Kamis, 23 Februari 2017

Puisi : Lonceng Syahdu dari Tuhan


Bukan sekedar tangkai bergelombang, 
Perumpamaan klasik yang entah sejak kapan terhayati

Seganku bermalam di peluh wajahmu,
Takutmu tertahan dalam tiap senyumanku, 
Nafasku satu-satu meniti rindu

Naifku bersama menjemput janji, 
Sungguh prasangkaku tak cukup picik memilah ini daya atau damba, 
Hingga ia berbuat seenaknya

Bentuk bakti teruji, 
Berbagi tak kenal henti, 
Tinggi rendah terjembatani

Bisikku, 'Maha Besar Tuhan', 
Puji-pujian larut dalam tangisan, 
Panjatan syukur terabadikan, 
Perbedaan pun terabaikan

Dari celah hujan, ku menampik, 
Siasati enggan yang perlahan memekat

Menjelang pagi ku nikmati,
Rintihan mimpi penuh jeruji

Kini ruam-ruam awan meredam, 
Mencari-cari tanya di sulaman malam-malam, 
Aku melintang,
Mengingat kematian

Jasad-jasad kotor tetaplah menumpang, 
Melepas ikhlas, 
Menahan haru

Ku tengok waktu, 
Sujudmu datang mewasiatiku

Beberapa pekan berlalu, 
Lonceng syahdu membangunkanku
Previous Post
Next Post

0 Comments:

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading