Selasa, 10 November 2020

Aktualisasi Habitus Kepahlawanan


Tulisan ini kadaluwarsa. Biarlah, karena memang tulisan ini tidak dimaksudkan untuk ‘kejar tayang’. Yang lebih fundamental untuk diamati ialah hal apa saja yang kiranya telah kita lakukan untuk memperingati Hari Pahlawan di era Revolusi Akhlaq ini. Adakah metamorfosis dari tingkah laku kita, ataukah masih serupa dengan yang lama? Tetapi seperti yang telah saya kira, acara Hari Pahlawan kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya; tak ada lagi peragaan perang di Tugu Pahlawan Surabaya, karena pandemi corona membuat para peraga mungkin masih di rumah saja.

Biasanya, para pemuda dan pegiat sejarah bernostalgia bersama, berpakaian ala tentara, dengan simbol merah-putih di dada, dan ikat kepala merah-putih terbuat dari ikat leher Pramuka, membentuk armada, lalu pawai keliling kota hingga mengadakan pementasan perang 45. Tidak aneh, jika kemudian, pascaperingatannya, kebanyakan kita, tak lagi peka akan kesan dari hari Pahlawan, apalagi pada makna kepahlawanan itu sendiri.

Secara harfiah, heroisme memiliki arti keberanian atau pengorbanan diri yang ditunjukkan oleh seseorang dalam keadaan yang sangat berbahaya, atau dari posisinya yang sangat papa, namun tetap berani mengambil risiko demi kepentingan dan kebaikan yang lebih besar, atau dalam konteks yang lebih luas adalah umat manusia.

Awalnya, makna ini hanya dipahami dalam dunia militer, namun, seiring perkembangan zaman, pemaknaan akan heroisme atau kepahlawanan ini kian banyak dikaitkan dengan nilai-nilai moral secara umum di kehidupan sehari-hari. Darinya, kita dapat menggali nilai-nilai kepahlawanan yang baru, yang relevan untuk dikembangkan bagi kehidupan kekinian, dan tentu nanti di masa depan. Bagaimana supaya nilai-nilai kepahlawanan ini dapat terejawantah dalam sikap hidup dan perilaku anak bangsa? Masih layakkah kita menanyakan adanya pahlawan di negeri kita hari ini? Sejauh mana mental, akhlaq, sikap, dan keteladanan dari para pahlawan, yang tidak pernah alpa kita peringati, dapat menjadi sebuah aktualitas dalam kehidupan kita sehari-hari? Relevansi dan revitalisasi itulah yang saat ini menjadi sebuah urgensi yang penting untuk kita tetapi.

Tidak cukup menghormati mereka hanya dengan mengheningkan cipta, menundukkan kepala semenit untuk mendoakannya. Sebab, pahlawan memang seyogianya tak hanya dimaknai sebagai orang yang berjuang mengorbankan jiwa raga. Lebih jauh, pahlawan harus kita maknai sebagai sebuah nilai kehidupan dan semangat pembaharuan. Terlalu sempit jika kita hanya menghargai pahlawan sebagai sebuah sosok fisik.

Sejatinya, kepahlawanan adalah semangat untuk mandiri, semangat untuk membela kaum yang mendapat penindasan, dan membela nilai-nilai keadilan serta kemanusiaan. Dalam konteks fisik, sosok pahlawan mungkin akan terus kita ingat. Namun, internalisasi nilai-nilai yang mengejawantah dalam segenap sikap dan perilaku kita sebagai generasi penerus bangsa jauh lebih penting untuk direnungi.

Apalagi, jika kita justru makin mengeliminasinya dengan berbagai kekhilafan dan kebobrokan. Hampir semua dari kita pernah mendengar sebuah adagium, bahwa 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.

Namun, hendaknya pemaknaan dari pesan tersebut jangan terlalu pepat dan hanya dimaknai sebagai sebuah penghormatan yang sebatas rutinitas formal-seremonial.

Sekali lagi, penting untuk dituturkan bahwa saat ini tak cukup sekadar “mengheningkan cipta” tanpa pemahaman makna yang menggugah kedalaman jiwa. Mengheningkan cipta bukan sekedar soal kepala yang tertunduk dan mata yang terpejam. Lebih dari itu, prosesi ini seharusnya dapat menghidupkan sebuah evokasi yang dapat menggerakkan kesadaran reflektif kita untuk meneladani sikap hidup dan keutamaan dari seorang pahlawan, yang setia mengabdi pada kemanusiaan, membela hak mereka yang direnggut, melayani yang lemah dan tertindas, kemudian benar-benar mengaktualisasikan habitus kepahlawanan tersebut dalam sebuah kehidupan bermasyarakat.

Previous Post
Next Post

0 Comments:

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading