COVID-19 : Mutasi dan Vaksinasi

Terhitung hingga awal tahun 2021, pandemi COVID-19 masih belum ada tanda-tanda enyah dari muka bumi. Bahkan, kini telah santer diberitakan terdapat sekelompok mutasi atau varian baru pada banyak kasus COVID-19 di berbagai belahan negeri. Di Indonesia sendiri, tren peningkatan kasus COVID-19 masih sangat tinggi dan cenderung pada level ‘menyayat hati’. Hal ini didasarkan pada jumlah rata-rata kasus penularan per hari dalam tujuh hari ke belakang yang telah mencapai 7.000 kasus. Secara keseluruhan, jumlah kasus aktif di Indonesia saat ini sudah mencapai 110.000 kasus.

Merespon tren peningkatan kasus infeksi yang terus meninggi, Pemerintah Indonesia merencanakan untuk segera memulai vaksinasi COVID-19 di Indonesia pada Rabu (13/1/2021) mendatang menggunakan vaksin Corona Sinovac. Ke depannya disebut akan ada 7 jenis vaksin COVID yang beredar di Indonesia. Kementerian Kesehatan telah melakukan kerja sama dengan sejumlah produsen untuk mengamankan sekitar 660 juta dosis vaksin yang akan digunakan. 
Namun, program vaksinasi ini tidak lancar begitu saja. Perdebatan dan adu argumen serta pro-kontra terjadi di kalangan akar rumput, bahkan para ahli dengan argumennya masing-masing belum sepenuhnya sepakat dengan terobosan ini. Sebut saja terkait masalah merk, uji klinis, gratis-mandiri, hingga soal halal-haram dari vaksin yang akan digunakan.

Terlepas dari berbagai persoalan dan perdebatan di atas, kasus yang terus melonjak di berbagai belahan dunia membuat umat manusia sepakat dan semakin berharap pada kehadiran vaksin yang efektif dan aman. Apalagi, di tengah ancaman gelombang kedua yang membuat prospek pemulihan ekonomi menjadi kian suram. Kini, berbagai negara di dunia selain berlomba untuk mengembangkan vaksin COVID-19, mereka juga berlomba untuk mengamankan pasokannya, karena saat ini, vaksin COVID-19 merupakan sebuah kebutuhan pokok yang kian menjadi barang langka.
Sejarah Vaksin
Vaksin merupakan zat yang berasal dari virus atau bakteria yang telah dilemahkan atau dimatikan melalui mekanisme ilmiah. Vaksin dapat digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif pada tubuh terhadap suatu penyakit tertentu. Vaksin sendiri sejatinya telah dikenal secara luas sejak tahun 1796 ketika vaksin cacar pertama kali ditemukan oleh seorang dokter bernama Edward Jenner di Berkeley, suatu daerah pedesaan di Inggris. 
Jadi, vaksin bukan merupakan hal baru, kendati sikap anti-vaksin juga memiliki akar sejarah panjang yang senantiasa membersamai. Selain alasan religius, ada pula alasan yang didukung argumen beragam nan kompleks. Mulai dari argumen yang menyatakan bahwa terdapat efek samping negatif akibat vaksinasi, peningkatan tingkat disabilitas pada anak terkait imunisasi. Ada pula anggapan bahwa vaksin adalah racun dan bahan yang tidak diperlukan tubuh, hingga anggapan bahwa vaksin merupakan bagian dari konspirasi elit global.

Namun, sejarah telah mencatat bahwa vaksinasi telah membawa perubahan konstruktif yang cukup signifikan pada dunia kedokteran. Salah satu tanda kesuksesan vaksin yang paling besar adalah ketika WHO berhasil menghapuskan cacar dengan cara memperluas cakupan vaksinasi cacar hingga ke seluruh dunia pada tahun 1956. Hingga akhirnya, pada 1980, cacar dinyatakan telah tereradikasi. Melihat dari sejarah, tujuan pembuatan vaksin tidak lain adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari penyakit menular yang mematikan, termasuk COVID-19. Jangan sampai karena kelalaian dan informasi yang tidak jelas membuat kita takut untuk melakukan vaksinasi.
Yang perlu kita garis bawahi di sini ialah bahwa manfaat eradikasi sangatlah jelas; menyelamatkan nyawa dan menghindari kecacatan seumur hidup yang sebenarnya dapat dicegah. Keberhasilan vaksinasi di era sebelumnya mestinya dapat menjadi acuan bagi pencegahan penyakit baru seperti COVID-19. Sejatinya, pencegahan penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan atau bahkan kematian adalah bagian dari upaya menanggulangi kemiskinan dan memberikan kesempatan lebih luas kepada generasi penerus untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.
Lebih Dari Sekedar Pencegahan
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran yang kian dinamis, kita pun sebagai masyarakat global perlu memiliki visi lebih besar dari sekadar pencegahan berbagai penyakit baru. Selain vaksinasi dan/atau imunisasi, masih banyak upaya yang dapat sekaligus perlu dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit baru di masa yang akan datang. Pemanfaatan infrastruktur, kapasitas, dan strategi inovatif dalam eradikasi penyakit di masa lalu seperti halnya cacar dan polio sangatlah penting dalam strategi pengendalian penyakit lain.
Pemerintah dan masyarakat harus seiya sekata dalam penguatan sistem kesehatan. Dengan tiga dimensi (akses, keterjangkauan pembiayaan, dan mutu) jaminan kesehatan menyeluruh dapat menjadi agen perubahan di dunia kesehatan yang berimplikasi langsung terhadap masyarakat.  Tenaga kesehatan dan masyarakat sipil terkait sudah harus disiapkan, terus dilatih dan dilengkapi dengan perangkat yang diperlukan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Demikian pula laboratorium klinik yang mudah diakses serta jejaring komunikasi yang komprehensif juga akan bermanfaat bagi pengendalian berbagai penyakit. 

Manfaat Vaksin
Namun demikian, kesalahan persepsi yang sering terjadi di masyarakat secara umum adalah adanya anggapan bahwa vaksin ialah segala-galanya. Jika sudah divaksin, kita tidak akan terinfeksi. Sejatinya, itu adalah pandangan yang keliru. Vaksin akan menimbulkan respons kekebalan yang baik jika kita tetap menegakkan protokol kesehatan.
Dengan adanya sistem vaksinasi yang baik, setidaknya ada 3 manfaat besar bagi kelangsungan hidup masyarakat, di antaranya adalah; (1) penghematan biaya dalam jangka panjang. Pada awalnya, proses vaksinasi memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun, jika dibandingkan dengan penghematan biaya yang berkaitan dengan pengobatan suatu penyakit, tentunya modal awal tersebut tidak akan menjadi lebih besar dari manfaat yang dihasilkan.
(2) vaksin dapat mencegah perkembangan resistensi terhadap antibiotik. Dengan adanya kekebalan tubuh dari orang yang telah divaksin, secara otomatis ketergantungan akan penggunaan antibiotik akan menurun.
(3) program vaksinasi secara tidak langsung dapat meningkatkan angka harapan hidup. Menurut data WHO, vaksin juga dapat meningkatkan angka harapan hidup dengan melindungi seseorang dari penyakit yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Well, pada akhirnya memang tidak akan ada vaksin yang sempurna dengan efektivitas dan keamanan tinggi khususnya dalam waktu produksi yang singkat. Namun, bagaimana pun ini adalah rangkaian ikhtiar untuk terlepas dari pandemi. Jika tidak melalui vaksinasi, apa kita mau menunggu hingga COVID-19 terus bermutasi dan mengancam sanak famili yang kita cintai?

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan