Kebebasan Berekspresi dalam Perspektif Globalisasi

Pembelaan keras Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap sekularisme Prancis dan kritik terhadap Islam radikal menyusul pembunuhan seorang guru sejarah di Paris, Samuel Paty, menuai reaksi keras dari masyarakat dunia, khususnya komunitas muslim.

Dalam pernyataannya, Macron menyampaikan bahwa di seluruh belahan dunia saat ini, Islam adalah agama yang sedang berada dalam krisis. Selain itu, ia juga dinilai tak mampu memberikan barrier yang jelas antara kebebasan berekspresi yang dilindungi oleh Prancis dengan kegiatan memproyeksikan karikatur Nabi Muhammad SAW di gedung-gedung pemerintah di Montpellier dan Toulouse yang notabene memvisualisasikan Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang dilarang keras dalam Islam.

Tak ayal, hal-hal tersebut memicu reaksi yang ‘lantang’, baik dari komunitas maupun tokoh muslim, hingga yang terbaru adalah pemboikotan produk-produk Prancis di beberapa negara. Demi mengantisipasi gejolak yang lebih buruk yang mungkin terjadi, juga menyikapi virus corona yang kembali tak terkendali, pemerintah Prancis akhirnya menetapkan status negara menjadi high alert or under attack.

Ditilik melalui pendekatan sejarah, Prancis merupakan sebuah negara yang sangat mengapresiasi kebebasan berekspresi, setelah revolusi negara itu dimulai pada akhir abad ke-18. Atas gerakan revolusioner tersebut, Prancis kemudian terkenal di seantero dunia sebagai sebuah negara yang senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Ketiga prinsip tersebut muncul sebagai sebuah tanggapan sosial nan kritis dari para warga negaranya terhadap realitas adanya ketidakadilan di balik sistem politik Prancis yang otoriter sekaligus kejam pada saat itu. Dalam menjalankan proses monarki absolutnya, kekejaman sang raja, misalnya, tampak pada proses eksekusi mati dengan guillotine (pisau raksasa sebagai alat pancung). Saat itu, pihak kerajaan tak begitu mentolerir adanya perbedaan pendapat terkait kebijakan kerajaan, siapa pun yang berbeda, maka akan terancam berakhir di guillotine.

Revolusi Prancis timbul bersama tiga tuntutan utama untuk menegakkan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, setelah sekian lama mempertimbangkan martabat kemanusiaan dan kebebasan berpendapat. Aktor sekaligus motor dari gerakan revolusioner itu adalah Jean-Jacques Rousseau, seorang filsuf Prancis yang terkenal dengan ungkapannya, 

man was born free and everywhere he is in chains

Sebuah ungkapan yang penuh kontradiksi itu sejatinya tak hanya berlaku di Prancis. Manusia pada hakikatnya bebas, sekaligus terbelenggu di mana pun ia berada. Ungkapan ini menyiratkan bahwa kebebasan absolut tidak pernah ada. Ia terikat dan terbatas oleh ‘kebebasan’ serupa dari pihak yang lain.

Dari sini, muncul sebuah pertanyaan besar yang mendasar, apakah makna sebenarnya dari sebuah kebebasan yang menganulir kedamaian dan kesejahteraan? karikatur dan pernyataan provokatif yang menuai protes beberapa waktu belakangan ini merupakan sebuah momentum sekaligus pintu masuk yang ideal untuk memperbincangkan makna kebebasan berekspresi dalam konteks yang lebih luas, kemanusiaan.

Gonjang-ganjing Dunia

Seperti yang diungkap oleh J.J. Rousseau, di dunia ini tak ada kebebasan yang berdiri sendiri, kebebasan mutlak. Kebebasan kita sebagai makhluk sosial senantiasa bersinggungan dengan eksistensi pihak lain. Jikalau sebuah kebebasan benar menjadi bebas yang sebebas-bebasnya; tak lagi memedulikan keberadaan dan kenyamanan sesama makhluk, maka kebebasan yang demikian merupakan suatu kebebasan yang sembrono, kebebasan yang menegasikan rasa tanggung jawab dan rasionalitas. Dalam konteks ini, apa pun tindakan seseorang, ia senantiasa memiliki cakrawala makna yang mungkin tak terbatas. Ia memiliki struktur temporal, turut andil dalam proses pembentukan suatu beradaban. Tindakan itu senantiasa membawa konsekwensi dalam sebuah dinamika sosial, kehidupan bersama pihak lain dalam berbagai dimensi waktu.

Lebih jauh, ketika kita telah berada di zaman yang serba digital ini, revolusi industri telah membentuk sebuah tatanan global yang seakan mengikis setiap batas dari ruang kehidupan kita. Tanpa kita sadari, kita hampir tak memiliki ruang privat, semuanya seakan dirancang agar kita berbagi ruang demi sebuah ruang publik yang saling tumpang tindih bernama cyber space atau dunia maya. Hal ini meniscayakan bahwa kita sebagai sebuah warga dunia kian berbarengan dalam pelbagai hal. Dengan demikian, globalisasi dapat dimaknai sebagai sebuah proses ekspor dari sekumpulan budaya warga dunia.

Globalisasi yang demikian, jika tak dibersamai dan dimaknai secara penuh kemanusiaan dan rasionalitas, maka akan menjadi sebuah gonjang-ganjing tersendiri bagi eksistensi peradaban kita. Sebab, masalah publikasi karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis dan ungkapan kontoversif dari Emmanuel Macron tentang islam, misalnya, tak lagi menjadi konsumsi eksklusif bagi warga Prancis. Keduanya, saat itu juga, menjadi hidangan bagi dunia internasional. Dalam konteks ini, berbagai kontroversi di atas pantas untuk didiskusikan dari perspektif globalisasi.

Di sceneyang lain, kita musti melibatkan aksi protes global terkait penayangan karikatur dan ungkapan Presiden Macron tersebut. Dari sini, kita dapat menarik sebuah hipotesa bahwa rupa dari globalisasi, dewasa ini telah menjadi sebuah potensi akan lahirnya bencana besar bagi umat manusia, ketika kecerdasan (nalar, emosi, spiritual, dll) tak lagi memegang kendali dari praktik hidup kita dalam sebuah ‘kampung’ global. Prancis barangkali masih terlena dengan hegemoni revolusinya hingga tak begitu siap ketika `kebebasan berekspresinya’ menuai protes. Namun, kebebasan yang konon menjadi landasan perjuangan mereka, yang tak lepas dari motif dan sirkumstansi tertentu, dapat menyulut ‘makar’ di banyak tempat lain.

Budi Pekerti sebagai Kendali Diri

Apa yang bisa digali dari realitas yang memantik protes, kekerasan, dan bahkan pembunuhan tersebut? Pertama, aksi protes dan penyerangan di berbagai wilayah di Prancis belakangan ini dapat dicermati sebagai sebuah sikap reaktif yang tak cerdas dan penuh kejahiliyahan. Kedangkalan berpikir dan kekeliruan dalam memaknai kebebasan berekspresi, sebagaimana yang ditunjukkan oleh berbagai pihak yang terlibat, dengan tanpa melihat batas-batas religiusitas dan kemanusiaan, tak harus direspons dengan gerakan-gerakan yang justru dapat menodai dan melukai nurani kemanusiaan itu sendiri.

Kedua, jelas sekali bahwa pihak Charlie Hebdo bukanlah representasi dari negara atau pun agamanya. Karenanya, penyerangan dan tindakan anarkistis yang ditujukan kepada komunitas agama tertentu di Prancis dapat dinilai sebagai sebuah tindakan yang penuh kebodohan. Justru tindakan-tindakan keji tersebut semakin menegaskan betapa lemahnya keberpihakan dan budi pekerti mereka pada prinsip-prinsip luhur kemanusiaan.

Dengan demikian, kebebasan berekspresi yang tak disertai dengan tanggung jawab, kecerdasan, dan budi pekerti dapat berakibat fatal bagi pihak lain. Dalam dunia kita yang begitu dinamis ini, tindakan atas nama kebebasan yang tak memperdulikan rasa adil dan kenyamanan hidup pihak lain dapat menimbulkan ketersinggungan dan bahkan sikap antitesis yang justru menciderai persatuan, nurani, dan martabat warga dunia; tak hanya warga dari suatu komunitas atau golongan tertentu. Karena itu, pemerintah (negara-bangsa) sebagai salah satu aktor dari proses globalisasi ini, semestinya lebih cerdas dan bijak dalam mengantisipasi aksi-aksi tak bertanggung jawab yang dapat berdampak global, bukan sekedar permisif dengan dalih prerogatif. 

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan