Selamat Tahun Baru 2021!

Telah menjadi sebuah rahasia umum bahwa setiap momen pergantian tahun senantiasa ditandai dengan berbagai asa yang baru. Harapan untuk mewujudkan beraneka rencana selama satu tahun ke depan. Sekali lagi, tahun baru menjadi semacam epistemologi tentang sebuah tatanan yang baru.

Manusia beserta peradabannya seperti terlahir kembali pada dunia yang benar-benar gres, sehingga secara bersamaan, segala rantai sejarah yang membersamainya seolah-olah diamputasi oleh epistemologi tahun baru. Segala hal buruk di masa lalu seolah-olah hendak ditanggalkan begitu saja. Sebab, dalam diri setiap manusia telah tergantung berbagai harapan baru. Mulai dari harapan untuk menjadi makhluk sosial yang lebih baik, rezeki yang lebih melimpah, hingga kesuksesan dalam meraih kemaslahatan bersama sebagai manifestasi dari kesadaran eksistensial.
Kita sebagai seorang manusia, hidup pada sebuah dimensi ruang dan waktu. Pemaknaan terhadap sebuah kehidupan senantiasa didasarkan pada segenap asa yang menggantung dalam setiap benak kita. Ruang menjadi suatu tempat dimana seorang manusia berproses mencari eksistensi diri sebagai manifesitasi dari kesadaran tentang apa itu waktu.

Sedangkan waktu sendiri adalah sebuah masa yang tak terbatas, yang di dalamnya manusia menempuh suatu proses dialektika tentang kesadaran diri dengan ruang dimana manusia itu bertempat. Ruang dan waktu menjadi semacam pertautan yang tak pernah bisa dipisahkan dalam tiap rangkaian kehidupan manusia. Sebab, di dalam keduanya, seorang manusia hidup dan memperjuangkan senegap asa sebagai wujud dari kesadaran dirinya tentang sebuah kehidupan.
Itulah mengapa banyak filsuf mengutarakan gagasan, bahwa inti dari segala yang ada adalah materi, termasuk kita, manusia. Sebagai sebuah indikasi dari pernyataan tersebut ialah, manusia butuh suatu tempat (materi) untuk berekspresi sekaligus menunjukkan eksistensi, karena manusia sejatinya merupakan materi itu sendiri.
Tetapi, antitesis dari filsuf materialisme yang datang dari filsuf eksistensialisme nampaknya patut pula menjadi sebuah perhatian kaitannya dengan perayaan awal tahun baru ini. Ketika filsuf materialisme menyebut manusia tak ada bedanya dengan benda-benda lainnya, sebagai sebuah manifestasi dari sunnatullah (serangkaian proses hukum alam; kimia, dan biologi), sehingga seolah-olah sama seperti makhluk lain; hewan dan tumbuhan. Filsuf eksistensialisme menyangkalnya dengan argumentasi bahwa hal tersebut dapat mereduksi totalitas manusia sebagai seorang khalifah. Manusia dengan segala potensinya memiliki kompleksitas diri yang bahkan mungkin tak dapat diukur, misalnya ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial, seperti ketika sedang mempertimbangkan suatu hal, dirundung kecemasan, optimisme, ketakutan, berani, galau, tenang, sedih, bahagia, membenci sesuatu, dan lain sebagainya.

Momen-momen eksistensial seperti itulah yang dapat memengaruhi diri manusia dalam menjalani sebuah kehidupan. Kita bisa saja memiliki semangat yang besar dalam melakukan perubahan di setiap awal tahun baru. Namun, yang perlu kita ingat, bahwa ketika dihadapkan pada sebuah realitas yang berbeda, kemudian kesadaran eksistensial kita sebagai seorang manusia meresponsnya, bisa saja justru kita akan berbalik 360 derajat.
Kesadaran Eksistensial

Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) 

sebuah diktum dari Rene Descartes, menghadirkan sebuah tatanan dunia baru yang mampu menggerakkan kita sebagai seorang manusia untuk melampaui suatu realitas tertentu dalam kehidupan. Kesadaran untuk bertindak lebih, berpikir dan mencipta suatu realitas menjadi euforia manusia dalam setiap perayaan tahun baru.

Segenap harapan terangkai rapi, bahkan seolah-olah masa depan akan dapat ditaklukkan menjadi sebuah kenyataan (kesuksesan) yang diraihnya selama satu tahun ke depan. Hal itu menjadi sebuah bukti yang menandakan betapa kekuatan berpikir seorang manusia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempengaruhi laku kehidupannya.
Dengan kemampuan berpikir yang demikian besar, manusia dapat melampaui realitas yang mungkin dalam banyak kesempatan mengungkung dirinya. Bahkan menurut Plato, dengan imajinasi (visi) yang dibayangkannya, manusia mampu menciptakan sesuatu yang dulunya belum pernah ada.
Meski demikian, kita juga mesti mawas diri dan realistis, bahwa kesadaran eksistensial pun terkadang tak mampu melampaui sebuah realitas (fenomena) yang ada. Itulah mengapa dalam kehidupan ini ada manusia yang gagal, pun ada yang berhasil/sukses.

Kesuksesan dan kegagalan dalam hidup merupakan dampak dari berbagai dialektika kesadaran eksistensial dengan realitas hidup manusia. Bahkan terkadang, yang menentukan kesuksesan atau kegagalan bukanlah kesadaran, melainkan realitas (fenomena) yang telah ada di dalam hidupnya.
Oleh sebab itu, dalam mengarungi perjalanan satu tahun ke depan, bahkan seterusnya, kematangan psikologi kita menjadi salah satu kunci sukses dalam mengarungi bahtera kehidupan. Kesiapan mental dalam menghadapi manis-getirnya perjalanan hidup harus menjadi pengawal setiap harapan yang kita bangun pada awal tahun.
Karena kenyataan yang ada di depan belum jelas dan masih menjadi misteri. Manusia boleh saja mengusahakan yang terbaik, tetapi Tuhan dengan keluasan kuasanya bisa mencipta berbagai kemungkinan di luar prediksi manusia.

Kesadaran Spiritualitas
Maka, selain menggerakkan kesadaran eksistensial kita sebagai seorang manusia, pada momentum tahun baru ini kita pun perlu menggerakkan kesadaran spiritualitas kita dalam menjalani kehidupan. Dengannya, diharapkan kita tidak akan hampa terhadap kesunyian, pun tidak mudah putus asa.
Kesadaran spiritualitas membuat manusia mampu membaca makna dan nilai sebuah kehidupan seutuh-utuhnya, sehingga tidak semua peristiwa atau realitas buruk bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas dianggapnya buruk pula. Singkat cerita, kehidupannya dipenuhi dengan prasangka baik terhadap Tuhan dan apa yang digariskanNya. Orang yang memiliki kesadaran spiritualitas memiliki cara berbeda dalam memandang sekaligus memahami realitas, sehingga kegagalan seribu kali pun tak membuat mereka berhenti memperjuangkan berbagai harapan dalam hidup.
Nilai hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas bukanlah pada hasil, tapi lebih pada orientasi akan usaha guna mencapai kesempurnaan hidup. Selain itu, kesadaran spiritualitas mengarahkan manusia pada jalan yang baik dan menghindarkan manusia dari perbuatan yang buruk.

Dalam mencapai kesuksesannya, ia pantang untuk menggunakan metode yang bertentangan dengan norma, seperti halnya kecurangan, perilaku koruptif, dusta, dan lain sebagainya. Realitas hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritual yang tinggi senantiasa diarahkan pada sebuah pencapaian yang sempurna, sebab mereka sadar bahwa pencapaian apa pun yang didapatkan di dunia, pada saatnya nanti akan terdegradasi dan sirna.
Semua yang ada hanyalah titipan Tuhan. Manusia hanya terus berkejaran dengan waktu, walau seringkali seolah-olah hendak menaklukkannya. Sementara waktu memang terlampau besar untuk dapat kita taklukkan.

Pada saatnya nanti, manusia tidak akan mampu melawan waktu, karena waktu adalah keabadian, ia tak memiliki batas awal dan akhir. Sedangkan tahun baru sejatinya hanyalah ‘ilusi’ buatan manusia sebagai rangkaian usaha untuk menaklukkan waktu dengan memangkasnya menjadi keratan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun.
Itulah mengapa, ilusi manusia, pada saatnya nanti tetap akan berlalu. Sebab, waktu tetaplah waktu, ia sama dan tak sekalipun berbeda. Tetapi, atas nama ilusi, biarlah kita tetap saling beruluk salam: Selamat Tahun Baru 2021!

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan