Bencana sebagai Cermin Peradaban

Belum tuntas duka kita dan para keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan kepulauan seribu beberapa waktu lalu, kini Indonesia kembali diliputi nestapa setelah serentetan bencana menerpa negara yang kita cinta bersama. Menilik data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), sejak awal bulan hingga tanggal 16 Januari 2021, tercatat telah terjadi 136 bencana alam di Indonesia. Terdiri dari banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 kejadian, gempa bumi 2 kejadian dan gelombang pasang 2 kejadian.

Ratusan bencana tersebut menyebabkan 80 korban jiwa, 858 orang luka-luka, dan sebanyak 405.584 orang terdampak dan harus diungsikan. Berbagai media cetak dan elektronik, bahkan hingga para pegiat media sosial berlomba-lomba mengumpulkan berita aktual, sebagian besar berfokus untuk memuat penuturan sekaligus argumen dari para ahli dan birokrat penanggulangan bencana terkait sebab musabab dari berbagai peristiwa bencana di awal tahun ini. 

Tanpa kita sadari, pola pemberitaan semacam ini senantiasa berulang dalam setiap kejadian bencana. Meski dari sudut pandang saintifik, hal ini mungkin menjadi sebuah daya tarik tersendiri, namun di sisi lain, kita juga perlu mempertimbangkan bahwa ketakutan generik masyarakat juga dapat timbul dari berbagai pemberitaan yang memuat penjelasan dari para ahli. Hal ini diakibatkan oleh penjelasan-penjelasan yang sering menyebutkan baik secara tersirat ataupun tersurat bahwa wilayah Indonesia adalah wilayah yang memiliki kerentanan akan bencana yang tinggi. Sudut pandang geografis dan geologis Indonesia adalah dua hal pokok yang sering dijadikan argumentasi. Namun, sadarkah kita, bahwa dengan posisi geografis dan geologis tersebut, bencana, khususnya yang selama ini disebut sebagai bencana alam, adalah sebuah keniscayaan di wilayah Indonesia?

Muhasabah Kemanusiaan

Kita sebagai insan yang senantiasa mendambakan kesejahteraan, tak pernah terlintas sedikit pun untuk menghendaki berbagai bencana, walau kita juga tak mungkin menafikan bahwa itu merupakan takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Namun demikian, hal ini mesti kita sikapi secara lebih arif dan bijak sebagai bentuk muhasabah demi terwujudnya keseimbangan alam yang baik untuk semua.

Segala bencana yang terjadi sejatinya tak pernah terlepas dari intervensi kita sebagai  pengelolanya. Hal ini pun sebagai pengingat bagi kita bahwa berarti masih terdapat banyak tingkah laku kita yang mesti diperbaiki. Selama perilaku kita masih belum menunjukkan keseriusan untuk merawat alam sekitar, pun kepada sesama manusia, niscaya bencana-bencana lainnya masih akan terus membayangi.

Sebagian dari kita, bahkan telah ‘mengkambinghitamkan’ Tuhan ketika bencana menimpa. Mereka berujar bahwa ini merupakan manifestasi dari kemurkaan Tuhan atas perilaku buruk kita. Namun yang seringkali kita lupa, bukankah kasih sayang-Nya jauh mendahului murka-Nya? alangkah lebih elok jika kita mempersepsikan bahwa Ia menjadikan bencana ini sebagai cermin atas perilaku kita. Ia melalui bencana ini hendak membangkitkan kesadaran kita untuk segera mengubah perilaku buruk kita menjadi lebih baik. Karenanya, cermin ini masih akan terus dihadapkan oleh-Nya sepanjang perilaku kita kepada diri kita sendiri, lingkungan, dan sesama manusia masih buruk. Dia sebagai Dzat yang Maha Indah tentu menginginkan kita sebagai khalifahNya untuk dapat hidup nyaman dengan berbagai potensi keindahan.

Jadi, untuk bagian bumi yang saat ini disebut sebagai wilayah Indonesia, berbagai potensi kebencanaan adalah sebuah keniscayaan. Karena, memang begitulah kodrat bumi sebagai tempat tinggal kita umat manusia ini telah ditetapkan. Seluruh fenomena alam tersebut adalah tanda bahwa bumi kita hidup. Tinggal bagaimana kita yang menghuninya ini dapat ‘memberikan’ penghidupan yang baik bagi bumi atau tidak. Karena, hidup pun tak berarti sehat.

Sebagai sebuah muhasabah, bahwa sesungguhnya bencana adalah jalan Tuhan untuk membangkitkan kesadaran kita. Adalah tangan lembut yang membuat seorang anak mampu merangkak dari semula hanya duduk, kemudian berdiri, berjalan tertatih dan kemudian mampu berlari. Inti dari sebuah bencana bukanlah melulu soal kerugian, kehilangan, kesakitan, kepedihan, atau pun penderitaan. Ia adalah sebuah cermin besar bagi umat manusia. Ia mestinya senantiasa membangkitkan kesadaran, bahwa ternyata wajah peradaban kita masih penuh noda dan bahkan mungkin tidak sedang baik-baik saja.

Arogansi dan Individualisme

Sejatinya, perilaku alam senantiasa bersifat netral, sedangkan anggapan baik dan buruknya adalah hal lain yang muncul karena paradigma manusia yang cenderung arogan dan individualis. Alam dengan segala dinamikanya telah ditakdirkan bersifat pasif oleh Tuhan, sehingga apa yang ditampakkan hanyalah merupakan sebuah respon yang wajar, apa adanya. Alam dapat diibaratkan menjadi sebuah cermin, yang hanya bisa memantulkan apa yang ada di hadapannya. Hukum tabur tuai menjadi sebuah keniscayaan.

Tanah longsor, banjir, gempa bumi, erupsi gunung berapi, dan berbagai macam bencana alam lainnya sejatinya telah ada sejak terciptanya bumi ini, jauh sebelum kehadiran umat manusia. Maka dari itu, ada atau tidaknya manusia, bumi pun tetap akan berperilaku sesuai dengan kodratnya. Tanahnya tetap akan melongsori lereng-lereng terjal, hujan-hujannya yang deras akan setia mengguyur wilayah-wilayah tropisnya, gempa tetap akan terjadi di berbagai sudut bumi, bahkan gunung-gunungnya pun tetap akan bererupsi. Karena memang begitulah dinamika natural dari bumi ini, yang justru membuktikan bahwa bumi ini sedang dan masih hidup.

Sebagai gambaran faktual sekaligus aktual, bahwa erupsi Gunung Semeru pada 1 Desember 2020, yang diikuti oleh guguran awan panas dari puncak mahameru, bukanlah yang pertama kali terjadi. Hasil penelitian terkini membeberkan fakta bahwa erupsi serupa cukup sering terjadi, bahkan erupsi pertama dari atap pulau jawa ini, tercatat terjadi sekitar 200 tahun lalu. Tepatnya pada 8 November 1818.

Seandainya pencatatan dan penelitian geologi dilakukan untuk rentang waktu yang lebih panjang, maka tak menutup kemungkinan bagi kita untuk memperoleh bukti bahwa erupsi serupa juga pernah terjadi dalam rentang waktu ribuan, ratusan ribu, atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Yang perlu kita cermati sekaligus renungi dalam setiap kejadian bencana ini ialah, bahwa efek primer dari sebuah bencana, sebut saja erupsi gunung berapi, bahkan dengan guguran lava pijar yang besar sekali pun, tidak akan secara langsung mengakibatkan kematian. Yang justru menyebabkan kematian adalah robohnya bangunan, longsornya tanah, kebakaran, atau hal-hal lain yang merupakan efek sekunder dari erupsi tersebut.

Jadi, kalau kita mampu membuat bangunan dan rumah yang tahan gempa, niscaya kita tidak akan menjadi korban gempa akibat tertimpa rumah atau bangunan kita sendiri. Kalau kita tidak tinggal di dataran pantai yang rawan tsunami, niscaya kita pun tak akan jadi korban tsunami. Kalau kita tak membangun rumah di lereng terjal, niscaya kita tak akan menjadi korban tanah longsor. Kalau kita tidak menebangi hutan secara membabi buta, tidak tinggal di bantaran sungai, dan tidak membuang sampah sembarangan, niscaya kita juga tidak akan mengalami musibah banjir. Begitu pun dalam kehidupan bersosial, jika kita senantiasa berlaku baik terhadap sesama tanpa memandang latar belakang apapun, niscaya kesenjangan sosial bisa diminimalisasi.

Di sisi lain, kita juga mesti sadar, bahwa mekanisme alami yang terjadi dan seringkali dipersepsikan sebagai sebuah bencana inilah yang memunculkan daratan Indonesia dari dasar samudera sejak jutaan tahun lalu, kemudian pada akhirnya terbentuklah gugusan pulau, bukit, dan gunung dengan segala keeksotisannya. Dari mekanisme ‘bencana’ itu pula, kemudian menghasilkan retakan-retakan yang menjadi ruang bagi minyak bumi, emas, perak, tembaga, dan beragam bahan tambang lainnya.

Erupsi gunung berapilah yang juga membuat tanah-tanah di Indonesia menjadi subur dan menyimpan cadangan air yang sangat melimpah di dalam tanah. Longsor dan banjirlah yang menghamparkan sedimen dan membentuk dataran yang subur dan nyaman untuk ditinggali manusia. Curah hujan kita yang amat tinggi juga membuat berbagai flora tumbuh subur, hingga dapat menjadi sumber penghidupan bagi makhluk yang lain, termasuk manusia. Kemudian, atas semua dinamika di atas, terlepas dari stigma kemanusiaan atas bencana yang terjadi, adilkah jika kita menyalahkan berbagai perilaku bumi sebagai penyebab terjadinya sebuah bencana?

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan