Manajemen Stres di Masa Pandemi

Setahun berlalu sejak COVID-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia, sejak itu pula berbagai regulasi terkait penanganan pandemi telah dilaksanakan oleh Pemerintah, baik pusat hingga daerah. Tak bisa dipungkiri bahwa pandemi telah membawa duka bagi semua, tak hanya mengancam nyawa, tapi juga soal perut dan berbagai hal esensial lainnya. Menurut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, per Januari 2021 saja, pemerintah mencatat setidaknya ada 3,5 juta orang harus kehilangan pekerjaan, sedangkan lebih dari 1,8 juta lainnya mengalami penurunan pendapatan. Peningkatan kasus paska libur lebaran tahun ini kian memperburuk keadaan. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat se-Jawa Bali sebagai respon cepat pemerintah pun segera diterapkan. Berbagai dinamika dan fenomena sosial yang terjadi satu tahun belakangan, tak ayal menjadi sebuah ancaman psikis tersendiri, bagi mereka yang sekedar bertani di pedesaan hingga mereka yang bergelut dengan asap di perkotaan.

Kehilangan pekerjaan, pendapatan yang menurun, batasan jam kerja yang makin kabur saat work from home, lalu lintas informasi yang penuh dengan hoax, hingga ancaman kesehatan, telah menjadi kekhawatiran umum yang kini dapat menjadi faktor timbulnya stres dan menghempaskan ritme hidup masyarakat dalam sekejap. Namun, bagaimanapun, stres dapat dikelola. Di dalam buku berjudul Stress Relief, karangan Faelten & Diamond (1989), kunci utama dalam mengelola stres adalah dengan belajar untuk melihat segala sesuatu secara moderat dan inklusif. Hakikatnya, stres merupakan kesempatan untuk keluar dari sebuah zona nyaman sekaligus menimbulkan kegairahan baru jika dipandang melalui perspektif yang tepat. Kita musti menyadari bahwa ada banyak hal yang harus terus diperjuangkan, komitmen akan hal-hal inilah yang harus terus dijaga, karena keyakinan dan kepercayaan diri akan tujuan yang ingin dicapai dapat menjadi faktor kendali terhadap kehidupan kita. Dengan kata lain, menyadari adanya tantangan, memelihara komitmen, dan melakukan kontrol diri inilah yang menjadi poin dalam sukses tidaknya seseorang dalam mengelola stres yang dialaminya.

Bangkit, berjalan, dan berlari

Tantangan berupa kondisi pandemi dan segala turunannya harus kita persepsikan sebagai sebuah dinamika hidup yang senantiasa memiliki hikmah. Segala kisah tentang pilu dan kesulitan bukan lagi hal relevan untuk tetap dibayangkan, walau tak mungkin juga untuk tidak disadari. Hal terpenting yang saat ini layak dilakukan adalah move on, untuk memastikan bahwa kita telah mampu melewati sepenuhnya hal-hal seperti syok dan penyangkalan, yang barangkali diikuti pula oleh kecemasan dan bahkan stres. Jika tidak segera menentukan sikap, perasaan-perasaan tersebut justru dapat menjadi ancaman yang mungkin akan menurunkan pertahanan mental seiring berjalannya waktu, lebih jauh, juga dapat mengurangi resistensi tubuh kita terhadap inveksi COVID-19 yang kian hari makin bervariasi.

Jika semua ini lebih dipandang sebagai sebuah tantangan dan bukan hambatan, maka secara otomatis, reaksi untuk bangkit dari keterpurukan akan menjadi lebih besar. Setelah itu, besarnya komitmen menjadi sebuah keniscayaan untuk mulai berjalan. Selain itu, kontrol diri terhadap ragam opsi pelarian yang biasanya ditempuh setelah mengalami stres juga harus menjadi perhatian. Rencana aksi yang jelas dan visioner adalah jalan terjal yang lebih layak untuk ditemukan walau dengan langkah yang tertatih.

Tips mengelola stres di masa pandemi

  • Senantiasa adaptif dengan berbagai kebijakan yang dinamis. Sikap tenang dan waspada sebaiknya senantiasa dikedepankan dalam menyikapi ragam regulasi di era pandemi yang serba tak pasti ini.
  • Berbagi kisah dengan orang terdekat. Ketika pandemi datang dan membawa berbagai dampak buruk, berbagi cerita (curhat) menjadi satu hal yang sangat penting sebelum kita dapat berpikir jernih dan menentukan langkah terbaik kedepannya. Di rumah, kantor, dan/atau bahkan inner circle kita, pada saatnya akan mengalami dan bertemu dengan titik terendahnya. Namun, akan selalu ada masa, tempat, dan tingkat di mana kita harus berbagi, bercerita, tentang apa yang telah terjadi. Walau tak selalu menemukan jalan keluar, tak ada salahnya berbagi cerita untuk sekedar menertawakannya bersama.
  • Tetaplah produktif sekaligus terhibur. Lakukan berbagai hal yang membuat kita sibuk dan senang di saat yang sama, seperti bercocok tanam, memelihara hewan, dan membuat konten untuk media sosial.
  • Quality time bersama keluarga. Pandemi mengajarkan kita untuk menjaga jarak, namun di saat yang sama juga melatih kepekaan sosial. Saat ini, terlepas dari apa yang dialami, kebanyakan orang memiliki waktu yang lebih leluasa bersama keluarga. Ini menjadi salah satu hal positif yang perlu dimaknai tak hanya sebagai usaha untuk mengurangi stres, tapi juga sebuah nikmat untuk meningkatkan rasa saling mencintai antar anggota keluarga.
  • Berjejaring. Dunia maya seakan menjelma menjadi dunia nyata yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi kita sebagai makhluk sosial yang terisolasi karena pandemi, untuk dapat kembali bersosialisasi dengan lebih aman dan nyaman. Dunia maya melalui jejaring sosial media telah menjadi jembatan yang mendekatkan apa-apa yang sebelumnya berjauhan. Akan tak ternilai harganya ketika kita mampu memaknai kemajuan teknologi sebagai sarana untuk berjejaring dan menambah value kehidupan dan bahkan diri kita.

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan