Selasa, 29 Desember 2020

Selamat Tahun Baru 2021!


Telah menjadi sebuah rahasia umum bahwa setiap momen pergantian tahun senantiasa ditandai dengan berbagai asa yang baru. Harapan untuk mewujudkan beraneka rencana selama satu tahun ke depan. Sekali lagi, tahun baru menjadi semacam epistemologi tentang sebuah tatanan yang baru.

Manusia beserta peradabannya seperti terlahir kembali pada dunia yang benar-benar gres, sehingga secara bersamaan, segala rantai sejarah yang membersamainya seolah-olah diamputasi oleh epistemologi tahun baru. Segala hal buruk di masa lalu seolah-olah hendak ditanggalkan begitu saja. Sebab, dalam diri setiap manusia telah tergantung berbagai harapan baru. Mulai dari harapan untuk menjadi makhluk sosial yang lebih baik, rezeki yang lebih melimpah, hingga kesuksesan dalam meraih kemaslahatan bersama sebagai manifestasi dari kesadaran eksistensial.

Kita sebagai seorang manusia, hidup pada sebuah dimensi ruang dan waktu. Pemaknaan terhadap sebuah kehidupan senantiasa didasarkan pada segenap asa yang menggantung dalam setiap benak kita. Ruang menjadi suatu tempat dimana seorang manusia berproses mencari eksistensi diri sebagai manifesitasi dari kesadaran tentang apa itu waktu.

Sedangkan waktu sendiri adalah sebuah masa yang tak terbatas, yang di dalamnya manusia menempuh suatu proses dialektika tentang kesadaran diri dengan ruang dimana manusia itu bertempat. Ruang dan waktu menjadi semacam pertautan yang tak pernah bisa dipisahkan dalam tiap rangkaian kehidupan manusia. Sebab, di dalam keduanya, seorang manusia hidup dan memperjuangkan senegap asa sebagai wujud dari kesadaran dirinya tentang sebuah kehidupan.

Itulah mengapa banyak filsuf mengutarakan gagasan, bahwa inti dari segala yang ada adalah materi, termasuk kita, manusia. Sebagai sebuah indikasi dari pernyataan tersebut ialah, manusia butuh suatu tempat (materi) untuk berekspresi sekaligus menunjukkan eksistensi, karena manusia sejatinya merupakan materi itu sendiri.

Tetapi, antitesis dari filsuf materialisme yang datang dari filsuf eksistensialisme nampaknya patut pula menjadi sebuah perhatian kaitannya dengan perayaan awal tahun baru ini. Ketika filsuf materialisme menyebut manusia tak ada bedanya dengan benda-benda lainnya, sebagai sebuah manifestasi dari sunnatullah (serangkaian proses hukum alam; kimia, dan biologi), sehingga seolah-olah sama seperti makhluk lain; hewan dan tumbuhan. Filsuf eksistensialisme menyangkalnya dengan argumentasi bahwa hal tersebut dapat mereduksi totalitas manusia sebagai seorang khalifah. Manusia dengan segala potensinya memiliki kompleksitas diri yang bahkan mungkin tak dapat diukur, misalnya ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial, seperti ketika sedang mempertimbangkan suatu hal, dirundung kecemasan, optimisme, ketakutan, berani, galau, tenang, sedih, bahagia, membenci sesuatu, dan lain sebagainya.

Momen-momen eksistensial seperti itulah yang dapat memengaruhi diri manusia dalam menjalani sebuah kehidupan. Kita bisa saja memiliki semangat yang besar dalam melakukan perubahan di setiap awal tahun baru. Namun, yang perlu kita ingat, bahwa ketika dihadapkan pada sebuah realitas yang berbeda, kemudian kesadaran eksistensial kita sebagai seorang manusia meresponsnya, bisa saja justru kita akan berbalik 360 derajat.

Kesadaran Eksistensial
Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) 
sebuah diktum dari Rene Descartes, menghadirkan sebuah tatanan dunia baru yang mampu menggerakkan kita sebagai seorang manusia untuk melampaui suatu realitas tertentu dalam kehidupan. Kesadaran untuk bertindak lebih, berpikir dan mencipta suatu realitas menjadi euforia manusia dalam setiap perayaan tahun baru.

Segenap harapan terangkai rapi, bahkan seolah-olah masa depan akan dapat ditaklukkan menjadi sebuah kenyataan (kesuksesan) yang diraihnya selama satu tahun ke depan. Hal itu menjadi sebuah bukti yang menandakan betapa kekuatan berpikir seorang manusia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempengaruhi laku kehidupannya.

Dengan kemampuan berpikir yang demikian besar, manusia dapat melampaui realitas yang mungkin dalam banyak kesempatan mengungkung dirinya. Bahkan menurut Plato, dengan imajinasi (visi) yang dibayangkannya, manusia mampu menciptakan sesuatu yang dulunya belum pernah ada.

Meski demikian, kita juga mesti mawas diri dan realistis, bahwa kesadaran eksistensial pun terkadang tak mampu melampaui sebuah realitas (fenomena) yang ada. Itulah mengapa dalam kehidupan ini ada manusia yang gagal, pun ada yang berhasil/sukses.

Kesuksesan dan kegagalan dalam hidup merupakan dampak dari berbagai dialektika kesadaran eksistensial dengan realitas hidup manusia. Bahkan terkadang, yang menentukan kesuksesan atau kegagalan bukanlah kesadaran, melainkan realitas (fenomena) yang telah ada di dalam hidupnya.

Oleh sebab itu, dalam mengarungi perjalanan satu tahun ke depan, bahkan seterusnya, kematangan psikologi kita menjadi salah satu kunci sukses dalam mengarungi bahtera kehidupan. Kesiapan mental dalam menghadapi manis-getirnya perjalanan hidup harus menjadi pengawal setiap harapan yang kita bangun pada awal tahun.

Karena kenyataan yang ada di depan belum jelas dan masih menjadi misteri. Manusia boleh saja mengusahakan yang terbaik, tetapi Tuhan dengan keluasan kuasanya bisa mencipta berbagai kemungkinan di luar prediksi manusia.

Kesadaran Spiritualitas
Maka, selain menggerakkan kesadaran eksistensial kita sebagai seorang manusia, pada momentum tahun baru ini kita pun perlu menggerakkan kesadaran spiritualitas kita dalam menjalani kehidupan. Dengannya, diharapkan kita tidak akan hampa terhadap kesunyian, pun tidak mudah putus asa.

Kesadaran spiritualitas membuat manusia mampu membaca makna dan nilai sebuah kehidupan seutuh-utuhnya, sehingga tidak semua peristiwa atau realitas buruk bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas dianggapnya buruk pula. Singkat cerita, kehidupannya dipenuhi dengan prasangka baik terhadap Tuhan dan apa yang digariskanNya. Orang yang memiliki kesadaran spiritualitas memiliki cara berbeda dalam memandang sekaligus memahami realitas, sehingga kegagalan seribu kali pun tak membuat mereka berhenti memperjuangkan berbagai harapan dalam hidup.

Nilai hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas bukanlah pada hasil, tapi lebih pada orientasi akan usaha guna mencapai kesempurnaan hidup. Selain itu, kesadaran spiritualitas mengarahkan manusia pada jalan yang baik dan menghindarkan manusia dari perbuatan yang buruk.

Dalam mencapai kesuksesannya, ia pantang untuk menggunakan metode yang bertentangan dengan norma, seperti halnya kecurangan, perilaku koruptif, dusta, dan lain sebagainya. Realitas hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritual yang tinggi senantiasa diarahkan pada sebuah pencapaian yang sempurna, sebab mereka sadar bahwa pencapaian apa pun yang didapatkan di dunia, pada saatnya nanti akan terdegradasi dan sirna.

Semua yang ada hanyalah titipan Tuhan. Manusia hanya terus berkejaran dengan waktu, walau seringkali seolah-olah hendak menaklukkannya. Sementara waktu memang terlampau besar untuk dapat kita taklukkan.

Pada saatnya nanti, manusia tidak akan mampu melawan waktu, karena waktu adalah keabadian, ia tak memiliki batas awal dan akhir. Sedangkan tahun baru sejatinya hanyalah ‘ilusi’ buatan manusia sebagai rangkaian usaha untuk menaklukkan waktu dengan memangkasnya menjadi keratan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun.

Itulah mengapa, ilusi manusia, pada saatnya nanti tetap akan berlalu. Sebab, waktu tetaplah waktu, ia sama dan tak sekalipun berbeda. Tetapi, atas nama ilusi, biarlah kita tetap saling beruluk salam: Selamat Tahun Baru 2021!

Minggu, 20 Desember 2020

Konsep Reinforcement dan Punishment menurut B. F. Skinner

Menurut Skinner unsur terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Penguatan positif

Bentuk-bentuk penguatan positif berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, tepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

Penguatan negatif

Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Perbedaan antara penguat positif dan penguat negatif

Dalam penguat positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Sedangkan dalam penguat negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Sebuah penguat negatif tidak dapat disamakan dengan hukuman.

Punishment

Punishment (hukuman) adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuatu yang tidak diinginkannya. Hukuman akan menurunkan probabilitas terulangnya respon tertentu secara temporer. Skinner dan Thorndike memiliki pendapat yang sama soal efektivitas hukuman: Hukuman tidak menurunkan probabilitas respons. Walaupun hukuman bisa menekan suatu respons selama hukuman itu diterapkan, namun hukuman tidak akan melemahkan kebiasaan.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinannya mengulangi perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tak sesederhana itu. Imbalan dan hukuman tidak berbeda hanya dalam arah perubahan yang ditimbulkannya. Seorang anak yang dihukum berat karena bermain seks tidak selalu menjadi cenderung untuk tidak berbuat lagi; dan lelaki yang dipenjara karena melakukan kekerasan tidak selalu berkurang kemungkinannya melakukan kekerasan lagi. Perilaku yang dijatuhi hukuman tadi kemungkinan akan muncul kembali setelah hukuman selesai.

Beberapa alasan mengapa Skinner menentang penggunaan hukuman, yaitu:

  • Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku bersifat sementara, sehingga tidak efektif untuk dilakukan;
  • Dampak psikologis yang buruk mungkin akan muncul bila hukuman berlangsung lama;
  • Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
  • Hukuman akan menyebabkan perilaku agresi terhadap pelaku pengukum dan pihak lain.

Baca juga : Teori Belajar menurut Skinner: Operant Conditioning

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Hukuman diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seseorang perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika orang tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan dikurangi, maka pengurangan ini mendorong orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, inilah yang disebut penguatan negatif.

Menarik untuk dicatat bahwa Skinner sendiri tidak pernah dihukum secara fisik oleh ayahnya, dan hanya sekali dihukum fisik oleh ibunya, yang mencuci mulutnya dengan sabun karena ia berkata jorok.

Sabtu, 19 Desember 2020

Teori Belajar Albert Bandura : Social Learning

Albert Bandura berpendapat bahwa teori Skinner yang menekankan pada efek dari konsekuensi tingkah laku, mengabaikan fenomena modelling dan observational learning. Bandura mengemukakan Teori Social Learning (Belajar Sosial). Dalam teori ini, dijelaskan bahwa seseorang belajar dari pengalamannya mengamati (observasi) dan menirukan orang lain (model). Modelling adalah imitasi perilaku, akibat pengamatan terhadap perilaku lain dan pengalaman yang pernah terjadi, baik pada diri sendiri, maupun orang lain (observational learning). Analisis Bandura (1986) tentang social learning meliputi empat fase:

Baca juga : Teori Belajar menurut Pavlov : Classical Conditioning

Fase 1: Perhatian

Fase ini meliputi aktivitas memperhatikan model. Umumnya individu akan menaruh perhatiannya kepada model yang atraktif, sukses, menarik dan populer. Misalnya saat di dalam kelas, guru memperoleh perhatian siswa ketika memberikan presentasi yang jelas dan menarik, sehingga memotivasi siswa untuk memperhatikan.

Fase 2: Ingatan

Dalam fase ini, individu telah selesai mengamati dan memiliki ingatan tentang perilaku model. Misalnya, siswa akan mengingat bahwa guru selalu memberikan atau mempresentasikan materi dengan menarik dan jelas.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Fase 3: Meniru

Selama fase meniru, individu akan cenderung mencoba menyamakan perilakunya dengan model. Misalnya, siswa yang telah memperhatikan dan mengingat perilaku guru, mencoba berlatih menirukan perilaku guru, yaitu dengan presentasi materi dengan jelas dan menarik.

Fase 4: Motivasi

Dalam fase ini, individu harus memiliki keyakinan bahwa dengan meniru model, dia akan mendapatkan penguatan. Misalnya, jika siswa dapat melakukan presentasi dengan baik seperti gurunya, maka dia akan mendapatkan penghargaan (penguatan) dari gurunya.

Baca juga : Teori Belajar menurut Pavlov : Classical Conditioning


Jumat, 18 Desember 2020

Teori Belajar menurut Ivan Petovich Pavlov : Classical Conditioning

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) merupakan seorang fisiolog dan dokter dari Rusia yang mengusulkan satu teori pembelajaran yang cukup terkenal, yaitu Teori Classical Conditioning. Teori Classical Conditioning juga dikenal sebagai Teori Pavlovian atau Teori Respondent Conditioning. Secara sederhana, teori ini menjelaskan mengenai penggabungan dua stimulus untuk menghasilkan respon atau perilaku baru.

CNX OpenStax, CC BY 4.0 via Wikimedia Commons

Eksperimen Pavlov yang terkenal dalam menyimpulkan teori ini adalah pengamatannya terhadap anjing yang mengeluarkan air liur saat mendengar nada bel. Dalam eksperimen ini Pavlov membunyikan suara bel kemudian beberapa detik selanjutnya memberikan makanan kepada anjing. Saat diberi makanan, anjing tersebut akan mengeluarkan air liur.  Pada awalnya, Anjing hanya merespon mengeluarkan air liur ketika makanan diberikan. Dalam beberapa kali percobaan, Anjing mengeluarkan air liur ketika mendengar bel dibunyikan, karena tau akan ada makanan yang diberikan. Pada tahap selanjutnya, Anjing tersebut selalu mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, meskipun tidak ada makanan yang diberikan. Anjing tersebut telah mengalami pengondisian klasik. Berkat eksperimennya tersebut, Ivan Pavlov berhasil memenangkan Nobel di bidang Psikologi pada tahun 1904.

Dalam pengondisian klasik terdapat tiga tahapan yang memiliki istilah berbeda-beda bagi stimulus dan responnya.

Tahap 1 (Sebelum Pengkondisian)

Pada tahap ini, terdapat Stimulus Tak Terkondisi (Unconditioned Stimulus/UCS) dan Respon Tak Terkondisi (Unconditioned response/UCR). Dalam tahap ini belum ada perilaku baru yang dipelajari, stimulus dan respon yang terjadi merupakan kondisi alami yang terjadi. Misalnya saat seseorang senang mencium aroma vanila, UCS dapat berupa parfum vanila dan UCR dapat berupa rasa senang.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Tahap ini juga menggolongkan stimulus lain yang tidak berpengaruh pada seseorang dan disebut sebagai Stimulus Netral (Neutral Stimulus/NS). NS dapat berupa orang, objek, tempat, dll.

Tahap 2 (Selama Pengkondisian)

Pada tahap ini NS diasosiasikan dengan UCS dan akan menjadi Stimulus Terkondisi (Conditioned Stimulus/CS). Misalnya, UCS yang berupa parfum vanila dapat dikaitkan dengan orang (NS) yang memakai parfum vanila (CS).

Tahap 3 (Setelah Pengkondisian)

Pada tahap ini CS yang merupakan asosiasi antara NS dan UCS, telah menciptakan Respon Terkondisi (Conditioned Response/CR). Misalnya, seseorang yang senang mencium aroma vanilla, bertemu dengan orang yang memakai parfum vanilla. Sehingga selanjutnya, seseorang itu akan merasa senang ketika bertemu dengan orang tersebut.

Dalam proses belajar mengajar, teori Classical Conditioning ini dapat dikaitkan dengan stimulus-stimulus yang dapat dibuat untuk menciptakan respon yang diinginkan.

Selasa, 15 Desember 2020

Peralatan dan Furniture Murah untuk Dapur Aesthetic

Dalam sebuah rumah, dapur adalah satu ruangan primer yang pasti dibutuhkan. Tanpa dapur, maka kebutuhan utama manusia untuk mengkonsumsi makanan akan semakin sulit terpenuhi. Meskipun siapa saja sudah bisa membeli makanan di luar, namun tidak dapat dipungkiri bahwa peran dapur tetap dibutuhkan, walaupun hanya untuk masak air atau mie instan.

Bagi ibu-ibu, desain dapur di rumah sangat penting demi kenyamanan para ibu saat mempersiapkan makanan untuk keluarga. Dapur yang indah, bersih dan rapi akan sangat mempengaruhi suasana hati ibu saat memasak. Meskipun banyak sekali peralatan dan furnitur dapur yang membutuhkan kocek yang mahal.

Namun ibu-ibu tidak perlu khawatir karena ada juga toko-toko yang menjual furnitur dapur dengan murah namun tetap estetik. Berikut ini telah kami rangkum beberapa toko peralatan dan furnitur murah untuk melengkapi dapur estetik kamu.

Bufet Dapur Kayu under 600rb

Bufet dapur dengan desain minimalis dan modern ini sangat cocok untuk mempercantik dapurmu. Dengan total dua ruang penyimpanan tertutup. Desain kayu dengan warna terang akan memberikan kesan natural namun masih membuat dapur mungil terlihat luas.

Rak Gantung Kayu under 600rb


Rak Gantung dapat kamu letakkan di atas dapur kamu. Bufet bawah yang terbuat dari kayu, akan terlihat serasi jika digabungkan dengan rak gantung ini. Rak ini dapat kamu gunakan untuk menyimpan bumbu-bumbu dapur dan berbagai perlengkapan lainnya sehingga dapurmu akan terlihat lebih rapi dan cantik.

Mangkok Kayu Estetik 50rb-an


Mangkok kayu ini cukup multifungsi lho. Selain untuk peralatan makan, bentuk dan bahannya yang unik membuatnya sangat cocok untuk dijadikan pajangan atau hiasan dapur. Kesan natural yang diberikan akan menambah suasana sejuk di dalam dapur.

Kitchen Set Putih 500rb-an


Jika kamu mengusung konsep serba putih di dapur kamu, Kitchen Set satu ini pasti sangat serasi dengan perabotan di dapur. Warna putih atau warna terang lainnya akan membuat ruangan terkesan luas. Maka jika dapurmu tergolong dapur yang mungil, maka perabotan putih seperti ini layak dipertimbangkan.

Piring-Piring Keramik Cantik 100 s/d 200rb-an


Saat ini marak sekali desain rumah dengan konsep vintage. Jika kamu senang dengan konsep vintage, khususnya untuk dapurmu, kamu bisa mencoba untuk berkunjung ke toko ini. Di sini terdapat beberapa piring keramik yang dijual dengan harga yang cukup terjangkau. Piring berbahan keramik ini jadi bikin kita inget masa liburan di rumah nenek ya!

Meja Makan Lipat Kayu 700rb-an


Tidak lengkap rasanya, jika dapur kita yang sudah cantik tidak dilengkapi dengan meja makan yang cantik pula. Kamu dapat mencoba membeli meja lipat ini dengan harga sekitar 700rb-an saja. Meja yang dapat dilipat ini sangat direkomendasikan jika kamu punya dapur atau ruang makan yang cukup mungil. Sehingga jika sudah tidak digunakan, meja ini dapat dilipat dan disimpan.

Rak Bumbu Dapur Minimalis under 200rb

Rak satu ini tentu saja merupakan salah satu starterpack dapur rapi yang sangat penting. Kamu bisa mendapatkan rak minimalis dan cute ini hanya dengan harga 196rb. Terdapat slot untuk talenan dan pisau juga lho. Memasak jadi lebih menyenangkan deh!

Cover Toples Macrame by Request


Jika kamu memiliki toples-toples berisi makanan kering, kamu dapat menutupnya dengan rangkaian macrame seperti ini. Jika kamu tidak bisa membuat macrame, kamu bisa pesan dengan ukuran sesuai keinginan dan harga yang cukup murah, yaitu rentang 20 s/d 50 rb an saja!

Sticker Furniture Murah

Jika kamu sudah terlanjur memiliki perabotan, namun perabotanmu tidak memiliki wana senada sesuai harapan. Atau jika kamu ingin mengganti suasana dapur tanpa harus membeli barang baru, kamu cukup membeli sticker vinyl seperti ini. Kamu dapat memilih warna atau motif sesuai dengan keinginan dan menempelkannya di perabotan rumahmu dengan rapi. Jadi kamu tidak perlu susah-susah menghabiskan uang untuk membeli perabotan baru. Stiker ini dapat ditempel di berbagai furnitur seperti lemari, kulkas, meja, kursi, dinding, dan lain-lain.

Pot Bunga Mini

Terakhir, jika ada space kosong di dapur, kamu dapat meletakkan pot bunga mini untuk menambah cantik dapurmu. Kamu dapat membeli di toko online dengan harga yang sangat murah. Pilihlah pot dan bunga yang paling serasi untuk dipajang di dapurmu.

Senin, 14 Desember 2020

Teori Belajar menurut Burrhus Frederic Skinner : Operant Conditioning

McLeod, S. A. (2007). Skinner - Operant Conditioning CC BY-SA 4.0 via Wikimedia Commons

Burrhus Frederic Skinner (1904 – 1990) menganggap bahwa belajar adalah sebuah proses adaptasi yang bersifat progresif dari sebuah perilaku. Menurut Skinner, hubungan stimulus dan respon dengan perubahan perilaku seseorang tidaklah sesederhana konsep dari tokoh-tokoh sebelumnya. Ia berpendapat bahwa di respon tidak hanya dipengaruhi oleh stimulus, namun juga konsekuensi-konsekuensi akibat respon tersebut.

Baca juga: Teori Belajar menurut Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme

Lebih jelasnya, Skinner menjelaskan di dalam teorinya, yaitu Teori Operant Conditioning. Dalam teori ini, Skinner menjelaskan bahwa reinforcement adalah faktor yang penting dalam proses belajar atau dalam mengontrol perilaku seseorang. Ketika menerapkan operant conditioning dalam proses belajar siswa, guru akan memberikan penguatan ketika anak memunculkan perilaku tertentu, sehingga perilaku tersebut akan diulangi lagi atau tidak akan diulangi lagi. Misalnya, guru memberikan penghargaan ketika siswa lebih rajin, maka siswa akan cenderung untuk mengulangi perilaku rajinnya karena dia mengerti bahwa dengan berperilaku rajin dia akan mendapatkan penghargaan. Dengan demikian, teori Skinner menjelaskan bahwa perilaku seseorang dapat dikontrol dengan cara mengubah stimulus dan konsekuensinya.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Namun Skinner memiliki pandangan yang berbeda mengenai punishment. Menurutnya, hukuman hanya akan berakibat buruk bagi anak dan hukuman yang baik adalah anak measakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Adanya pandangan ini membuat pengendalian konsekuensi guru hanya terbatas pada reinforcement saja, baik reinforcement positif maupun negatif.

Kelebihan

Teori ini mengarahkan setiap guru untuk menghargai setiap siswanya, sehingga mendukung pembentukan lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan.

Baca juga: Teori Belajar menurut Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme

Kekurangan

Teori ini menghilangkan sistem hukuman bagi siswa yang tidak berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini mungkin dapat membuat siswa  menjadi kurang memahami pentingnya bersikap disiplin, sehingga dapat mempersulit proses belajar mengajar.

Jumat, 11 Desember 2020

Teori Belajar menurut Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme



Edward Lee Thorndike (1874 – 1949) berpendapat bahwa belajar merupakan sebuah proses interaksi antara stimulus dan respon. Teori thorndike sering disebut sebagai teori koneksionisme. Teori ini berpengaruh besar terhadap dunia pendidikan, sehingga Thorndike dinobatkan sebagai salah satu tokoh dalam psikologi pendidikan.

Dalam teori ini, belajar merupakan suatu kegiatan yang membentuk koneksi antara kesan dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, apabila individu merasa senang dan tertarik pada olah raga renang, maka individu tersebut akan memiliki kecenderungan untuk melakukannya. Apabila individu telah selesai berenang, dia akan merasa senang dan puas.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Dalam membuktikan teori ini, Thorndike melakukan eksperimen terhadap hewan percobaan kucing. Hewan ini telah dilaparkan dan dimasukkan ke dalam kandang yang tertutup. Pintu dari kendang tersebut akan terbuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam kandang disentuh. Di luar kendang telah diletakkan makanan.

Di awal eksperimen menujukkan kucing cenderung untuk melakukan hal-hal yang tidak membuahkan hasil seperti melompat-lompat, mengeluarkan kakinya untuk meraih makanan tersebut. Tingkah laku kucing membuatnya tidak sengaja menyentuh kenop sehingga pintu dapat terbuka. Eksperimen ini kemudian diulang kembali, sampai pada eksperimen ke 10 hingga 12, kucing sengaja menyenuh kenop untuk membuka pintu kendang. Percobaan ini mendukung teori “trial and error” atau “selecting and conecting” milik Thorndike, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. 

Dari percobaan tersebut, Thorndike merumuskan hukum-hukum belajar sebagai berikut:

Hukum Kesiapan (law of readiness)

Hukum ini menjelaskan bahwa semakin siap individu dalam menerima perubahan tingkah laku, maka melaksanakan perilaku tersebut akan semakin menimbulkan kepuasan. Dari hal ini akan muncul sebuah kecenderungan untuk berperilaku. Individu akan melakukan perilaku tersebut karena melalui itu dapat memperoleh kepuasan, maka akibatnya akan membuat individu tidak akan melakukan perilaku lainnya.

Sebaliknya, apabila individu tidak melakukan perilaku tersebut maka ia tidak akan mendapat kepuasan. Akibatnya adalah ia akan melakukan perilaku lainnya untuk mengurangi rasa tidak puasnya.

Namun terhadap sebuah perilaku yang individu tidak siap menghadapinya, maka tidak akan ada kecenderungan untuk melakukan perilaku tersebut. Apabila individu tetap melakukan perilaku tersebut maka akan muncul rasa tidak puas. Maka akibatnya, individu akan melakukan perilaku lainnya untuk mengurangi rasa tidak puasnya.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Hukum Latihan (law of exercise)

Law of exercise menjelaskan bahwa semakin sering melatih sebuah perilaku, akan memperkuat perilaku tersebut. Sebaliknya, sebuah perilaku akan melemah apabila tidak pernah diulang atau dilatih. Misalnya, seorang siswa akan semakin memahami materi pelajaran apabila ia selalu belajar dan mengulang-ulang latihan.

Hukum Akibat (law of effect)

Hukum akibat menjelaskan bahwa sebuah perilaku akan cenderung menjadi kuat apabila akibat yang ditimbulkan berupa sesuatu yang menyenangkan dan cenderung menjadi lemah apabila akibat dari perilaku tersebut adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

Misalnya, apabila seorang siswa mengerjakan tugas, maka ia akan mendapatkan senyum manis dan ucapan terimakasih dari gurunya. Namun apabila dia tidak mengerjakan tugas, ia akan mendapat hukuman. Senyum manis dan ucapan terimakasih merupakan akibat menyenangkan, sehingga ini dapat memperkuat perilaku anak dalam mengerjakan tugas.

 

Kamis, 10 Desember 2020

Teori Belajar Behaviorisme


Manusia terus belajar sepanjang hidupnya. Hampir semua pengetahuan, sikap, keterampilan, dan perilaku manusia dibentuk, diubah, dan berkembang melalui kegiatan belajar. Kegiatan belajar juga dapat terjadi kapan saja, dan di mana saja. Belajar merupakan suatu kegiatan berproses karena tidak terjadi secara instan, misalnya disebabkan oleh perkembangan (tumbuh lebih tinggi). Definisi lain belajar adalah perubahan pada individu disebabkan oleh pengalaman (lihat Mazur, 1990). Proses pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu pendekatannya adalah pendekatan behavioral.

Dalam sebuah pembelajaran, pendekatan behaviorisme menekankan pada aspek-aspek yang dapat diamati. Menurut teori behavorisme, belajar merupakan perubahan dari tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dan seseorang dapat dikatakan belajar apabila dia mampu menunjukkan peubahan dalam betingkah laku.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Contoh dari perubahan perilaku dalam belajar salah satunya adalah, ketika seorang anak pertama kalinya naik escalator di mall biasanya akan mengalami rasa takut. Namun ketika sudah dicoba beberapa kali, rasa takut itu akan hilang dan anak menjadi terbiasa. Perubahan perilaku “takut” menjadi “terbiasa” adalah suatu perwujudan dari belajar. Anak mempelajari bahwa menaiki escalator sebenarnya tidak menakutkan. Pendekatan behaviorisme dalam pembelajaran menjelaskan bahwa hanya perilaku yang dapat diamati saja yang dapat diuku secara langsung.

Dalam mempelajari teori behaviorisme, perlu dipahami bahwa munculnya atau berubahnya sebuah perilaku dipengaruhi oleh suatu kondisi. Apabila kondisi tersebut menyenangkan, maka disebut sebagai reinforcement. Namun apabila kondisi tersebut tidak menyenangkan, maka disebut sebagai punishment.

Reinforcement

Reinforcement merupakan stimulus yang diberikan untuk meningkatkan kemungkinan seseorang memunculkan perilaku tertentu. Dalam mencapai tujuan ini, reinforcement diberikan dalam dua bentuk, yaitu reinforcement positif dan negatif. Reinforcement positif dimunculkan dengan cara memberikan stimulus menyenangkan, sehingga dapat memperkuat dan meningkatkan frekuensi suatu perilaku. Sedangkan reinforcement negatif adalah dengan mengurangi atau menghilangkan stimulus tidak menyenangkan untuk meningkatkan atau memperkuat suatu perilaku.

Reinforcement juga dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pemenuhan kebutuhannya, yaitu primary reinforcement dan secondary reinforcement. Primary reinforcement merupakan stimulus yang berupa pemenuhan kebutuhan biologis, seperti makan, minum, dan tidur. Sedangkan secondary reinforcement adalah stimulus yang bukan pemenuhan kebutuhan biologis dan sifatnya harus dipelajari karena setiap individu memiliki kebutuhannya masing-masing, seperti uang, pujian, nilai, dan lain-lain.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Punishment

Punishment merupakan stimulus yang tidak menyenangkan. Stimulus ini diberikan untuk menurunkan kemungkinan munculnya suatu perilaku yang tidak diinginkan. Terdapat dua jenis punishment yang dapat digunakan untuk mengurangi suatu perilaku, yaitu presentation punishment dan removal punishment. Presentation punishment yaitu mengurangi perilaku tertentu dengan memberikan stimulus yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan bagi objek. Sedangkan removal punishment adalah dengan mengurangi atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan.

Extinction

Extinction atau pelenyapan merupakan sebuah proses hilangnya perilaku atau respons. Suatu perilaku yang telah mengalami penguatan tidak lagi diberi stimulus dalam periode tertentu. Oleh karenanya, mengakibatkan perilaku tersebut berhenti muncul.

Karakteristik dari proses extinction yaitu suatu perilaku mengalami peningkatan dari segi intensitas, frekuensi, dan durasi, namun tiba-tiba berkurang hingga menghilang, atau tidak muncul sama sekali. Peningkatan perilaku selama proses extinction ini disebut dengan extinction burst.

Shaping

Shaping merupakan pembentukan suatu perilaku yang benar-benar baru atau yang tidak pernah dilakukan oleh individu, dengan memberikan reinforcement berturut-turut dalam proses kemunculan perilaku baru tersebut. Misalnya, saat orang tua mengajari anak untuk mengatakan “Mama”. Pada mulanya anak akan mencoba belajar dengan mengucap, “mmm, mmm, mmm”. Ini merupakan respon awal anak saat belajar mengucapkan mama. Kemudian sering berkembangnya kemampuan anak dalam merespon stimulus, maka anak mulai bisa menyebutkan kata “mama” dengan benar.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Maintenance

Agar tidak terjadi extinction, maka diperlukan upaya untuk menjaga perilaku yang telah terbentuk tersebut. Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan reinforcement terjadwal untuk beberapa waktu, hingga kemudian perilaku tersebut dapat muncul sendiri meskipun tanpa reinforcement.

Jadwal Reinforcement

Jadwal Reinforcement disebut juga sebagai jadwal penguatan. Berikut ini merupakan jadwal penguatan yang dapat diterapkan dalam membentuk perilaku seseorang agar tidak mengalami extinction:

  • Fixed Ratio: Diberikan teratur setiap sejumlah respon tertentu.
  • Variable Ratio: Diberikan setiap sejumlah respon yang tidak tetap.
  • Fixed Interval: Diberikan teratur setiap kurun waktu tertentu.
  • Variable Interval: Diberikan setiap kurun waktu yang acak.
Beberapa Tokoh yang mengemukakan teori belajar dengan konsep behaviorisme adalah:

Selasa, 08 Desember 2020

Metode Pembelajaran Jigsaw

Jigsaw merupakan salah satu teknik dalam pembelajaran kooperatif. Dalam metode ini setiap individu memiliki tanggung jawab yang besar dalam proses belajar mereka. Mereka diharapkan aktif dan terampil dalam kelompok agar dapat mengembangkan pemahaman terhadap informasi yang diterima. Setiap individu dalam kelompok jigsaw tidak hanya berusaha untuk memahami penjelasan materi, tetapi juga dituntut untuk bisa menjelaskan meteri yang dia pelajari kepada setiap anggota di dalam kelompoknya.

Baca Juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Balajar Kelompok)

Langkah-langkah dalam melakukan pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw adalah:

  1. Membentuk kelompok awal yang anggotanya sejumlah materi-materi yang akan dipelajari, dan setiap anggotanya diberikan amanah untuk menjadi staf ahli dalam materi tertentu. Misalnya, dalam satu proses belajar mengajar, akan ada 5 materi yang dipelajari, maka jumlah anggota grup awal adalah 5 orang,
  2. Membentuk kelompok staf ahli. Kelompok staf ahli beranggotakan individu yang telah diberi amanah sesuai materinya,
  3. Kelompok staf ahli berkumpul untuk mempelajari materi tertentu, mendiskusikan, dan memahaminya bersama-sama,
  4. Setiap anggota staf ahli kembali ke kelompok asalnya masing-masing,
  5. Setiap anggota staf ahli menjelaskan materi yang dipelajarinya dari kelompok staf ahli kepada setiap anggota di kelompok asal.
  6. Sebagai evaluasi, pendidik memberikan kuis atau rangkaian pertanyaan untuk diselesaikan secara kelompok maupun individu.

Untuk mempermudah pemahaman terhadap langkah-langkah tersebut, maka berikut telah kami buatkan ilustrasinya.

 

Metode Pembelajaran Jigsaw (Ilustrasi:Rere)

Dalam melaksanakan metode jigsaw, pendidik hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, agar setiap anggota staf ahli dapat menguasai materi dan menjelaskannya kembali kepada anggota kelompok asalnya.

Baca Juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Balajar Kelompok)

Kekurangan dalam penerapan metode ini adalah lamanya proses pembelajaran karena tidak semua individu dapat memahami instruksi jigsaw. Semakin banyak individu, materi, atau kelompok yang terlibat, maka penerapan jigsaw akan semakin rumit.

Namun ada beberapa kelebihan dalam menjalankan metode ini yaitu, melatih kepercayaan diri individu karena telah dipercaya untuk memahami suatu materi dan menjelaskannya kepada kelompoknya. Selain itu, apabila metode pembelajaran jigsaw dapat berjalan sesuai instruksi, maka hal ini dapat mempermudah pendidik dalam proses mengajar. Adanya staf ahli dalam setiap kelompok, dapat membuat setiap individu menghargai sesamanya.

Selasa, 01 Desember 2020

Terorisme dan Jihad sebagai Diskursus Publik


Belakangan ini, fenomena terorisme kembali menyedot perhatian khalayak Indonesia. Meski atensi sebagian publik tetap tertuju pada kasus-kasus terkait pandemi serta ajakan jihad melalui perubahan lafadz adzan yang viral di sosial media, tampaknya, fenomena terorisme tetap menjadi diskursus utama di Republik ini.

Hal ini dipicu oleh serangkaian teror yang diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora cs. pada Jumat (27/11) sekitar pukul 10.00 Wita di sebuah Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tak hanya membunuh satu keluarga, Ali Kalora cs juga membakar sejumlah rumah dan mengambil barang-barang warga.

MIT sendiri merupakan salah satu kelompok militan di Indonesia. Kelompok ini menjadi otak dari banyak aksi teror di Sulawesi Tengah. MIT yang bermarkas di Poso juga sering disebut sebagai corong organisasi gerilyawan Islam Irak-Suriah (ISIS). Munculnya ISIS tak bisa dipisahkan dari runyamnya konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya kawasan Irak dan Suriah. Fenomena ini kemudian seiring waktu merambah dan mendapat banyak pengikut di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan negara kita bersama Filipina pernah mendapat julukan sebagai the forefront of al-Qaeda in the Southeast Asia

ISIS sebagai sebuah gerakan lebih tepat dikatakan sebagai neo-Khawarij yang menganggap pemahaman di luar mereka adalah salah. Kelompok Khawarij inilah yang pada zaman salaf menunjukkan sikap pembangkangan pada khalifah Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah (kw) dan pada akhirnya menginisiasi pembunuhan Sayyidina Ali kw dan bahkan para pemimpin Islam lainnya. Pada banyak hal, neo-Khawarij ini kemudian identik dengan kelompok al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden.

Fenomena Jihad dalam Tataran Global
ISIS bagi sebagian orang merupakan sebuah daya tarik, hingga mereka pun rela berbaiat untuk mendukungnya. Indonesia sebagai basis umat islam terbesar sekaligus paling heterogen di dunia, tak ayal ikut menjadi pangsa pasar yang menggiurkan. Fenomena jihad ISIS kian menjadi gerakan global yang cukup berpengaruh secara signifikan di Indonesia, yang sebenarnya jika ditilik lebih mendalam, hanya berkutat pada mis-interpretasi dan brainwashing seputar peperangan dan kesyahidan.

Sentuhan emosional-spiritual itu nampaknya berhasil memprovokasi sekaligus menghipnotis sebagian masyarakat Indonesia untuk ikut bergabung bersama ISIS. Penggunaan teknologi modern seperti internet dan sosial media untuk mempropagandakan agendanya dan merekrut anggota baru menjadi salah satu sebab bagaimana fenomena jihad yang pada awalnya hanya bersifat lokal di Timur Tengah saja, kini dapat menjadi sebuah fenomena global, hingga ter-import ke negeri kita.

Pidato Abu Bakar al-Baghdadi selaku pendiri ISIS yang diunggah di YouTube dan dilihat oleh ribuan atau bahkan jutaan netizen adalah bentuk propaganda bahwa sistem kekhalifahan dapat berdiri di zaman negara bangsa ini. Tak ayal, ajakan ini bak membius sebagian umat Islam yang merindukan sistem kekhalifahan pasca-Kekhalifahan Turki Ustmani runtuh pada awal abad ke-20. Baiat Santoso selaku pencetus sekaligus pemimpin tertinggi (Amir) MIT kepada ISIS yang diunggah ke Youtube pada 30 Juni 2014 adalah salah satu bentuk strategi propaganda dan perekrutan anggota baru untuk bergabung dalam gerakan jihad ini di Indonesia.

Perlu Ketegasan Pemerintah
Propaganda busuk yang dilakukan oleh sekian underbow ISIS yang bahkan berhasil mengecoh banyak umat islam harus disikapi secara tegas dan tuntas. Terminologi jihad yang secara serampangan dan sepihak ditafsirkan oleh ISIS dan para pengikutnya jelas merupakan sebuah pendiskreditan martabat dan jati diri Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Hal-hal tersebut juga telah sangat gamblang mereduksi makna jihad yang sebenarnya amat luas dan kontekstual.

Pembajakan makna jihad dengan ajakan untuk memerangi pihak liyan di luar golongannya jelas merugikan kemuliaan Islam, dan bahkan dapat memunculkan kembali isu islamophobia di kalangan masyarakat dunia. Itulah mengapa perbuatan tercela kaum neo-Khawarij semacam ini perlu disikapi secara serius dan penuh perhitungan.

Sebagai kaum muslimin sekaligus representasi dari agama islam yang penuh moderasi, para cendekiawan muslim yang moderat dan progresif hendaknya dapat mengisi celah-celah kekosongan yang ada pada media-media global dan sosial media agar tak dikuasai oleh diskursus pemikiran yang fundamentalis dan menyesatkan. Para ‘alim setidaknya harus mulai memviralkan Islam yang damai, toleran, progresif, dan berkemajuan pada umat melalui teknologi modern dan media global.

Meskipun fenomena terorisme dan jihad ini oleh sebagian orang dianggap tidak terlalu penting, namun, jika dibiarkan begitu saja, tak menutup kemungkinan bahwa gerakan semacam ini dapat menjadi sebuah ancaman yang destruktif. Karenanya, pemerintah harus bersikap tegas terhadap gerakan-gerakan semacam ini. Langkah preventif tentu menjadi opsi yang patut dipertimbangkan alih-alih memilih tindakan yang represif-eksploitatif. 

Kita melihat bahwa fenomena propaganda peperangan yang dialihbahasakan menjadi jihad di era yang penuh kedamaian ini jelas tidaklah relevan. Tak hanya kelompok teroris yang patut diwaspadai, kita juga tak boleh lengah dengan organisasi-organisasi yang juga sering melakukan tindak kekerasan baik verbal maupun nonverbal terhadap kelompok selain mereka. Teranyar adalah munculnya fenomena ajakan jihad melalui penggantian lafadz adzan ‘hayya alash-sholah’ (marilah sholat) menjadi ‘hayya alal jihad’ (marilah jihad) sambil menenteng pelbagai senjata yang viral di sosial media beberapa waktu lalu hingga sempat membuat resah masyarakat. Kelompok ini juga perlu mendapat atensi khusus nan serius oleh pemerintah sebelum bermetamorfosis menjadi sebuah organisasi radikal ketika berjumpa dengan momentumnya seperti halnya di Irak dan Suriah.

Yang tak kalah penting, pemerintah seyogianya perlu melibatkan organisasi-organisasi yang memang selama ini telah membuktikan komitmennya pada negara seperti halnya Muhammadiyah dan NU untuk dapat bersama-sama melakukan langkah-langkah preventif-edukatif terhadap proliferasi gerakan radikal semacam MIT.

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading