Kurban sebagai Momentum Kebangkitan

Hari raya Idul Adha telah kita songsong bersama. Setelah shalat Ied, hingga tiga hari berikutnya, umat Islam yang memiliki kecukupan finansial dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban, baik berupa unta, sapi maupun domba.


Syariat ini merujuk pada puncak kepatuhan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Melalui sebuah mimpi, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra kesayangan yang telah lama ia nantikan kehadirannya. Mimpi yang datangnya berulang kali itu, ia yakini sebagai sebuah firman yang harus dilaksanakan segera. 

Dari riwayat inilah, terdapat sebuah esensi bahwa berkurban sebenarnya adalah bentuk dari pemenuhan salah satu perintah syariat (Allah). Esensi tersebut juga termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 1-3 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat tersebut kemudian dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Barang siapa yang memperoleh kelapangan, namun ia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.”

Namun, melihat situasi bangsa kita yang sedang dihadapkan pada kondisi yang memprihatinkan, di tengah semakin bertambahnya masyarakat yang sengsara sebagai dampak pandemi virus korona, perlu kiranya memaknai ibadah kurban sebagai momentum kebangkitan atas carut marutnya keadaan sosial-ekonomi bangsa saat ini. Di samping, sebagai upaya revitalisasi terhadap kadar keimanan dan ketakwaan kita dalam melaksanakan perintah Tuhan Yang Maha kuasa.

Masalahnya kini, apakah proses ritual-formal ibadah kurban, termasuk penyembelihan hewan benar-benar membuka kesadaran sosial masyarakat kita? Atau, hanya sekadar dimaknai sebagai sebuah proses pendistribusian daging, lalu kemudian lenyap tak bermakna, sehingga tidak dapat menjadi solusi atas situasi bangsa yang sedang papa?

Oleh sebab itu, re-interpretasi terhadap ibadah kurban harus meliputi faktor-faktor yang dapat menunjang terjadinya kesadaran masyarakat. Dalam Islam, makna suatu ibadah tidak bisa dilepaskan, setidaknya dari dua hal, yaitu aspek vertikal (hablun min Allah) dan aspek horizontal (hablun min al-nas). Kedua aspek ini tidak bisa dilihat secara parsial, namun harus dipandang secara integral, utuh, dan komprehensif, tak terkecuali dalam ibadah kurban.

Aspek vertikal (hablun min Allah) ibadah kurban adalah bahwa semangat kurban merupakan salah satu syariat yang bertujuan menguji keimanan dan tingkat kecintaan seorang hamba kepada penciptanya. Apakah harta dan segala yang ia miliki memalingkan dirinya dari Allah SWT. Meski sebenarnya, cinta kepada harta maupun sanak famili merupakan fitrah manusia, tetapi seharusnya, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi prioritas di atas segalanya.

Aspek ini, paling tidak, menunjukkan bahwa ketika seorang manusia berkurban, maka ia telah memenuhi sebagian dari sabda Tuhannya. Begitu juga sebaliknya, ketika dia tidak melaksanakannya, maka ketaatan dan kecintaannya terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya dianggap kurang optimal.

Sejarah mencatat, bahwa banyak dari sahabat Nabi yang tetap melaksanakan ibadah kurban walau secara finansial mereka dalam keadaan serba kekurangan. Hal itu merupakan sebuah bukti kecintaan (mahabbah) mereka kepada Allah dan Rasul-Nya yang begitu menggebu, sehingga mampu mengalahkan kecintaan mereka terhadap dirinya sendiri.

zaini abdullah from kuantan,pahang, Malaysia / CC BY

Kedua, aspek horizontal yakni perintah Tuhan kepada umat Islam yang mampu, agar mendistribusikan dagingnya kepada mereka yang membutuhkan. Perintah ini sekaligus menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu memiliki semangat (ghiroh) untuk senantiasa berusaha membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan yang diberikan pun tidak selalu harus berupa materi, melainkan bisa juga dengan apa pun yang dapat kita sumbangkan demi penyelesaian problematika sosial. Misalnya, sumbangan pikiran, motivasi, tenaga, dan lain sebagainya.


Melalui aspek kedua ini, secara otomatis, orang yang setiap tahun melaksanakan kurban, secara hakikat belum dapat disebut ‘berkurban’ jika dalam dirinya belum tertanam semangat untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebaliknya, meskipun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kurban, tetapi selama dalam dirinya telah terpatri semangat untuk selalu berusaha meringankan beban penderitaan orang lain, mereka inilah (yang secara substansial) layak disebut sebagai pengurban sejati.

Imam Ghazali pun pernah menyiratkan hal ini dalam masterpiecenya, Ihya al-Ilmu ad-Din, bahwa penyembelihan hewan kurban tidak lain merupakan sebuah entitas penyembelihan sifat kehewanan manusia. Oleh sebab itu, kurban semestinya dapat mempertajam kepekaan dan tanggung jawab sosial (social responsibility) kita. Dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk berkurban, diharapkan timbul rasa persaudaraan di kalangan masyarakat.

Karenanya, panggilan berkurban hendaklah disikapi secara multidimensi dan penuh sinkronisasi antara kedua aspeknya, baik secara vertikal maupun horizontal. Memaknainya hanya dengan satu aspek saja, dapat menimbulkan ketertimpangan kondisi antara moralitas dan sosialnya.

Memaknai ibadah kurban semacam ini, merupakan sebuah keniscayaan bagi kita yang sedang berada di titik nadir dan masih bergelut dengan korona, dengan harapan, masyarakat dapat menyadari pentingnya saling berbagi, membantu dan saling meringankan kegetiran sesama anak bangsa.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan