Senin, 11 Januari 2021

Jurnalisme Masa Kini: Antara Firasat dan Filsafat


Pesawat Boeing 737-524 Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak, yang berangkat Sabtu, 9 Januari 2021 pukul 14.36 WIB dan hilang kontak, hingga kini masih belum juga diketahui nasibnya.

Berbagai potensi SAR telah ikut terlibat dan dikerahkan ke wilayah perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu untuk melakukan pencarian. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pernyataan resminya pada Minggu, 10 Januari 2021, menginstruksikan kepada para pejabat terkait untuk segera melakukan operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Termasuk, melakukan pertolongan jika ada korban yang selamat.

Sejak berita hilang kontaknya Sriwijaya Air SJ 182 viral, kasus ini sontak mengundang empati dari masyarakat. Kita seakan terhipnotis dengan ramainya berita yang ditayangkan di televisi seputar kecelakaan yang menimpa maskapai penerbangan terbesar ketiga di Indonesia tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat secara umum ingin memantau setiap perkembangan dari peristiwa tersebut melalui media massa.

Sebagian orang barangkali ingin memenuhi rasa penasaran mereka dengan tidak henti-hentinya mencermati tiap tampilan berita, gambar, dan petikan wawancara yang ditayangkan di layar kaca. Bagi sebagian yang lain, di era disruptif ini, ada yang memilih untuk mengakses berita-berita tersebut melalui gawai mereka secara langsung, walau tetap ada kalangan yang lebih nyaman menyimak berita melalui media cetak. Semua pihak seperti tak ingin ketinggalan momen, mereka haus akan informasi mengenai bagaimana proses evakuasi ke-62 korban hingga indentifikasi, dan yang terpenting adalah soal sebab yang melatarbelakangi kecelakaan tersebut.

Firasat yang Dibuat
Seperti yang kita tahu, bahwa peristiwa bencana dan/atau kecelakaan semacam ini praktis menimbulkan kesedihan bagi pihak keluarga, bahkan hingga trauma bagi pihak lain yang mungkin tidak terlibat secara langsung. Namun sayang, di tengah gelombang empati dan rasa ingin tahu masyarakat yang tinggi, beberapa oknum media di Indonesia yang meliput sejumlah peristiwa bencana dan/atau kecelakaan semacam ini nampaknya masih menunjukkan kegagapan dalam menjalankan tugas mulianya. Setelah mengetahui seberapa besar skala kecelakaan dan tragedi ini, awak media pun berlomba-lomba meliput atau bahkan hingga mewawancarai para keluarga korban.

Yang patut disesalkan adalah ketika media-media tersebut membuat konten atau bahkan hingga menanyakan hal-hal yang terkait dengan ‘firasat’ kepada para anggota keluarga korban. “Apakah ada firasat sebelum terjadinya kecelakaan ini?” kalimat tersebut seakan menjadi sebuah template pertanyaan yang kerap diajukan oleh para pewarta kepada anggota keluarga korban. Selain itu, konten yang terkait dengan status media sosial korban sebelum keberangkatan juga kerap kita saksikan berseliweran di beranda gawai kita. Media seakan ingin menyampaikan kepada para pemirsa bahwa ada keterkaitan berupa ‘firasat’ antara sebelum keberangkatan seorang korban, dengan kecelakaan yang terjadi. 

Berita semacam ini sejatinya kerap kita dengar pula di sejumlah kecelakaan lain sebelumnya. Ada semacam penggiringan opini bahwa firasat menjadi sebuah hal yang penting untuk diketahui masyarakat. Firasat menjadi sebuah komoditi yang menggiurkan untuk tak hanya diciptakan, namun juga diviralkan. Jika kita tilik secara obyektif, hal yang terkait firasat ini sebenarnya tak begitu menambah informasi yang berguna bagi para pemirsa, selain hanya menjadi sarana untuk memperpanjang perspektif klenik dalam melihat suatu peristiwa kecelakaan seperti ini. 

Hal yang semestinya dapat menjadi alternatif berita dan lebih normatif untuk diekspos adalah profil korban yang inspiratif, maksud perjalanannya, dan hal-hal faktual lain yang bisa diverifikasi. Dalam hal kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, bukankah lebih berguna jika wartawan bertanya soal mekanisme penerbangan di tengah pandemi yang telah ditempuh oleh para korban untuk bisa naik pesawat tersebut. Hal ini akan jauh lebih bermakna karena belakangan menjadi polemik soal meningkatnya kasus aktif COVID-19 paska libur natal dan tahun baru.

Di satu sisi, para jurnalis yang meliput peristiwa tragis seperti ini dituntut untuk berempati kepada para korban. Namun, di sisi lain, para wartawan juga dituntut untuk memberikan informasi yang bisa memberi makna dari peristiwa yang telah terjadi. Dalam kerangka semacam ini, ‘firasat’ yang sejatinya dicipta sekaligus dipersepsikan sendiri oleh media tentu sangat tidak berkontribusi bagi pemahaman khalayak kecuali hanya membuat gaduh, diskusi yang tak bergizi, dan kesedihan yang berlarut bagi pihak keluarga korban. Walau media dalam setiap produksi beritanya diliputi oleh orientasi bisnis, namun hendaknya tidak serta merta mengesampingkan fungsi edukasi yang membuat mulia tugas mereka. Tidak etis rasanya jika prinsip yang digunakan adalah ‘asal berita laku’, hingga kemudian tidak mempedulikan lagi etika gambar, judul, dan naskah yang disajikan. 

Filsafat yang Terlibat
Para pekerja media juga harus senantiasa memegang teguh kode etik jurnalistiknya, yang mana tak hanya sekedar keharusan pekerja media untuk tidak boleh menjiplak, memfitnah, berbohong, dan menerima ‘amplop’ saja. Namun yang tak kalah penting dari itu semua ialah selalu menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan rasa keadilan bagi seorang narasumber.

Media kita mungkin perlu lebih arif sekaligus obyektif dalam memandang setiap kejadian khususnya yang terkait dengan kecelakaan dan kebencanaan. Pendekatan firasat barangkali perlu dimodifikasi menjadi pendekatan filsafat. Karena tanpa filsafat, jurnalisme kita bisa terhempas bebas ke dalam lembah ketidakpedulian, membiarkan dirinya menjadi alat bagi kekuatan-kekuatan tertentu untuk merestorasi berbagai kegelisahan, sekaligus mengebiri tugas mulia seorang jurnalis untuk mewartakan kebenaran. 

Filsafat nampaknya dapat menjadi semacam mercusuar bagi jurnalisme di tengah kebimbangannya dalam memahami serta menyampaikan apa yang benar dan benar-benar perlu untuk disampaikan. Filsafat dapat memberikan alternatif paradigma, atau bahkan merekonstruksi apa yang telah diyakini oleh jurnalisme sebagai sesuatu yang tak tergoyahkan, dan tak menutup kemungkinan dapat membuka berbagai peluang epistemologi baru di tengah sumber informasi yang kian plural, selain usaha untuk memahami berbagai realitas sosial secara lebih radikal.
Previous Post
Next Post

0 Comments:

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading