Jadilah Merekah

Erstaunlich. Aku menikmati sentuhan hangat fajar yang sengaja ku nanti sedari pukul lima tadi, terbit penuh daya tarik meski terhimpit dua bukit. Juga kecupan mesra bulir pasir dan spora yang terhempas angin, ku biarkan terhembus begitu saja melewati kulitku. Langit pagi ini sungguh mengagumkan, merah jingga kebiruan—membekas cirrus, si gula kapas pembawa butiran es di sebelah ufuk utara. Manis sekali. Ku ucap syukur wahai Tuan. Cuaca sepanjang hari ini akan cerah, pikirku. Setelah semalam gemuruh gaduh petir, dua tiga kali menciptakan perasaan was-was kalau-kalau akan hujan. Rapalan doa semalam dan dukungan alam, kurasa awan sudi untuk tak menangis kali ini. Ku harap demikian.

“Hendi, fotoin aku dong.” Suara Danti seketika memecah keheninganku.

Semua keindahan ini memang terlampau sayang untuk dilewatkan begitu saja, pun untuk diabadikan. Suasananya mirip dengan Hobbiton yang berada di perbukitan Edoras di film The Lord of The Rings. Hanya saja rumah para hobbit diganti dengan tenda-tenda yang berjajar rapi serupa terasering di Ubud, Bali. Totally pleasure for the seekers.

Sesaat kemudian aku meninggalkan Danti yang masih sibuk memotret kesana-kemari dengan kamera ponselnya. Untuk bahan menulis, katanya. Menulis adalah dunianya. Menulis membuatnya hidup, membuatnya utuh. Aku mengenalnya enam tahun lalu, dan ia tak pernah berubah sampai detik ini. Masih Danti yang punya mimpi-mimpi besar, yang antusias pada hal apapun, yang bisa jadi sangat dewasa, pun bisa kekanak-kanakan melebihi anak-anak. Danti yang selalu hectic dan patheticBut she’s my best so far, indeed.

Aroma susu coklat panas tercium hingga radius enam belas meter dari tempatku berdiri. Alam memang sedari tadi terlihat sibuk di ‘dapur’. Susu coklat panas mungkin pas untuk menghangatkan tubuh dan mengisi perutnya, alih-alih karena pisang yang ia bawa dari bawah kemarin habis, menyisakan dua buah yang itupun penyok terinjak kakiku semalam. Aku lalu menghampirinya, berharap ikut menyeruput walau seteguk.

“Sluuuurrpp… Ah…” Surga dunia. Coklat di gunung jadi senikmat ini.

Alam terlihat menghisap rokok yang tinggal separuh, sambil sesekali menengok ponsel di genggamannya, sebentar melihat ke atas langit, sebentar menunduk, begitu terus. Entah apa yang ada di pikirannya. Barangkali dia adalah yang paling misterius di antara kami berempat. Tapi sungguh, aku banyak menemukan hal-hal baru dari cara pandangnya tentang kehidupan. Alam yang lebih banyak diam. Tapi sekali bicara bak hujan, menderu deras.

Tenda Salim terbuka sesaat setelah aku menyelesaikan seruputan terakhir susu panas coklat buatan Alam.

“Selamat pagi, Kapten!” sapaku.

Kali ini Salim jadi yang paling terakhir bangun, pukul setengah tujuh—dan dia melewatkan sunrise Pawitra begitu saja. Aku, Danti, dan Alam memang sengaja tak membangunkan Salim sepagi itu. Wajah lelahnya tampak pulas tertidur, mana mungkin setega itu membuyarkan mimpinya. Kasian Salim, ‘porter’ ini juga butuh istirahat. Dia yang paling banyak membawa beban, untungnya tak sampai seberat beban hidup. Ditambah lagi drama menggigil kedinginan semalam–plus aku yang sampai hati memaksanya bermain kartu dini hari demi untuk mengusir sepi. Salim.. Salim.. sabarmu memang daya pikatmu.

07.47 WIB.

Tenda sudah dibongkar, dikemas rapi. Sampah-sampah tak boleh jadi masalah, harus dibawa turun, itu syaratnya.

Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu.

Begitulah kira-kira kutipan yang sering ku baca dari blog-blog anak muda pengelana. Sungguh, siapa lagi yang menjaga kelestarian bumi selain kita?

Salim, Danti, Alam, dan aku membentuk lingkaran kecil, merapal doa, menundukkan diri pada Tuan pemilik langit dan bumi—sebaik-baik tempat berlindung dan meletakkan harap. Biar lelah asal lillah. Afirmasi positif, kekuatan sugesti. Semoga hari ini tidak hujan, pintaku. Aku pernah menuruni gunung saat hujan sekali waktu, dan itu sungguh sangat menyiksa. Tidak lagi, kumohon.

Jarak puncak Pawitra dan tempat memasang tenda lumayan jauh juga, sekitar sepuluh sampai lima belas menit, cukup untuk dijadikan pemanasan sebelum turun.

Puncak itu kini terlihat jelas. Aku bisa dengan mudah menemukan hamparan gunung-gunung di depan mata, sesekali dipayungi cumulus, sesekali menghilang. Ada ribuan petak rumah di bawahnya, jalanan yang meliuk bak ular raksasa, pasti akan terlihat berkilauan di malam hari. City of stars, mirip pemandangan di Bukit Paralayang, Gunung Banyak. Ku ucap syukur wahai Tuan.

Jangan mengambil apapun kecuali foto. Tentu saja, perjalanan tak pernah jadi lengkap tanpa bukti kenangan, bukan?

Salim yang sabar, Danti yang ceria, Alam yang tangguh, dan aku—mulai turun setapak demi setapak. Keril masih di pundak, Salim pun masih membawa beban paling banyak hingga membeludak. Sesekali ia mengomel kecil

“kok bebanku makin berat ya?”

Tentu saja. Logistik yang awalnya terbagi padaku dan Danti, semua kini ada di pundak Salim. Lagi-lagi Salim hanya pasrah. Ikhlasnya Salim. Ikhlas tak pernah berhitung, tak pernah pula menepuk dada, katanya.

Formasi perjalanan tetap sama seperti menuju puncak. Alam di depan sebagai pengatur strategi, jalan mana yang bisa dilalui, jalan mana yang tidak. Sementara Salim sebagai penjaga di belakang, kalau-kalau aku dan Danti oleng. Seperti itulah. Seperti itulah hingga basecamp sudah di depan mata.

Aku menikmati setiap waktu, berjam-jam berjalan bersama mereka, sambil sesekali bercerita dan menimpali. Pawitra memberiku kesempatan mengenal mereka lebih baik dari sebelumnya, dan aku menyukai itu. Bila setiap perjalanan memberiku kesempatan yang demikian berharga, aku rela melakukannya ribuan kali, bersama mereka. Sungguh.

Seperti yang Dumbledore bilang pada Harry Potter,

It takes a great deal of bravery to stand up to our enemies, but just as much to stand up to our friends.

And I’ll stand by you.

Jadilah dirimu Dan, Lim, Lam. Jadilah apa adanya. Jadilah merekah.

Hendita Nur Maulida

Dua sisi kegundahan; cinta dunia dan sedikit berbuat baik~

Share

Tinggalkan Balasan