Selasa, 19 Januari 2021

Bencana sebagai Cermin Peradaban


Belum tuntas duka kita dan para keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan kepulauan seribu beberapa waktu lalu, kini Indonesia kembali diliputi nestapa setelah serentetan bencana menerpa negara yang kita cinta bersama. Menilik data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), sejak awal bulan hingga tanggal 16 Januari 2021, tercatat telah terjadi 136 bencana alam di Indonesia. Terdiri dari banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 kejadian, gempa bumi 2 kejadian dan gelombang pasang 2 kejadian.

Ratusan bencana tersebut menyebabkan 80 korban jiwa, 858 orang luka-luka, dan sebanyak 405.584 orang terdampak dan harus diungsikan. Berbagai media cetak dan elektronik, bahkan hingga para pegiat media sosial berlomba-lomba mengumpulkan berita aktual, sebagian besar berfokus untuk memuat penuturan sekaligus argumen dari para ahli dan birokrat penanggulangan bencana terkait sebab musabab dari berbagai peristiwa bencana di awal tahun ini. 

Tanpa kita sadari, pola pemberitaan semacam ini senantiasa berulang dalam setiap kejadian bencana. Meski dari sudut pandang saintifik, hal ini mungkin menjadi sebuah daya tarik tersendiri, namun di sisi lain, kita juga perlu mempertimbangkan bahwa ketakutan generik masyarakat juga dapat timbul dari berbagai pemberitaan yang memuat penjelasan dari para ahli. Hal ini diakibatkan oleh penjelasan-penjelasan yang sering menyebutkan baik secara tersirat ataupun tersurat bahwa wilayah Indonesia adalah wilayah yang memiliki kerentanan akan bencana yang tinggi. Sudut pandang geografis dan geologis Indonesia adalah dua hal pokok yang sering dijadikan argumentasi. Namun, sadarkah kita, bahwa dengan posisi geografis dan geologis tersebut, bencana, khususnya yang selama ini disebut sebagai bencana alam, adalah sebuah keniscayaan di wilayah Indonesia?

Arogansi dan Individualisme
Sejatinya, perilaku alam senantiasa bersifat netral, sedangkan anggapan baik dan buruknya adalah hal lain yang muncul karena paradigma manusia yang cenderung arogan dan individualis. Alam dengan segala dinamikanya telah ditakdirkan bersifat pasif oleh Tuhan, sehingga apa yang ditampakkan hanyalah merupakan sebuah respon yang wajar, apa adanya. Alam dapat diibaratkan menjadi sebuah cermin, yang hanya bisa memantulkan apa yang ada di hadapannya. Hukum tabur tuai menjadi sebuah keniscayaan.

Tanah longsor, banjir, gempa bumi, erupsi gunung berapi, dan berbagai macam bencana alam lainnya sejatinya telah ada sejak terciptanya bumi ini, jauh sebelum kehadiran umat manusia. Maka dari itu, ada atau tidaknya manusia, bumi pun tetap akan berperilaku sesuai dengan kodratnya. Tanahnya tetap akan melongsori lereng-lereng terjal, hujan-hujannya yang deras akan setia mengguyur wilayah-wilayah tropisnya, gempa tetap akan terjadi di berbagai sudut bumi, bahkan gunung-gunungnya pun tetap akan bererupsi. Karena memang begitulah dinamika natural dari bumi ini, yang justru membuktikan bahwa bumi ini sedang dan masih hidup.

Sebagai gambaran faktual sekaligus aktual, bahwa erupsi Gunung Semeru pada 1 Desember 2020, yang diikuti oleh guguran awan panas dari puncak mahameru, bukanlah yang pertama kali terjadi. Hasil penelitian terkini membeberkan fakta bahwa erupsi serupa cukup sering terjadi, bahkan erupsi pertama dari atap pulau jawa ini, tercatat terjadi sekitar 200 tahun lalu. Tepatnya pada 8 November 1818.

Seandainya pencatatan dan penelitian geologi dilakukan untuk rentang waktu yang lebih panjang, maka tak menutup kemungkinan bagi kita untuk memperoleh bukti bahwa erupsi serupa juga pernah terjadi dalam rentang waktu ribuan, ratusan ribu, atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Yang perlu kita cermati sekaligus renungi dalam setiap kejadian bencana ini ialah, bahwa efek primer dari sebuah bencana, sebut saja erupsi gunung berapi, bahkan dengan guguran lava pijar yang besar sekali pun, tidak akan secara langsung mengakibatkan kematian. Yang justru menyebabkan kematian adalah robohnya bangunan, longsornya tanah, kebakaran, atau hal-hal lain yang merupakan efek sekunder dari erupsi tersebut. Jadi, kalau kita mampu membuat bangunan dan rumah yang tahan gempa, niscaya kita tidak akan menjadi korban gempa akibat tertimpa rumah atau bangunan kita sendiri. Kalau kita tidak tinggal di dataran pantai yang rawan tsunami, niscaya kita pun tak akan jadi korban tsunami. Kalau kita tak membangun rumah di lereng terjal, niscaya kita tak akan menjadi korban tanah longsor. Kalau kita tidak menebangi hutan secara membabi buta, tidak tinggal di bantaran sungai, dan tidak membuang sampah sembarangan, niscaya kita juga tidak akan mengalami musibah banjir. Begitu pun dalam kehidupan bersosial, jika kita senantiasa berlaku baik terhadap sesama tanpa memandang latar belakang apapun, niscaya kesenjangan sosial bisa diminimalisasi.

Di sisi lain, kita juga mesti sadar, bahwa mekanisme alami yang terjadi dan seringkali dipersepsikan sebagai sebuah bencana inilah yang memunculkan daratan Indonesia dari dasar samudera sejak jutaan tahun lalu, kemudian pada akhirnya terbentuklah gugusan pulau, bukit, dan gunung dengan segala keeksotisannya. Dari mekanisme ‘bencana’ itu pula, kemudian menghasilkan retakan-retakan yang menjadi ruang bagi minyak bumi, emas, perak, tembaga, dan beragam bahan tambang lainnya.

Erupsi gunung berapilah yang juga membuat tanah-tanah di Indonesia menjadi subur dan menyimpan cadangan air yang sangat melimpah di dalam tanah. Longsor dan banjirlah yang menghamparkan sedimen dan membentuk dataran yang subur dan nyaman untuk ditinggali manusia. Curah hujan kita yang amat tinggi juga membuat berbagai flora tumbuh subur, hingga dapat menjadi sumber penghidupan bagi makhluk yang lain, termasuk manusia. Kemudian, atas semua dinamika di atas, terlepas dari stigma kemanusiaan atas bencana yang terjadi, adilkah jika kita menyalahkan berbagai perilaku bumi sebagai penyebab terjadinya sebuah bencana?

Muhasabah Kemanusiaan
Kita sebagai insan yang senantiasa mendambakan kesejahteraan, tak pernah terlintas sedikit pun untuk menghendaki berbagai bencana, walau kita juga tak mungkin menafikan bahwa itu merupakan takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Namun demikian, hal ini mesti kita sikapi secara lebih arif dan bijak sebagai bentuk muhasabah demi terwujudnya keseimbangan alam yang baik untuk semua.

Segala bencana yang terjadi sejatinya tak pernah terlepas dari intervensi kita sebagai  pengelolanya. Hal ini pun sebagai pengingat bagi kita bahwa berarti masih terdapat banyak tingkah laku kita yang mesti diperbaiki. Selama perilaku kita masih belum menunjukkan keseriusan untuk merawat alam sekitar, pun kepada sesama manusia, niscaya bencana-bencana lainnya masih akan terus membayangi.

Sebagian dari kita, bahkan telah ‘mengkambinghitamkan’ Tuhan ketika bencana menimpa. Mereka berujar bahwa ini merupakan manifestasi dari kemurkaan Tuhan atas perilaku buruk kita. Namun yang seringkali kita lupa, bukankah kasih sayang-Nya jauh mendahului murka-Nya? alangkah lebih elok jika kita mempersepsikan bahwa Ia menjadikan bencana ini sebagai cermin atas perilaku kita. Ia melalui bencana ini hendak membangkitkan kesadaran kita untuk segera mengubah perilaku buruk kita menjadi lebih baik. Karenanya, cermin ini masih akan terus dihadapkan oleh-Nya sepanjang perilaku kita kepada diri kita sendiri, lingkungan, dan sesama manusia masih buruk. Dia sebagai Dzat yang Maha Indah tentu menginginkan kita sebagai khalifahNya untuk dapat hidup nyaman dengan berbagai potensi keindahan.

Jadi, untuk bagian bumi yang saat ini disebut sebagai wilayah Indonesia, berbagai potensi kebencanaan adalah sebuah keniscayaan. Karena, memang begitulah kodrat bumi sebagai tempat tinggal kita umat manusia ini telah ditetapkan. Seluruh fenomena alam tersebut adalah tanda bahwa bumi kita hidup. Tinggal bagaimana kita yang menghuninya ini dapat ‘memberikan’ penghidupan yang baik bagi bumi atau tidak. Karena, hidup pun tak berarti sehat.

Sebagai sebuah muhasabah, bahwa sesungguhnya bencana adalah jalan Tuhan untuk membangkitkan kesadaran kita. Adalah tangan lembut yang membuat seorang anak mampu merangkak dari semula hanya duduk, kemudian berdiri, berjalan tertatih dan kemudian mampu berlari. Inti dari sebuah bencana bukanlah melulu soal kerugian, kehilangan, kesakitan, kepedihan, atau pun penderitaan. Ia adalah sebuah cermin besar bagi umat manusia. Ia mestinya senantiasa membangkitkan kesadaran, bahwa ternyata wajah peradaban kita masih penuh noda dan bahkan mungkin tidak sedang baik-baik saja.

Rabu, 13 Januari 2021

Mengatasi Ikan Mas Koki Berenang Terbalik

Halo semuanya.

Tidak dipungkiri, masa-masa pandemi mengharuskan kita untuk biasa hidup di rumah saja dan tidak keluar apabila tidak ada kebutuhan. Oleh karenanya banyak sekali trend kegiatan bermunculan untuk mengisi waktu luang di rumah. Salah satunya adalah dengan memelihara hewan.

Yang baru-baru ini sangat marak di dunia pets adalah memelihara ikan. Baik ikan cupang, ikan komet, ikan mas koki, dan jenis ikan-ikan lainnya.

Secara spesifik artikel kali ini akan membahas mengenai salah satu permasalahan saat memelihara ikan mas koki, yaitu masalah ikan berenang terbalik. Masalah ini menjadi salah satu yang kerap terjadi saat memelihara ikan mas koki.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas

Penyakit dan Gejala

Ikan mas koki yang berenang terbalik dikarenakan ikan tersebut sedang mengalami gangguan gelembung renang. Ikan mas koki memiliki organ gelembung renang yang berfungsi untuk membantu mereka berenang di air. Gangguan gelembung renang dapat diakibatkan oleh infeksi, sembelit ataupun gangguan organ lainnya.

Biasanya ikan yang mengalami gangguan ini, akan menunjukkan gejala-gejala unik, yaitu mereka akan cenderung berenang dalam keadaan miring, bahkan terbalik. Selain itu, ikan akan terlihat kesulitan mengontrol tubuhnya. Ikan mas koki akan cenderung mengapung, dan kesulitan menyelam ke dasar akuarium. 

Gangguan ini dapat dibilang cukup sering terjadi pada ikan mas koki, khususnya ikan mas koki yang memiliki tubuh bulat. Dalam beberapa kasus, apabila gangguan gelembung renang diakibatkan oleh penyakit infeksi bakteri, hal ini dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Namun sebagian besar kasus, ikan yang berenang terbalik dapat diobati dengan berbagai cara.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas

Penyebab

Biasanya, gangguan ini diakibatkan oleh pola makan ikan yang kurang baik. Ikan mas koki memiliki nafsu makan yang sangat tinggi. Meskipun sudah diberi makan, mereka akan tetap makan jika diberi lagi. Kebiasaan ikan mas koki inilah yang dapat menjadi salah satu penyebab umum terjadinya gangguan gelembung renang. Apalagi jika makanan ikan mas koki hanya pelet saja dan tidak ada makanan lain yang mengandung serat untuk menyeimbangkan gizi ikan.

Pelet ikan mengandung udara di dalamnya, sehingga apabila ikan makan pelet terlalu banyak, maka perutnya akan dipenuhi dengan udara. Kurangnya gizi dalam pelet ikan juga menyebabkan ikan kekurangan serat. Kedua hal tersebut lah yang dapat mencetus penyakit sembelit pada ikan. Jika pencernaan ikan terganggu, gelembung renang di dalam tubuh ikan akan terdesak sehingga menyebabkan keseimbangan ikan terganggu dan menyebabkan ikan kesulitan mengendalikan diri saat berenang.

Dalam kasus yang ekstrim, gangguan gelembung renang dapat diakibatkan oleh infeksi bakteri, sehingga ikan membutuhkan pengobatan yang sesuai. Kamu dapat melihat gejalanya, apabila ikan mas koki tidak lagi bernafsu saat makan. Berbeda jika ikan masih sangat bernafsu saat makan, maka kemungkinan besar adalah ikan hanya mengalami gangguan gelembung renang akibat pola makan yang tidak sehat.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas

Cara Mengatasi

Bagi ikan yang mengalami gangguan gelembung renang karena pola makan yang tidak sehat, maka kamu perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  • Puasakan ikan

Untuk sementara waktu, jangan memberi ikan makan terlebih dahulu. Kamu dapat melakukannya dengan cara bertahap. Diawali dengan tidak memberinya makan selama sehari, kemudian dua hari, hingga tiga hari. Ikan mas koki dapat bertahan tanpa makanan hingga tiga hari. Namun jangan sampai memuasakan ikan hingga lebih dari tiga hari ya!

Biarkan ikan puasa selama satu hingga tiga hari, sehingga dapat memberikan ikan waktu yang cukup untuk mencerna makanan yang masih ada di dalam perutnya. Dengan melancarkan pencernaan ikan, akan mengurangi tekanan terhadap gelembung renang. Perhatikan, apabila ikan berangsur normal, maka memang benar penyebabnya adalah pola makan yang tidak baik.

  • Ganti makanan dengan makanan kaya serat

Makanan untuk ikan mas koki tidak hanya didapat dari pelet ikan saja. Ikan mas koki juga membutuhkan gizi yang cukup yang dapat diperoleh dari makanan sehat lainnya, seperti buah dan cacing. Pastikan bahwa makanan-makanan tersebut dapat dikonsumsi dengan baik oleh ikan mas koki.

  • Rendam pelet ikan

Untuk mengurangi kandungan udara pada pelet ikan, kamu dapat merendamnya terlebih dahulu agar udara di dalam pelet ikan dapat terlepas. Rendam pelet ikan dengan segelas air akuarium selama 10 - 15 menit atau tunggu hingga pelet cukup lembek. Setelahnya pelet tersebut dapat diberikan kepada ikan mas koki di akuarium.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas


Jika cara-cara tersebut tidak berhasil, maka kamu perlu mencurigai adanya infeksi. Ikan yang mengalami infeksi bakteri maka diperlukan pengobatan isolasi, atau dengan cara mengobatinya di tanki yang berbeda dengan ikan-ikan lainnya.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan akuarium, karena akuarium yang bersih akan menciptakan lingkungan yang sehat bagi ikan kita.

 


Selasa, 12 Januari 2021

Cara Memotong Kuku Iguana

Halo semuanya. Kali ini kami akan memberikan cara atau tutorial memotong kuku Iguana.

Kuku tergolong bagian tubuh iguana yang cepat tumbuh. Bentuknya yang panjang dan runcing cenderung akan melukai orang yang menggendongnya. Maka dari itu salah satu perawatannya adalah dengan memotong kukunya.


Luka akibat kuku iguana

Tentu saja tidak seperti memotong kuku manusia, saat memotong kuku iguana, kita harus memperhatikan beberapa hal agar iguana tidak jumpy dan tetap nyaman. Kali ini model iguananya adalah iggy dengan usia kurang lebih 10 bulan. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat memotong kuku iguana.

Baca juga: Fakta Seputar Iguana - Wajib Tau sebelum Memeliharanya


1. Gendong Iguana dengan Nyaman

Pegang atau gendong iguana, hindari memegang terlalu erat dan hindari menyentuh ekornya. Buat posisinya senyaman mungkin, sehingga kaki dan tangan iguana dapat terlihat dan terjangkau oleh pemotong kuku.



2. Lakukan dengan Berurutan

Kamu dapat memotong kuku diawali dengan bagian kaki belakang atau depan terlebih dahulu. Namun yang paling penting adalah lakukan secara berurutan mulai dari posisi kaki yang paling mudah dijangkau. Hal ini dilakukan untuk membuat iguana mengerti bahwa kukunya akan dipotong, tanpa harus menarik-narik kaki yang tidak dijangkau terlebih dahulu. Setelah iguana paham bahwa yang kamu lakukan tidak menyakitinya, maka dia tidak akan menolak ketika kaki lainnya digerakkan untuk mendapatkan posisi paling nyaman.

Baca juga: Fakta Seputar Iguana - Wajib Tau sebelum Memeliharanya



3. Potong bagian runcingnya saja

Saat memotong kuku iguana, kamu cukup potong bagian runcingnya saja. Jangan potong terlalu panjang karena akan melukai dan menyakiti iguana. Jika terlalu dalam, iguana akan sedikit kaget/terjingkat hingga berontak karena kesakitan. Lakukan perlahan-lahan agar iguana tidak merasa terganggu.

Untuk memperjelas tutorial atau cara memotong kuku iguana, saya sudah sediakan link video di bawah ini. Klik untuk menonton videonya. Semoga bermanfaat!

Baca juga: Fakta Seputar Iguana - Wajib Tau sebelum Memeliharanya





Senin, 11 Januari 2021

Jurnalisme Masa Kini: Antara Firasat dan Filsafat


Pesawat Boeing 737-524 Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak, yang berangkat Sabtu, 9 Januari 2021 pukul 14.36 WIB dan hilang kontak, hingga kini masih belum juga diketahui nasibnya.

Berbagai potensi SAR telah ikut terlibat dan dikerahkan ke wilayah perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu untuk melakukan pencarian. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pernyataan resminya pada Minggu, 10 Januari 2021, menginstruksikan kepada para pejabat terkait untuk segera melakukan operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Termasuk, melakukan pertolongan jika ada korban yang selamat.

Sejak berita hilang kontaknya Sriwijaya Air SJ 182 viral, kasus ini sontak mengundang empati dari masyarakat. Kita seakan terhipnotis dengan ramainya berita yang ditayangkan di televisi seputar kecelakaan yang menimpa maskapai penerbangan terbesar ketiga di Indonesia tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa masyarakat secara umum ingin memantau setiap perkembangan dari peristiwa tersebut melalui media massa.

Sebagian orang barangkali ingin memenuhi rasa penasaran mereka dengan tidak henti-hentinya mencermati tiap tampilan berita, gambar, dan petikan wawancara yang ditayangkan di layar kaca. Bagi sebagian yang lain, di era disruptif ini, ada yang memilih untuk mengakses berita-berita tersebut melalui gawai mereka secara langsung, walau tetap ada kalangan yang lebih nyaman menyimak berita melalui media cetak. Semua pihak seperti tak ingin ketinggalan momen, mereka haus akan informasi mengenai bagaimana proses evakuasi ke-62 korban hingga indentifikasi, dan yang terpenting adalah soal sebab yang melatarbelakangi kecelakaan tersebut.

Firasat yang Dibuat
Seperti yang kita tahu, bahwa peristiwa bencana dan/atau kecelakaan semacam ini praktis menimbulkan kesedihan bagi pihak keluarga, bahkan hingga trauma bagi pihak lain yang mungkin tidak terlibat secara langsung. Namun sayang, di tengah gelombang empati dan rasa ingin tahu masyarakat yang tinggi, beberapa oknum media di Indonesia yang meliput sejumlah peristiwa bencana dan/atau kecelakaan semacam ini nampaknya masih menunjukkan kegagapan dalam menjalankan tugas mulianya. Setelah mengetahui seberapa besar skala kecelakaan dan tragedi ini, awak media pun berlomba-lomba meliput atau bahkan hingga mewawancarai para keluarga korban.

Yang patut disesalkan adalah ketika media-media tersebut membuat konten atau bahkan hingga menanyakan hal-hal yang terkait dengan ‘firasat’ kepada para anggota keluarga korban. “Apakah ada firasat sebelum terjadinya kecelakaan ini?” kalimat tersebut seakan menjadi sebuah template pertanyaan yang kerap diajukan oleh para pewarta kepada anggota keluarga korban. Selain itu, konten yang terkait dengan status media sosial korban sebelum keberangkatan juga kerap kita saksikan berseliweran di beranda gawai kita. Media seakan ingin menyampaikan kepada para pemirsa bahwa ada keterkaitan berupa ‘firasat’ antara sebelum keberangkatan seorang korban, dengan kecelakaan yang terjadi. 

Berita semacam ini sejatinya kerap kita dengar pula di sejumlah kecelakaan lain sebelumnya. Ada semacam penggiringan opini bahwa firasat menjadi sebuah hal yang penting untuk diketahui masyarakat. Firasat menjadi sebuah komoditi yang menggiurkan untuk tak hanya diciptakan, namun juga diviralkan. Jika kita tilik secara obyektif, hal yang terkait firasat ini sebenarnya tak begitu menambah informasi yang berguna bagi para pemirsa, selain hanya menjadi sarana untuk memperpanjang perspektif klenik dalam melihat suatu peristiwa kecelakaan seperti ini. 

Hal yang semestinya dapat menjadi alternatif berita dan lebih normatif untuk diekspos adalah profil korban yang inspiratif, maksud perjalanannya, dan hal-hal faktual lain yang bisa diverifikasi. Dalam hal kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182, bukankah lebih berguna jika wartawan bertanya soal mekanisme penerbangan di tengah pandemi yang telah ditempuh oleh para korban untuk bisa naik pesawat tersebut. Hal ini akan jauh lebih bermakna karena belakangan menjadi polemik soal meningkatnya kasus aktif COVID-19 paska libur natal dan tahun baru.

Di satu sisi, para jurnalis yang meliput peristiwa tragis seperti ini dituntut untuk berempati kepada para korban. Namun, di sisi lain, para wartawan juga dituntut untuk memberikan informasi yang bisa memberi makna dari peristiwa yang telah terjadi. Dalam kerangka semacam ini, ‘firasat’ yang sejatinya dicipta sekaligus dipersepsikan sendiri oleh media tentu sangat tidak berkontribusi bagi pemahaman khalayak kecuali hanya membuat gaduh, diskusi yang tak bergizi, dan kesedihan yang berlarut bagi pihak keluarga korban. Walau media dalam setiap produksi beritanya diliputi oleh orientasi bisnis, namun hendaknya tidak serta merta mengesampingkan fungsi edukasi yang membuat mulia tugas mereka. Tidak etis rasanya jika prinsip yang digunakan adalah ‘asal berita laku’, hingga kemudian tidak mempedulikan lagi etika gambar, judul, dan naskah yang disajikan. 

Filsafat yang Terlibat
Para pekerja media juga harus senantiasa memegang teguh kode etik jurnalistiknya, yang mana tak hanya sekedar keharusan pekerja media untuk tidak boleh menjiplak, memfitnah, berbohong, dan menerima ‘amplop’ saja. Namun yang tak kalah penting dari itu semua ialah selalu menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan rasa keadilan bagi seorang narasumber.

Media kita mungkin perlu lebih arif sekaligus obyektif dalam memandang setiap kejadian khususnya yang terkait dengan kecelakaan dan kebencanaan. Pendekatan firasat barangkali perlu dimodifikasi menjadi pendekatan filsafat. Karena tanpa filsafat, jurnalisme kita bisa terhempas bebas ke dalam lembah ketidakpedulian, membiarkan dirinya menjadi alat bagi kekuatan-kekuatan tertentu untuk merestorasi berbagai kegelisahan, sekaligus mengebiri tugas mulia seorang jurnalis untuk mewartakan kebenaran. 

Filsafat nampaknya dapat menjadi semacam mercusuar bagi jurnalisme di tengah kebimbangannya dalam memahami serta menyampaikan apa yang benar dan benar-benar perlu untuk disampaikan. Filsafat dapat memberikan alternatif paradigma, atau bahkan merekonstruksi apa yang telah diyakini oleh jurnalisme sebagai sesuatu yang tak tergoyahkan, dan tak menutup kemungkinan dapat membuka berbagai peluang epistemologi baru di tengah sumber informasi yang kian plural, selain usaha untuk memahami berbagai realitas sosial secara lebih radikal.

Jumat, 08 Januari 2021

Film Terbaik 2020

Di awal tahun 2020, para pecinta film pasti melihat kecerahan karena satu tahun ke depan akan rilis film-film besar blockbuster seperti Bond, Black Widow, Wonder Woman, Last Night in Soho, dan Candyman. Namun pandemi yang mulai memasuki Indonesia pada bulan Maret seakan membalikkan bumi. Tidak hanya film-film baru yang terpengaruhi, namun juga kehidupan, kematian, ekonomi, hingga mental masyarakat menjadi begitu terpuruk.

Kasus berkembang dengan sangat cepat. PSBB mulai diterapkan selama dua minggu pertama, namun tidak berhasil menampung keaktifan masyarakat akan kehidupan sosialnya. PSBB kedua, ketiga, dan kesekian kalinya pun dilakukan hingga beberapa bulan ke depannya. Semua fasilitas umum dibatasi, angkutan umum penuh dengan syarat, rumah sakit penuh, tempat pemakaman umum yang kosong mulai terisi penuh, restaurant dan warung tidak dapat beroperasi dengan normal, banyak pelanggaran, mall dibatasi, hingga bioskop ditutup.

Pandemi benar-benar mengguncang sebagian besar orang yang terdampak. Hidup seakan terbalik, dari penuh harapan hingga putus asa. Tidak hanya dampak sosial dan ekonomi, mental semua orang pun diuji karena rasa takut.

Bagi sebagian besar penikmat film, tentu masa PSBB dan lockdown cukup mengecewakan, karena banyak film-film yang diharapkan tidak jadi ditayangkan. Namun terlepas dari semua itu, banyak film-film yang berhasil tayang secara online melalui aplikasi dan website-website film. Beberapa di antaranya bahkan menjadi film terbaik sepanjang 2020.

1. Parasite

Film Parasite ini sebenarnya sudah rilis semenjak 2019, namun atas tingginya minat dan ketertarikan netizen pecinta film, maka Parasite resmi ditayangkan kembali di bioskop pada Februari 2020. Di film ini, kita dapat melihat sutradara Bong Joon Ho berhasil meramu perpaduan genre yang membuat penonton mabuk. Mulai dari thriller, komedi, tragedi, hingga satir, dapat kita nikmati dengan sempurna.

Kisah antara Keluarga Kim yang keras kepala dan Keluarga Park yang kaya raya sungguh tematik dan memiliki alur yang tidak mudah ditebak. Saat menontonnya, kamu akan merasakan rasa sedih, marah, tertawa, tegang, hingga bertanya-tanya. Kisah Parasite sangat menghibur, namun visual dan rasa yang disajikan terlebih-lebih membuat mata sekaligus hati kita terbuka atas berbedanya dunia antara si kaya dan si miskin.

Parasite memenangkan Palme d'Or di ajang bergengsi, Cannes Film Festival 2019. Di ajang Golden Globe Award ke-77, film ini masuk ke dalam nominasi Best Director dan Best Screenplay, serta memenangkan Best Foreign Language Film. Selain itu banyak penghargaan bergengsi lainnya yang berhasil diraih atas karya Parasite ini.

2. Portrait of A Lady on Fire

Di sebuah pulau terpencil di abad ke-18, seorang seniman bernama Marianne ditugaskan oleh seorang wanita bangsawan (The Countess) untuk melukis putrinya, Héloïse. Ini dilakukan oleh ibu Héloïse agar dapat membuat seorang bangsawan kaya raya tertarik meminang putrinya. Namun Héloïse menolak untuk dilukis, sehingga Marianne melakukannya secara sembunyi-sembunyi. The Countess pun mengatur agar Marianne dapat menjadi dekat dengan putrinya. Namun kedekatan antara keduanya bukan lagi berjalan sesuai rencana. 

Film Perancis karya sutradara Céline Sciamma dapat disebut sebagai film feminis namun juga artistik. Céline Sciamma berhasil menyajikan film ini dengan memberikan batas antara pilihan realistis yang suram sebagai akibat dari adanya budaya patriarki.

Penayangan premier filmnya secara eksklusif dilakukan di ajang TIFF (Toronto International Film Festival) 2019 lalu. Di ajang Cannes Film Festival 2019, Portrait of A Lady on Fire masuk ke dalam nominasi Palme d'Or dan berhasil meraih Queer Palm dan Best Screenplay.

3. Rocks

Kisah persahabatan yang penuh kasih namun kacau ini merupakan salah satu film remaja Inggris sepanjang tahun. Film ini bertempat di London Timur, dengan tokoh utamanya, Rocks, seorang penata rias yang ditinggalkan oleh ibunya sehingga harus merawat adiknya, Emmanuelle. Dalam kisahnya, Rocks memiliki sekelompok sahabat yang sangat setia yang akan menemani perjalanan masa remajanya yang cukup keras.

Film ini disutradarai oleh Sarah Gavron dan ditulis oleh Theresa Ikoko dan Claire Wilson. Mereka berkolaborasi dengan sangat baik dalam menciptakan kisah yang hangat untuk dinikmati di tengah dinginnya suasana isolasi. Film Rocks diterima dengan baik oleh para kritikus film. Cerita yang fresh dan fun, karakter yang realistis, serta sarat makna, membuat film ini nyaman untuk dinikmati. 

4. The Lighthouse

Kali ini kita akan beralih ke film bergenre horor psikologis karya Robert Eggers, The Lighthouse. The Lighthouse menceritakan dua pria penjaga mercusuar di tahun 1890-an, Ephraim Winslow dan Thomas Wake. Di film ini, Wake yang merupakan rekan senior, selalu membagikan tugas berat kepada Winslow, sehingga pikiran negatif atas Wake merasuki kepalanya. Konflik cerita semakin intens ketika mereka terjebak di tengah badai. Kegilaan antara keduanya mulai muncul akibat rasa tidak percaya dan benci satu sama lain.

Genre horor yang dimaksud dalam film ini bukanlah mengenai penampakan hantu, pemujaan setan, atau lainnya. Eggers memainkan pikiran penonton melalui khayalan-khayalan ganjil sang tokoh yang dibuat ngeri, gelisah, dan paranoid. Tidak hanya Wake dan Winslow saja yang berada pada sebuah kegilaan, kita juga akan dibuat gila bersama-sama saat menontonnya!

5. Host

Seperti film Searching yang dirilis pada 2018, Host juga mempertontonkan cerita melalui layar komputer. Host menceritakan tentang sekawanan orang yang melakukan video call group dengan aplikasi Zoom. Melalui komunikasi di antaranya, mereka melakukan pemanggilan arwah yang berujung fatal. Arwah jahat yang dipanggil memburu mereka, dan memaksa mereka melihat kematian kawannya satu persatu secara langsung melalui video di layar komputer mereka. Film ini sukses menciptakan ketegangan di tengah penonton, karena penonton juga merasa sedang berada di dalam panggilan konferensi tersebut.

Film ini benar-benar menunjukan bahwa pandemi juga dapat memberikan inspirasi untuk memproduksi sebuah film. Sutradara Rob Savage, sang pemilik kreativitas saat terjebak lockdown, sepenuhnya menggarap film ini secara daring. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan semua pemerannya.

 

Kamis, 07 Januari 2021

COVID-19 : Mutasi dan Vaksinasi


Terhitung hingga awal tahun 2021, pandemi COVID-19 masih belum ada tanda-tanda enyah dari muka bumi. Bahkan, kini telah santer diberitakan terdapat sekelompok mutasi atau varian baru pada banyak kasus COVID-19 di berbagai belahan negeri. Di Indonesia sendiri, tren peningkatan kasus COVID-19 masih sangat tinggi dan cenderung pada level ‘menyayat hati’. Hal ini didasarkan pada jumlah rata-rata kasus penularan per hari dalam tujuh hari ke belakang yang telah mencapai 7.000 kasus. Secara keseluruhan, jumlah kasus aktif di Indonesia saat ini sudah mencapai 110.000 kasus.

Merespon tren peningkatan kasus infeksi yang terus meninggi, Pemerintah Indonesia merencanakan untuk segera memulai vaksinasi COVID-19 di Indonesia pada Rabu (13/1/2021) mendatang menggunakan vaksin Corona Sinovac. Ke depannya disebut akan ada 7 jenis vaksin COVID yang beredar di Indonesia. Kementerian Kesehatan telah melakukan kerja sama dengan sejumlah produsen untuk mengamankan sekitar 660 juta dosis vaksin yang akan digunakan. 

Namun, program vaksinasi ini tidak lancar begitu saja. Perdebatan dan adu argumen serta pro-kontra terjadi di kalangan akar rumput, bahkan para ahli dengan argumennya masing-masing belum sepenuhnya sepakat dengan terobosan ini. Sebut saja terkait masalah merk, uji klinis, gratis-mandiri, hingga soal halal-haram dari vaksin yang akan digunakan.

Terlepas dari berbagai persoalan dan perdebatan di atas, kasus yang terus melonjak di berbagai belahan dunia membuat umat manusia sepakat dan semakin berharap pada kehadiran vaksin yang efektif dan aman. Apalagi, di tengah ancaman gelombang kedua yang membuat prospek pemulihan ekonomi menjadi kian suram. Kini, berbagai negara di dunia selain berlomba untuk mengembangkan vaksin COVID-19, mereka juga berlomba untuk mengamankan pasokannya, karena saat ini, vaksin COVID-19 merupakan sebuah kebutuhan pokok yang kian menjadi barang langka.

Sejarah Vaksin
Vaksin merupakan zat yang berasal dari virus atau bakteria yang telah dilemahkan atau dimatikan melalui mekanisme ilmiah. Vaksin dapat digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif pada tubuh terhadap suatu penyakit tertentu. Vaksin sendiri sejatinya telah dikenal secara luas sejak tahun 1796 ketika vaksin cacar pertama kali ditemukan oleh seorang dokter bernama Edward Jenner di Berkeley, suatu daerah pedesaan di Inggris. 

Jadi, vaksin bukan merupakan hal baru, kendati sikap anti-vaksin juga memiliki akar sejarah panjang yang senantiasa membersamai. Selain alasan religius, ada pula alasan yang didukung argumen beragam nan kompleks. Mulai dari argumen yang menyatakan bahwa terdapat efek samping negatif akibat vaksinasi, peningkatan tingkat disabilitas pada anak terkait imunisasi. Ada pula anggapan bahwa vaksin adalah racun dan bahan yang tidak diperlukan tubuh, hingga anggapan bahwa vaksin merupakan bagian dari konspirasi elit global.

Namun, sejarah telah mencatat bahwa vaksinasi telah membawa perubahan konstruktif yang cukup signifikan pada dunia kedokteran. Salah satu tanda kesuksesan vaksin yang paling besar adalah ketika WHO berhasil menghapuskan cacar dengan cara memperluas cakupan vaksinasi cacar hingga ke seluruh dunia pada tahun 1956. Hingga akhirnya, pada 1980, cacar dinyatakan telah tereradikasi. Melihat dari sejarah, tujuan pembuatan vaksin tidak lain adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari penyakit menular yang mematikan, termasuk COVID-19. Jangan sampai karena kelalaian dan informasi yang tidak jelas membuat kita takut untuk melakukan vaksinasi.

Yang perlu kita garis bawahi di sini ialah bahwa manfaat eradikasi sangatlah jelas; menyelamatkan nyawa dan menghindari kecacatan seumur hidup yang sebenarnya dapat dicegah. Keberhasilan vaksinasi di era sebelumnya mestinya dapat menjadi acuan bagi pencegahan penyakit baru seperti COVID-19. Sejatinya, pencegahan penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan atau bahkan kematian adalah bagian dari upaya menanggulangi kemiskinan dan memberikan kesempatan lebih luas kepada generasi penerus untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.

Lebih Dari Sekedar Pencegahan
Seiring berkembangnya ilmu kedokteran yang kian dinamis, kita pun sebagai masyarakat global perlu memiliki visi lebih besar dari sekadar pencegahan berbagai penyakit baru. Selain vaksinasi dan/atau imunisasi, masih banyak upaya yang dapat sekaligus perlu dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit baru di masa yang akan datang. Pemanfaatan infrastruktur, kapasitas, dan strategi inovatif dalam eradikasi penyakit di masa lalu seperti halnya cacar dan polio sangatlah penting dalam strategi pengendalian penyakit lain.

Pemerintah dan masyarakat harus seiya sekata dalam penguatan sistem kesehatan. Dengan tiga dimensi (akses, keterjangkauan pembiayaan, dan mutu) jaminan kesehatan menyeluruh dapat menjadi agen perubahan di dunia kesehatan yang berimplikasi langsung terhadap masyarakat.  Tenaga kesehatan dan masyarakat sipil terkait sudah harus disiapkan, terus dilatih dan dilengkapi dengan perangkat yang diperlukan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Demikian pula laboratorium klinik yang mudah diakses serta jejaring komunikasi yang komprehensif juga akan bermanfaat bagi pengendalian berbagai penyakit. 

Manfaat Vaksin
Namun demikian, kesalahan persepsi yang sering terjadi di masyarakat secara umum adalah adanya anggapan bahwa vaksin ialah segala-galanya. Jika sudah divaksin, kita tidak akan terinfeksi. Sejatinya, itu adalah pandangan yang keliru. Vaksin akan menimbulkan respons kekebalan yang baik jika kita tetap menegakkan protokol kesehatan.

Dengan adanya sistem vaksinasi yang baik, setidaknya ada 3 manfaat besar bagi kelangsungan hidup masyarakat, di antaranya adalah; (1) penghematan biaya dalam jangka panjang. Pada awalnya, proses vaksinasi memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun, jika dibandingkan dengan penghematan biaya yang berkaitan dengan pengobatan suatu penyakit, tentunya modal awal tersebut tidak akan menjadi lebih besar dari manfaat yang dihasilkan.

(2) vaksin dapat mencegah perkembangan resistensi terhadap antibiotik. Dengan adanya kekebalan tubuh dari orang yang telah divaksin, secara otomatis ketergantungan akan penggunaan antibiotik akan menurun.

(3) program vaksinasi secara tidak langsung dapat meningkatkan angka harapan hidup. Menurut data WHO, vaksin juga dapat meningkatkan angka harapan hidup dengan melindungi seseorang dari penyakit yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Well, pada akhirnya memang tidak akan ada vaksin yang sempurna dengan efektivitas dan keamanan tinggi khususnya dalam waktu produksi yang singkat. Namun, bagaimana pun ini adalah rangkaian ikhtiar untuk terlepas dari pandemi. Jika tidak melalui vaksinasi, apa kita mau menunggu hingga COVID-19 terus bermutasi dan mengancam sanak famili yang kita cintai?

Selasa, 29 Desember 2020

Selamat Tahun Baru 2021!


Telah menjadi sebuah rahasia umum bahwa setiap momen pergantian tahun senantiasa ditandai dengan berbagai asa yang baru. Harapan untuk mewujudkan beraneka rencana selama satu tahun ke depan. Sekali lagi, tahun baru menjadi semacam epistemologi tentang sebuah tatanan yang baru.

Manusia beserta peradabannya seperti terlahir kembali pada dunia yang benar-benar gres, sehingga secara bersamaan, segala rantai sejarah yang membersamainya seolah-olah diamputasi oleh epistemologi tahun baru. Segala hal buruk di masa lalu seolah-olah hendak ditanggalkan begitu saja. Sebab, dalam diri setiap manusia telah tergantung berbagai harapan baru. Mulai dari harapan untuk menjadi makhluk sosial yang lebih baik, rezeki yang lebih melimpah, hingga kesuksesan dalam meraih kemaslahatan bersama sebagai manifestasi dari kesadaran eksistensial.

Kita sebagai seorang manusia, hidup pada sebuah dimensi ruang dan waktu. Pemaknaan terhadap sebuah kehidupan senantiasa didasarkan pada segenap asa yang menggantung dalam setiap benak kita. Ruang menjadi suatu tempat dimana seorang manusia berproses mencari eksistensi diri sebagai manifesitasi dari kesadaran tentang apa itu waktu.

Sedangkan waktu sendiri adalah sebuah masa yang tak terbatas, yang di dalamnya manusia menempuh suatu proses dialektika tentang kesadaran diri dengan ruang dimana manusia itu bertempat. Ruang dan waktu menjadi semacam pertautan yang tak pernah bisa dipisahkan dalam tiap rangkaian kehidupan manusia. Sebab, di dalam keduanya, seorang manusia hidup dan memperjuangkan senegap asa sebagai wujud dari kesadaran dirinya tentang sebuah kehidupan.

Itulah mengapa banyak filsuf mengutarakan gagasan, bahwa inti dari segala yang ada adalah materi, termasuk kita, manusia. Sebagai sebuah indikasi dari pernyataan tersebut ialah, manusia butuh suatu tempat (materi) untuk berekspresi sekaligus menunjukkan eksistensi, karena manusia sejatinya merupakan materi itu sendiri.

Tetapi, antitesis dari filsuf materialisme yang datang dari filsuf eksistensialisme nampaknya patut pula menjadi sebuah perhatian kaitannya dengan perayaan awal tahun baru ini. Ketika filsuf materialisme menyebut manusia tak ada bedanya dengan benda-benda lainnya, sebagai sebuah manifestasi dari sunnatullah (serangkaian proses hukum alam; kimia, dan biologi), sehingga seolah-olah sama seperti makhluk lain; hewan dan tumbuhan. Filsuf eksistensialisme menyangkalnya dengan argumentasi bahwa hal tersebut dapat mereduksi totalitas manusia sebagai seorang khalifah. Manusia dengan segala potensinya memiliki kompleksitas diri yang bahkan mungkin tak dapat diukur, misalnya ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial, seperti ketika sedang mempertimbangkan suatu hal, dirundung kecemasan, optimisme, ketakutan, berani, galau, tenang, sedih, bahagia, membenci sesuatu, dan lain sebagainya.

Momen-momen eksistensial seperti itulah yang dapat memengaruhi diri manusia dalam menjalani sebuah kehidupan. Kita bisa saja memiliki semangat yang besar dalam melakukan perubahan di setiap awal tahun baru. Namun, yang perlu kita ingat, bahwa ketika dihadapkan pada sebuah realitas yang berbeda, kemudian kesadaran eksistensial kita sebagai seorang manusia meresponsnya, bisa saja justru kita akan berbalik 360 derajat.

Kesadaran Eksistensial
Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) 
sebuah diktum dari Rene Descartes, menghadirkan sebuah tatanan dunia baru yang mampu menggerakkan kita sebagai seorang manusia untuk melampaui suatu realitas tertentu dalam kehidupan. Kesadaran untuk bertindak lebih, berpikir dan mencipta suatu realitas menjadi euforia manusia dalam setiap perayaan tahun baru.

Segenap harapan terangkai rapi, bahkan seolah-olah masa depan akan dapat ditaklukkan menjadi sebuah kenyataan (kesuksesan) yang diraihnya selama satu tahun ke depan. Hal itu menjadi sebuah bukti yang menandakan betapa kekuatan berpikir seorang manusia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempengaruhi laku kehidupannya.

Dengan kemampuan berpikir yang demikian besar, manusia dapat melampaui realitas yang mungkin dalam banyak kesempatan mengungkung dirinya. Bahkan menurut Plato, dengan imajinasi (visi) yang dibayangkannya, manusia mampu menciptakan sesuatu yang dulunya belum pernah ada.

Meski demikian, kita juga mesti mawas diri dan realistis, bahwa kesadaran eksistensial pun terkadang tak mampu melampaui sebuah realitas (fenomena) yang ada. Itulah mengapa dalam kehidupan ini ada manusia yang gagal, pun ada yang berhasil/sukses.

Kesuksesan dan kegagalan dalam hidup merupakan dampak dari berbagai dialektika kesadaran eksistensial dengan realitas hidup manusia. Bahkan terkadang, yang menentukan kesuksesan atau kegagalan bukanlah kesadaran, melainkan realitas (fenomena) yang telah ada di dalam hidupnya.

Oleh sebab itu, dalam mengarungi perjalanan satu tahun ke depan, bahkan seterusnya, kematangan psikologi kita menjadi salah satu kunci sukses dalam mengarungi bahtera kehidupan. Kesiapan mental dalam menghadapi manis-getirnya perjalanan hidup harus menjadi pengawal setiap harapan yang kita bangun pada awal tahun.

Karena kenyataan yang ada di depan belum jelas dan masih menjadi misteri. Manusia boleh saja mengusahakan yang terbaik, tetapi Tuhan dengan keluasan kuasanya bisa mencipta berbagai kemungkinan di luar prediksi manusia.

Kesadaran Spiritualitas
Maka, selain menggerakkan kesadaran eksistensial kita sebagai seorang manusia, pada momentum tahun baru ini kita pun perlu menggerakkan kesadaran spiritualitas kita dalam menjalani kehidupan. Dengannya, diharapkan kita tidak akan hampa terhadap kesunyian, pun tidak mudah putus asa.

Kesadaran spiritualitas membuat manusia mampu membaca makna dan nilai sebuah kehidupan seutuh-utuhnya, sehingga tidak semua peristiwa atau realitas buruk bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas dianggapnya buruk pula. Singkat cerita, kehidupannya dipenuhi dengan prasangka baik terhadap Tuhan dan apa yang digariskanNya. Orang yang memiliki kesadaran spiritualitas memiliki cara berbeda dalam memandang sekaligus memahami realitas, sehingga kegagalan seribu kali pun tak membuat mereka berhenti memperjuangkan berbagai harapan dalam hidup.

Nilai hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritualitas bukanlah pada hasil, tapi lebih pada orientasi akan usaha guna mencapai kesempurnaan hidup. Selain itu, kesadaran spiritualitas mengarahkan manusia pada jalan yang baik dan menghindarkan manusia dari perbuatan yang buruk.

Dalam mencapai kesuksesannya, ia pantang untuk menggunakan metode yang bertentangan dengan norma, seperti halnya kecurangan, perilaku koruptif, dusta, dan lain sebagainya. Realitas hidup bagi orang yang memiliki kesadaran spiritual yang tinggi senantiasa diarahkan pada sebuah pencapaian yang sempurna, sebab mereka sadar bahwa pencapaian apa pun yang didapatkan di dunia, pada saatnya nanti akan terdegradasi dan sirna.

Semua yang ada hanyalah titipan Tuhan. Manusia hanya terus berkejaran dengan waktu, walau seringkali seolah-olah hendak menaklukkannya. Sementara waktu memang terlampau besar untuk dapat kita taklukkan.

Pada saatnya nanti, manusia tidak akan mampu melawan waktu, karena waktu adalah keabadian, ia tak memiliki batas awal dan akhir. Sedangkan tahun baru sejatinya hanyalah ‘ilusi’ buatan manusia sebagai rangkaian usaha untuk menaklukkan waktu dengan memangkasnya menjadi keratan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun.

Itulah mengapa, ilusi manusia, pada saatnya nanti tetap akan berlalu. Sebab, waktu tetaplah waktu, ia sama dan tak sekalipun berbeda. Tetapi, atas nama ilusi, biarlah kita tetap saling beruluk salam: Selamat Tahun Baru 2021!

Minggu, 20 Desember 2020

Konsep Reinforcement dan Punishment menurut B. F. Skinner

Menurut Skinner unsur terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Penguatan positif

Bentuk-bentuk penguatan positif berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, tepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

Penguatan negatif

Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Perbedaan antara penguat positif dan penguat negatif

Dalam penguat positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Sedangkan dalam penguat negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Sebuah penguat negatif tidak dapat disamakan dengan hukuman.

Punishment

Punishment (hukuman) adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuatu yang tidak diinginkannya. Hukuman akan menurunkan probabilitas terulangnya respon tertentu secara temporer. Skinner dan Thorndike memiliki pendapat yang sama soal efektivitas hukuman: Hukuman tidak menurunkan probabilitas respons. Walaupun hukuman bisa menekan suatu respons selama hukuman itu diterapkan, namun hukuman tidak akan melemahkan kebiasaan.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinannya mengulangi perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tak sesederhana itu. Imbalan dan hukuman tidak berbeda hanya dalam arah perubahan yang ditimbulkannya. Seorang anak yang dihukum berat karena bermain seks tidak selalu menjadi cenderung untuk tidak berbuat lagi; dan lelaki yang dipenjara karena melakukan kekerasan tidak selalu berkurang kemungkinannya melakukan kekerasan lagi. Perilaku yang dijatuhi hukuman tadi kemungkinan akan muncul kembali setelah hukuman selesai.

Beberapa alasan mengapa Skinner menentang penggunaan hukuman, yaitu:

  • Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku bersifat sementara, sehingga tidak efektif untuk dilakukan;
  • Dampak psikologis yang buruk mungkin akan muncul bila hukuman berlangsung lama;
  • Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
  • Hukuman akan menyebabkan perilaku agresi terhadap pelaku pengukum dan pihak lain.

Baca juga : Teori Belajar menurut Skinner: Operant Conditioning

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Hukuman diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seseorang perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika orang tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan dikurangi, maka pengurangan ini mendorong orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, inilah yang disebut penguatan negatif.

Menarik untuk dicatat bahwa Skinner sendiri tidak pernah dihukum secara fisik oleh ayahnya, dan hanya sekali dihukum fisik oleh ibunya, yang mencuci mulutnya dengan sabun karena ia berkata jorok.

Sabtu, 19 Desember 2020

Teori Belajar Albert Bandura : Social Learning

Albert Bandura berpendapat bahwa teori Skinner yang menekankan pada efek dari konsekuensi tingkah laku, mengabaikan fenomena modelling dan observational learning. Bandura mengemukakan Teori Social Learning (Belajar Sosial). Dalam teori ini, dijelaskan bahwa seseorang belajar dari pengalamannya mengamati (observasi) dan menirukan orang lain (model). Modelling adalah imitasi perilaku, akibat pengamatan terhadap perilaku lain dan pengalaman yang pernah terjadi, baik pada diri sendiri, maupun orang lain (observational learning). Analisis Bandura (1986) tentang social learning meliputi empat fase:

Baca juga : Teori Belajar menurut Pavlov : Classical Conditioning

Fase 1: Perhatian

Fase ini meliputi aktivitas memperhatikan model. Umumnya individu akan menaruh perhatiannya kepada model yang atraktif, sukses, menarik dan populer. Misalnya saat di dalam kelas, guru memperoleh perhatian siswa ketika memberikan presentasi yang jelas dan menarik, sehingga memotivasi siswa untuk memperhatikan.

Fase 2: Ingatan

Dalam fase ini, individu telah selesai mengamati dan memiliki ingatan tentang perilaku model. Misalnya, siswa akan mengingat bahwa guru selalu memberikan atau mempresentasikan materi dengan menarik dan jelas.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Fase 3: Meniru

Selama fase meniru, individu akan cenderung mencoba menyamakan perilakunya dengan model. Misalnya, siswa yang telah memperhatikan dan mengingat perilaku guru, mencoba berlatih menirukan perilaku guru, yaitu dengan presentasi materi dengan jelas dan menarik.

Fase 4: Motivasi

Dalam fase ini, individu harus memiliki keyakinan bahwa dengan meniru model, dia akan mendapatkan penguatan. Misalnya, jika siswa dapat melakukan presentasi dengan baik seperti gurunya, maka dia akan mendapatkan penghargaan (penguatan) dari gurunya.

Baca juga : Teori Belajar menurut Pavlov : Classical Conditioning


Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading