Senin, 30 November 2020

Metode Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compotition (CIRC)


Dalam metode Cooperative Integrated Reading and Compotition
 (CIRC), tujuan pembelajaran difokuskan pendidik agar setiap individu dapat memahami suatu informasi melalui bacaan. Kelompok yang dibuat dalam metode ini bekerja untuk membantu satu sama lain, hingga setiap anggota dapat mempelajari, menganalisis, dan menulis atau mengungkap Kembali informasi dari suatu bacaan.

Baca juga: Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Dengan tujuan yang jelas demikian, maka terbentuklah Langkah-langkah yang harus terpenuhi saat mengaplikasikan metode CIRC, yaitu;

  1. membentuk kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 anggota;
  2. memberikan bahan bacaan sesuai dengan topik;
  3. meminta setiap anggota kelompok untuk saling membacakan dan mencatat ide-ide yang ditemukan dari bacaan tersebut;
  4. kelompok mendiskusikan ide-ide yang mereka temukan, kemudian dirangkai untuk dipresentasikan;
  5. pendidik mengevaluasi dan memberikan kesimpulan mengenai topik.

Menggunakan metode ini dapat melatih siswa untuk bekerja sama, saling menghargai pendapat, juga menyampaikan tanggapan secara bebas mengenai apa yang telah dipahami bersama kelompoknya. Namun, terdapat kekurangan dalam metode ini, karena kesempatan untuk mempresentasikan gagasan hanya dimiliki oleh satu anggota kelompok. Seringkali kesempatan seperti ini akan diberikan kepada anggota yang aktif dan pandai, sehingga anggota yang kurang aktif tidak akan terlihat menonjol. 

Baca juga: Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Kekurangan lain dari metode CIRC adalah adanya kemungkinan perbedaan persepsi dalam mengumpulkan dan mengolah gagasan, karena anggota kelompok memiliki latar belakang yang heterogen. Hal tersebut dapat membuat kelompok tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun bagaimanapun juga dalam pembelajaran kooperatif, tujuan utamanya adalah untuk melatih kemampuan sosial individu, sehingga hal semacam ini harusnya dapat memotivasi setiap anggota agar dapat mencapai kemampuan sosial yang baik.

Baca juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Kamis, 26 November 2020

Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)


Student Team Achievement Division (STAD) dikembangkan oleh Robert Slavin, dkk. STAD dapat disebut sebagai metode yang paling sederhana dalam model pembelajaran kooperatif. Metode ini dapat dijadikan permulaan saat seorang pendidik mulai memutuskan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Tahapan STAD

Dalam metode ini, pendidik dapat membagi kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-6 orang. Anggota kelompok harus heterogen berdasarkan tingkat kemampuan akademik yang didapatkan dari skor awal individu. Juga heterogen berdasarkan jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sifat. Dalam satu kelompok setidaknya ada individu yang pandai, rata-rata, dan kurang pandai, laki-laki dan perempuan, individu yang pendiam dan terbuka, individu dari suku A dan suku B, begitu seterusnya.

Pendidik kemudian memberikan atau menjelaskan materi kepada setiap kelompok sebagai pendahuluan agar individu dalam setiap kelompok memahami hal apa saja yang harus mereka pelajari. Pendidik juga memberikan pandangan atau contoh permasalahan kepada kelompok agar mereka dapat mengembangkan konsep dari materi tersebut. Pengembangan ini juga dapat dilakukan dengan memberikan soal-soal dan mempersilahkan individu secara acak untuk menjawab persoalan tersebut.

Kegiatan berkelompok dalam metode STAD dimulai ketika guru memberikan lembar kerja siswa yang berisikan materi dan permasalahan pada setiap kelompok. Kelompok yang bertugas secara kooperatif mendiskusikan penyelesaian berdasarkan materi yang telah mereka pahami.

Peran pendidik hanya sampai memberikan perintah serta memberikan bantuan dengan mengulang konsep dan menjawab apabila kelompok memiliki pertanyaan.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Setelah kegiatan pemberian materi oleh pendidik dan diskusi oleh masing-masing kelompok, pendidik memberikan tes secara individual. Anggota di dalam kelompok masing-masing diberikan pertanyaan dan tidak berhak mendapatkan bantuan dari anggota lainnya.

Pendidik memberikan nilai secara individual berdasarkan jawaban yang diberikan. Kemudian nilai individu diakumulasikan untuk disumbangkan sebagai nilai kelompok. Semakin tinggi nilai setiap individu, maka akan menambah kontribusinya dalam nilai kelompok. Berdasarkan pencapaian masing-masing anggota inilah, suatu kelompok mendapatkan penghargaan.

Pendidik dapat melakukan rotasi kelompok setelah satu periode penilaian dengan pertimbangan skor baru yang didapatkan masing-masing individu.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Keunggulan STAD

Dalam metode ini setiap individu dituntut untuk memberikan kontribusi kepada kelompoknya agar dapat mencapai tujuan bersama. Setiap individu akan merasa bertanggung jawab untuk memahami materi dan persoalan yang disajikan dalam kelompok, sekaligus juga bertanggung jawab atas temannya agar tidak memberikan kontribusi yang buruk dalam kelompok dengan memberikan motivasi dan membantu dalam menguasai materi.

Metode ini juga cukup mudah diterapkan pada setiap tingkat pendidikan. Seringkali diterapkan pada pelajaran-pelajaran ilmu pasti seperti sains dan matematika. Rentang periode penilaian yang memungkinkan untuk rotasi kelompok, menjadikan distribusi bantuan terhadap individu-individu yang memiliki pemahaman kurang menjadi lebih merata.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)


Rabu, 25 November 2020

Pergeseran Nilai Seorang Guru


Sepanjang kehidupan kita, terlepas dari apa pun profesi dan status sosial kita saat ini, kita pasti pernah mendapatkan gemblengan dan sentuhan ‘magis’ seorang guru. Guru tak selalu mereka yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah institusi pendidikan tertentu, hakikatnya, siapa pun yang telah dengan ikhlas mengajarkan satu ilmu pada kita, maka dialah guru yang patut kita muliakan. Itulah satu realitas sosial yang tak mungkin dinafikan sepanjang sejarah peradaban manusia. Maka dari itu, peran guru dalam kehidupan ini menjadi satu hal yang esensial. Oleh sebab itu, dalam hal ini guru berperan sebagai mesin pencetak sekaligus motor keilmuan, tindak-tanduk, hingga tatanan peradaban yang ke depan mampu menjaga kesinambungan antargenerasi. Sebagai sebuah sosok yang mulia, guru tak hanya mentransformasikan ilmu kepada seorang siswa, namun lebih jauh dari itu, ikut berperan dalam membentuk manusia yang mampu memanusiakan manusia. Bahkan, dalam tradisi sufistik, orisinalitas dan keabsahan sang guru (mursyid), sangat ditentukan kepada siapa dia berguru (sanad keilmuan). Hal ini semata-mata untuk memastikan kemurnian dan kesahihan amaliah yang diajarkannya. 

Secara etimologi, guru berasal dari bahasa Sanskerta dan terdiri atas dua kata, yaitu gu (kegelapan) dan ru (menghilangkan). Karenanya, peran substansi seorang guru ialah memberikan pencerahan kepada seorang siswa, ‘minadzulumati ilannuur’, mengantarkan para pencari ilmu dari keadaan yang penuh dengan ‘kegelapan’ (jahiliah) menuju suatu titik pencerahan. Jahiliah di sini tak hanya dapat dimaknai sebagai sebuah kondisi ketidaktahuan dari aspek saintifik, namun juga meliputi aspek-aspek moralitas yang jauh dari normal sosial. Mengingat peran mulianya, dalam tradisi pesantren, menghormati guru sama pentingnya dengan memuliakan ilmu (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya).

Namun, seiring berjalannya waktu, kita pun tak dapat memungkiri bahwa telah terjadi pergeseran nilai atas sosok dan profil seorang guru. Problematika seputar guru sesungguhnya telah menjadi problem nasional yang berkepanjangan, sebut saja masalah kesejahteraan yang tak sebanding dengan beban yang harus dipikul, hingga yang paling baru adalah tentang profesionalisme guru yang terus diperdebatkan.

Jika ditarik ke belakang, kita pun akan menemukan salah satu akar permasalahan yang kini santer dipersoalkan, sebagai obyek regulasi, guru telah ‘dikorbankan’. Potret guru entah sengaja atau tidak, telah tercetak buram, kemudian dibingkai dengan citra sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Gelar inilah yang kemudian membuat sosok guru dan masyarakat secara umum menjadi ternina bobokkan, sehingga banyak dari kita memahami bahwa guru tak lain hanya merupakan profesi yang ‘nrimo ing pandum’, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Guru digambarkan menjadi sosok yang siap menderita, legowo, menerima apa pun kebijakan yang diproduksi oleh pemerintah, sederhana, tanpa pamrih, dan hal-hal ‘utopis’ lainnya. Image inilah yang sesungguhnya harus segera diluruskan. Guru, betapa pun mulianya, adalah tetap seorang guru, dan pahlawan tetaplah pahlawan. Keduanya kendati serupa, namun tetap tak sama.

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang melekat pada profesi guru itulah yang menyebabkan guru menjadi terhegemoni dalam bingkai kegagahan yang sesungguhnya juga memiliki sisi ke-tak berdayaan. Profesi guru seolah terkungkung dalam prosa indah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Sehingga, guru kian tergambarkan sebagai seorang resi, yang sehari-hari tak lagi memikirkan materi dan harta duniawi, lebih jauh, muncul stigma bahwa guru tak pantas untuk sekedar hidup cukup.

Sekali lagi, guru bukanlah resi dalam cerita pewayangan, yang tugasnya hanya mencetak para ksatria agar senantiasa membela kebenaran, tanpa memperdulikan kebutuhan hidupnya. Sesungguhnya yang harus dipahami, guru di Republik ini adalah sosok nyata yang hidup berdampingan dengan kita sebagai warga negara. Guru adalah guru, ia bukanlah resi. Guru di Republik ini adalah guru yang masih menginginkan terpenuhinya kebutuhan hidup di samping tentu keinginan mencerdaskan anak didiknya. Maka, sudah saatnya bangsa dan masyarakat Indonesia menempatkan guru dalam deretan profesi yang terhormat lainnya. Sehingga, guru dihargai karena profesinya sebagai guru, sebagaimana kita menghormati dan menghargai profesi-profesi lainnya secara profesional. 

Guru adalah guru, profesionalisme guru semestinya ditempatkan pada ukuran bagaimana ia mencerdaskan anak didiknya. Oleh sebab itu, sudah saatnya guru memiliki wibawa secara ekonomi, politik, sosial budaya, dan intelektual di hadapan masyarakat. Wibawa yang dimiliki oleh guru, akan menempatkan sosok guru sebagai sosok yang dinilai, dihargai, dan dihormati secara profesional. Bukan karena iba, kesederhanaan, atau bahkan karena gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang melekat padanya.

Dengan terbebasnya guru dari predikat-predikat semu di atas, diharapkan suatu saat akan muncul ‘Ki Hadjar Dewantara’ baru yang benar-benar menjadi pahlawan, yang mencurahkan hidupnya untuk mengabdi demi kemaslahatan peradaban dan dunia pendidikan. Dirgahayu, Bapak-Ibu Guru Republik Indonesia!

Minggu, 22 November 2020

Eksperimen : Telur, Air Putih dan Air Garam

Egg experiment by Science Photo Library NDLA.no CC BY-NC-SA-4.0

Hai semuanya. Kali ini kami akan menulis mengenai ekspeimen telur dengan air garam. Normalnya, saat dimasukkan ke dalam air, telur akan tenggelam. Namun kali ini mari kita coba melakukan eksperimen dengan memasukkan telur ke dalam air yang telah dicampuri garam dan air putih biasa. Bagaimanakah hasilnya. Mari ikuti instruksi berikut.

 Instruksi:

  1. Pertama-tama siapkan satu butir telur, gelas, air, dan juga garam
  2. Tuangkan air ke dalam gelas hingga mencapai setengah volume gelas.
  3. Masukkan 6 sendok makan garam ke dalam gelas, lalu aduk hingga larut.
  4. Tahap selanjutnya, tuangkan ke dalam gelas, air putih yang belum tercampur garam. Tuangkan secara hati-hati dan perlahan agar air putih tidak bercampur dengan air garam. Lakukan sampai gelas hampir penuh.
  5. Masukkan telur ke dalam gelas, dan perhatikan apa yang terjadi terhadap telur itu.

Penjelasan:

Dalam eksperimen ini, jika kamu berhasil, kamu akan melihat telurmu mengapung di dalam gelas. Hal ini disebabkan karena air yang mengandung garam lebih padat daripada air putih biasa. Semakin padat air, maka benda akan semakin mudah mengapung, apalagi jika masa jenisnya lebih kecil. Ketika kamu memasukkan telur ke dalam gelas tersebut, telur akan masuk ke dalam air, namun tidak sampai tenggelam di bawah. Telur akan mengapung tepat di atas air garam yang ada di bawah air biasa. Namun jika ketika kamu menuangkan air biasa kurang berhati-hati, maka kemungkinan air akan tercampur dengan air garam. Hal ini akan menyebabkan telur mengapung lebih tinggi, dan tidak di tengah-tengah gelas.

Sabtu, 21 November 2020

Apa Itu Gerhana Matahari?


Gerhana matahari merupakan salah satu fenomena langit yang cukup menarik dan ditunggu-tunggu oleh pengamat astronomi, karena sangat jarang terjadi. Gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan ada di antara bumi dan matahari. Karena posisi inilah cahaya matahari tertutup sebagian ataupun seluruhnya oleh bulan. Sehingga dari bumi, nampaklah gerhana matahari.

Baca juga : Tata Surya Kita

Bulan memiliki jarak yang lebih dekat ke bumi daripada matahari. Sehingga meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, dia tetap dapat menutupi cahaya matahari ke bumi. Saat cahaya matahari tertutup, bagian bumi yang mengalami gerhana sedang berada di bawah bayangan bulan. Bayangan bulan ke bumi, pada dasarnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu umbra dan penumbra.

Umbra adalah bayangan bulan secara utuh atau penuh. Sedangkan penumbra adalah bayangan sebagian atau bayangan tambahan dari bulan pada saat gerhana matahari. Jika daerahmu sedang di bawah umbra, kamu tidak akan dapat melihat sama sekali cahaya matahari. Saat itulah peristiwa tersebut dinamakan Gerhana Matahari Total. Namun, jika daerahmu berada di bawah penumbra, kamu masih dapat melihat sebagian cahaya matahari.

Gerhana matahari dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

Gerhana Matahari Total (GMT)

Gerhana Matahari Total terjadi saat matahari tertutup secara seluruhnya. Gerhana jenis ini hanya terjadi di daerah yang terlintasi umbra, dan terbatas beberapa menit saja, yaitu pada saat puncak gerhana.

Gerhana Matahari Sebagian (GMS)

Gerhana Matahari Sebagian terjadi apabila matahari hanya tertutup sebagian oleh bulan. Sehingga kamu masih dapat melihat bagian matahari yang tidak tertutup. Namun sangat tidak dianjurkan untuk melihat gerhana matahari secara langsung, karena dapat merusak mata.

Gerhana Matahari Cincin (GMC)

Gerhana Matahari Cincin merupakan gerhana yang cukup unik, karena saat gerhana ini terjadi, kamu akan melihat matahari berbentuk seperti cincin. Hal ini terjadi ketika bulan berada lebih jauh dari Bumi, dan orbit bumi kepada matahari sedang dekat. Sehingga bulan tidak begitu dapat menutup sepenuhnya cahaya matahari, meskipun sedang di fase puncaknya.

 Baca juga : Tata Surya Kita

Jika kamu berniat untuk mengamati gerhana matahari, kamu dapat melakukannya dengan berbagai opsi. Seperti menggunakan kacamata matahari, filter matahari, atau melalui proyeksi dari lubang jarum. Jangan melihatnya secara langsung ya, tentu kamu tidak ingin mencelakai mata kita yang sangat berharga ini kan.

Jumat, 20 November 2020

Menyoal Ketajaman Pisau Hukum Negara


Akhir-akhir ini, kita kerap disajikan berita mengenai berbagai kegiatan publik yang melanggar protokol kesehatan (prokes) di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini menggelindingkan bola salju kesadaran kritis-fungsional terhadap praktik ketidakadilan di berbagai tempat oleh berbagai kelompok masyarakat sipil (civil society).

Atas nama keadilan pula, kita tentu layak menyoal keseriusan pemerintah dan institusi penegak hukum dalam mengasah ketajaman pisau hukum negara. Jangan sampai, penurunan kualitas penegakan hukum dan ambivalensi penegakan prokes saat pandemi kian menjadi fakta yang merisaukan.

Apapun pandangan kita soal pandemi, kita tentu sama-sama tahu bahwa tren kasus pandemi di Indonesia belum bisa dikatakan terkendali. Di sisi lain, kita pun tidak menginginkan terjadinya benturan atau konflik berlatar belakang sentimen apapun, namun yang lebih penting daripada itu semua ialah jangan sampai ada pencideraan terhadap bangunan kesadaran publik akan kesehatan dan jaminan kehidupan masyarakat. Sejatinya, berbagai respon masyarakat yang menunjukkan keresahan terhadap maraknya pelanggaran sosial, bersifat substansial. Masyarakat merasa perlu untuk menuntut kepada negara (pemerintah) supaya lebih tegas dalam menindak setiap praktik pelanggaran sosial, apapun latar belakangnya. Karena ketika negara (pemerintah) seolah melakukan pembiaran, maka kesabaran publik dapat menuju kepada titik toleransi yang justru dapat menimbulkan ekses yang luar biasa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kecenderungan seperti itu menimbulkan konsekuensi yang sangat menakutkan. Ketika sebuah komunitas terperangkap masalah dan tidak mendapatkan jalan keluar untuk mengeliminasi potensi konfliknya, maka komunitas-komunitas tersebut “dipaksa” untuk memilih jalannya sendiri, karena pemerintah dan penegak hukum tak kunjung hadir sebagai penengah. Tak jarang, pilihan itu tampak sebagai sesuatu yang sangat ekstrem, sebagaimana tercermin dari rangkaian konflik horizontal di berbagai media belakangan ini.

Selain itu, keresahan ini juga memiliki logika konstititusional, yakni meneguhkan sikap kebangsaan yang dilandasi oleh semangat kebhinekaan, keberagaman, kemanusiaan dan toleransi multikultural. Apalagi sebagian dari elemen masyarakat kita masih memendam trauma dan menganggap eksistensi konstitusi saat ini terancam oleh menguatnya kekuatan ideologi transnasional yang ingin membentuk negara teokratis dan mengganti dasar negara Pancasila.

Memang, menjelang musim pemilihan kepala daerah serentak dan di dalam iklim demokrasi yang terkesan kian liberal ini, setiap entitas warga negara maupun kelompok-kelompok tertentu berhak menunjukkan ekspresi politiknya, namun bukan berarti ekspresi politik tersebut dapat serta merta menegasi koridor hukum dan konstitusi.

Ironisnya, pelanggaran sosial yang terjadi belakangan ini kerap dikaitkan dengan legitimasi kelompok mayoritas tertentu yang justru melahirkan resistensi masyarakat. Hal ini seharusnya tidak akan terjadi apabila negara (pemerintah) tegas dalam menegakkan prinsip konstitusi dan aturan hukum yang berlaku.

Sejatinya, resistensi masyarakat memiliki muara tujuan untuk menegakkan prinsip hidup bernegara yang damai, rukun dan adil di tengah samudera perbedaan. Sudah saatnya negara (pemerintah) merespons dengan langkah imperatif yang tegas dan adil. Negara tidak boleh takut dan tersandera oleh kepentingan kelompok, lebih-lebih mereka yang sesungguhnya memiliki pemikiran dan sikap yang antikonstitusi. Jangan sampai masyarakat teradikalisasi untuk melakukan perlawanan dengan caranya sendiri. Karena hal itu justru akan mendorong terciptanya neraka konflik sosial yang berkepanjangan.

Kamis, 19 November 2020

Inilah Perbedaan antara Kutub Utara dan Selatan


Seperti yang kita ketahui bumi memiliki dua kutub yang berada di sisi Utara dan Selatan. Di bagian Utara bumi Kutub Utara, baliknya di bagian selatan bumi adalah Kutub Selatan. Dua kutub ini memiliki suhu udara yang sangat dingin, Tetapi apakah kalian tahu bahwa kedua kutub ini memiliki perbedaan-perbedaan yang cukup banyak. Berikut ini adalah beberapa perbedaan yang dapat kami rangkum.

Penamaan

Dua kutub ini memiliki penamaan yang unik. Kutub Utara disebut juga sebagai arktik. Sedangkan Kutub Selatan dikenal sebagai Antartika.

Lautan versus daratan

Jika dilihat dari Atlas, kedua kutub ini sama-sama berupa dataran bersalju. Tetapi sejatinya mereka memiliki unsur pembentuk yang berbeda. Kutub Utara adalah lautan yang membeku Karena suhu dingin di sana. Di bagian Utara bumi terdapat banyak benua dan negara. Sehingga meskipun kutub utara adalah sebuah lautan yang membeku, mereka masih dikelilingi oleh daratan di sekitarnya.

Berbeda dengan kutub selatan. Kutub selatan adalah daratan seperti benua lain pada umumnya. Suhu yang sangat dingin Daratan di Kutub Selatan tertutup oleh salju. Namun kutub selatan tidak dikelilingi oleh daratan dari benua lainnya. Dia benar-benar dikelilingi oleh lautan. Oleh karenanya, dia juga disebut sebagai Benua Antartika

Suhu udara

Dua kutub baik Utara dan Selatan sama-sama memiliki suhu yang sangat dingin hingga mampu menciptakan salju sepanjang tahun. Namun keduanya memiliki suhu rata-rata yang berbeda. Di Kutub Utara, meskipun berupa lautan yang membeku, suhu udaranya berapa sekitar minus 34 derajat Celcius. Sedangkan di Kutub Selatan, yang berupa daratan, memiliki suhu rata-rata yang lebih dingin, yaitu sekitar minus 49 derajat Celcius. Bahkan dalam keadaan tertentu suhu di Kutub Selatan dapat mencapai minus 89 derajat Celcius.

Penduduk

Perbedaan yang paling mencolok dari kedua kutub ini adalah manusia penghuninya. Suhu Kutub Utara yang notabene lebih hangat daripada Kutub Selatan, masih memungkinkan untuk dihuni oleh manusia. Tercatat kurang lebih sekitar 3000 jiwa penghuni di Kutub Utara. Umumnya penduduk di kutub utara adalah pendatang dari negara-negara sekitarnya, sehingga mereka memiliki beragam suku. Beberapa di antaranya adalah suku yupik, kalaalit, dan sami. Berbeda dengan kutub selatan, sampai saat ini belum tercatat ada manusia yang berhasil menghuninya.

Fauna

Setiap daerah di bumi selalu memiliki ragam fauna yang bermacam-macam. Tergantung pada ekosistemnya. Tentu saja di kutub utara dan kutub selatan memiliki hewan bertahan di daerah bersuhu dingin. Namun jika dibandingkan Kutub Utara memiliki ragam fauna yang lebih banyak. Beberapa di antaranya adalah beruang kutub rusa kutub dan juga.

Sedangkan di Kutub Selatan hanya terdapat hewan Pinguin. Hal ini disebabkan karena suhu yang berbeda ada di kedua kutub. Hewan kutub yang ada di Kutub Utara tidak mampu tinggal di Kutub Selatan karena mereka tidak tahan terhadap suhu yang jauh lebih ekstrem. Sedangkan pinguin yang ada di Kutub Selatan tidak dapat tinggal di kutub utara karena suhu udaranya tidak sedingin Kutub Selatan.

Pemanasan global

Pemanasan global atau yang kita kenal dengan global warming beberapa tahun terakhir menjadi sangat marak. Berbagai penyebab mengakibatkan kerusakan lapisan ozon sehingga akhirnya membuat es yang ada di kedua kutub bumi mengalami pencairan.

Pada kenyataannya lapisan ozon yang berada di Kutub Selatan mengalami kerusakan yang lebih parah daripada lapisan ozon yang ada di Kutub Utara. Namun karena struktur Kutub Utara yang dibentuk dari lautan yang membeku membuatnya menjadi lebih mudah mencair daripada Kutub Selatan.

Itu tadi adalah beberapa perbedaan antara kutub utara dan kutub selatan. Banyak orang mengira bahwa kedua kutub itu adalah benar-benar daratan atau lautan yang membeku namun keduanya sungguh berbeda. Apakah Setelah mengetahui perbedaannya kamu berminat untuk tinggal salah satu bumi?

Selasa, 17 November 2020

Olah Raga Ringan yang dapat Dilakukan di Rumah selama Pandemi


Di masa pandemi, menuntut setiap orang untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, beberapa di antaranya adalah dengan stay at home, menjaga jarak atau menghindari kerumunan, dan memakai masker. Saat pandemi, kita dianjurkan untuk tidak terlalu sering keluar rumah, dan hanya keluar saat dibutuhkan saja.

Namun pasti banyak orang akan merasakan bosan jika tidak melakukan apa-apa dan hanya di rumah saja. Salah satu yang dapat kamu lakukan untuk menjaga pikiran tetap segar dan badan tetap bugar meskipun di rumah saja adalah dengan berolah raga. Kenapa tidak dengan berolahraga di luar rumah? Boleh-boleh saja, tapi kembali lagi pada anjuran untuk tidak terlalu sering keluar rumah. Sedangkan olahraga harus dilakukan secara rutin agar dapat menimbulkan hasil yang maksimal bagi tubuh.

Berikut ini adalah beberapa olahraga ringan yang dapat dilakukan di dalam, di teras, atau di balkon rumahmu. Olahraga berikut ini juga tidak membutuhkan alat-alat mahal sehingga kamu masih bisa berhemat di tengah musim PHK.

Stretching

Jika kamu hampir tidak pernah berolahraga, mulailah dengan melakukan stretching. Fungsi stretching adalah untuk melemaskan otot tubuh yang lama tidak difungsikan, meningkatkan sirkulasi darah serta untuk menenangkan pikiran.

Kamu bisa memulai dengan berdiri dan merapatkan kaki. Genggam kedua tangan dan letakkan di atas kepala. Tarik napas secara perlahan sambil menarik tubuh ke atas, ke samping kanan, kiri, depan dan belakang, selama masing-masing delapan hitungan.

Setelah itu kamu dapat melanjutkan dengan stretching kaki. Posisikan kaki kananmu ke depan dengan menekuknya 90 derajat, luruskan kaki kiri ke belakang dan bungkukkan badanmu ke arah kaki kanan. Lakukan sebaliknya, masing-masing selama delapan detik.

Beberapa posisi stretcing lainnya juga dapat dicoba seperti mencium lutut, mengangkat kaki ke depan dan ke samping, serta posisi lainnya.

Squats

Setelah dirasa cukup melakukan stretching dan ototmu sudah mulai lentur, gerakan selanjutnya yang dapat kamu coba adalah squats. Dalam melakukan squats, posisikan tubuhmu berdiri tegak, dengan kaki berjarak selebar bahu. Tahan perut seperti saat menahan perut agar terlihat kecil. Gerakkan badan dengan menekuk lutut 90 derajat dari lantai dan menurunkan pinggul serendah yang kamu mampu, asalkan tidak sampai menyentuh lantai. Inti dari gerakan squats adalah seperti berpura-pura akan duduk, tetapi kamu menahan agar tidak benar-benar duduk. Lakukan gerakan ini secara perlahan-lahan. Dimulai dengan 10 detik, kemudian berdiri dan mengulanginya lagi selama 20 detik, dan seterusnya hingga satu menit.

Push Up

Pasti kalian sudah sering melakukan push up kan. Apalagi dulu saat pelajaran olah raga di sekolah. Seringkali banyak yang masih salah memposisikan tubuh dalam gerakan push up. Pada dasarnya push up merupakan gerakan yang bermanfata untuk melatih kekuatan tubuh bagian atas khususnya lengan atas, pundak, otot dada dan punggung. Oleh sebab itu, seharusnya bagian yang aktif digerakkan dalam push up adalah bagian lengan dan pundak. Dalam melakukan push up, kamu harus menahan bagian perut agar tetap lurus dengan tubuh.

Memang cukup berat melakukan push up, apalagi jika kamu jarang melakukannya. Namun bagi kamu yang pemula, bisa memulainya dengan melakukan wall push up, atau push up dengan berdiri. Caranya adalah dengan berdiri menghadap ke dinding dengan jarak satu lengan. Letakkan telapak tangan di dinding kemudian lakukan push up dengan mendorongkan badanmu ke dinding, lalu mendorongnya kembali menjauhi dinding. Wall push up pada dasarnya adalah versi ringan dari push up, karena beban yang ditugaskan kepada tangan lebih ringan akibat tidak sepenuhnya menyangga beban tubuh. Jika kamu sudah terbiasa dengan wall push up, maka kamu bisa mencoba push up dengan cara standart.

Plank

Pada plank, otot yang dilatih adalah bagian perut. Olah raga ini sangat sesuai jika kamu menginginkan bentuk perut yang kencang dan tidak buncit. Plank cukup mudah dilakukan, yaitu dengan tengkurap di atas lantai dengan posisi telapak pada ibu jari menempel di lantai. Kemudian angkat tubuh dengan menggunakan kedua siku tangan, atau lengan bawah. Setelah itu kamu harus menahan agar tubuhmu tetap lurus mulai dari betis hingga kepala. Bagian inilah yang akan susah dilakukan. Kamu perlu membiasakan diri untuk dapat melakukannya selama satu menit.

Wall sit

Wall sit merupakan gerakan ringan selanjutnya yang dapat kamu lakukan. Yaitu dengan memposisikan tubuh membelakangi dinding sejarak satu langkah. Kemudian tekuk kaki selear 90 derajat hingga posisimu seperti orang yang duduk. Sesuaikan kembali agar punggung, leher dan kepalamu dapat bersandar di dinding. Lakukan gerakan ini secara bertahap, sampai kamu mampu bertahan hingga satu menit. Wall sit dapat kamu lakukan kapan saja di rumah. Kamu dapat melakukannya sambil minum teh atau membaca artikel ini di HP.

Itulah beberapa gerakan ringan yang dapat kamu terapkan saat berolah raga di rumah. Sebenarnya masih banyak gerakan ringan lainnya yang dapat kamu kombinasikan dengan gerakan-gerakan di atas. Kamu juga bisa mencoba untuk melakukan senam di depan TV atau HP kamu. Banyak sekali referensi gerakan dan olah raga senam di youtube yang dapat kita tirukan di rumah. Seru sekali kan!

Olah raga merupakan kegiatan yang sangat penting untuk meningkatkan metabolisme tubuh kita. Selain untuk membuat tubuh bugar, juga dapat membantu kita melawan penyakit, termasuk Covid-19. Jadi, usahakan untuk selalu rutin berolahraga ya. Setidaknya selama minimal 15 menit sebanyak tiga kali dalam seminggu. Jika kamu terlalu sibuk, kamu dapat mengurangi frekuensinya. Namun sebisa mungkin jangan pernah ketinggalan untuk berolah raga. Salam Sehat!

Senin, 16 November 2020

Jenis Masker Wajah serta Manfaatnya

Omcadam, CC BY-SA 4.0 via Wikimedia Commons

Dalam dunia perawatan kulit wajah, terdapat beberapa jenis masker untuk wajah. Setiap jenis masker memiliki fungsinya masing-masing. Seringkali kita bingung dalam menentukan masker apa yang dibutuhkan bagi kulit kita. Bahkan tidak jarang kita yang pemula mencoba semua jenis masker tersebut demi mendapatkan kulit wajah yang diidam-idamkan. Padahal belum tentu kulit kita membutuhkan masker tersebut. Bahkan ada beberapa jenis masker yang tidak disarankan untuk digunakan oleh pemilik jenis kulit tertentu. Berikut ini merupakan 4 jenis masker, beserta fungsi, cara menggunakan, dan jenis kulit yang disarankan.

Sheet Mask

Sheet mask merupakan masker yang terbilang paling simple cara menggunakannya. Bentuknya adalah berupa lembaran yang telah dibasahi oleh serum khusus yang dapat memberikan efek lembab dan cerah pada kulit wajah.

Cara penggunaannya adalah dengan menempelkan sheet mask pada wajah. Jangan lupa untuk membersihkan wajah terlebih dahulu ya. Tunggu hingga kurang lebih 15 menit, lalu ambil sheet mask dari wajah. Jangan biarkan masker menempel terlalu lama ya, apalagi kalau sampai mengering. Hal ini malah akan menimbulkan masalah baru bagi wajah.

Sisa serum yang masih ada di wajah, tepuk-tepuk kecil agar memudahkannya meresap ke dalam pori-pori. Penggunaan sheet mask juga mampu menenangkan kulit yang iritasi. Efek melembabkan yang diberikan sangat cocok untuk jenis kuit kering.

Clay Mask

Clay mask merupakan jenis masker yang bertekstur seperti lumpur. Umumnya bahan utama dari clay mask adalah lumpur dengan campuran bahan alami lainnya. Clay mask terbilang cukup efektif untuk membersihkan pori-pori yang tersumbat. Selain itu dia juga berfungsi untuk mengencangkan dan mencerahkan kulit wajah. Cara menggunakannya terbilang simple. Kamu cukup mengoleskan secara merata clay mask di kulit wajah dan diamkan selama kurang lebih 15 menit. Clay mask akan siap dibilas jika teksturnya mulai kering, keras dan memadat. Wajahmu akan terasa kaku. Bilas clay mask dengan menggunakan air hangat sehingga memudahkannya untuk mengangkat kotoran dari dalam pori-pori. Jika kulitmu cenderung berminyak, maka menggunakan clay mask adalah cara yang tepat.

Peel Off Mask

Peel Off Mask memiliki fungsi utama yaitu membersihkan wajah, khususnya dari sel kulit mati dan juga komedo yang ada di bagian kulit terluar.

Cara penggunaan masker peel off adalah dengan mengaplikasikannya ke kulit wajah. Sangat tidak disarankan untuk mengoleskannya ke bagian sensitif dan berbulu seperti alis, lingkaran mata, dan bibir. Setelah itu diamkan selama kurang lebih 10 menit, atau hingga masker terasa kering permukaannya. Jika wajahmu sudah mulai terasa ketat, maka ini saat yang tepat untuk mengelupas masker.

Kelupas masker dari sisi tepi wajah terlebih dahulu secara perlahan-lahan hingga ke tengah wajah. Saat proses pengelupasan atau peel off ini biasanya kamu akan merasa kesakitan, karena daya rekat masker yang sangat kuat. Oleh karena itu, masker peel off tidak disarankan jika kamu memiliki jenis kulit yang sensitif.

Sleeping Mask

Umumnya sleeping mask memiliki kandungan hyaluronic acid. Oleh karena itu salah satu fungsi dari sleeping mask adalah untuk melembabkan wajah dan mengurangi efek penuaan.

Cara menggunakan masker jenis ini adalah dengan mengaplikasikannya setelah kamu membersihkan wajah di malam hari. Jika kamu memiliki skincare routine lain selain membersihkan wajah, aplikasikan sleeping mask di tahap paling akhir. Biarkan sleeping mask meremajakan kulitmu selama kamu tidur dan bilas setelah kamu bangun di pagi hari. Efek sleeping mask sendiri akan terlihat saat pagi hari, yaitu kulitmu akan lebih lembut, kenyal, cerah dan lembab.

Minggu, 15 November 2020

Pentingnya Mengetahui Golongan Darah


Apakah kamu sudah memahami apa itu golongan darah?

Jika sudah, apa sih pentingnya mengetahui golongan darah?

Dilansir dari Aksi Aksara, berikut ini adalah rangkuman manfaat ketika kita mengetahui golongan darah kita.

Menolong ketika kita mengalami kecelakaan

Apabila pada suatu saat kita mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kehilangan banyak darah, maka golongan darah adalah hal yang penting untuk diketahui. Karena kita akan membuthkan pendonor dengan golongan darah yang sama dengan kita.

Faktor perencanaan berkeluarga

Ketika akan menikah kamu akan diwajibkan untuk memeriksa kesehatan termasuk golongan darah kamu dan pasanganmu. Hal ini karena golongan darah dapat mempengaruhi kesehatan anak. Beberapa kasus menunjukkan pasangan dengan golongan darah tertentu beresiko memiliki keturunan dengan kelainan genetik.

Mengontrol pola makan dan diet

Golongan darah tertentu lebih rentan terhadap diabetes dan penyakit jantung. Bahkan, ada golongan darah yang sebenarnya hanya cocok dengan makanan vegetarian, dan ada yang perlu membatasi asupan karbohidrat sesuai dengan golongan darah pula. Jika kamu berniat untuk diet, ada baiknya ketahui golongan darahmu terlebih dahulu ya, lalu pelajari pola diet apa yang cocok bagi kamu.

Membantu meningkatkan tentang beberapa penyakit

Penelitian menyebutkan bahwa perempuan dengan golongan darah O memiliki resiko tingkat kesuburan sedikit lebih rendah. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor diet dan rutinitas. Ditemukan pula bahwa orang yang bergolongan darah A, AB, dan B lebih beresiko memerangi penyakit jantung. Golongan darah A juga erat kaitannya dengan kolesterol LDL.

 

Sabtu, 14 November 2020

Mendaki Gunung saat Musim Hujan, Berikut yang Harus Diperhatikan


Akhir tahun seperti ini, musim hujan selalu datang. Bagi teman-teman pendaki, hal ini merupakan tantangan karena kemungkinan berhadapan dengan hujan saat mendaki di atas gunung sangatlah besar. Kebutuhan yang harus dibawa pun menjadi lebih banyak daripada saat musim panas.

Selain itu, jika kamu ingin mendaki saat musim hujan, sangat disarankan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit. Banyak persiapan yang harus dilakukan. Berikut ini, dilansir dari Pecinta Alam SMAN 21 Surabaya (PALAXXI), merupakan tips saat mendaki di musim hujan.

Jangan memaksa sampai ke puncak

Apabila saat mendaki cuaca berubah menjadi buruk, sangat disarankan bagi pendaki untuk tidak melanjutkan perjalanan ke atas. Resiko di puncak akan menjadi besar ketika cuaca sedang tidak baik. Lebih baik persiapkan diri untuk turun karena keselamatan dalam mendaki gunung merupakan yang utama.

Hindari berhenti terlalu lama

Saat mendaki dalam kondisi hujan, disarankan untuk terus bergerak secara konstan. Beristirahat atau berhenti terlalu lama dalam keadaan kehujanan dapat membuat suhu tubuh menurun dan menyebabkan kedinginan hingga hipotermia. Terus bergerak saat mendaki akan menjaga suhu tubuh kita tetap stabil.

Perlengkapan dan persiapan yang memadai

Saat mendaki di musim hujan, persiapkan kondisi tubuh dan mental yang baik. Juga jangan lupa untuk membawa perlengkapan yang efisien. Jangan membawa terlalu banyak barang yang tidak dibutuhkan saat mendaki. Kemudian sangat penting bagi pendaki untuk melapisi tas dengan jas hujan atau kantung kedap air.

Bijak dalam memilih gunung

Saat musim hujan, lebih baik pilih gunung yang memiliki medan yang tidak terlampau sulit untuk didaki. Selain itu, gunung yang terlalu tinggi juga tidak disarankan untuk didaki saat musim hujan. Akan lebih baik jika kamu dapat memilih untuk mendaki gunung yang memiliki banyak pos yang memadai.

Itulah beberapa tips bagi para pendaki saat ingin mendaki di musim hujan. Jangan lupa untuk selalu berhati-hati di kala mendaki, agar kita tetap selamat. Ingatlah, tujuan dari pendakian adalah pulang dengan selamat. Salam lestari!

Jumat, 13 November 2020

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)


Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif disebut juga dengan model pembelajaran berkelompok. Dalam pembelajaran kooperatif, setiap anggota dalam kelompok akan secara terstruktur memiliki tanggung jawab individu dan saling tergantung satu sama lain, sehingga dibutuhkan interaksi dan keahlian dalam bekerja sama.

Sistem pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk atau kriteria dalam metode belajar konstruktivis. Setiap kelompok terdiri dari anggota yang memiliki keberagaman dalam tingkat kemampuan akademik dan juga perbedaan sosial. Pembagian kelompok seperti ini diharapkan mampu membuat individu yang kurang paham, menjadi terbantu dan lebih paham setelah berkelompok dengan individu lain yang memiliki kapasitas yang lebih baik. Sehingga, dalam pembelajaran kooperatif, proses belajar tidak dapat dikatakan selesai apabila salah satu individu dalam kelompok belum menguasai materi.

Baca juga : Metode Pembelajaran Student Team-Achievements Divisions (STAD)

Roger dan Johnson (dalam Lie, 2002) berpendapat bahwa meskipun pembelajaran kooperatif selalu mengandalkan kerja sama dan proses belajar berkelompok, bukan berarti setiap pembelajaran dengan metode belajar kelompok dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang kooperatif. Ada lima unsur yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang kooperatif, yaitu:

1.   Ketergantungan positif antar anggotanya

Untuk mendapatkan keberhasilan dalam sebuah kerja kelompok, sangat dibutuhkan usaha dari setiap anggotanya. Suatu kelompok perlu bekerja secara terstruktur agar dalam pembagian tugasnya dapat berkaitan, dan setiap anggota memiliki ketergantungan yang positif terhadap setiap anggota kelompok lainnya.

2.   Tanggung jawab perseorangan

Pendidik dapat menyiapkan tugas berkelompok sedemikian rupa agar setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan kelompoknya.

3.   Kegiatan tatap muka dan bediskusi

Suatu kelompok dapat dikatakan kooperatif apabila mereka dalam proses belajar melakukan tahapan diskusi untuk menyatukan sinergi dan menyusun srategi dalam mencapai penyelesaian tugas atau tujuan kelompok.

4.   Komunikasi interpersonal para anggotanya

Keterampilan komunikasi individu dapat mempengaruhi keberhasilan dalam suatu kelompok. Keterampilan ini dapat berupa kemampuan mendengar dan mengutarakan gagasan. Suatu kelompok belum dikatakan kooperatif apabila salah satu anggotanya belum mencapai titik “mampu berkomunikasi” dengan baik kepada sesama anggota kelompok lainnya. Karena bagaimanapun tujuan belajar kelompok adalah untuk memperkaya pengalaman belajar, baik secara kognisi maupun mental.

5.   Terdapat evaluasi

Proses evaluasi tentu menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pengajar perlu memberikan kesempatan bagi kelompok untuk melakukan evaluasi terhadap proses belajar mereka, agar ke depannya dapat melaksanakan pembelajaraan yang lebih kooperatif.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah tercapainya hasil belajar yang optimal sekaligus mengembangkan keterampilan sosial individu. Dalam pembelajaran kooperatif keberhasilan suatu kelompok tidak didasarkan pada hasil persaingan antara kelompok satu dengan yang lainnya, tetapi lebih kepada hasil belajar individu-individu dalam kelompok tersebut.

Ibrahim, et al. (2000) merangkum tiga tujuan yang setidaknya harus dicapai dalam metode pembelajaran kooperatif, yaitu : 1) hasil belajar akademik yang merata pada setiap individu dalam kelompok; 2) menciptakan rasa saling menghargai dan menerima perbedaan antar setiap individu; 3) mengajarkan keterampilan sosial dalam berkolaborasi dan bekerja sama dengan individu yang berbeda-beda.

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa metode untuk dapat diterapkan yaitu:

1) Student Teams-Achievement Divisions (STAD),

2) CIRC

3) Jigsaw

4) Learning Together

5) Group Investigation

6) Cooperative Scripting

 Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Kamis, 12 November 2020

Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis


Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Pendekatan Konstruktivis adalah metode belajar yang memberi kesempatan kepada individu yang belajar (murid atau mahasiswa) untuk secara aktif berperan dalam memahami informasi atau dalam memecahkan persoalan. Pembelajaran Konstruktivis tidak berorientasi penuh pada penjelasan atau materi yang diberikan oleh pendidik, namun, peran pendidik lebih seperti seorang pembimbing dan pemberi fasilitas, agar murid terbantu dalam proses belajarnya. Berikut ini merupakan kriteria yang umumnya ada di dalam proses belajar dengan pendekatan konstruktivis.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Top-Down Processing (Pemrosesan Atas-Bawah)

Dalam teori belajar konstruktivis, pemrosesan informasi umumnya menggunakan strategi top-down (dari atas ke bawah). Maksudnya adalah murid atau individu memulai pembelajaran dengan cara menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks dan autentik terlebih dahulu untuk dapat memahami makna dasar dari informasi yang diberikan.

Pada pembelajaran konvensional, umumnya murid diminta untuk memulai belajar dari hal yang mendasar (strategi bottom-up) seperti misalnya belajar membaca dengan memulai dari belajar menghapalkan alfabet, mengeja per-suku kata, dan seterusnya.

Sebaliknya, pada pembelajaran konstruktivis, murid akan diperkenalkan pada masalah yang lebih kompleks terlebih dahulu, kemudian melalui proses kognisi, dituntut untuk mencari hal yang mendasari permasalahan kompleks tersebut.

Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Belajar dengan pendekatan konstruktivis selalu memanfaatkan proses pembelajaran yang kooperatif. Pembelajaran kooperatif yang dimaksud adalah belajar bersama kelompok atau disebut juga dengan pembelajaran sosial. Individu dianggap akan lebih mudah memahami dan kemungkinan terjadinya miskonsepsi akan lebih sedikit karena dalam proses belajarnya, individu dihadapkan pada pandangan-pandangan yang berbeda dari masing-masing individu di dalam kelompoknya.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Discovery Learning

Menurut Johnson, discovery learning merupakan metode belajar dengan berusaha untuk menemukan maksud dan memperoleh pemahaman yang dalam terkait suatu informasi (Soemanto, 2003). Pada discovery learning murid dibimbing untuk menemukan sendiri konsep, rumus, atau pola dari informasi yang diolahnya. Metode ini dirasa dapat meningkatkan keaktifan murid dalam belajar serta membangkitkan rasa ingin tahu yang lebih besar. Dengan menerapkan discovery learning, seorang individu akan terbantu untuk menganalisa, memahami, dan mengambil keputusan sendiri terkait penemuannya. Metode ini dirancang agar individu, dalam mencapai suatu pemahaman, berorientasi pada prosesnya.

Menurut Trowbridge dan Bybee (1990) discovery learning terbagi atas dua jenis, yaitu (1) penemuan terbimbing (guided inquiry); dan (2) penemuan bebas (free inquiry). Dalam guided inquiry, guru memberikan data dan persoalan kepada murid untuk mereka jawab, simpulkan, atau selesaikan. Namun, pada free inquiry murid sendirilah yang mengumpulkan data untuk mencari jawaban dan penyelesaian dari persoalan yang mereka hadapi. Kelebihan dari metode discovery learning, murid dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar dan meningkatkan skill siswa dalam memecahkan permasalahan. Namun, metode ini biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama, karena tidak semua murid dapat dengan cepat memahami pembelajaran dengan metode discovery learning. Selain itu, ada beberapa topik atau materi yang lebih cocok disampaikan dengan metode lainnya.

Self-Regulated Learning

Self-Regulated Learning merupakan belajar dengan melakukan kontrol terhadap perilaku dan motivasi dalam penggunaan metakognitif (Pintrich, 1995). Dalam pembelajaran ini, murid akan dituntut untuk mampu mengarahkan, merencanakan, mengorganisasikan, dan mengevaluasi diri dalam proses memahami suatu informasi. Apabila individu berhasil melaksanakan self-regulated learning dalam proses belajarnya, perilaku dan kognitif individu tersebut akan menjadi terarah pada saat belajar.

Kemampuan individu dalam mengembangkan self-regulated learning-nya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengaruh lingkungan, sumber informasi, dan juga pengaruh dari diri sendiri.

Scaffolding

Metode scaffolding dalam belajar adalah dengan memberikan bantuan kepada individu yang belajar (murid) dari individu yang memiliki kapasitas pengetahuan yang lebih matang (guru, teman, atau orang tua) agar individu tersebut memiliki pemahaman atau dapat menuntaskan suatu permasalahan tertentu yang sebelumnya tidak dikuasai. Hal ini dimaksudkan agar seorang murid dapat menyelesaikan persoalan yang tingkatnya lebih tinggi dari kompetensi atau perkembangan kognitif murid. Bantuan yang dapat diberikan dapat berupa pandangan atau gagasan yang terbuka agar murid dapat mengolahnya dengan baik. Dalam pembelajaran scaffolding murid akan termotivasi dalam belajar karena ada gagasan yang membantunya dalam berpikir. Selain itu petunjuk-petunjuk yang didapatkan oleh murid dapat memudahkan mereka dalam mengelola informasi, sehingga proses belajar menjadi lebih sederhana dan murid tidak merasa frustrasi akibat kurangnya pengetahuan.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Rabu, 11 November 2020

Pengertian Teori Belajar Konstruktivis


TEORI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS

Konstruktivisme memiliki arti “membangun”. Dalam sebuah pembelajaran konstruktivis, guru dan murid akan membangun bersama-sama konsep dan materi yang akan dipelajari. Dalam model pembelajaran ini, murid tidak hanya dituntut untuk mengimitasi dan membayangkan apa yang diajarkan oleh guru, tetapi mereka diminta secara aktif untuk menyaring, memberi arti, dan menguji informasi atas informasi yang diterima.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Dalam metode pembelajaran ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya. Guru seperti memberikan fasilitas tangga, dan membiarkan murid-muridnya untuk memanjat tangga tersebut. Keaktifan tiap individu sangat berperan penting dalam pendekatan ini sehingga pendekatan ini juga disebut dengan student centered (pembelajaran yang berpusat pada murid). Dalam pendekatan ini peran guru adalah sebagai “pemandu dari samping”, bukan “orang bijaksana di atas panggung”. Guru berperan dalam membantu murid untuk memahami maksud dari informasi yang mereka pelajari (Weinberger & McCombs, 2010; Windschitl, 1999).

Proses belajar dengan pendekatan konstruktivis akan membiasakan murid untuk menemukan ide dan memecahkan masalahnya sendiri. Dengan demikian, dalam pendekatan konstruktivis, suatu pembelajaran harus dikemas dalam label “membangun” bukan hanya sekedar “menerima” informasi.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Sejarah Teori Pembelajaran Konstruktivis bermula dari gagasan yang dicetuskan oleh Piaget dan Vigotsky. Mereka menyatakan bahwa sistem kognisi seseorang akan berubah apabila informasi yang pernah diterima diproses kembali bersamaan dengan informasi baru lainnya. Hal ini dapat didukung dengan pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar. Karena dalam kelompok belajar akan ada pertukaran dan percampuran gagasan yang sebelumnya telah dipahami oleh individu-individu dalam kelompok, sehingga proses konstruksi akan mudah tercapai.

Berikut ini merupakan 4 prinsip utama dalam gagasan yang dikemukakan oleh Vygotsky:

1.   Social Learning

Dalam prinsip pembelajaran sosial (social learning), individu membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain, misalnya teman-temannya, untuk dapat melihat konsep atau gagasan yang dipikirkan oleh teman-temannya. Metode ini dapat membantu individu untuk memiliki proses berpikir yang terbuka.


2.   Zone of Proximal Development (ZPD)

Zona perkembangan proksimal merupakan fungsi atau kemampuan yang belum matang dari seorang individu. Fungsi atau kemampuan individu dipercaya Vygotsky akan berkembang dan terbantu proses kematangannya apabila individu berinteraksi dengan teman sebaya ataupun orang dewasa yang perkembangan kemampuannya lebih matang. Selain itu, Vygotsky juga mengungkapkan bahwa proses belajar terbaik seorang individu adalah ketika dirinya berada di fase ZPD pada kemampuan yang dimaksud.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme


3.   Cognitive Apprenticeship

Cognitive Apprenticeship merupakan tahap-tahap di mana seseorang mulai mendapatkan suatu keahlian melalui interaksinya dengan orang lain. Metode pembelajaran ini juga dapat diterapkan seorang guru kepada murid-muridnya dengan membentuk kelompok yang heterogen untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks. Sehingga individu dalam kelompok yang memiliki kemampuan atau keahlian yang lebih baik, akan memberikan pandangan bagi individu yang kemampuannya kurang.


4.   Mediated Learning

Mediated learning disebut juga dengan situated learning, Yaitu dengan mensituasikan proses pembelajaran seperti realitas dalam hidup. Konsep ini menekankan pada pembelajaran yang termediasi (Kozulin & Presseisen, 1995).  Murid diberikan tugas yang cukup kompleks dan realistis, kemudian diberikan mediasi dengan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugasnya.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading