Pandemi COVID-19; Antara Defisit Empati & Surplus Kebodohan

Pertengahan tahun ini, dunia, khususnya negara kita Indonesia sedang bergolak akibat varian baru COVID-19 yang semakin merebak. Mirisnya, di kalangan akar rumput, fenomena ini dipandang tak satu suara. Apa sebabnya? Kompleks. Dua yang paling menonjol adalah minimnya literasi tanda masih eksisnya disparitas edukasi, dan rendahnya tingkat toleransi tanda masih banyak masyarakat yang tak peduli dengan mereka yang ada di kanan maupun kiri.

Kesengsaraan lintas sektor harusnya dapat memicu kebangkitan kolektif melawan kekejaman kondisi. Namun yang terjadi dewasa ini, kita masih sibuk berdebat sana-sini. Masih sedikit yang berkomitmen untuk merevolusi diri untuk bersama-sama menghadapi pandemi. Tonggak perubahan hanya diperjuangkan oleh segelintir pihak tanpa dibarengi oleh rasa empati dari pihak yang lain, itu pula yang barangkali membuat penanganan pandemi seakan jalan di tempat dan tak kunjung menemukan solusi.

Kekacauan di bidang ekonomi dan kesehatan kian menunjukkan bahwa kebodohan masih menjadi benalu bagi sebuah kemajuan. Saat kita sedang merintis masa kebangkitan, di satu sisi ternyata kita masih menyisakan ruang bagi massa yang masih terus bergulat dengan kepandiran. Kita kerap berdepat soal iman, tapi di saat yang sama, kita hanya berakhir pada tataran keraguan tanpa adanya solusi yang semula diharapkan. Kita mungkin sedang benar-benar membutuhkan musim penghujan, untuk membasahi hati yang masih kering kerontang. Suasana batin semacam inilah yang barangkali menjadi karib kita di masa sekarang.

Defisit empati

Berbagai kebijakan dalam menangani pandemi nyatanya menyisakan tak hanya harapan namun juga kerisauan. Akankah tarian legislasi mampu membawa transformasi? Tidak ada yang tau. Namun satu hal yang pasti, sebagai bagian dari sistem demokrasi, kita sebagai rakyat seyogianya mampu menunjukkan kematangan intuisi demi terlaksananya tujuan bersama yang mulia.

Sejak 2020, kita sudah bergumul dengan pandemi; tingginya kasus penularan, denial oleh sebagaian masyarakat yang menganggap pandemi ini hanya ilusi, collapse-nya fasilitas kesehatan, minimnya stok oksigen di pasaran, hoax yang semakin bertebaran, hingga yang paling menunjukkan kepasrahan adalah soal berserah diri pada Tuhan. Pandemi COVID-19 yang sedang kita alami saat ini setidaknya menyadarkan kita bahwa masyarakat Indonesia yang terkenal sangat menjunjung tinggi toleransi, nyatanya tak serta merta memenuhi ekspektasi. Dibuktikan dengan masih minimnya kesadaran masyarakat dalam pelaksanaan protokol kesehatan yang digalakkan pemerintah. Akibatnya fatal, angka penularan tak kunjung turun dan justru meroket kembali sejak mei hingga juli.

Berbagai kisah nyata, bukti maupun fakta telah begitu jelas tertera di depan mata, namun nyatanya, hal itu tidak juga menyadarkan sebagian masyarakat untuk mau mentaati protokol kesehatan sebagai wujud empati bagi mereka yang telah ditinggal sanak familinya karena korona. Masih kerap kita jumpai teman maupun kolega kita yang dengan santainya mengajak dine in di restoran, ada lagi yang beretorika dan melempar propaganda di sosial media soal konsistensi regulasi yang berdampak buruk bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Suasana hati publik dibuat campur aduk, antara cemas dan geram. Desas-desus dan provokasi dari pihak yang tak bertanggung jawab semakin memperparah keadaan. Inkonsistensi regulasi di tingkat elit membuat akar rumput rentan gesekan yang berpotensi mengundang konflik horizontal. Pemerintah seperti harus menelan buah simalakama, di satu sisi harus membuat regulasi yang sesuai kondisi, di sisi lain mereka juga ingin masyarakat bawah dapat hidup damai dan tetap sejahtera.

Kita seharusnya mampu memilah dan berpikir lebih moderat, bahwa hakikatnya kita tak akan mampu menciptakan sebuah peraturan yang memuaskan semua, memang bisa dianggap adil oleh satu pihak, namun mungkin belum ideal bagi pihak yang lain. Kita sedang sama-sama berada pada situasi yang sulit, sharing the pain. Namun, hidup juga harus tetap berjalan. Yang berjualan bisa tetap berjualan, yang beribadah pun silakan untuk beribadah, asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan dan sesuai aturan yang diterapkan. Tak lain, inilah pengamalan tepo seliro yang merupakan sebuah bentuk kearifan yang sejak dahulu diajarkan. Ketika itu semua ditegakkan, maka kecemburuan sosial dan perbaikan penanganan akan dapat berjalan lebih optimal seperti yang diharapkan.

Dua mata berita korona

Berita pun kini sudah dianggap sebagai teror. Arus informasi dan bahkan penggalangan opini melalui media massa dan sosial menjadi teror informasi serta ancaman simbolik yang berlangsung secara halus. Padahal, alur informasi yang faktual juga mampu menyemai harapan. Berita yang obyektif mengintimidasi warga bergulat dengan pilihan-pilihan nyata secara rasional, bukan kesadaran palsu. Secara positif, ‘teror’ atas kesadaran mengetuk hati sekaligus menggugah harapan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk bersatu padu mengatasi korona. Isu nasionalisme, kemanusiaan, dan kesehatan mencambuk kesadaran kolektif keindonesiaan kita.

Perang opini di antara para warga pada akhirnya hanya akan memperebutkan makna untuk mengekspresikan hak berbicara. Dalam beberapa hal, keputusan kritis tentang arah kebijakan publik tidak dibuat di parlemen atau pemerintah, tetapi digerakkan oleh kesadaran kolektif warga dengan berlandaskan logika sehat nan terbuka. Yang jadi masalah sekarang adalah, perdebatan di antara kita bukanlah hal yang substantif, ketika negara lain memikirkan berbagai strategi mempercepat vaksinasi, kita masih berdiskusi apakah pandemi ini nyata atau hanya sebuah ilusi.

Surplus kebodohan

Pandemi bukan sekadar terinveksi, melakukan isolasi, kemudian sembuh atau mati. Ia mesti dipahami secara komprehensif sebagai sebuah masalah kompleks yang tak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat. Dampak yang diakibatkan oleh pandemi jauh lebih luas, ia menyasar pula di bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan berbagai faktor esensial lainnya. Berakar pada gagasan dan tujuan final, yakni keterjaminan warga mendapat kehidupan yang lebih baik, maka regulasi yang diambil pemerintah senantiasa mempertimbangkan keadaan dan nilai-nilai keseimbangan. Ini tak lepas dari bagaimana regulasi diciptakan, mulai dari prosedur, proses, dan struktur, hingga hasil capaian serta implikasinya.

Kita tahu, regulasi pemerintah beberapa kali tidak sesuai dengan keinginan publik. Tradisi yang berjalan di masyarakat lebih didasarkan pada ambisi personal, bukan sebuah sistem. Yang terjadi bukan pertarungan ideologi dan kebijakan yang bijaksana, tetapi ego individu dan kelompok. Budaya berargumen dalam konteks bernegara harus dibangun, bukan sekedar gaya hidup, apalagi fanatisme personal-spiritual.

Setelah pada periode pertama pemerintah fokus meningkatkan pembangunan infrastruktur, program pembangunan sumber daya manusia sejatinya ditempuh pada periode kedua. Namun, belum sempat layar berkembang, virus korona justru datang. Harus diakui, ada sejumlah masyarakat yang kritis dan progresif, namun lebih banyak yang hanya berpretensi tanpa argumentasi, bahkan hingga mengedepankan informasi yang tak memiliki sumber pasti.

Penanganan pandemi bukan hanya domain pemerintah. Masyarakat juga dituntut punya kapasitas merealisasikan platform dalam bentuk penaatan terhadap kebijakan yang ada. Selain saling mengapresiasi, publik hendaknya saling menjaga visi misi tanpa harus saling caci. Masyarakat mesti setia dengan fungsi kontrol nan konstruktif, bukan sekedar mendukung penuh, bukan pula oposisi semu.

Pandemi menyadarkan kita bahwa masih terdapat sekian banyak kelompok masyarakat yang miskin literasi dan justru dapat memperburuk situasi. Setahun yang lalu, kita semua mengidamkan perubahan menggiurkan, namun beberapa bulan berjalan, ternyata ekspektasi tak seindah kenyataan, surplus kebodohan nyatanya membuat penanganan pandemi kian stagnan. Semoga pandemi ini bukan hanya dimaknai sebagai penanda zaman, tetapi mampu menjadi bahan instropeksi seluruh kalangan untuk bersama-sama memegang komitmen memanifestasikan perdamaian, pemerataan pendidikan, perbaikan akses kesehatan dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, demi Indonesia yang berkemajuan. Mari sama-sama memandang pandemi ini sebagai pandangan kasih Tuhan. Pandangan yang melahirkan pengharapan, bukan sekedar keputusasaan.

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan