menahan isak itu...
Memandangmu terus meniup gelembung-gelembung kecil...
Takdir kan jadi milikmu...
Bersama peri-peri kecil...

Pohon cemara itu berada di tepi jalan...
Tentu saja bersama petikan gitar...
Tak perlu waktu lama menyadari aku mengambang...
Aku melayang di tengah kehampaan...
Di tengah riuh doa, aku ingin menangis, mungkin sekali saja...

Bulan-bulan berlalu tanpa terasa...
Namun kebisingan itu mendadak berhenti...
Aku terus menulis, seakan otakku menjelma menjadi sungai...
Sungai tak berhilir...
Setiba di rumah, ingatan tentangmu tak kunjung lepas dari benakku...

Mataku pun tak bosan mengamati rembulan malam ini...
Rasanya penuh dengan bunga warna-warni...
Ukiran-ukiran itu muncul saja di otakku...
Barulah hatiku merasa lega, sangat lega...


BERSAMBUNG.....

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading