Pendekatan Saintifik-Sufistik dalam Merawat Kebhinnekaan

Sehari yang lalu, tepatnya pada Sabtu, 26 Juni 2021, telah dilaksanakan sebuah Webinar Internasional bertajuk 3rd Youth Empowerment Peace Workshop yang mengangkat tema “The Reality of not Respecting Diversity”. Webinar ini sendiri diselenggarakan oleh International Peace Youth Group dan mengundang 6 pembicara dari 9 negara di Asia dan Oceania.

Webinar ini menjadi sebuah langkah penting, khususnya bagi isu keberagaman di Indonesia dan tentu saja diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kebudayaan, perdamaian dan pendidikan di masa yang akan datang. Tema “The Reality of not Respecting Diversity” segera menyita perhatian. Apa sebab? Diangkatnya sebuah tema ke dalam forum diskusi, apalagi tingkat internasional, menandakan bahwa isu tersebut eksis, dan bahkan mungkin masih menjadi salah satu masalah utama di suatu wilayah tertentu. Dalam hal ini, Asia-Oseania.

Keberagaman dalam Tataran Filsafat

Dalam pendekatan filsafat, kata ’keberagaman’ mengisyaratkan pengakuan terhadap realitas kultural yang memiliki banyak corak, yang berarti mencakup baik yang bernuansa ketradisionalan seperti suku, ras, ataupun agama, maupun yang bersifat kehidupan (subkultur) yang terus bermunculan di setiap tahap sejarah kehidupan manusia. Istilah keberagaman, atau yang di Indonesia lebih populer dengan istilah kebhinnekaan, secara umum telah diterima secara positif oleh masyarakat Indonesia. Ini tentu ada kaitannya dengan sejarah, realitas, dan budaya masyarakat Indonesia yang majemuk.

Adapun istilah ’tidak menghormati’, bisa dipahami sebagai sebuah istilah yang merangsang masalah; ’tidak menghormati’ sebagai sebuah kalimat kerja tentu secara otomatis akan mengacu pada sebuah entitas personal (manusia) sekaligus pada sebuah sistem tata sosial yang nonpersonal. Bagaimana kedua istilah ini bisa dipadukan?

Apakah di Indonesia proses ‘tidak menghormati kebhinnekaan’ masih menjadi sebuah realita sosial? Belum sepenuhnya mengindahkan amanat religiusitas yang justru bertolak belakang dengan argumen-argumen dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia? Tema “The Reality of not Respecting Diversity” tak lain bertujuan menjawab pertanyaan seperti itu.

Religiusitas & Kebhinnekaan Indonesia

Hubungan antara budaya dan agama telah begitu erat dan saling berkesinambungan satu sama lain bahkan sejak sebelum Indonesia resmi berdiri sebagai sebuah negara. Tak sedikit dari berbagai agama yang berhasil masuk dan tertanam di Indonesia pun merupakan hasil dari sinkronisasi dengan adat-adat setempat.

Konsep agama seringkali dikaitkan sebagai panutan dan pedoman hidup seseorang, tak terkecuali manusia Indonesia, yang tanpa disadari juga telah menjadi sebuah kebutuhan naluriah sejak awal kehidupan. Seorang filsuf berkebangsaan Perancis, pernah berujar bahwa,

Pensil gambar Don Duixote

Kita menemukan masyarakat tanpa sains, seni, dan filsafat. Tapi tidak ada masyarakat tanpa agama.

— Henri-Louis Bergson

Tuntunan yang diberikan agama dapat membuat kebutuhan jiwa dan raga manusia seimbang, salah satunya adalah ketika seorang manusia tersebut hendak menempuh pendidikan. Hal ini dapat menimbulkan kebiasaan-kebiasaan yang menjadi cikal bakal sebuah budaya. Menurut Bapak Sosiologi Indonesia,

Pensil gambar Don Duixote

Budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karya manusia.

— Selo Soemardjan

Itu berarti, budaya ada karena pola-pola berulang yang dilakukan oleh masyarakat dalam kelompok tertentu berdasarkan kepercayaan yang mereka anut.

Keragaman agama yang dianut masyarakat merupakan sebuah keniscayaan. Namun, dulunya, perbedaan agama bukanlah sebuah penghalang untuk menyampaikan opini maupun argumen. Sayangnya, akhir-akhir ini, hal tersebut justru terasa begitu sensitif dan bahkan terkesan tabu untuk menjadi topik diskusi. Yang sering menjadi kekhawatiran adalah bahwa hal tersebut akan menimbulkan disintegrasi sosial. Jika benar, sungguh sangat disayangkan ketika masyarakat kita hanya berbagi dalam sebuah ruang tunggal satu arah nan monoton. Padahal, bagaimana pun, kebhinnekaan Indonesia bernapaskan pertemuan berbagai kebudayaan dan bahkan transgeografi yang disebut Nusantara. Bahkan, para pendiri bangsa, ketika merumuskan sebuah ideologi unik bernama Pancasila, terlebih dahulu melakukan penyelaman multikultur terhadap identitas asli serta konsepsi yang ada di alam pikiran bangsa Indonesia.

Nampaknya, berbagai pengaruh dalam perjalanan intelektual kita sebagai sebuah bangsa belum sepenuhnya mampu menunjukkan model berpikir sinkretisme pada setiap generasinya. Walau kesadaran akan realitas telah terbentang luas dan menjadi batas yang jelas antara kesadaran akan “yang satu” dan “yang banyak”, kenyatannya, kini, kebhinnekaan seakan menjadi barang baru yang terus menerus diperdebatkan, bukan dijaga sebagaimana mestinya. Sejujurnya, kita seperti lupa akan siapa diri kita.

Kekerasan Berbalut Iman

Kekerasan merupakan perilaku yang melibatkan tindakan fisik maupun psikologis yang menimbulkan suatu kekacauan. Perilaku ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah adanya keinginan yang ingin dicapai, namun bertentangan dengan prinsip dan nilai pihak-pihak tertentu sehingga terjadi prasangka buruk yang memicu perselisihan tanpa mau untuk saling mencoba memahami satu sama lain. Hal ini dapat diperparah oleh kontrol sosial yang tidak berfungsi secara baik. Akibat dari kekerasan pun tidak sedikit, yakni munculnya disintegrasi antar kelompok karena perbedaan kepentingan yang dapat menyebabkan kebencian kepada suatu pihak tertentu. Keberagaman yang seharusnya tetap ada pun, perlahan atau bahkan secara langsung akan luntur.

Di dalam konteks keimanan, seperti yang sudah dijelaskan, kekerasan tidak menjadi sesuatu yang diajarkan dan justru bertentangan dengan nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Namun, kekerasan berbalut keimanan bukanlah hal yang tidak lazim terjadi di masyarakat. Bahkan akhir-akhir ini persoalan tersebut semakin sering terjadi. Faktornya beragam, mulai dari perbedaan agama itu sendiri, perbedaan budaya antar daerah, perbedaan suku dan ras, serta yang paling sepele, perbedaan pendapat. Dapat disimpulkan bahwa manusia yang berkonflik tidak bisa atau setidak-tidaknya, tidak mau menerima perbedaan. Dalam agama, hal ini barangkali dipengaruhi oleh pemahaman monoisme, yakni paham yang hanya menerima satu konsep substansi di alam. Monoisme menentang konsep dualisme, yang mengakui adanya dua substansi di alam, dan pluralisme, yang mengakui adanya keberagaman.

Konsep monoisme memancing suatu kelompok untuk bersifat eksklusif dan hanya memiliki pandangan  antara benar atau  salah sesuai  dengan kepercayaan mereka. Otomatis, efek yang ditimbulkan akan berimbas kepada perilaku kekerasan yang dimulai dari persepsi akan orang-orang di luar kepercayaan merekka adalah salah. Dari sana, timbullah stigma, penghinaan, kekacauan, dan kekerasan. Dari deskripsi yang dijabarkan, monoisme sangat mungkin menimbulkan ketidakharmonisan karena penganutnya akan terus-menerus mencampuri cara hidup orang dan menolak keragaman sosial. Lebih fatalnya lagi, kelompok-kelompok tersebut berkemungkinan untuk memaksa manusia lain untuk mengikuti gaya hidupnya karena merasa merekalah yang paling baik.

Padahal, selama masih dalam domain manusia, kebenaran tidaklah tunggal.

Banyak sekali contoh kasus intoleransi beragama, baik yang menggunakan kekerasan, maupun yang tidak dan menyebabkan disintegrasi di Indonesia. Semuanya mengatasnamakan ‘pembelaan agama’. Padahal, hal tersebut tentu saja tidak dapat dibenarkan. Tidak ada ajaran agama apapun yang mendoktrin umatnya untuk memilih kekerasan sebagai opsi utama untuk melindungi agama itu sendiri. Agama bukanlah hal profan, ia justru mengajarkan nilai, akhlak dan moral, serta mendamaikan perselisihan tak hanya antar manusia, tapi juga seluruh makhluk agar mampu hidup dalam selimut keharmonisan. Agar persatuan dan harmoni berbangsa bisa tetap terjaga, dibutuhkan kesepakatan antar tiap umat beragama dan berbudaya untuk saling menghormati, menghargai, serta menyelesaikan masalah melalui jalan musyawarah dan mufakat. Itulah sejatinya ajaran adi luhung bangsa Indonesia, yang justru makin lama makin dilupa. Entah karena memang amnesia, atau terlalu lama berlagak mancanegara.

Pendekatan Saintifik & Sufistik

Pluralisme, sebagaimana filsafat, muncul sebagai sebuah idiom dari pertanyaan dan percakapan dengan kebudayaan, ritual, mitologi, sastra, dan realitas sosial lainnya. Setiap negara dan bangsa pasti memiliki latar belakang itu, begitu pun negara kita, Indonesia. Namun, sampai sejauh mana keterpengaruhan filsafat dalam membangun “kebhinnekaan” sebagai sebuah bentuk pluralisme berkearifan lokal, jelas masih membutuhkan interpretasi intertekstual yang tak sebentar.

Konsep negara dan segala instrumen penyusunnya tentu tak jatuh langsung dari langit. Semua itu merupakan pergumulan pemikiran filosofis dalam kurun waktu yang cukup lama nan sinkretik, dari berbagai fragmen kebijakan suku-suku, agama, ras, serta filsafat tradisional bangsa-bangsa di nusantara.

Tak dapat dipungkiri, negara dan bangsa Indonesia berdiri di atas semangat pluralisme. Bhinneka Tunggal Ika merupakan rumusan filosofis yang begitu terbuka untuk dieksplorasi, ia menyimpan benih yang sangat mungkin menjelma sebagai sebuah filsafat sistematik, akademis, dan tentu ideologis. Namun, banalitas intelektual akan begitu saja muncul dari sana jika kita hanya membaca atau memaknainya sekadar sebagai slogan politik dan ’artefak’ dengan perspektif budaya yang sempit.

Filsafat sistematik dan akademis melalui pendekatan saintifik yang berkebudayaan sangat dibutuhkan untuk merawat pluralisme. Karena bagaimana pun, dari disiplin ini kita diajak untuk mengkritisi keberagaman kesadaran kosmologis yang historik itu. Dan tentu, filsafat pluralisme bagi bangsa Indonesia, sama halnya dengan kesadaran negara dan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, bukanlah bentangan jalan yang mulus tanpa rintangan.

Konsep kebhinnekaan bak benteng di lini depan dalam menghadapi kemungkinan konflik-konflik yang memang tak akan pernah terhindarkan dan akan selalu menjadi sebuah keniscayaan. Namun, dengan kesadaran kolektif itulah kita ditantang untuk menjadikannya potensi kreatif, bukan serta-merta melakukan penghindaran, apalagi melenyapkannya dengan alasan ancaman bagi kesatuan.

Webinar Internasional bertajuk 3rd Youth Empowerment Peace Workshop sekiranya mampu memunculkan kesadaran bagi kebutuhan metodik untuk menghormati sekaligus menyelami lebih dalam lagi makna sebuah kebhinnekaan, lebih jauh, berusaha untuk menjaganya dengan segenap kekuatan.

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan