Mental Priayi di Era Disrupsi

N20 Summit mengajarkan saya bagaimana manusia seharusnya memiliki mental melayani
N20 Summit di Nusa Dua, Bali

Baru sehari mengikuti rangkaian Neuroscience 20 (N20) -sebuah konferensi neurosains yang diselenggarakan selain guna meramaikan gelaran G20 di Bali. Tapi juga demi meningkatkan kepedulian global tentang urgensi yang ditimbulkan akibat pembiayaan terkait gangguan neurologis, tulang belakang, dan kesehatan mental di seluruh dunia-. Saya mengamati banyak tingkah ramah, apresiatif, dan bahkan merendah, justru dari delegasi asing. Meski yang masih bermental penjajah juga tak kalah. Fenomena tersebut sudah mulai jarang kita temui, tergantikan dengan sikap sok penting. Yang dengannya, seseorang berharap untuk mendapatkan segala privilege yang ada tanpa mau mengedepankan 3S+3 (senyum, salam, sapa + maaf, tolong, dan terima kasih). Padahal, dengan sikap ramah sekaligus apresiatif tersebut, sejatinya kita seperti sedang membangun tangga untuk meningkatkan value dari diri kita sendiri. Pun sebaliknya.

Maka, seharusnya sebagai manusia biasa, kita berebut untuk memberikan keramahan dan tak enggan untuk mengapresiasi orang lain. Bukan sebaliknya, ingin selalu dihormati, mendapatkan privilege, atau semacamnya. Namun, bagaimanapun, faktanya justru perilaku yang senantiasa ingin disegani oleh manusia yang lain lebih sering nampak di kehidupan kita sehari-hari. Mungkin, kita memang belum selesai dengan diri kita sendiri dan terlalu jauh meninggalkan kearifan lokal bangsa kita.

Meski ada yang bilang bahwa hal itu adalah bagian dari sifat dasar manusia. Tapi, bagaimanapun sangat disayangkan bahwa perilaku yang seperti itu tidak dikontrol dengan pendekatan religiusitas. Pun tidak didasari oleh semangat untuk membangun peradaban maupun kemanusiaan. Melainkan hanya untuk menikmati kenikmatan sesaat serta kepentingan pribadi dan/atau segelintir kelompok.

Mental Melayani

Jika ditilik lebih jauh, sikap ramah sekaligus apresiatif sejatinya begitu mulia, dan amat berkaitan erat dengan semangat untuk melayani. Melayani banyak dinilai sebagai sebuah kata kerja yang berkonotasi negatif. Padahal secara filosofi, seorang yang besar harus mampu menjadi seorang pelayan terlebih dahulu. Terminologi ‘mampu’ di sini seharusnya tak hanya dimaknai dari sebuah pengamatan semata. Namun akan menjadi lebih bermakna jika benar-benar pernah mengalaminya. Dengan kata lain, seseorang yang mendapatkan suatu kehormatan tanpa pernah merasakan melayani sesama sebelumnya, tak cukup layak untuk sebuah kehormatan tersebut.

Perilaku yang belakangan kian membudaya untuk senantiasa mendapatkan pelayanan dan penghormatan seakan menegasikan bagaimana makna luhur sebuah perjuangan. Terkadang, meski diklaim tak banyak merugikan pihak lain secara langsung. Bagaimanapun, sikap seperti demikian riskan dan kerap berakhir pada arogansi hanya demi sebuah kenyamanan sesaat nan parsial.

Kesadaran diri

Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk menyadari makna dan filosofi asal mula kejadian kita. Tak hanya sebagai seorang manusia, tapi juga seorang hamba. Sesungguhnya, ini sudah lebih dari cukup untuk membuat kita tidak neko-neko, terlepas dari siapa dan apa jabatan kita di dunia. Sikap-sikap seperti egoisme dan maunya selalu dilayani, amat sangat bertentangan dengan hakikat kita sebagai seorang hamba yang harusnya berhasrat melayani, memiliki mental apresiatif, dan bahkan merendahkan diri.

Beratkah merubah budaya itu? Jawabannya tentu relatif, tergantung dimana kita tinggal, bagaimana kita masing-masing dididik, dan bagaimana budaya di suatu wilayah. Namun, untuk kita secara umum yang berada di kota dengan dinamika dunia yang begitu cepat dan terbuka, kebanyakan mental masyarakat kita -khususnya mereka yang justru telah mendapatkan akses pendidikan dan jabatan yang tinggi- cenderung hanya ingin dilayani tanpa mau mengapresiasi. Mereka lupa, tidak tahu, atau bahkan mungkin tidak mau tahu bahwa sesungguhnya status sebagai seorang akademisi adalah menjadi agen perubahan. Tentu perubahan yang konstruktif bagi kemanusiaan secara umum. Dengan kata lain, pekerjaan utama mereka seharusnya adalah melayani. Membagikan apa yang telah mereka dapat dalam petualangan akademik mereka demi kebaikan yang lebih luas.

Tanggung Jawab

Dalam beberapa hal, layak dan tidak layaknya seseorang mendapatkan suatu kedudukan seakan tak pernah menjadi masalah. Hal itu bukan karena kita tak peduli, tapi nyatanya kita tak bisa berbuat terlalu banyak di tengah sistem yang seperti sudah memaklumi itu semua. Padahal, andai paham, mereka yang diberi amanah mendapatkan posisi yang terhormat, terlepas dari apa yang telah diraihnya atau jenis jabatannya, seharusnya setidaknya mereka khawatir karena seperti kata Uncle Ben, paman dari Peter Parker sang manusia laba-laba di serial Marvel; “Great power comes great responsibility.” Artinya, semakin tinggi apa yang kita raih saat ini, ia tidak sendirian. Ia menuntut tanggung jawab yang tinggi pula. Mereka yang menjadi ‘orang penting’ seharusnya menolak, atau setidak-tidaknya malu jika ia tidak siap menjadi pelayan atas apa yang dijabatnya dan sekaligus menjadi tanggung jawabnya. Andai paham, tentu tidak ada yang berharap untuk senantiasa dilayani, dihormati, dan dianggap penting.

Sayangnya, mental ‘dewasa’ untuk menyadari hakikat kejadian kita sebagai seorang manusia sekaligus hamba masih cukup sulit direvolusi karena telah tertanam berabad-abad oleh kolonialisme yang rakus. Sehingga telah mendarah daging, mengurat-mengakar, dan bahkan menjadi kanker bagi kehidupan kita, khususnya di Indonesia. Tapi, bagaimanapun, kita perlu sebuah gerakan yang luar biasa sekaligus bersama-sama untuk menjadi imunoterapi bagi kanker yang kian mengganas ini. Melalui inisiatif baik ini, sesungguhnya masyarakat harus mulai memahami maksud baiknya; demi menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan, damai, serta mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi penerus kita.

Makanan Jiwa & Mental Inlander

Tak hanya pengetahuan, literatur, dan juga fine arts, tapi manusia juga bisa sangat haus akan pelayanan, kehormatan, dan hal-hal rakus lainnya, terutama jika jiwanya diabaikan. Meski jiwa kita adalah sosok yang pendiam, sabar, dan tak banyak bertanya, namun jika ia tak diberikan ‘makanan’ yang layak berupa ‘rasa cukup’, maka ia pun akan membuat kita menjadi gelisah. Akan selalu ada rasa kurang dan bahkan kesepian, yang sekali lagi, bermuara pada ketamakan. Pantas disesalkan jika jiwa yang seharusnya hidup, bergairah, dan cemerlang, lambat laun akan pudar dan lenyap menuju ketiadaan.

Barangkali, makna itu pula yang hendak dimanifestasikan dari lagu kebangsaan kita, “Indonesia Raya”. Bahwa kita perlu membangun jiwa terlebih dahulu sebelum membangun badan, demi kesejahteraan hidup manusia Indonesia.

Revolusi perilaku ini memang bukan hal yang mudah, namun apa pun kondisinya, bagaimanapun sukarnya, hal ini harus segera dimulai. ‘Orang penting’ atau siapapun yang menjadi bagian dari bangsa ini tidak boleh lagi dininabobokan oleh mental-mental inlander warisan penjajah yang hanya mau duduk di singgasana untuk dihormati dan dilayani. Kita harus kembali menjadi bangsa Indonesia yang sesungguhnya; yang ramah, tenggang rasa, gotong royong, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.

Mental sebagai seorang priayi sudah ketinggalan zaman. Jadi, mari bersama-sama mengubah diri. Setidaknya, jika kita menyadari itu dan melaksanakannya, itu akan memengaruhi dan bahkan mengurangi apa yang salah dan sedang banyak terjadi. Segala perubahan hanya bisa terjadi bila diawali dari diri sendiri, cepat atau lambat, yang lain juga akan mengikuti dengan sendirinya. Memang, di zaman yang serba terdisrupsi ini keteladanan menjadi semakin langka. Namun kita tidak boleh berputus asa, bahwa era ‘berebut salah’ dan tenggang rasa akan kembali berjaya dan benar-benar akan melahirkan kesetaraan yang menyejahterakan. Semoga!

Muchammad Thoyib As

Karena setiap cerita memiliki makna~

Share

Tinggalkan Balasan