Jumat, 18 Desember 2020

Teori Belajar menurut Ivan Petovich Pavlov : Classical Conditioning

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) merupakan seorang fisiolog dan dokter dari Rusia yang mengusulkan satu teori pembelajaran yang cukup terkenal, yaitu Teori Classical Conditioning. Teori Classical Conditioning juga dikenal sebagai Teori Pavlovian atau Teori Respondent Conditioning. Secara sederhana, teori ini menjelaskan mengenai penggabungan dua stimulus untuk menghasilkan respon atau perilaku baru.

CNX OpenStax, CC BY 4.0 via Wikimedia Commons

Eksperimen Pavlov yang terkenal dalam menyimpulkan teori ini adalah pengamatannya terhadap anjing yang mengeluarkan air liur saat mendengar nada bel. Dalam eksperimen ini Pavlov membunyikan suara bel kemudian beberapa detik selanjutnya memberikan makanan kepada anjing. Saat diberi makanan, anjing tersebut akan mengeluarkan air liur.  Pada awalnya, Anjing hanya merespon mengeluarkan air liur ketika makanan diberikan. Dalam beberapa kali percobaan, Anjing mengeluarkan air liur ketika mendengar bel dibunyikan, karena tau akan ada makanan yang diberikan. Pada tahap selanjutnya, Anjing tersebut selalu mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, meskipun tidak ada makanan yang diberikan. Anjing tersebut telah mengalami pengondisian klasik. Berkat eksperimennya tersebut, Ivan Pavlov berhasil memenangkan Nobel di bidang Psikologi pada tahun 1904.

Dalam pengondisian klasik terdapat tiga tahapan yang memiliki istilah berbeda-beda bagi stimulus dan responnya.

Tahap 1 (Sebelum Pengkondisian)

Pada tahap ini, terdapat Stimulus Tak Terkondisi (Unconditioned Stimulus/UCS) dan Respon Tak Terkondisi (Unconditioned response/UCR). Dalam tahap ini belum ada perilaku baru yang dipelajari, stimulus dan respon yang terjadi merupakan kondisi alami yang terjadi. Misalnya saat seseorang senang mencium aroma vanila, UCS dapat berupa parfum vanila dan UCR dapat berupa rasa senang.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Tahap ini juga menggolongkan stimulus lain yang tidak berpengaruh pada seseorang dan disebut sebagai Stimulus Netral (Neutral Stimulus/NS). NS dapat berupa orang, objek, tempat, dll.

Tahap 2 (Selama Pengkondisian)

Pada tahap ini NS diasosiasikan dengan UCS dan akan menjadi Stimulus Terkondisi (Conditioned Stimulus/CS). Misalnya, UCS yang berupa parfum vanila dapat dikaitkan dengan orang (NS) yang memakai parfum vanila (CS).

Tahap 3 (Setelah Pengkondisian)

Pada tahap ini CS yang merupakan asosiasi antara NS dan UCS, telah menciptakan Respon Terkondisi (Conditioned Response/CR). Misalnya, seseorang yang senang mencium aroma vanilla, bertemu dengan orang yang memakai parfum vanilla. Sehingga selanjutnya, seseorang itu akan merasa senang ketika bertemu dengan orang tersebut.

Dalam proses belajar mengajar, teori Classical Conditioning ini dapat dikaitkan dengan stimulus-stimulus yang dapat dibuat untuk menciptakan respon yang diinginkan.

Previous Post
Next Post

0 Comments:

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading