Jumat, 12 Mei 2017

Cerita Pendek : Mungkin

Maulid menyendiri di dalam tenda
Maulid menyendiri, aku panggil dia,"Dek Maul (ma-ul), jangan hapean terus di tenda!". Sontak dia menolehku dan kubalas dengan gestur wajah dan mata menunjuk ke Atun.

Atun yg sedari tadi ngomel gak karuan, gara-gara lihat Masrun mlungker menggigil kedinginan. "Minum antangin lo Mas!, ini pake koyok!, tak bikinin teh panas ta?! Apa pakai jaketnya si Maul mas?! Di double in lo Mas". Aku ketawa lihat ekspresinya, tapi Atun makin girang ngomelnya. Ya mungkin itu cara tuhan menghangatkan badannya.

Atun yang ekspresif
Mendengar omelan Atun, jadi ingat ustadzah saya dulu pas masih ngaji, namanya Doktor Harini. Beliau menjabat KaDept di sebuah instansi, dan kebetulan juga pengurus HTI, yang jauh lebih tua dari ustadz Siauwmy. Seharusnya hanya konsultan skripsi, tapi malah jerawat, baju, hobi, dan asupan gizi yang dibenahi. Mungkin itu cara tuhan mewakilkannya kepadaku sosok Umi. Salam rindu ya ustadi...

Sembari ngudeg kopi tubruk, aku ganti bilang ke Atun,"Tun, biarkan saja Masrun tidur. Mungkin memang yang dicari hawa dinginnya". Atun menjawab nada melas kasian,"Gak tega Lib, kan kasian, lihat Masrun gemeteran".
Kenampakan geografis
Gunung Penanggungan 

Maulid nyeletuk nimpali Atun,"Masrun itu sudah jaketan, pakaiannya kering, beralas matras dan di dalam tenda. Minimal sudah anget, kalau masih menggigil kedinginan ya normal saja. Itu kan proses alami tubuh manusia. Lha kalau di surabaya? Mau orang-orang jaketan, pasang AC belasan, sampek Budhe Risma nandur pohon di jalan-jalan tetap saja sumuk kepanasan". Aku nambahi,"Ketebalan lemak juga pengaruh hahaha, ya wes nih kopi tubruk buat anget"an."

"Rame ae lur", masrun kebangun. Mungkin itu cara Tuhan membangunkannya, dengan berisik obrolan kami dan aroma kopi.

Selesai bercengkrama, aku melihat dari ketinggian deretan tenda-tenda. Aku langsung ingat, jika cermat dilihat, antara pos 1 sampai 4, geografis tanahnya bertingkat rapat. Pohonnya juga berjajar rapi dekat-dekat. Mungkin dulu pernah ada yang ngerumat, atau gunung sendiri yang membuat? Ah masak bumi itu hidup dan menjalankan syariat?!.
Dari kiri: Atun, Maulid & Tholib
Bersiap untuk turun dari Puncak Pawitra
(Dijepret oleh Masrun yang baru bangun tidur)

Memang, aku pernah mendengar sebuah kisah. Ketika perang Uhud, Rasulullah saw dan pasukan pemanahnya yang teledor, kalah. Melihat Rasulullah saw bersimbah darah. Para malaikat marah dan Bumi ikut bersumpah,"Jika menetes satu titik darah Rasulullah saw jatuh ke tanah. Akan kubalikkan gunung-gunung dan aku hantamkan ke pasukan kafir hingga luluh lantah". Rasullulah saw memohon merendah, mendoakan si kafir segera mendapat hidayah. Mungkin itu yg dimaksud bisyafaati Rasulillah.


-Ditulis oleh Tholib-
Previous Post
Next Post

0 Comments:

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading