[Kisah Nyata] COVID-19 Semakin Personal

Kasus COVID-19 di Indonesia melonjak tajam sejak Juni 2021, data statistik menyebutkan bahwa peningkatan kasus yang luar biasa ini sebagai gelombang kedua COVID-19 di Indonesia. Sebagai respon, pemerintah pusat segera menginstruksikan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Jawa dan Bali untuk menekan laju mobilitas dan interaksi masyarakat yang dinilai sebagai salah satu faktor utama peningkatan kasus yang sangat signifikan dua bulan belakangan.

Ledakan kasus ini tak ayal juga berpengaruh pada tingkat keterisian rumah sakit, akibatnya, banyak fasilitas kesehatan yang collapse lantaran 100% terisi. Begitu pun dengan tempat isolasi mandiri yang disediakan oleh pemerintah daerah. Penerapan PPKM darurat tak lain merupakan sebuah ikhtiar pemerintah guna mengurangi angka kematian yang tinggi.

Jika pada medio 2020 yang lalu kasus COVID-19 belum begitu personal bagi kebanyakan orang, namun, saat ini, proses inveksi virus ini telah semakin dekat menuju inner circle kita dan menjadi isu personal bagi masyarakat. Mulai dari orang tua, saudara, hingga teman kita, satu per satu telah terpapar COVID-19, bahkan tak sedikit yang harus berjuang penuh peluh untuk dapat survive ketika menjalani isolasi mandiri.

Selasa, 6 Juli 2021 pukul 18.44 WIB.

Sekira 2 menit setelah menginjak waktu sholat isya untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya, handphone yang kutinggal di dalam kamar berbunyi, tanda ada notifikasi chat WhatsApp (WA) masuk. Saat itu, aku sedang berada di ruang tengah untuk mengebut tugas kantor yang sudah mendekati deadline. Alhasil, chat itu baru kubuka 46 menit berselang, tepatnya pukul 19.31 WIB. Chat itu berasal dari salah satu adik kelas semasa SMA, sebut saja R. Di dalam mengawali chatnya, dia nampak serius, tidak berbasa-basi, dan terkesan butuh respon secepatnya. 

 “Mas maaf mau tanya, apa mas punya alat oximeter?” tulis salah satu pesannya.

Oximeter? Pikirku sudah tertuju bahwa dia akan meminjam alat pengukur saturasi oksigen milikku. Tapi, untuk siapa?

“Punya Dek” jawabku.

Aku pun mengirimkan foto oximeter milikku dan kembali menyambung pembicaraan, “Ada yang bisa tak bantu?” 

Tak lama berselang, si R pun membalas, “Alhamdulillah sudah mas. Ini suamiku saturasi oksigennya 83”

Chat yang diiringi dengan emotikon menangis barusan, benar-benar mengejutkanku. Aku pun segera menanyakan keadaan dan lokasi suaminya berada, serta menyarankan untuk segera memberikan pertolongan pertama berupa pemberian oksigen. Namun, dengan kadar saturasi oksigen yang sudah dapat membuat orang sesak napas itu, ia justru berujar bahwa suaminya belum mendapatkan asupan oksigen sama sekali. Aku pun segera membagikan berbagai informasi terkait isi dan sewa tabung oksigen di Surabaya. 

Sambil menunggu R menghubungi kontak-kontak yang telah kubagi, aku pun menanyakan kembali perihal laju napas suaminya.

“Dia bilang aku nggak sesak. Tapi aku tau kalau napasnya pendek-pendek mas” timpal si R.

Jauh sebelum ini, aku dan R memang pernah terlibat pembicaraan terkait COVID-19. Dia pun tau bahwa aku bekerja di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 di Surabaya. Jadi, barangkali itu pulalah yang membuatnya begitu terbuka dan berbagi cerita soal suaminya kepadaku.

Aku menginformasikan padanya untuk segera melakukan posisi proning bagi suaminya, dua buku panduan isolasi mandiri pun segera kukirim sebagai pedoman. Berbagai rumah sakit rujukan COVID-19 di Surabaya telah penuh. Jadi, pikirku, jalan terbaik saat ini adalah secepat mungkin mendapatkan tabung oksigen dan memberikannya kepada suaminya demi memperbaiki saturasinya. Tak dinyana, ternyata tak hanya suaminya yang positif COVID-19, tapi si R juga. Bahkan dia bercerita jika mereka telah menjalani isolasi mandiri sejak minggu lalu. Yang membedakan, gejala yang dialami R lebih ringan dari suaminya, walau juga tak begitu bagus, karena R mengalami demam serta kehilangan sensasi rasa dan bau (anosmia). Namun, yang membuat aku lega, mereka sudah sedia terapi farmakologi untuk mengatasi gejala-gejalanya.

Tak berselang lama, R mengirim pesan baru, “Aku bingung mas ini, bingung banget, cari oksigen ga ada yang nyambung pas ditelpon” 

Dia bahkan sempat mengecek oksigen portable di beberapa marketplace juga sedang kosong.

Aku mendapat informasi bahwa karena tingginya permintaan tabung oksigen, membuat para produsen maupun supplier kurang memungkinkan untuk melayani pemesanan via telepon. Kabar itu pun segera kuteruskan ke R untuk segera mengambil opsi lain; meminta tolong anggota keluarga yang sehat untuk mendatangi langsung tempat pembelian oksigen tersebut.

Rabu, 7 Juli 2021 pukul 03.10 WIB.

Aku sudah menjalani work from home (WFH) lebih dari dua minggu, jam kerja yang makin abu-abu membuat jam tidurku semakin tak teratur. Setelah perbincangan dengan R, malam itu aku semakin sulit tidur, aku begitu khawatir terhadap suaminya. Saturasi 83 bukanlah hal sembarangan!

Saat aku terbangun sekira pukul 3 pagi dan mencoba tidur kembali, aku begitu terkejut karena ada notifikasi WA masuk. Tak seperti biasanya ada yang chat jam segini, pikirku. Aku coba lihat HP dan membaca dari pop-up yang muncul. Ada nama R yang muncul, berbeda dari chat sebelumnya yang diawali dengan salam, kali ini dia langsung menuju pertanyaan yang aku pun sebenarnya tak mempunyai jawabannya.

“Ada info IGD yang masih kosong gak mas? Buat dapat oksigen” tanyanya diikuti oleh emotikon menangis, dan memohon.

Aku tak sampai hati membiarkannya bertanya tanpa mendapat jawaban, walau mungkin jawabanku tetap tak memuaskan.

“Bentar ya Dek, aku coba cari info dulu” jawabku.

Segera, aku chat seluruh kenalan dan teman dekat yang bertugas di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan rujukan COVID-19 di Surabaya. Beberapa waktu berlalu, tak ada satu pun yang merespon, barangkali ini masih terlalu pagi, pikirku.

R lanjut bercerita bahwa ternyata semalam dia sudah berhasil mendapatkan tabung oksigen lengkap dengan regulatornya, namun dia tidak memiliki masker sungkupnya. Hal ini tentu masalah besar, tanpa sungkup, proses pemberian oksigen pada suaminya tidak akan optimal, dan benar saja, saturasi suaminya masih rendah.

Sambil menunggu respon dari teman-teman yang kukontak pagi itu, aku mencoba memberikan beberapa nomor telepon IGD rumah sakit rujukan COVID-19 di Surabaya kepada R untuk coba dihubungi. Dan, hasilnya pun nihil.

“Sibuk mas ext IGD nya. Gak ada yang diangkat” lanjut R.

Beberapa anggota keluarga R bahkan hingga mendatangi beberapa rumah sakit tersebut untuk melihat langsung keadaan dan memastikan tingkat keterisian pasien COVID-19 di sana.

“Mas, barusan ke RS x tutup, RS y tutup, RS z tutup. Allahu akbar” pungkasnya.

“Iya Dek, faktanya memang demikian. Sorry to say, di tempatku kerja aja, beberapa hari lalu, sempat viral sejumlah jenazah pasien COVID-19 ditutupi lampin di kasur ruang IGD. Mending, kalau cuma sungkup oksigennya yang ga ada, beli sungkupnya aja dulu Dek.” kataku.

“Iya mas, carinya dimana ya mas? Aku takut mas, ya Allah!”

Tak berpikir panjang, aku segera searching dengan keyword ‘masker oksigen sungkup’ di salah satu marketplace, dan, BINGO! ada, harganya pun masih cukup terjangkau, Rp. 100.000. Temuan ini kuinfokan ke R, dia pun setuju. Singkat cerita, sungkup itu terbeli dan akan dikirim secepatnya ke rumah R.      

10.23 WIB.

Satu per satu teman-teman yang sebelumnya kukontak terkait kesediaan IGD, baru membalas. Mereka kompak 1 suara menyampaikan bahwa IGD di rumah sakit rujukan COVID-19 di Surabaya penuh. Di saat yang sama, paket sungkup yang sedari pagi kupesan baru bisa diantar ke rumah R karena kendala teknis. Aku pun segera menyampaikan hal ini kepada R.

Kalimat takbir menjadi awal responnya mendengar chaos yang terjadi, “Aku takut mas. Aku harus gimana ya mas? barusan aku cek saturasinya 75” emot tangisan berjejer lebih banyak dari chat-chat sebelumnya.

“Kesadarannya normal? Bentar lagi sampek kok sungkupnya”

“Normal mas. Ini lagi duduk sandaran.”

“Yawis, sambil proning ya” kataku coba menenangkan.

Tak berselang lama, R memberi kabar bahwa saturasi terbaru dari suaminya kini 88-89, “Emang unstable gini ya mas?”

“Mestinya sih ndak Dek”

“Oh mungkin karena tadi sempat dilepas mas sama dia. Wis tak suruh pasang terus ya pokoe mas?”

“Oh iya mungkin Dek, barangkali itu sebabnya. Pokoknya kalau pas makek, biarin alatnya ngebaca dulu beberapa detik, jangan keburu dilepas” jelasku.

“Oh iya mas siap. Mas dulu sempat ngalamin fase-fase kayak gini ga mas?”

R sudah mafhum bahwa aku adalah penyintas COVID-19, bahkan hingga dua kali. Inveksi yang pertama, aku tergolong orang tanpa gejala (OTG). Namun, di kasus inveksi yang kedua, aku justru mengalami banyak sekali gejala, dari mulai demam hingga 38 derajat, lemas, anosmia, batuk, pilek, dan nyeri di hampir seluruh badan. Pada kedua kasus tersebut, aku menjalani isolasi mandiri di rumah. Dukungan moril dari keluarga dan orang-orang terdekat menjadi sebuah faktor x yang mempengaruhi kecepatanku untuk sembuh. Pada kedua kasus tersebut, terhitung aku hanya menjalani isolasi mandiri tak lebih dari 10 hari.

Namun demikian, cerita soal COVID-19 yang kualami tak berhenti sampai di sana. Sebelumnya, mama mertua bahkan telah meninggal setelah menyandang status pasien dalam perawatan (PDP) COVID-19. Aku pun berbagi cerita terkait COVID-19 dan lika-liku yang kualami kepada R, berharap dia tetap berbesar hati dan dapat mengambil hikmah dari ujian ini.

Setelah bercerita beberapa saat, aku mendapat notifikasi bahwa pengiriman sungkup yang dibutuhkan suami R telah sampai.

“Iya mas, alhamdulillah sudah sampai” kata R sambil mengirimiku foto suaminya yang telah menggunakan tabung oksigen.

“Alhamdulillah… ikutan seneng Dek liatnya”

“Alhamdulillah naik 90-91 mas saturasinya” terangnya antusias.

“Alhamdulillah Dek, semoga terus naik sampai batas normal ya”

16.20 WIB.

Kali ini, R mengirimiku gambar oximeter dengan angka 98 tertera di layarnya, tanda saturasi telah mencapai nilai normal.

“Mas, alhamdulillah atas izin Allah dan melalui sampean bantu kami carikan sungkup oksigen, saturasi suamiku berangsur-angsur naik” kata R sambil mendoakan banyak kebaikan kepadaku dan keluarga.

Hingga 16.30 WIB, kami berbalas doa baik dan percakapanpun berakhir.

Entah kenapa, kurasa kisah ini menjadi sebuah hal yang penting dan layak untuk dibagikan di sini, terlepas dari ragam manfaat dan inspirasi yang mungkin dapat berbeda-beda sesuai porsi diri dalam mengilhami. 

Secara pribadi, aku bahkan terinspirasi untuk dapat berbuat lebih dari sekedar membantu R dan suaminya melewati masa sulit ini. Setelah mencari berbagai referensi dan memperluas literasi, aku mencoba mengkompilasi beberapa fakta dan bukti terkait pandemi untuk membuat semacam buku panduan sederhana mengenai pencegahan, penularan, dan penanganan COVID-19 untuk kalangan sendiri. 

Semoga karya ini bermanfaat demi menjaga keluarga dan lingkungan kita agar tetap sehat! 

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

2 Responses

Tinggalkan Balasan