Selaras

Pawitra, 02.20 WIB.

Aku mendapati diriku terbangun dalam keadaan terbalut selimut dan jaket tebal, di dalam tenda. Suara Salim yang menggigil kedinginan sungguh sangat mengusikku, iba pikirku. Baik sekali pemuda ini. Badannya yang mungil terpaksa harus tidur tepat di sebelah ‘pintu’ tenda, yang tentu saja adalah akses utama masuknya udara dari luar. Bayangkan saja, hanya berbekal sehelai kaos dan jaket yang kurasa tak cukup hangatnya sampai ke tulang, tanpa sarung tangan, tanpa kaos kaki, Ia rela berperang dengan suhu gunung yang menusuk, juga angin yang terlampau kencang, demi menjagaku dan Danti supaya tetap hangat di dalam.

Danti pun tak kalah lucunya. Ia yang sedari awal mensugesti dirinya akan kedinginan, nyatanya terjadi juga, meski sudah ancang-ancang mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuh. Tidur dengan berhimpit-himpitan menjadi solusi final. Logikanya, jika kita saling berhimpitan maka suhu-suhu panas dalam tubuh akan saling berinteraksi dan menghasilkan lingkungan yang lebih hangat. Salim akhirnya tertidur pulas, Danti mungkin sudah sampai ikhlas membiarkan tubuhnya menggigil lemas.

Lalu apa kabar Alam? Kurasa dia dengan mudah mengatasi hal sesepele ini. Kedinginan di gunung bukan jadi masalah besar buatnya. Tentu saja, namanya saja sudah Alam Cendaki, membaur dengan alam adalah keahlinya. Dia pendaki ulung, dinginnya gunung sekelas Pawitra yang cuma seribu, ah biasa.


 

Kesalahan. Tidur lebih awal ternyata membuatku tak bisa memejamkan mata kembali barang sebentar. Melihat mereka tenang begitu, aku jadi memutar ulang kejadian-kejadian apa saja yang sudah kami lalui bersama. Ya Tuhan, aku beruntung mengenal orang-orang luar biasa ini. Kenapa tidak dari dulu, batinku. Aku bisa tanpa ragu mendaki Rinjani atau Denali sekalipun bila bersama mereka, itupun kalau mereka mau. Kata orang, mendaki gunung membuatmu merindukan hangatnya rumah. Tapi kurasa, hangatnya mereka juga bisa jadi rumah. Orang-orang baik ini sungguh layak mendapat yang terbaik dalam hidupnya. Semoga.

Bicara soal rumah, apa kabar esok? Naiknya saja penuh perjuangan, bagaimana turunnya? Bayang-bayang cincau sudah di angan, mungkin cukup sebagai asupan afirmasi untuk sampai di bawah dengan selamat.

Ah sudahlah, perkara esok, diam dan berangkat saja.

to be continued..

Hendita Nur Maulida

Dua sisi kegundahan; cinta dunia dan sedikit berbuat baik~

Share

Tinggalkan Balasan