Disrupsi Teknologi dan Kegawatdaruratan Hoax di Masa Pandemi

Opini ini ditulis karena didasari oleh keresahan sekaligus kemirisan atas penyalahgunaan media sosial oleh berbagai pihak untuk menyebarluaskan berita bohong atau yang kerap disebut dengan hoax. Bagi netizen yang kurang kritis atau bahkan minim literasi, bukan tidak mungkin mereka akan menelan mentah-mentah kabar hoax tersebut, terprovokasi, kemudian lebih jauh, melakukan hal-hal konyol yang bahkan dapat memiliki dampak hukum.

Seperti yang dilansir oleh Microsoft, belum lama ini netizen +62 disebut sebagai yang paling tidak sopan se-ASEAN. Setidaknya, terdapat tiga faktor yang memengaruhi risiko kesopanan netizen di Indonesia, dan mirisnya, hoax adalah faktor tertinggi, disusul oleh ujaran kebencian dan diskriminasi.

Hoax sebagai Predator

Seiring zaman yang makin canggih dan serba terdisrupsi, siapa saja akan dengan sangat mudah dan memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses media sosial dan internet untuk menciptakan berbagai isu yang kontroversial, terlepas dari apakah isu itu benar atau tidak. Kehadiran media sosial dewasa ini telah benar-benar masif dan menjadi ‘kehidupan kedua’ bagi umat manusia. Media sosial seakan menegasikan batas-batas geografis para penggunanya, karena itu pula, tak butuh waktu lama untuk membuat sebuah topik perbincangan menjadi hal yang viral, sebaran informasi yang diunggah di satu lokasi, akan begitu cepat menyebar ke berbagai belahan dunia yang lain seketika itu juga.

Berdasar data dari platform manajemen media sosial HootSuite dan agensi marketing We Are Social, tercatat per Januari 2021, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total populasi sebesar 274,9 juta jiwa. Itu berarti, gadget tak lagi dimanfaatkan untuk sekedar berkomunikasi dengan orang-orang terdekat, tetapi juga untuk berselancar di dunia maya; membangun jejaring sosial, mencari informasi, berkirim pesan instan, membaca berita terkini, mengunduh video, serta berbagai keperluan virtual lainnya. 

Yang jadi masalah adalah, dampak sosial seperti apakah yang timbul sehubungan dengan makin masifnya kepemilikan teknologi informasi dan disrupsi digital? Kendati akselerasi dan exposurenya beragam, tak dapat dipungkiri bahwa hadirnya teknologi informasi telah terbukti mengubah berbagai pola berulang yang terjadi di dunia nyata. Saat ini, barangkali, seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali, telah benar-benar termangsa oleh kepesatan industri digital dan teknologi informasi. Tak hanya bagaimana cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain, tetapi juga esensi dari keberadaan manusia itu sendiri di dalam lingkungan masyarakat, telah berubah secara radikal.

Penggunaan teknologi digital yang semula, pada medio 90an, hanya bisa diakses oleh sekelompok kecil masyarakat, kini telah benar-benar menjadi sebuah lifestyle yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Cakupannya makin luas dan justru menjadi subjek perdebatan penuh intrik dari berbagai kepentingan dan sudut pandang, serta menjadi bagian dari budaya populer masyarakat. Internet, khususnya sosial media, tak lagi mengenal istilah kaum borjuis, semuanya dikesankan sekasta dan memiliki peran yang tak jauh beda. Berbagai istilah seperti online, website, upload, dan lain sebagainya kini bahkan tidak lagi menjadi sesuatu yang asing di telinga masyarakat. Itu semua telah sukses menciptakan ruang sosial baru di mana ruang dan waktu tak lagi seperti pias halaman buku.

Eksisnya berbagai media interaksi seperti e-mail, chat, dan sistem konferensi seperti zoom, telah memungkinkan masyarakat membentuk ribuan ruang diskusi untuk membahas berbagai topik, saling bertukar pikiran, berdebat, bahkan tak jarang hingga berperang di dunia maya. Kehadiran jejaring virtual dan media sosial menyebabkan banyak orang tak lagi terkungkung dalam dunia yang sempit nan parokial.

Ironisnya, ketika dunia sudah berpacu sangat cepat, kemajuan teknologi dan informasi pun seperti tak lagi punya sekat, namun ketika netizen kita belum memiliki kesadaran dan sikap kritis yang mumpuni, risiko untuk menjadi korban hoax menjadi sebuah hal yang tak mampu dihindari. Apalagi, karakteristik komunitas virtual di cyberspace memungkinkan seseorang untuk menyembunyikan identitas, sehingga berpeluang untuk memunculkan multiplikasi peran dan/atau bahkan jati diri.

Media Sosial dan Pengaruhnya

Berbeda dari fungsi dasar telepon yang hanya digunakan sebagai sarana telekomunikasi yang memiliki batas, media sosial dan internet menjelma sebagai sebuah dunia yang imajiner. Setiap orang dapat melakukan apa saja ketika berselancar di dunia maya, bahkan mungkin hingga melakukan sesuatu yang belum pernah ada di dunia nyata. Media sosial telah banyak mereplikasi kehidupan manusia. Ia menjadi sebuah substitusi dari ruang publik yang belakangan ini seolah tak berarti selama pandemi.

Bagi pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh, kehadiran media sosial telah menjadi ladang persemaian baru untuk mengadu domba masyarakat, bahkan mampu menjadi alat propaganda. Kehadiran Facebook, Instagram, Twitter dan berbagai media komunikasi di dunia maya yang dramatis dalam 1 dekade terakhir, mungkin benar telah membuka belenggu isolasi serta menjadikan wawasan dan jaringan sosial netizen makin luas. Namun, pada saat yang sama, tawaran keterbukaan informasi itu ternyata juga menyebabkan netizen yang tak siap, rentan terperdaya.

Filsafat sebagai Obat

Munculnya hoax adalah salah satu efek samping perkembangan teknologi informasi yang meski tidak kita inginkan, tapi nampaknya akan tetap menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, penting bagi netizen untuk mengimbangi diri dengan berpikir kritis, tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, dan mengedepankan sikap yang arif serta bijaksana dalam mencerna informasi. Ketika seseorang telah berhasil menjamin akalnya sehat dan logika berpikirnya benar, maka, otomatis ia tidak akan mudah terperangkap oleh hoax. Netizen Indonesia harus sadar bahwa mereka masih memiliki kemerdekaan dan kemandirian dalam berpikir.

Sehatnya guliran informasi merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk atmosfer edukasi sekaligus penanganan pandemi, selain tentu menuntaskan proses vaksinasi dan membentuk herd immunity. Munculnya stereotip herd stupidity di kalangan masyarakat yang tak mau peduli menjadi sebuah tragedi tersendiri akibat suburnya hoax yang justru kerap dibagikan kesana kemari.

Warga net di mana pun berada, khususnya di Indonesia, harus mengubah cara pandangnya terhadap dunia dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip keluwesan. Dengan demikian, benturan kepentingan yang berbeda dapat tetap terjembatani tanpa harus ada yang merasa dikesampingkan. Pendekatan filsafat semacam ini akan menjadikan netizen Indonesia lebih bermartabat, di samping mampu menggali makna terdalam dari setiap pesan hikmah yang tak kalah banyak berseliweran di jagat maya, dari timur hingga barat.

Bagaimanapun, ketika seseorang memahami akar, maka ia pun akan memahami apa-apa yang kelak tumbuh dari padanya.

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan