Sumpah Pemuda; dari UU Cipta Kerja hingga Komodo di Pulau Rinca

Komodo Dragon by pxfuel CC0

Momen hari sumpah pemuda tahun ini nampaknya dijadikan oleh beberapa pihak sebagai sebuah instrumen gugatan terhadap sistem kekuasaan yang dinilai semakin eksploitatif. Oknum dari rezim yang tampil di gelanggang politik lagi-lagi ditaksir lebih terasa sebagai agen bagi alat kepentingan kapitalis.

Kesan tersebut setidaknya dipantik oleh dua berita yang sedang trending di tanah air; pengesahan UU Cipta Kerja dan gonjang-ganjing komodo di pulau rinca. Terlepas dari perspektif benar-salah, aksi vokal berupa demonstrasi yang penuh kontroversi ini dapat pula dimaknai sebagai sebuah proses bangkitnya kesadaran kebangsaan yang dimulai melalui berbagai organisasi sosial kepemudaan. Bentuk anarkisme memang perlu dikoreksi, namun ada pula sisi dimana aksi-aksi ini mendapat apresiasi karena terlahir dari sebuah proses diskursif; dimana ketika terdapat eksploitasi atas suatu bangsa, maka pemuda harus melawan dengan intelektualitasnya. Kecerdasan berpikir ini merupakan langkah aspiratif-kolektif yang sekaligus menjadi modal budaya. Modal budaya inilah kelak yang dapat dijadikan sebagai penyeimbang dari modal ekonomi dan politik yang dimiliki oleh mereka para penguasa yang lalai terhadap norma.

Tak dapat dipungkiri bahwa potensi kapitalisasi memang senantiasa tersebar luas di negara kita tercinta, tergiurnya berbagai pihak untuk dapat menguasainya secara sepihak adalah sebuah keniscayaan. Namun, di satu sisi, kesadaran untuk melawan kapitalisasi dan liberalisasi yang eksploitatif ini kian menggugah alam bawah sadar para pemuda untuk membentuk kembali jati diri bangsa atas dinamika tata negara yang mengemuka.

Dalam konteks inilah, kita membutuhkan kesadaran lingkungan sebagai sebuah ideologi baru nasionalisme Indonesia. Setelah 92 tahun sejak dunia mendengar keputusan Kongres Pemuda Kedua di Batavia tahun 1928, bangsa ini mulai berdiri tegak di antara negara-negara adidaya dunia.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren yang positif. Hal ini memengaruhi gaya hidup masyarakat yang makin hari kian konsumtif. Ironisnya, kemajuan ekonomi yang terjadi saat ini juga sangat dipengaruhi oleh usaha eksploitasi atas sumber daya alam dibandingkan kemampuan inovatif yang lain. Sebagai contoh nyata di depan mata, kita sebagai warga kota, kian tak memiliki ruang terbuka hijau akibat tergusur oleh tingkat kebutuhan permukiman dan kegiatan komersial yang luar biasa. Akibatnya, permukiman meraja lela, namun tak begitu diimbangi dengan sistem sanitasi dan drainase yang paripurna, sehingga banjir dan kekeringan menjadi ancaman rutin yang harus dihadapi oleh semua.

Atensi publik terhadap foto viral seekor komodo yang menghadang truk di tengah pembangunan ekowisata di pulau rinca seakan menjadi angin segar sekaligus gambaran masyarakat yang masih memiliki kesadaran akan pentingnya penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup untuk kelangsungan generasi mendatang. Terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi di pulaunya para naga, respon dan inisiasi seperti itu dapat menjadi inspirasi dan sarana memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menyelamatkan dan melestarikan flora dan fauna demi masa depan anak cucu bangsa.

Namun, di sisi lain, ironisnya, program lingkungan hidup secara eksplisit masih membahas seputar penegakan hukum. Padahal, hal-hal tersebut tak lain hanya sebuah gejala yang nampak dari kesembronoan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Penegakan hukum pada program lingkungan hidup layaknya analgesik yang tak menyembuhkan.

Dunia dan khususnya bangsa ini, sedang menghadapi masalah serius terkait dengan kelangsungan lingkungan hidup. Banjir, kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan, kenaikan permukaan air laut, pencemaran air dan udara, serta kehilangan keanekaragaman hayati, sudah masuk dalam tahap mengancam kelangsungan hidup masyarakat dan bahkan telah memakan korban ribuan jiwa setiap tahunnya. Semua pihak harus bersinergi melakukan inovasi dalam pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup untuk mengatasinya.

Yang perlu digarisbawahi di sini ialah, bahwa lingkungan hidup adalah suatu kesatuan wilayah kehidupan yang berkorelasi satu sama lain, yang sejatinya tak hanya dibatasi oleh sekedar batas-batas ekologi yang ditentukan oleh kondisi geografis dan iklim, namun jauh lebih luas daripada itu, ini adalah masalah bagaimana manusia mampu memoderasi kuriositasnya terhadap alam semesta beserta isinya.

Renyta Ayu Putri

Master of zero~

Share

Tinggalkan Balasan