Maulid Nabi sebagai Inspirasi Pemimpin Negeri

Kepemimpinan merupakan sebuah relasi dua arah antara seorang pemimpin dan obyek yang dipimpin. Keduanya saling bertautan dan mempengaruhi satu sama lain. Dukungan penuh dari mereka yang dipimpin menjadi sebuah keniscayaan demi membentuk sosok pemimpin yang ideal. Begitupun sebaliknya, pemimpin yang memiliki ketajaman intuisi dan kelembutan hati akan dapat membentuk sebuah struktur masyarakat yang madani.

Dalam model kepemimpinan, utamanya di Indonesia yang menganut paham demokrasi, peran masyarakat selaku obyek sekaligus subyek demokrasi menjadi sangat vital. Apa sebab? Kontribusi masyarakat dalam memilih seorang pemimpin dapat berimplikasi secara langsung dalam kehidupan sosial mereka. Masyarakat musti cerdas dan bijak dalam memberikan suaranya, mereka musti mengenal, dan lebih jauh memahami siapa sosok yang akan mewakili aspirasi mereka kelak. Ketika masyarakat lalai akan hal ini, degradasi sosial cepat atau lambat akan menjadi sebuah keniscayaan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya: ‘Bagaimana maksud amanah disia-siakan?’ Nabi menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Al-Bukhari)
Sehebat apapun sosok seorang pemimpin, ia tak akan membawa pengaruh berarti bilamana tidak didukung oleh masyarakat yang cerdas, yaitu mereka yang benar-benar mengerti siapa yang seharusnya diberikan amanah untuk menjadi pemimpinnya. Hal ini telah mendapat dukungan dari berbagai fakta sejarah yang menceritakan kisah serupa.

Dalam momentum maulid Nabi kali ini, seyogianya kita bercermin kembali pada sosok Nabi Muhammad SAW, seorang pemimpin agung, yang suri tauladannya kekal tak tergerus zaman, relevan hingga akhir masa. Kisah kepemimpinan Beliau sejatinya menjadi percontohan dari sebuah interelasi yang sama-sama baik, oleh pemimpin maupun mereka yang dipimpin.
Kitab-kitab tarikh kerap mengisahkan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Bahkan sebelum Beliau mendapat risalah kenabian, Beliau telah dikenal luas memiliki sifat-sifat dasar seorang pemimpin seperti itu. Riwayat kepemimpinan Beliau ini agaknya mampu menjadi inspirasi bagi setiap diri untuk dapat menjalankan roda kepemimpinan sebaik mungkin, setidaknya mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. 
Seorang pemimpin, sejatinya tak butuh pencitraan untuk mengklaim bahwa dirinya adalah sosok yang jujur dan amanah, jika memang di dalam dirinya sudah tertanam sifat-sifat mulia tersebut. Begitupun Nabi Muhammad SAW, peristiwa pengembalian Hajar Aswad pada tempatnya yang sudah kerap kita dengar di buku-buku pendidikan agama islam, dengan sangat gamblang membuktikan sifat arif dan bijaksana dari sosok manusia pilihan ini dalam mengakomodasi kebutuhan umat akan sosok pemimpin.
Demikianlah suri teladan yang hendaknya dijadikan panutan bagi setiap politikus dimanapun berada, khususnya di negeri ini, yang akhir tahun mendatang akan maju ke gelanggang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Kebijaksanaan semacam itulah yang kini dibutuhkan oleh rakyat guna jalannya republik yang aman dan penuh kesejahteraan, bukan sekedar bagaimana membentuk sebuah produk perundang-perundangan yang bertujuan hanya untuk memenuhi nafsu kekuasaan.

Tak dapat dinafikan, bahwa kini, panggung kekuasaan telah penuh sesak dengan oknum yang hanya haus akan jabatan nan profan. Tak peduli lagi soal amanah dan cara rakyat dapat disejahterakan. Padahal, telah jelas dalam sabdanya, Rasul nan Agung, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwasanya setiap individu ialah pemimpin. Kelak, kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas segala kepemimpinan yang telah kita jalankan. Konteks dari hadits ini bukanlah untuk presiden, gubernur, walikota, atau bupati saja, namun juga mencakup tingkat kepemimpinan terkecil, diri pribadi masing-masing. Oleh sebab itu, sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk berkonsentrasi penuh menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya, supaya tujuan mulia dalam sebuah kepemimpinan dapat diraih secara paripurna.
Peringatan maulid Nabi yang berdekatan dengan pilkada serentak ini sejatinya musti dijadikan sebagai momentum bagi lahirnya (maulid) kepemimpinan sejati, yaitu kepemimpinan yang melandaskan diri dan bergerak untuk kemaslahatan semua. Apalagi di tengah pandemi covid-19 yang semakin membuat keadaan bangsa menjadi lebih papa. Kepemimpinan sejati dapat menjadi angin segar manakala kita sebagai masyarakat sekaligus subyek demokrasi benar-benar menggunakan hati nurani kita dalam memilih sosok yang kompeten di bidangnya. Tidak sekadar memilih, apalagi karena pamrih.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kontestasi pemilihan di tingkat apapun membutuhkan modal yang tak kecil. Itu pun yang menjadi salah satu faktor money politics sebagai akar tunggal korupsi tetap menjamur di negeri ini. Tentu ini menjadi sebuah dilema tersendiri, di satu sisi, kita tidak dapat menyalahkan masyarakat sepenuhnya. Minimnya perhatian dari para legislator seakan menjadikan mereka pasrah untuk turut menjadi bagian dari lingkaran setan ini. Ketika faktor penyebab tadi dapat diselesaikan, para pemimpin mau turun ke lapangan, mendengar, dan memperhatikan kebutuhan rakyatnya, maka transaksi pamrih dan money politics semacam ini perlahan akan hilang dengan sendirinya.
Itulah sekilas gambaran bahwa sosok seorang pemimpin dan obyek yang dipimpinnya sama-sama memiliki peran dan fungsi yang sejatinya mulia dan saling memuliakan. Bila ada salah satu pihak yang menegasikan peran dan fungsinya, maka secara otomatis pihak lain pun akan melakukan peran dan fungsi yang sama. Dalam konteks ini, faktor keberanian dan kesadaran diri dari semua pihak menjadi sangat penting untuk dilakukan demi memutus hubungan tidak sehat itu secara serentak. Para calon pemimpin tidak lagi mengandalkan pamrih pada proses pemilihan, apa pun bentuknya. Pun demikian, masyarakat juga tidak lagi menggunakan hak pilihnya atas dasar transaksi sesaat. Itulah kiranya kepemimpinan sejati yang telah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW sejak 14 abad silam. Hendaknya, momen perayaan maulid Nabi ini mampu kita jadikan sebagai tonggak perubahan sekaligus kebangkitan melalui peneladanan akhlaq-akhlaq agung dari Beliau, khususnya dalam proses dan dinamika kepemimpinan.
Dengan semangat dan mengharap berkah maulid Nabi, mari kita jadikan Pilkada 2020 sebagai momentum bagi lahirnya para pemimpin-pemimpin sejati. Sebuah kepemimpinan yang terpilih atas dasar nurani yang suci dan kecerdasan intuisi. Semoga Tuhan merahmati.

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan