Jumat, 19 Februari 2021

Cerita Operasi Lipoma di Masa Pandemi

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman melakukan operasi di masa pandemi. Tentu saja ini masih termasuk dalam kategori membagi pengetahuan kepada semua pembaca, karena seperti yang kita ketahui, prosedur-prosedur medis menjadi sangat berbeda semenjak masa pandemi.

Sebenarnya cerita operasi ini bukan pengalaman saya pribadi, tetapi suami saya. Namun saya mengantarnya, jadi cukup mengerti alur dan prosesnya. Disclaimer: Mungkin tidak setiap kota, rumah sakit atau klinik menerapkan prosedur yang sama, namun setidaknya cerita ini dapat menjadi sebuah gambaran bagi pembaca yang mengalami situasi yang hampir sama.

Cerita bermula dari saya yang menyadari bahwa di pundak suami terdapat benjolan. Tidak begitu spesifik seperti benjolan pada umumnya. Namun terlihat bahwa antara pundak kanan dan kiri memiliki volume yang berbeda. Saat di sentuh benjolan tersebut terasa lunak dan tidak menetap. Suami juga tidak merasakan sakit. Hingga kami amati sampai beberapa bulan, benjolan tersebut juga tidak kunjung mengecil. Akhirnya saya coba mencari-cari referensi di internet terkait gejala serupa. Hingga mengerucut pada penyakit Lipoma. Lipoma sendiri adalah tumor jinak yang berisi jaringan lemak. Lemak pada lipoma dibungkus oleh selaput tipis dan umumnya tumbuh di bawah permukaan kulit. Namun tidak menutup kemungkinan, lipoma menempel pada organ yang lebih dalam selain kulit, misalnya otot, tulang, usus, dan lain-lain. Umumnya, lipoma tumbuh dengan sangat lambat, tidak terasa sakit, dan tidak berbahaya. Namun apabila lipoma sudah tumbuh sangat besar, maka ada kemungkinan dapat menurunkan kepercayaan diri penderitanya atau resiko tertekannya organ lain di sekitar.

Setelah mengetahui sedikit tentang lipoma, kami masih tetap penasaran, apakah benar benjolan yang ada di pundak suami adalah lipoma. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi memeriksakan diri ke dokter umum di sebuah klinik. Karena kami pengguna BPJS, maka kami mendatangi faskes tingkat pertama sesuai dengan BPJS. Di klinik, dokter memeriksa benjolan tersebut dan memberikan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahli bedah. Kami memilih untuk dirujuk ke RS William Booth Surabaya (RSWB). Surat rujukan dari Dokter Umum mengatakan diagnosanya adalah (Other benign neoplasm of connective and other soft tissue, unspecified (D21.9)). Yak, saya gak tau artinya, yang jelas dari diagnosis tersebut Dokter berusaha mengatakan bahwa ada jaringan tumor yang tidak secara normal tumbuh di tempat yang tidak semestinya, namun sifatnya jinak.

Akhirnya sesuai jadwal yang telah diberitahukan oleh suster di klinik, kami datang ke RSWB menemui Dokter Ahli Bedah. Saat datang ke RSWB untuk pertama kalinya ini, kami sempat bingung. Karena sejak awal kami bertanya kepada petugas yang berjaga, kami langsung diarahkan untuk mengambil nomor antrean di mesin pengambilan nomor. Namun saat kami coba berulang-ulang tetap gak mau keluar nomornya. wkwkwk Seperti orang lholak lholhok lah pokoknya. Karena orang-orang semuanya pada bisa ambil nomor antrian dengan sekali tekan, padahal banyak pasien lansia. Lah kami yang muda-muda begini kok malah gaptek. Hahaha. Sampe setengah jam lebih kami hanya mencoba dan mencoba wkwkwk. Akhirnya suami memutuskan untuk bertanya kembali ke petugas di depan. Nah akhirnya dia baru tanya, apakah kami pasien baru atau sudah pernah kesini. Inilah gaes masalahnya!!! Kalau pasien baru harus wajib mendaftar terlebih dahulu ke lobi. Gak daritadi aja nih bapaknya ngasih tauuu.

Saat kami datang ke lobi kami menyiapkan berkas-berkas seperti KTP, Kartu BPJS, dan surat rujukan. Oh iya, jangan sampai datang melewati batas waktu yang dicantumkan di surat rujukan. Jika kamu tidak sempat sampai masa berlaku habis, maka kamu harus kembali ke klinik faskes tingkat I untuk mendapatkan surat rujukan baru.

Setelah mengisi beberapa data di lobi, suami saya mendapatkan nomor rekam medis. Nomor rekam medis ini kemudian yang dimasukkan ke dalam mesin pengambilan nomor antrian. Akhirnya kami dapat juga nomor antriannya. Meskipun ujungnya kami harus mengantri lebih lama lagi karena sudah menghabiskan waktu lebih lama akibat kebingungan hahahaha. Setelah mendapatkan nomor antrian, maka suami saya diarahkan ke poli khusus bedah umum. Semua berkas yang dibawa termasuk nomor antriannya diletakkan di meja poli dan tinggal menunggu giliran untuk dipanggil.

Di RSWB ini polinya sangat sangat ramai gaes, jadi kita mesti kudu sabar untuk mengantri. Tibalah panggilan dari perawat untuk memasuki ruangan. Saya gak ikut masuk, hanya suami saja yang diperiksa. Setelah keluar dari ruangan, saya tanya-tanya ke suami, jadinya penyakit apa dan pengobatannya bagaimana.

Berdasarkan penuturan suami, Dokter Ahli Bedah menjelaskan bahwa, iya sudah jelas bahwa ini adalah lipoma. Untuk pengobatannya suami saya akan dioperasi pundaknya untuk mengambil jaringan lipoma tersebut. Namunnnnn... Namunn... karena ini pandemi, maka suami wajib menyertakan hasil swab negatif terlebih dahulu. Dirujuklah suami untuk melakukan swab di RSUD Dr. Soetomo, kebetulan karena memang suami dan saya sama-sama bekerja di RSUD Dr. Soetomo.

Jadi hasil swab negatif adalah satu syarat wajib yang harus dipenuhi jika ingin dilakukan operasi dan rawat inap di RSWB, gaes. Tapi, sepengetahuanku, RS lain juga menerapkan hal yang sama. Bahkan RS rujukan Covid sekalipun. Karena mungkin juga untuk menghindari terpaparnya nakes dan pasien lainnya ya. Jika pasien terkonfirmasi covid maka, akan di rujuk ke RS Rujukan Covid dan ditempatkan di Ruang Isolasi Khusus. Namun ini hanya untuk kasus darurat saja ya, Gaes. Jika pasiennya tanpa gejala dan tidak memiliki komorbid, maka cukup menunggu hasil negatif saja, kemudian bisa melanjutkan prosedur operasi.

Tapi sangat tidak dinyana, hasil swab kami ambil 3 hari setelahnya. DAANNNN, hasilnya adalah sungguh membuat jantung terkejut dan terbahak-bahak. Suami keluar dari ruangan dengan membawa serangkaian vitamin dan antivirus. Hati hanya bisa berbisik, "Ya Allah. Kok Bisa." Yup! hasil swab menunjukkan bahwa suami tekonfirmasi positif gaes. Kenapa saya terbahak-bahak. Karena ini adalah kasus keduanya. Dalam selang tiga bulan, suami positif sudah dua kali. Alhamdulillahnya, tes saya negatif, dan dia tanpa gejala.

Baiklah. Akhirnya kami harus menunggu hingga hasil negatif sambil isolasi mandiri. (Cerita tentang covid dan tetek bengeknya ini akan saya ceritakan di lain kesempatan ya! Karena panjang banget ceritanya. Spoiler: Mama saya meninggal akibat covid dan terjadi cluster keluarga. Ya intinya covid membuat kami hancur, karena jantung kami telah direnggut). Setelah dua minggu lamanya, suami saya mendapatkan jadwal untuk melakukan swab ulang. Dan Alhamdulillah sudah negatif kali ini.

Hasil swab negatif kami bawa ke RSWB untuk kemudian bisa mendapatkan jadwal operasi. Ternyata prosesnya sangat cepat. Setelah mendapatkan jadwal, perawat poli mengarahkan suami untuk melakukan tes darah dan thoraks. Setelah hasil keluar. Suami diminta untuk keesokan harinya check in rawat inap semalam kemudian operasi di hari berikutnya. Kami dibekali surat rekomendasi rawat inap. Surat ini dibawa beserta dengan KTP, hasil swab, surat rujukan, dan kartu BPJS. Keesokan harinya pukul 3 sore kami mendatangi RSWB dengan berkas-berkas ini. Suami saya lolos untuk menjadi pasien rawat inap. Namun, ternyata, penunggu pasien juga harus memiliki hasil swab negatif. Hahahaha. Ribett? Ya lumayan. Tapi harap dimaklumi, namanya juga masa pandemi. Dan lagi, ini bukan RS rujukan covid, sehingga sebaiknya tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi virus balak ini untuk masuk dan mengkontaminasi rumah sakit dan seisinya.

Sebenarnya saya baru saja melakukan swab PCR tujuh hari sebelumnya dengan hasil negatif. Tetapi rumah sakit memiliki kebijakan hasil swab berlaku paling lama lima hari saja. Jadi mau tidak mau saya harus swab lagi. Tetapi cukup swab antigen saja.

Alhamdulillah hasil swab antigen saya menunjukkan negatif, sehingga kami dapat langsung check in. Perawat mengantarkan kami ke kamar inap. Karena suami menggunakan BPJS kelas 3, suami mendapatkan kamar dengan 6 bed pasien. Tidak ada yang spesial dari perawatan dan pelayanan, semuanya berjalan normal. Satu hal yang dianggap spesial oleh suami adalah, menu makanan di RSWB Surabaya cukup enak dan menggugah selera. Oh iya, selama di RS semua orang wajib selalu mengenakan masker ya. Bahkan saat tidur juga harus mengenakan masker. Susternya sering ngomel nih gara-gara banyak pasien dan penunggunya yang bandel ketahuan lepas masker, padahal ga lagi makan. Oleh karena itu, setiap pasien dan penunggu alangkah baiknya memiliki cadangan masker untuk beberapa hari. Saya membawa 8 masker untuk dua hari.

Di hari pertama ini, suami belum dipasang infus serta masih dibolehkan untuk makan dan minum. Hingga perawat datang malam hari untuk memberitahukan jadwal operasi keesokan harinya. Suami saya mendapatkan jadwal operasi pukul 10.00 WIB. Perawat juga menyampaikan suami tidak boleh makan dan minum mulai pukul 02.00 WIB. Jika dihitung maka artinya pasien operasi lipoma di pundak/bahu wajib puasa 8 jam sebelum menjalani operasi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami disuruh mandi dan mengganti pakaian operasi yang cuma ditali-tali dan tidak boleh mengenakan pakaian lainnya termasuk aksesoris. Setelah mandi, perawat datang kembali untuk memasang infus dan memeriksa tensi. Kami menunggu sampai pukul 10.05 tepat sebelum suami akhirnya dibawa ke ruang operasi. Saya, yang saat itu menunggu, tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang operasi.

Berdasarkan cerita suami , sebelum operasi dia diajak mengobrol oleh dua perawat. Salah satu perawat menyuntikkan sesuatu ke dalam infus, sepertinya obat bius, karena sesaat setelahnya suami langsung tertidur dan tidak sadarkan diri.

Sekitar kurang lebih 45 menit saya menunggu di depan ruang operasi, seorang perawat memanggil saya untuk masuk. Saya masuk dan melihat suami saya melek. Gak tidur yaa. Haha. (Ini yang epik. Karena saat saya cerita ke dia saya sempat masuk ke dalam, dia mengaku tidak sadar dan tidak melihat saya masuk. Padahal jelas-jelas saya ada di depannya, dan matanya melihat ke arah saya. Maklum efek obat bius :D). Perawat memberitahukan kepada saya bahwa operasinya sudah selesai, dan saya diminta untuk menunggu kurang lebih satu jam.

Setelah saya menunggu satu jam di luar ruang operasi, akhirnya suami saya diantarkan keluar dan kembali ke kamarnya. Perawat memberikan kami seonggok zat lemak berukuran kurang lebih 6 cm padat di dalam plastik. Yap, inilah benda itu, yang membuat pundak kirinya berpunuk.


Jaringan Lipoma


Di hari operasi ini, kami merasa lega karena mendapatkan kabar bahwa sore harinya sudah boleh pulang ke rumah. Beberapa jam pasca operasi, suami masih belum merasakan sakit luka operasinya. Baru sore menjelang pulang dia mulai sambat hahaha (Istri jahat). Proses administrasi sebelum pulang terbilang cukup mudah. Suster hanya memberitahukan saya mengenai obat-obatan diminum kapan saja dan jadwal kontrol kembali. Selain itu saya hanya tanda tangan beberapa dokumen. Dan sudahh. Alhamdulillah BPJS sangat memudahkan kami rakyat biasa. Semuanya gratiss tiss tiss.

Kami pun pulang ke rumah. Setelah operasi, suami dijadwalkan kontrol 2 hari setelah operasi. Di kontrol pertama ini, suami diganti perban dan diberikan multivitamin. Dokter meminta suami agar datang seminggu lagi. Di kontrol kedua ini, perban suami sudah dilepas karena lukanya sudah kering. Ujung benang jahitan operasi digunting dan suami diberi multivitamin lagi.

Oh iya, Lipoma ini merupakan salah satu jenis tumor jinak ya, kawan-kawan. Di lembar catatan dari dokter, Dokter menuliskan bahwa diagnosa atas suami  adalah tumor scapula. Yang artinya adalah tumor ini menempel ke scapula atau tulang belikat sebelah kiri. Dengan diameter 6x6 cm. Dan ditindak dengan eksisi (bedah pengangkatan tumor). Untuk lebih jelasnya, jika teman-teman sedang mengalami lipoma dan ingin tahu jenis apa lipomanya, apakah membutuhkan tindakan bedah atau tidak, maka lebih baik untuk dikonsultasikan langsung ke dokter ahli bedah.

Begitulah kira-kira perjalanan suami melakukan operasi lipoma di RSWB Surabaya di tengah pandemi. Semuanya berjalan lancar. Dari cerita ini, saya rasa dapat menjadi gambaran bagi kawan-kawan yang akan menjalani rawat inap dan operasi di RS, tidak perlu terlalu khawatir mengenai prosedurnya. Yang terpenting adalah semangat untuk sembuh masih besar, dan dukungan keluarga.

Selain itu, pelajaran lain yang bisa diambil juga adalah... bahwa BPJS benar-benar membantu kami dalam kondisi seperti ini. Sejujurnya saya juga pernah melakukan operasi laparotomi dengan BPJS. Operasi ini sangat mendadak dan membutuhkan biaya yang bagi saya sangat besar, tetapi karena saya menggunakan BPJS, semuanya gratis. Saya sangat bersyukur saat itu. Saat itu juga ada pasien di kamar sebelah yang tidak bisa menggunakan BPJS karena tagihan BPJS nya sekeluarga hingga berjuta-juta :(. Akhirnya pasien tersebut harus membayar puluhan juta untuk operasinya.

Senin, 15 Februari 2021

Valentine sebagai Vaksin


Satu hari yang lalu tepatnya tanggal 14 Februari merupakan perayaan untuk hari kasih sayang, atau yang kerap disebut sebagai Valentine’s Day. Terlepas dari pro dan kontra di setiap perayaannya, hadirnya hari valentine tahun ini seakan membawa angin segar dan atmosfer kasih sayang di tengah hiruk pikuk pandemi COVID-19.

Tahun ini, perayaan hari valentine berdekatan dengan tahun baru imlek. Hal ini kian menjadi gema damai sekaligus sarana bagi pemupukan toleransi antar anak bangsa. Konteks kasih sayang di sini tidak hanya dibatasi oleh sekat muda-mudi yang sedang dirundung cinta, melainkan memiliki makna yang jauh lebih luas.

Di antaranya adalah kasih sayang sesama umat manusia, suami dengan istri, orang tua dengan anak-anaknya, kakak dengan adiknya, dan yang lebih penting lagi ialah kasih sayang sesama anak bangsa.

Sejatinya, esensi hari valentine telah mewarnai setiap sisi kehidupan secara global, di mana pun dan kapan pun, jauh sebelum hari valentine itu sendiri dirayakan. Nilai-nilai kasih sayang yang dibawa oleh hadirnya hari valentine kian menjadi bagian dari dinamika kehidupan umat manusia yang sejak dulu hingga kini terus berdenyut sesuai detak jantung zaman.

Sesuatu yang imajiner

Hari valentine bagi sebagian orang yang merayakannya mungkin dapat sangat berarti. Tapi, bagi sebagian yang lain, yang sedang mengalami proses survive akibat pandemi 1 tahun belakangan ini, boleh jadi kasih sayang hanya bersifat imajiner, utopis, dan penuh ilusi. Pasalnya, belum ada yang dirasa mampu untuk benar-benar menebar darma yang dikemas dalam bingkai cinta dan kasih sayang sebagai sarana membebaskan masyarakat dari belenggu pandemi.

Kita masih dibayang-bayangi oleh derita dan nestapa akibat makin buruknya perekonomian yang ditetaskan oleh arus deras ketidakpedulian sekelompok oknum. Karenanya, proses pemiskinan yang bermuara pada penurunan kualitas hidup kian menjadi sebuah keniscayaan.

Untuk menghadapi berbagai gempuran dan ancaman pandemi yang kian tak pasti, masyarakat dituntut untuk bergulat dengan kelompok masyarakat yang lain. Pasalnya, di kalangan akar rumput sendiri, masih terdapat banyak faksi antara mereka yang percaya, tidak percaya, dan bahkan tak lagi mau peduli. Hal ini kian menjadi bukti bahwa sebenarnya terdapat rentang atau kesenjangan pendidikan, serta krisis literasi yang serius di tengah masyarakat Indonesia.

Sejak kasus pertama COVID-19 masuk ke Indonesia pada medio maret 2020 yang lalu, penanganan yang diarsiteki oleh berbagai model protokol kesehatan, nyatanya belum memiliki fondasi yang cukup kuat guna mengatasi pandemi yang kini justru telah menginjak angka satu jutaan kasus. Sebaliknya, hegemoni bernuansa politik tak pernah surut mengintervensi setiap laku pembangunan yang kian mengalirkan energi keresahan dan bahkan ketakutan. 

Vaksin sebagai sebuah premis

Angin segar yang ditiupkan oleh pemerintah melalui program vaksinasi, menjadi sebuah babak baru untuk memperbaiki masa depan Indonesia paska pandemi yang kini sebentar lagi merayakan milad pertamanya. Namun, dalam perjalanannya hampir 2 bulan, program vaksinasi masih berotasi dalam orbit euforianya. Kenyataannya, vaksinasi berjalan cukup lambat dan tidak sesuai dengan target yang dicanangkan. Jika tren ini terus stagnan dan tidak ada strategi konstruktif yang diupayakan, maka perlu waktu 10 tahun lebih bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Pada mulanya, kita berharap bahwa melalui program vaksinasi ini kesejahteraan masyarakat bisa terkatrol sebagai konsekuensi lahirnya herd immunity, namun melihat kecepatan vaksinasi yang begitu lambat, nampaknya kita masih harus banyak bersabar. Yang musti menjadi perhatian seluruh pihak, khususnya pemerintah, masyarakat sudah cukup lama menderita karena efek domino dari pandemi yang kian mengarah pada perburukan ekonomi bangsa. Tidak sulit mengamati penderitaan masyarakat yang tiba-tiba terguncang PHK karena tidak memiliki sumber pendapatan tetap, di samping kebutuhan hidup yang tak bisa ditunda. 

Penderitaan masyarakat ibarat penumpang kapal yang akan tenggelam, mereka hanya bisa berteriak, menangis, dan berharap datangnya sekoci penolong di tengah gelombang penderitaan yang silih berganti. Namun, di satu sisi, mereka juga memperburuk keadaan mereka sendiri dengan tidak mengindahkan protokol kesehatan yang diinisiasi pemerintah. Inilah dilema yang sedang kita hadapi bersama.

Ketidaksiapan mental dan moral dalam menerima informasi dan dinamika literasi kian menjadi bola salju yang memunculkan perilaku bias dari berbagai lini di akar rumput. Persinggungan di tingkat bawah juga kerap berlangsung karena memiliki persepsi yang berbeda tentang pandemi. Tiap orang merasa paling benar dan tak mau mendengar saran, apalagi kritik dari orang lain.

Memang, sebagian masyarakat masih mampu mengukir tawa. Namun, yang perlu kita ingat, bahwa tawa merupakan bentuk apresiasi subjektif atas suatu peristiwa, sehingga tak menutup kemungkinan bahwa ada sekelompok orang yang tetap mampu menertawakan dirinya sendiri walaupun sedang mengalami penderitaan.

Perayaan hari valentine di tengah kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja kian menjadi penggugah kita, untuk bersama-sama, melalui kerja kolektif, mengubah perilaku dari sikap saling menyalahkan, menjadi sebuah entitas yang menebar kasih sayang untuk berempati terhadap sesama.

Melalui momentum perayaan hari valentine ini, sejatinya penebaran kasih sayang tidak harus berhenti sebatas petuah teologi yang secara kognitif bisa dipahami. Namun, harus terus mengalir ke dalam ruang praktik kehidupan sehingga dapat dialami dan dirasakan oleh setiap orang sebagai sebuah dinamika sosial sekaligus vaksin alami dari Tuhan.

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading