Rabu, 25 November 2020

Pergeseran Nilai Seorang Guru


Sepanjang kehidupan kita, terlepas dari apa pun profesi dan status sosial kita saat ini, kita pasti pernah mendapatkan gemblengan dan sentuhan ‘magis’ seorang guru. Guru tak selalu mereka yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah institusi pendidikan tertentu, hakikatnya, siapa pun yang telah dengan ikhlas mengajarkan satu ilmu pada kita, maka dialah guru yang patut kita muliakan. Itulah satu realitas sosial yang tak mungkin dinafikan sepanjang sejarah peradaban manusia. Maka dari itu, peran guru dalam kehidupan ini menjadi satu hal yang esensial. Oleh sebab itu, dalam hal ini guru berperan sebagai mesin pencetak sekaligus motor keilmuan, tindak-tanduk, hingga tatanan peradaban yang ke depan mampu menjaga kesinambungan antargenerasi. Sebagai sebuah sosok yang mulia, guru tak hanya mentransformasikan ilmu kepada seorang siswa, namun lebih jauh dari itu, ikut berperan dalam membentuk manusia yang mampu memanusiakan manusia. Bahkan, dalam tradisi sufistik, orisinalitas dan keabsahan sang guru (mursyid), sangat ditentukan kepada siapa dia berguru (sanad keilmuan). Hal ini semata-mata untuk memastikan kemurnian dan kesahihan amaliah yang diajarkannya. 

Secara etimologi, guru berasal dari bahasa Sanskerta dan terdiri atas dua kata, yaitu gu (kegelapan) dan ru (menghilangkan). Karenanya, peran substansi seorang guru ialah memberikan pencerahan kepada seorang siswa, ‘minadzulumati ilannuur’, mengantarkan para pencari ilmu dari keadaan yang penuh dengan ‘kegelapan’ (jahiliah) menuju suatu titik pencerahan. Jahiliah di sini tak hanya dapat dimaknai sebagai sebuah kondisi ketidaktahuan dari aspek saintifik, namun juga meliputi aspek-aspek moralitas yang jauh dari normal sosial. Mengingat peran mulianya, dalam tradisi pesantren, menghormati guru sama pentingnya dengan memuliakan ilmu (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya).

Namun, seiring berjalannya waktu, kita pun tak dapat memungkiri bahwa telah terjadi pergeseran nilai atas sosok dan profil seorang guru. Problematika seputar guru sesungguhnya telah menjadi problem nasional yang berkepanjangan, sebut saja masalah kesejahteraan yang tak sebanding dengan beban yang harus dipikul, hingga yang paling baru adalah tentang profesionalisme guru yang terus diperdebatkan.

Jika ditarik ke belakang, kita pun akan menemukan salah satu akar permasalahan yang kini santer dipersoalkan, sebagai obyek regulasi, guru telah ‘dikorbankan’. Potret guru entah sengaja atau tidak, telah tercetak buram, kemudian dibingkai dengan citra sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Gelar inilah yang kemudian membuat sosok guru dan masyarakat secara umum menjadi ternina bobokkan, sehingga banyak dari kita memahami bahwa guru tak lain hanya merupakan profesi yang ‘nrimo ing pandum’, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Guru digambarkan menjadi sosok yang siap menderita, legowo, menerima apa pun kebijakan yang diproduksi oleh pemerintah, sederhana, tanpa pamrih, dan hal-hal ‘utopis’ lainnya. Image inilah yang sesungguhnya harus segera diluruskan. Guru, betapa pun mulianya, adalah tetap seorang guru, dan pahlawan tetaplah pahlawan. Keduanya kendati serupa, namun tetap tak sama.

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang melekat pada profesi guru itulah yang menyebabkan guru menjadi terhegemoni dalam bingkai kegagahan yang sesungguhnya juga memiliki sisi ke-tak berdayaan. Profesi guru seolah terkungkung dalam prosa indah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Sehingga, guru kian tergambarkan sebagai seorang resi, yang sehari-hari tak lagi memikirkan materi dan harta duniawi, lebih jauh, muncul stigma bahwa guru tak pantas untuk sekedar hidup cukup.

Sekali lagi, guru bukanlah resi dalam cerita pewayangan, yang tugasnya hanya mencetak para ksatria agar senantiasa membela kebenaran, tanpa memperdulikan kebutuhan hidupnya. Sesungguhnya yang harus dipahami, guru di Republik ini adalah sosok nyata yang hidup berdampingan dengan kita sebagai warga negara. Guru adalah guru, ia bukanlah resi. Guru di Republik ini adalah guru yang masih menginginkan terpenuhinya kebutuhan hidup di samping tentu keinginan mencerdaskan anak didiknya. Maka, sudah saatnya bangsa dan masyarakat Indonesia menempatkan guru dalam deretan profesi yang terhormat lainnya. Sehingga, guru dihargai karena profesinya sebagai guru, sebagaimana kita menghormati dan menghargai profesi-profesi lainnya secara profesional. 

Guru adalah guru, profesionalisme guru semestinya ditempatkan pada ukuran bagaimana ia mencerdaskan anak didiknya. Oleh sebab itu, sudah saatnya guru memiliki wibawa secara ekonomi, politik, sosial budaya, dan intelektual di hadapan masyarakat. Wibawa yang dimiliki oleh guru, akan menempatkan sosok guru sebagai sosok yang dinilai, dihargai, dan dihormati secara profesional. Bukan karena iba, kesederhanaan, atau bahkan karena gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang melekat padanya.

Dengan terbebasnya guru dari predikat-predikat semu di atas, diharapkan suatu saat akan muncul ‘Ki Hadjar Dewantara’ baru yang benar-benar menjadi pahlawan, yang mencurahkan hidupnya untuk mengabdi demi kemaslahatan peradaban dan dunia pendidikan. Dirgahayu, Bapak-Ibu Guru Republik Indonesia!
Previous Post
Next Post

0 Comments:

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading