Jumat, 19 Februari 2021

Cerita Operasi Lipoma di Masa Pandemi

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman melakukan operasi di masa pandemi. Tentu saja ini masih termasuk dalam kategori membagi pengetahuan kepada semua pembaca, karena seperti yang kita ketahui, prosedur-prosedur medis menjadi sangat berbeda semenjak masa pandemi.

Sebenarnya cerita operasi ini bukan pengalaman saya pribadi, tetapi suami saya. Namun saya mengantarnya, jadi cukup mengerti alur dan prosesnya. Disclaimer: Mungkin tidak setiap kota, rumah sakit atau klinik menerapkan prosedur yang sama, namun setidaknya cerita ini dapat menjadi sebuah gambaran bagi pembaca yang mengalami situasi yang hampir sama.

Cerita bermula dari saya yang menyadari bahwa di pundak suami terdapat benjolan. Tidak begitu spesifik seperti benjolan pada umumnya. Namun terlihat bahwa antara pundak kanan dan kiri memiliki volume yang berbeda. Saat di sentuh benjolan tersebut terasa lunak dan tidak menetap. Suami juga tidak merasakan sakit. Hingga kami amati sampai beberapa bulan, benjolan tersebut juga tidak kunjung mengecil. Akhirnya saya coba mencari-cari referensi di internet terkait gejala serupa. Hingga mengerucut pada penyakit Lipoma. Lipoma sendiri adalah tumor jinak yang berisi jaringan lemak. Lemak pada lipoma dibungkus oleh selaput tipis dan umumnya tumbuh di bawah permukaan kulit. Namun tidak menutup kemungkinan, lipoma menempel pada organ yang lebih dalam selain kulit, misalnya otot, tulang, usus, dan lain-lain. Umumnya, lipoma tumbuh dengan sangat lambat, tidak terasa sakit, dan tidak berbahaya. Namun apabila lipoma sudah tumbuh sangat besar, maka ada kemungkinan dapat menurunkan kepercayaan diri penderitanya atau resiko tertekannya organ lain di sekitar.

Setelah mengetahui sedikit tentang lipoma, kami masih tetap penasaran, apakah benar benjolan yang ada di pundak suami adalah lipoma. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi memeriksakan diri ke dokter umum di sebuah klinik. Karena kami pengguna BPJS, maka kami mendatangi faskes tingkat pertama sesuai dengan BPJS. Di klinik, dokter memeriksa benjolan tersebut dan memberikan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahli bedah. Kami memilih untuk dirujuk ke RS William Booth Surabaya (RSWB). Surat rujukan dari Dokter Umum mengatakan diagnosanya adalah (Other benign neoplasm of connective and other soft tissue, unspecified (D21.9)). Yak, saya gak tau artinya, yang jelas dari diagnosis tersebut Dokter berusaha mengatakan bahwa ada jaringan tumor yang tidak secara normal tumbuh di tempat yang tidak semestinya, namun sifatnya jinak.

Akhirnya sesuai jadwal yang telah diberitahukan oleh suster di klinik, kami datang ke RSWB menemui Dokter Ahli Bedah. Saat datang ke RSWB untuk pertama kalinya ini, kami sempat bingung. Karena sejak awal kami bertanya kepada petugas yang berjaga, kami langsung diarahkan untuk mengambil nomor antrean di mesin pengambilan nomor. Namun saat kami coba berulang-ulang tetap gak mau keluar nomornya. wkwkwk Seperti orang lholak lholhok lah pokoknya. Karena orang-orang semuanya pada bisa ambil nomor antrian dengan sekali tekan, padahal banyak pasien lansia. Lah kami yang muda-muda begini kok malah gaptek. Hahaha. Sampe setengah jam lebih kami hanya mencoba dan mencoba wkwkwk. Akhirnya suami memutuskan untuk bertanya kembali ke petugas di depan. Nah akhirnya dia baru tanya, apakah kami pasien baru atau sudah pernah kesini. Inilah gaes masalahnya!!! Kalau pasien baru harus wajib mendaftar terlebih dahulu ke lobi. Gak daritadi aja nih bapaknya ngasih tauuu.

Saat kami datang ke lobi kami menyiapkan berkas-berkas seperti KTP, Kartu BPJS, dan surat rujukan. Oh iya, jangan sampai datang melewati batas waktu yang dicantumkan di surat rujukan. Jika kamu tidak sempat sampai masa berlaku habis, maka kamu harus kembali ke klinik faskes tingkat I untuk mendapatkan surat rujukan baru.

Setelah mengisi beberapa data di lobi, suami saya mendapatkan nomor rekam medis. Nomor rekam medis ini kemudian yang dimasukkan ke dalam mesin pengambilan nomor antrian. Akhirnya kami dapat juga nomor antriannya. Meskipun ujungnya kami harus mengantri lebih lama lagi karena sudah menghabiskan waktu lebih lama akibat kebingungan hahahaha. Setelah mendapatkan nomor antrian, maka suami saya diarahkan ke poli khusus bedah umum. Semua berkas yang dibawa termasuk nomor antriannya diletakkan di meja poli dan tinggal menunggu giliran untuk dipanggil.

Di RSWB ini polinya sangat sangat ramai gaes, jadi kita mesti kudu sabar untuk mengantri. Tibalah panggilan dari perawat untuk memasuki ruangan. Saya gak ikut masuk, hanya suami saja yang diperiksa. Setelah keluar dari ruangan, saya tanya-tanya ke suami, jadinya penyakit apa dan pengobatannya bagaimana.

Berdasarkan penuturan suami, Dokter Ahli Bedah menjelaskan bahwa, iya sudah jelas bahwa ini adalah lipoma. Untuk pengobatannya suami saya akan dioperasi pundaknya untuk mengambil jaringan lipoma tersebut. Namunnnnn... Namunn... karena ini pandemi, maka suami wajib menyertakan hasil swab negatif terlebih dahulu. Dirujuklah suami untuk melakukan swab di RSUD Dr. Soetomo, kebetulan karena memang suami dan saya sama-sama bekerja di RSUD Dr. Soetomo.

Jadi hasil swab negatif adalah satu syarat wajib yang harus dipenuhi jika ingin dilakukan operasi dan rawat inap di RSWB, gaes. Tapi, sepengetahuanku, RS lain juga menerapkan hal yang sama. Bahkan RS rujukan Covid sekalipun. Karena mungkin juga untuk menghindari terpaparnya nakes dan pasien lainnya ya. Jika pasien terkonfirmasi covid maka, akan di rujuk ke RS Rujukan Covid dan ditempatkan di Ruang Isolasi Khusus. Namun ini hanya untuk kasus darurat saja ya, Gaes. Jika pasiennya tanpa gejala dan tidak memiliki komorbid, maka cukup menunggu hasil negatif saja, kemudian bisa melanjutkan prosedur operasi.

Tapi sangat tidak dinyana, hasil swab kami ambil 3 hari setelahnya. DAANNNN, hasilnya adalah sungguh membuat jantung terkejut dan terbahak-bahak. Suami keluar dari ruangan dengan membawa serangkaian vitamin dan antivirus. Hati hanya bisa berbisik, "Ya Allah. Kok Bisa." Yup! hasil swab menunjukkan bahwa suami tekonfirmasi positif gaes. Kenapa saya terbahak-bahak. Karena ini adalah kasus keduanya. Dalam selang tiga bulan, suami positif sudah dua kali. Alhamdulillahnya, tes saya negatif, dan dia tanpa gejala.

Baiklah. Akhirnya kami harus menunggu hingga hasil negatif sambil isolasi mandiri. (Cerita tentang covid dan tetek bengeknya ini akan saya ceritakan di lain kesempatan ya! Karena panjang banget ceritanya. Spoiler: Mama saya meninggal akibat covid dan terjadi cluster keluarga. Ya intinya covid membuat kami hancur, karena jantung kami telah direnggut). Setelah dua minggu lamanya, suami saya mendapatkan jadwal untuk melakukan swab ulang. Dan Alhamdulillah sudah negatif kali ini.

Hasil swab negatif kami bawa ke RSWB untuk kemudian bisa mendapatkan jadwal operasi. Ternyata prosesnya sangat cepat. Setelah mendapatkan jadwal, perawat poli mengarahkan suami untuk melakukan tes darah dan thoraks. Setelah hasil keluar. Suami diminta untuk keesokan harinya check in rawat inap semalam kemudian operasi di hari berikutnya. Kami dibekali surat rekomendasi rawat inap. Surat ini dibawa beserta dengan KTP, hasil swab, surat rujukan, dan kartu BPJS. Keesokan harinya pukul 3 sore kami mendatangi RSWB dengan berkas-berkas ini. Suami saya lolos untuk menjadi pasien rawat inap. Namun, ternyata, penunggu pasien juga harus memiliki hasil swab negatif. Hahahaha. Ribett? Ya lumayan. Tapi harap dimaklumi, namanya juga masa pandemi. Dan lagi, ini bukan RS rujukan covid, sehingga sebaiknya tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi virus balak ini untuk masuk dan mengkontaminasi rumah sakit dan seisinya.

Sebenarnya saya baru saja melakukan swab PCR tujuh hari sebelumnya dengan hasil negatif. Tetapi rumah sakit memiliki kebijakan hasil swab berlaku paling lama lima hari saja. Jadi mau tidak mau saya harus swab lagi. Tetapi cukup swab antigen saja.

Alhamdulillah hasil swab antigen saya menunjukkan negatif, sehingga kami dapat langsung check in. Perawat mengantarkan kami ke kamar inap. Karena suami menggunakan BPJS kelas 3, suami mendapatkan kamar dengan 6 bed pasien. Tidak ada yang spesial dari perawatan dan pelayanan, semuanya berjalan normal. Satu hal yang dianggap spesial oleh suami adalah, menu makanan di RSWB Surabaya cukup enak dan menggugah selera. Oh iya, selama di RS semua orang wajib selalu mengenakan masker ya. Bahkan saat tidur juga harus mengenakan masker. Susternya sering ngomel nih gara-gara banyak pasien dan penunggunya yang bandel ketahuan lepas masker, padahal ga lagi makan. Oleh karena itu, setiap pasien dan penunggu alangkah baiknya memiliki cadangan masker untuk beberapa hari. Saya membawa 8 masker untuk dua hari.

Di hari pertama ini, suami belum dipasang infus serta masih dibolehkan untuk makan dan minum. Hingga perawat datang malam hari untuk memberitahukan jadwal operasi keesokan harinya. Suami saya mendapatkan jadwal operasi pukul 10.00 WIB. Perawat juga menyampaikan suami tidak boleh makan dan minum mulai pukul 02.00 WIB. Jika dihitung maka artinya pasien operasi lipoma di pundak/bahu wajib puasa 8 jam sebelum menjalani operasi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami disuruh mandi dan mengganti pakaian operasi yang cuma ditali-tali dan tidak boleh mengenakan pakaian lainnya termasuk aksesoris. Setelah mandi, perawat datang kembali untuk memasang infus dan memeriksa tensi. Kami menunggu sampai pukul 10.05 tepat sebelum suami akhirnya dibawa ke ruang operasi. Saya, yang saat itu menunggu, tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang operasi.

Berdasarkan cerita suami , sebelum operasi dia diajak mengobrol oleh dua perawat. Salah satu perawat menyuntikkan sesuatu ke dalam infus, sepertinya obat bius, karena sesaat setelahnya suami langsung tertidur dan tidak sadarkan diri.

Sekitar kurang lebih 45 menit saya menunggu di depan ruang operasi, seorang perawat memanggil saya untuk masuk. Saya masuk dan melihat suami saya melek. Gak tidur yaa. Haha. (Ini yang epik. Karena saat saya cerita ke dia saya sempat masuk ke dalam, dia mengaku tidak sadar dan tidak melihat saya masuk. Padahal jelas-jelas saya ada di depannya, dan matanya melihat ke arah saya. Maklum efek obat bius :D). Perawat memberitahukan kepada saya bahwa operasinya sudah selesai, dan saya diminta untuk menunggu kurang lebih satu jam.

Setelah saya menunggu satu jam di luar ruang operasi, akhirnya suami saya diantarkan keluar dan kembali ke kamarnya. Perawat memberikan kami seonggok zat lemak berukuran kurang lebih 6 cm padat di dalam plastik. Yap, inilah benda itu, yang membuat pundak kirinya berpunuk.


Jaringan Lipoma


Di hari operasi ini, kami merasa lega karena mendapatkan kabar bahwa sore harinya sudah boleh pulang ke rumah. Beberapa jam pasca operasi, suami masih belum merasakan sakit luka operasinya. Baru sore menjelang pulang dia mulai sambat hahaha (Istri jahat). Proses administrasi sebelum pulang terbilang cukup mudah. Suster hanya memberitahukan saya mengenai obat-obatan diminum kapan saja dan jadwal kontrol kembali. Selain itu saya hanya tanda tangan beberapa dokumen. Dan sudahh. Alhamdulillah BPJS sangat memudahkan kami rakyat biasa. Semuanya gratiss tiss tiss.

Kami pun pulang ke rumah. Setelah operasi, suami dijadwalkan kontrol 2 hari setelah operasi. Di kontrol pertama ini, suami diganti perban dan diberikan multivitamin. Dokter meminta suami agar datang seminggu lagi. Di kontrol kedua ini, perban suami sudah dilepas karena lukanya sudah kering. Ujung benang jahitan operasi digunting dan suami diberi multivitamin lagi.

Oh iya, Lipoma ini merupakan salah satu jenis tumor jinak ya, kawan-kawan. Di lembar catatan dari dokter, Dokter menuliskan bahwa diagnosa atas suami  adalah tumor scapula. Yang artinya adalah tumor ini menempel ke scapula atau tulang belikat sebelah kiri. Dengan diameter 6x6 cm. Dan ditindak dengan eksisi (bedah pengangkatan tumor). Untuk lebih jelasnya, jika teman-teman sedang mengalami lipoma dan ingin tahu jenis apa lipomanya, apakah membutuhkan tindakan bedah atau tidak, maka lebih baik untuk dikonsultasikan langsung ke dokter ahli bedah.

Begitulah kira-kira perjalanan suami melakukan operasi lipoma di RSWB Surabaya di tengah pandemi. Semuanya berjalan lancar. Dari cerita ini, saya rasa dapat menjadi gambaran bagi kawan-kawan yang akan menjalani rawat inap dan operasi di RS, tidak perlu terlalu khawatir mengenai prosedurnya. Yang terpenting adalah semangat untuk sembuh masih besar, dan dukungan keluarga.

Selain itu, pelajaran lain yang bisa diambil juga adalah... bahwa BPJS benar-benar membantu kami dalam kondisi seperti ini. Sejujurnya saya juga pernah melakukan operasi laparotomi dengan BPJS. Operasi ini sangat mendadak dan membutuhkan biaya yang bagi saya sangat besar, tetapi karena saya menggunakan BPJS, semuanya gratis. Saya sangat bersyukur saat itu. Saat itu juga ada pasien di kamar sebelah yang tidak bisa menggunakan BPJS karena tagihan BPJS nya sekeluarga hingga berjuta-juta :(. Akhirnya pasien tersebut harus membayar puluhan juta untuk operasinya.

Jumat, 08 Januari 2021

Film Terbaik 2020

Di awal tahun 2020, para pecinta film pasti melihat kecerahan karena satu tahun ke depan akan rilis film-film besar blockbuster seperti Bond, Black Widow, Wonder Woman, Last Night in Soho, dan Candyman. Namun pandemi yang mulai memasuki Indonesia pada bulan Maret seakan membalikkan bumi. Tidak hanya film-film baru yang terpengaruhi, namun juga kehidupan, kematian, ekonomi, hingga mental masyarakat menjadi begitu terpuruk.

Kasus berkembang dengan sangat cepat. PSBB mulai diterapkan selama dua minggu pertama, namun tidak berhasil menampung keaktifan masyarakat akan kehidupan sosialnya. PSBB kedua, ketiga, dan kesekian kalinya pun dilakukan hingga beberapa bulan ke depannya. Semua fasilitas umum dibatasi, angkutan umum penuh dengan syarat, rumah sakit penuh, tempat pemakaman umum yang kosong mulai terisi penuh, restaurant dan warung tidak dapat beroperasi dengan normal, banyak pelanggaran, mall dibatasi, hingga bioskop ditutup.

Pandemi benar-benar mengguncang sebagian besar orang yang terdampak. Hidup seakan terbalik, dari penuh harapan hingga putus asa. Tidak hanya dampak sosial dan ekonomi, mental semua orang pun diuji karena rasa takut.

Bagi sebagian besar penikmat film, tentu masa PSBB dan lockdown cukup mengecewakan, karena banyak film-film yang diharapkan tidak jadi ditayangkan. Namun terlepas dari semua itu, banyak film-film yang berhasil tayang secara online melalui aplikasi dan website-website film. Beberapa di antaranya bahkan menjadi film terbaik sepanjang 2020.

1. Parasite

Film Parasite ini sebenarnya sudah rilis semenjak 2019, namun atas tingginya minat dan ketertarikan netizen pecinta film, maka Parasite resmi ditayangkan kembali di bioskop pada Februari 2020. Di film ini, kita dapat melihat sutradara Bong Joon Ho berhasil meramu perpaduan genre yang membuat penonton mabuk. Mulai dari thriller, komedi, tragedi, hingga satir, dapat kita nikmati dengan sempurna.

Kisah antara Keluarga Kim yang keras kepala dan Keluarga Park yang kaya raya sungguh tematik dan memiliki alur yang tidak mudah ditebak. Saat menontonnya, kamu akan merasakan rasa sedih, marah, tertawa, tegang, hingga bertanya-tanya. Kisah Parasite sangat menghibur, namun visual dan rasa yang disajikan terlebih-lebih membuat mata sekaligus hati kita terbuka atas berbedanya dunia antara si kaya dan si miskin.

Parasite memenangkan Palme d'Or di ajang bergengsi, Cannes Film Festival 2019. Di ajang Golden Globe Award ke-77, film ini masuk ke dalam nominasi Best Director dan Best Screenplay, serta memenangkan Best Foreign Language Film. Selain itu banyak penghargaan bergengsi lainnya yang berhasil diraih atas karya Parasite ini.

2. Portrait of A Lady on Fire

Di sebuah pulau terpencil di abad ke-18, seorang seniman bernama Marianne ditugaskan oleh seorang wanita bangsawan (The Countess) untuk melukis putrinya, Héloïse. Ini dilakukan oleh ibu Héloïse agar dapat membuat seorang bangsawan kaya raya tertarik meminang putrinya. Namun Héloïse menolak untuk dilukis, sehingga Marianne melakukannya secara sembunyi-sembunyi. The Countess pun mengatur agar Marianne dapat menjadi dekat dengan putrinya. Namun kedekatan antara keduanya bukan lagi berjalan sesuai rencana. 

Film Perancis karya sutradara Céline Sciamma dapat disebut sebagai film feminis namun juga artistik. Céline Sciamma berhasil menyajikan film ini dengan memberikan batas antara pilihan realistis yang suram sebagai akibat dari adanya budaya patriarki.

Penayangan premier filmnya secara eksklusif dilakukan di ajang TIFF (Toronto International Film Festival) 2019 lalu. Di ajang Cannes Film Festival 2019, Portrait of A Lady on Fire masuk ke dalam nominasi Palme d'Or dan berhasil meraih Queer Palm dan Best Screenplay.

3. Rocks

Kisah persahabatan yang penuh kasih namun kacau ini merupakan salah satu film remaja Inggris sepanjang tahun. Film ini bertempat di London Timur, dengan tokoh utamanya, Rocks, seorang penata rias yang ditinggalkan oleh ibunya sehingga harus merawat adiknya, Emmanuelle. Dalam kisahnya, Rocks memiliki sekelompok sahabat yang sangat setia yang akan menemani perjalanan masa remajanya yang cukup keras.

Film ini disutradarai oleh Sarah Gavron dan ditulis oleh Theresa Ikoko dan Claire Wilson. Mereka berkolaborasi dengan sangat baik dalam menciptakan kisah yang hangat untuk dinikmati di tengah dinginnya suasana isolasi. Film Rocks diterima dengan baik oleh para kritikus film. Cerita yang fresh dan fun, karakter yang realistis, serta sarat makna, membuat film ini nyaman untuk dinikmati. 

4. The Lighthouse

Kali ini kita akan beralih ke film bergenre horor psikologis karya Robert Eggers, The Lighthouse. The Lighthouse menceritakan dua pria penjaga mercusuar di tahun 1890-an, Ephraim Winslow dan Thomas Wake. Di film ini, Wake yang merupakan rekan senior, selalu membagikan tugas berat kepada Winslow, sehingga pikiran negatif atas Wake merasuki kepalanya. Konflik cerita semakin intens ketika mereka terjebak di tengah badai. Kegilaan antara keduanya mulai muncul akibat rasa tidak percaya dan benci satu sama lain.

Genre horor yang dimaksud dalam film ini bukanlah mengenai penampakan hantu, pemujaan setan, atau lainnya. Eggers memainkan pikiran penonton melalui khayalan-khayalan ganjil sang tokoh yang dibuat ngeri, gelisah, dan paranoid. Tidak hanya Wake dan Winslow saja yang berada pada sebuah kegilaan, kita juga akan dibuat gila bersama-sama saat menontonnya!

5. Host

Seperti film Searching yang dirilis pada 2018, Host juga mempertontonkan cerita melalui layar komputer. Host menceritakan tentang sekawanan orang yang melakukan video call group dengan aplikasi Zoom. Melalui komunikasi di antaranya, mereka melakukan pemanggilan arwah yang berujung fatal. Arwah jahat yang dipanggil memburu mereka, dan memaksa mereka melihat kematian kawannya satu persatu secara langsung melalui video di layar komputer mereka. Film ini sukses menciptakan ketegangan di tengah penonton, karena penonton juga merasa sedang berada di dalam panggilan konferensi tersebut.

Film ini benar-benar menunjukan bahwa pandemi juga dapat memberikan inspirasi untuk memproduksi sebuah film. Sutradara Rob Savage, sang pemilik kreativitas saat terjebak lockdown, sepenuhnya menggarap film ini secara daring. Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan semua pemerannya.

 

Minggu, 20 Desember 2020

Konsep Reinforcement dan Punishment menurut B. F. Skinner

Menurut Skinner unsur terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Penguatan positif

Bentuk-bentuk penguatan positif berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, tepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).

Penguatan negatif

Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Perbedaan antara penguat positif dan penguat negatif

Dalam penguat positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Sedangkan dalam penguat negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Sebuah penguat negatif tidak dapat disamakan dengan hukuman.

Punishment

Punishment (hukuman) adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuatu yang tidak diinginkannya. Hukuman akan menurunkan probabilitas terulangnya respon tertentu secara temporer. Skinner dan Thorndike memiliki pendapat yang sama soal efektivitas hukuman: Hukuman tidak menurunkan probabilitas respons. Walaupun hukuman bisa menekan suatu respons selama hukuman itu diterapkan, namun hukuman tidak akan melemahkan kebiasaan.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinannya mengulangi perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tak sesederhana itu. Imbalan dan hukuman tidak berbeda hanya dalam arah perubahan yang ditimbulkannya. Seorang anak yang dihukum berat karena bermain seks tidak selalu menjadi cenderung untuk tidak berbuat lagi; dan lelaki yang dipenjara karena melakukan kekerasan tidak selalu berkurang kemungkinannya melakukan kekerasan lagi. Perilaku yang dijatuhi hukuman tadi kemungkinan akan muncul kembali setelah hukuman selesai.

Beberapa alasan mengapa Skinner menentang penggunaan hukuman, yaitu:

  • Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku bersifat sementara, sehingga tidak efektif untuk dilakukan;
  • Dampak psikologis yang buruk mungkin akan muncul bila hukuman berlangsung lama;
  • Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
  • Hukuman akan menyebabkan perilaku agresi terhadap pelaku pengukum dan pihak lain.

Baca juga : Teori Belajar menurut Skinner: Operant Conditioning

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Hukuman diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seseorang perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika orang tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan dikurangi, maka pengurangan ini mendorong orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, inilah yang disebut penguatan negatif.

Menarik untuk dicatat bahwa Skinner sendiri tidak pernah dihukum secara fisik oleh ayahnya, dan hanya sekali dihukum fisik oleh ibunya, yang mencuci mulutnya dengan sabun karena ia berkata jorok.

Sabtu, 19 Desember 2020

Teori Belajar Albert Bandura : Social Learning

Albert Bandura berpendapat bahwa teori Skinner yang menekankan pada efek dari konsekuensi tingkah laku, mengabaikan fenomena modelling dan observational learning. Bandura mengemukakan Teori Social Learning (Belajar Sosial). Dalam teori ini, dijelaskan bahwa seseorang belajar dari pengalamannya mengamati (observasi) dan menirukan orang lain (model). Modelling adalah imitasi perilaku, akibat pengamatan terhadap perilaku lain dan pengalaman yang pernah terjadi, baik pada diri sendiri, maupun orang lain (observational learning). Analisis Bandura (1986) tentang social learning meliputi empat fase:

Baca juga : Teori Belajar menurut Pavlov : Classical Conditioning

Fase 1: Perhatian

Fase ini meliputi aktivitas memperhatikan model. Umumnya individu akan menaruh perhatiannya kepada model yang atraktif, sukses, menarik dan populer. Misalnya saat di dalam kelas, guru memperoleh perhatian siswa ketika memberikan presentasi yang jelas dan menarik, sehingga memotivasi siswa untuk memperhatikan.

Fase 2: Ingatan

Dalam fase ini, individu telah selesai mengamati dan memiliki ingatan tentang perilaku model. Misalnya, siswa akan mengingat bahwa guru selalu memberikan atau mempresentasikan materi dengan menarik dan jelas.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Fase 3: Meniru

Selama fase meniru, individu akan cenderung mencoba menyamakan perilakunya dengan model. Misalnya, siswa yang telah memperhatikan dan mengingat perilaku guru, mencoba berlatih menirukan perilaku guru, yaitu dengan presentasi materi dengan jelas dan menarik.

Fase 4: Motivasi

Dalam fase ini, individu harus memiliki keyakinan bahwa dengan meniru model, dia akan mendapatkan penguatan. Misalnya, jika siswa dapat melakukan presentasi dengan baik seperti gurunya, maka dia akan mendapatkan penghargaan (penguatan) dari gurunya.

Baca juga : Teori Belajar menurut Pavlov : Classical Conditioning


Jumat, 18 Desember 2020

Teori Belajar menurut Ivan Petovich Pavlov : Classical Conditioning

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) merupakan seorang fisiolog dan dokter dari Rusia yang mengusulkan satu teori pembelajaran yang cukup terkenal, yaitu Teori Classical Conditioning. Teori Classical Conditioning juga dikenal sebagai Teori Pavlovian atau Teori Respondent Conditioning. Secara sederhana, teori ini menjelaskan mengenai penggabungan dua stimulus untuk menghasilkan respon atau perilaku baru.

CNX OpenStax, CC BY 4.0 via Wikimedia Commons

Eksperimen Pavlov yang terkenal dalam menyimpulkan teori ini adalah pengamatannya terhadap anjing yang mengeluarkan air liur saat mendengar nada bel. Dalam eksperimen ini Pavlov membunyikan suara bel kemudian beberapa detik selanjutnya memberikan makanan kepada anjing. Saat diberi makanan, anjing tersebut akan mengeluarkan air liur.  Pada awalnya, Anjing hanya merespon mengeluarkan air liur ketika makanan diberikan. Dalam beberapa kali percobaan, Anjing mengeluarkan air liur ketika mendengar bel dibunyikan, karena tau akan ada makanan yang diberikan. Pada tahap selanjutnya, Anjing tersebut selalu mengeluarkan air liur ketika bel dibunyikan, meskipun tidak ada makanan yang diberikan. Anjing tersebut telah mengalami pengondisian klasik. Berkat eksperimennya tersebut, Ivan Pavlov berhasil memenangkan Nobel di bidang Psikologi pada tahun 1904.

Dalam pengondisian klasik terdapat tiga tahapan yang memiliki istilah berbeda-beda bagi stimulus dan responnya.

Tahap 1 (Sebelum Pengkondisian)

Pada tahap ini, terdapat Stimulus Tak Terkondisi (Unconditioned Stimulus/UCS) dan Respon Tak Terkondisi (Unconditioned response/UCR). Dalam tahap ini belum ada perilaku baru yang dipelajari, stimulus dan respon yang terjadi merupakan kondisi alami yang terjadi. Misalnya saat seseorang senang mencium aroma vanila, UCS dapat berupa parfum vanila dan UCR dapat berupa rasa senang.

Baca juga : Teori Belajar Behaviorisme

Tahap ini juga menggolongkan stimulus lain yang tidak berpengaruh pada seseorang dan disebut sebagai Stimulus Netral (Neutral Stimulus/NS). NS dapat berupa orang, objek, tempat, dll.

Tahap 2 (Selama Pengkondisian)

Pada tahap ini NS diasosiasikan dengan UCS dan akan menjadi Stimulus Terkondisi (Conditioned Stimulus/CS). Misalnya, UCS yang berupa parfum vanila dapat dikaitkan dengan orang (NS) yang memakai parfum vanila (CS).

Tahap 3 (Setelah Pengkondisian)

Pada tahap ini CS yang merupakan asosiasi antara NS dan UCS, telah menciptakan Respon Terkondisi (Conditioned Response/CR). Misalnya, seseorang yang senang mencium aroma vanilla, bertemu dengan orang yang memakai parfum vanilla. Sehingga selanjutnya, seseorang itu akan merasa senang ketika bertemu dengan orang tersebut.

Dalam proses belajar mengajar, teori Classical Conditioning ini dapat dikaitkan dengan stimulus-stimulus yang dapat dibuat untuk menciptakan respon yang diinginkan.

Senin, 14 Desember 2020

Teori Belajar menurut Burrhus Frederic Skinner : Operant Conditioning

McLeod, S. A. (2007). Skinner - Operant Conditioning CC BY-SA 4.0 via Wikimedia Commons

Burrhus Frederic Skinner (1904 – 1990) menganggap bahwa belajar adalah sebuah proses adaptasi yang bersifat progresif dari sebuah perilaku. Menurut Skinner, hubungan stimulus dan respon dengan perubahan perilaku seseorang tidaklah sesederhana konsep dari tokoh-tokoh sebelumnya. Ia berpendapat bahwa di respon tidak hanya dipengaruhi oleh stimulus, namun juga konsekuensi-konsekuensi akibat respon tersebut.

Baca juga: Teori Belajar menurut Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme

Lebih jelasnya, Skinner menjelaskan di dalam teorinya, yaitu Teori Operant Conditioning. Dalam teori ini, Skinner menjelaskan bahwa reinforcement adalah faktor yang penting dalam proses belajar atau dalam mengontrol perilaku seseorang. Ketika menerapkan operant conditioning dalam proses belajar siswa, guru akan memberikan penguatan ketika anak memunculkan perilaku tertentu, sehingga perilaku tersebut akan diulangi lagi atau tidak akan diulangi lagi. Misalnya, guru memberikan penghargaan ketika siswa lebih rajin, maka siswa akan cenderung untuk mengulangi perilaku rajinnya karena dia mengerti bahwa dengan berperilaku rajin dia akan mendapatkan penghargaan. Dengan demikian, teori Skinner menjelaskan bahwa perilaku seseorang dapat dikontrol dengan cara mengubah stimulus dan konsekuensinya.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Namun Skinner memiliki pandangan yang berbeda mengenai punishment. Menurutnya, hukuman hanya akan berakibat buruk bagi anak dan hukuman yang baik adalah anak measakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Adanya pandangan ini membuat pengendalian konsekuensi guru hanya terbatas pada reinforcement saja, baik reinforcement positif maupun negatif.

Kelebihan

Teori ini mengarahkan setiap guru untuk menghargai setiap siswanya, sehingga mendukung pembentukan lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan.

Baca juga: Teori Belajar menurut Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme

Kekurangan

Teori ini menghilangkan sistem hukuman bagi siswa yang tidak berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini mungkin dapat membuat siswa  menjadi kurang memahami pentingnya bersikap disiplin, sehingga dapat mempersulit proses belajar mengajar.

Jumat, 11 Desember 2020

Teori Belajar menurut Edward Lee Thorndike : Teori Koneksionisme



Edward Lee Thorndike (1874 – 1949) berpendapat bahwa belajar merupakan sebuah proses interaksi antara stimulus dan respon. Teori thorndike sering disebut sebagai teori koneksionisme. Teori ini berpengaruh besar terhadap dunia pendidikan, sehingga Thorndike dinobatkan sebagai salah satu tokoh dalam psikologi pendidikan.

Dalam teori ini, belajar merupakan suatu kegiatan yang membentuk koneksi antara kesan dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, apabila individu merasa senang dan tertarik pada olah raga renang, maka individu tersebut akan memiliki kecenderungan untuk melakukannya. Apabila individu telah selesai berenang, dia akan merasa senang dan puas.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Dalam membuktikan teori ini, Thorndike melakukan eksperimen terhadap hewan percobaan kucing. Hewan ini telah dilaparkan dan dimasukkan ke dalam kandang yang tertutup. Pintu dari kendang tersebut akan terbuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam kandang disentuh. Di luar kendang telah diletakkan makanan.

Di awal eksperimen menujukkan kucing cenderung untuk melakukan hal-hal yang tidak membuahkan hasil seperti melompat-lompat, mengeluarkan kakinya untuk meraih makanan tersebut. Tingkah laku kucing membuatnya tidak sengaja menyentuh kenop sehingga pintu dapat terbuka. Eksperimen ini kemudian diulang kembali, sampai pada eksperimen ke 10 hingga 12, kucing sengaja menyenuh kenop untuk membuka pintu kendang. Percobaan ini mendukung teori “trial and error” atau “selecting and conecting” milik Thorndike, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. 

Dari percobaan tersebut, Thorndike merumuskan hukum-hukum belajar sebagai berikut:

Hukum Kesiapan (law of readiness)

Hukum ini menjelaskan bahwa semakin siap individu dalam menerima perubahan tingkah laku, maka melaksanakan perilaku tersebut akan semakin menimbulkan kepuasan. Dari hal ini akan muncul sebuah kecenderungan untuk berperilaku. Individu akan melakukan perilaku tersebut karena melalui itu dapat memperoleh kepuasan, maka akibatnya akan membuat individu tidak akan melakukan perilaku lainnya.

Sebaliknya, apabila individu tidak melakukan perilaku tersebut maka ia tidak akan mendapat kepuasan. Akibatnya adalah ia akan melakukan perilaku lainnya untuk mengurangi rasa tidak puasnya.

Namun terhadap sebuah perilaku yang individu tidak siap menghadapinya, maka tidak akan ada kecenderungan untuk melakukan perilaku tersebut. Apabila individu tetap melakukan perilaku tersebut maka akan muncul rasa tidak puas. Maka akibatnya, individu akan melakukan perilaku lainnya untuk mengurangi rasa tidak puasnya.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Hukum Latihan (law of exercise)

Law of exercise menjelaskan bahwa semakin sering melatih sebuah perilaku, akan memperkuat perilaku tersebut. Sebaliknya, sebuah perilaku akan melemah apabila tidak pernah diulang atau dilatih. Misalnya, seorang siswa akan semakin memahami materi pelajaran apabila ia selalu belajar dan mengulang-ulang latihan.

Hukum Akibat (law of effect)

Hukum akibat menjelaskan bahwa sebuah perilaku akan cenderung menjadi kuat apabila akibat yang ditimbulkan berupa sesuatu yang menyenangkan dan cenderung menjadi lemah apabila akibat dari perilaku tersebut adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

Misalnya, apabila seorang siswa mengerjakan tugas, maka ia akan mendapatkan senyum manis dan ucapan terimakasih dari gurunya. Namun apabila dia tidak mengerjakan tugas, ia akan mendapat hukuman. Senyum manis dan ucapan terimakasih merupakan akibat menyenangkan, sehingga ini dapat memperkuat perilaku anak dalam mengerjakan tugas.

 

Kamis, 10 Desember 2020

Teori Belajar Behaviorisme


Manusia terus belajar sepanjang hidupnya. Hampir semua pengetahuan, sikap, keterampilan, dan perilaku manusia dibentuk, diubah, dan berkembang melalui kegiatan belajar. Kegiatan belajar juga dapat terjadi kapan saja, dan di mana saja. Belajar merupakan suatu kegiatan berproses karena tidak terjadi secara instan, misalnya disebabkan oleh perkembangan (tumbuh lebih tinggi). Definisi lain belajar adalah perubahan pada individu disebabkan oleh pengalaman (lihat Mazur, 1990). Proses pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu pendekatannya adalah pendekatan behavioral.

Dalam sebuah pembelajaran, pendekatan behaviorisme menekankan pada aspek-aspek yang dapat diamati. Menurut teori behavorisme, belajar merupakan perubahan dari tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dan seseorang dapat dikatakan belajar apabila dia mampu menunjukkan peubahan dalam betingkah laku.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Contoh dari perubahan perilaku dalam belajar salah satunya adalah, ketika seorang anak pertama kalinya naik escalator di mall biasanya akan mengalami rasa takut. Namun ketika sudah dicoba beberapa kali, rasa takut itu akan hilang dan anak menjadi terbiasa. Perubahan perilaku “takut” menjadi “terbiasa” adalah suatu perwujudan dari belajar. Anak mempelajari bahwa menaiki escalator sebenarnya tidak menakutkan. Pendekatan behaviorisme dalam pembelajaran menjelaskan bahwa hanya perilaku yang dapat diamati saja yang dapat diuku secara langsung.

Dalam mempelajari teori behaviorisme, perlu dipahami bahwa munculnya atau berubahnya sebuah perilaku dipengaruhi oleh suatu kondisi. Apabila kondisi tersebut menyenangkan, maka disebut sebagai reinforcement. Namun apabila kondisi tersebut tidak menyenangkan, maka disebut sebagai punishment.

Reinforcement

Reinforcement merupakan stimulus yang diberikan untuk meningkatkan kemungkinan seseorang memunculkan perilaku tertentu. Dalam mencapai tujuan ini, reinforcement diberikan dalam dua bentuk, yaitu reinforcement positif dan negatif. Reinforcement positif dimunculkan dengan cara memberikan stimulus menyenangkan, sehingga dapat memperkuat dan meningkatkan frekuensi suatu perilaku. Sedangkan reinforcement negatif adalah dengan mengurangi atau menghilangkan stimulus tidak menyenangkan untuk meningkatkan atau memperkuat suatu perilaku.

Reinforcement juga dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pemenuhan kebutuhannya, yaitu primary reinforcement dan secondary reinforcement. Primary reinforcement merupakan stimulus yang berupa pemenuhan kebutuhan biologis, seperti makan, minum, dan tidur. Sedangkan secondary reinforcement adalah stimulus yang bukan pemenuhan kebutuhan biologis dan sifatnya harus dipelajari karena setiap individu memiliki kebutuhannya masing-masing, seperti uang, pujian, nilai, dan lain-lain.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Punishment

Punishment merupakan stimulus yang tidak menyenangkan. Stimulus ini diberikan untuk menurunkan kemungkinan munculnya suatu perilaku yang tidak diinginkan. Terdapat dua jenis punishment yang dapat digunakan untuk mengurangi suatu perilaku, yaitu presentation punishment dan removal punishment. Presentation punishment yaitu mengurangi perilaku tertentu dengan memberikan stimulus yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan bagi objek. Sedangkan removal punishment adalah dengan mengurangi atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan.

Extinction

Extinction atau pelenyapan merupakan sebuah proses hilangnya perilaku atau respons. Suatu perilaku yang telah mengalami penguatan tidak lagi diberi stimulus dalam periode tertentu. Oleh karenanya, mengakibatkan perilaku tersebut berhenti muncul.

Karakteristik dari proses extinction yaitu suatu perilaku mengalami peningkatan dari segi intensitas, frekuensi, dan durasi, namun tiba-tiba berkurang hingga menghilang, atau tidak muncul sama sekali. Peningkatan perilaku selama proses extinction ini disebut dengan extinction burst.

Shaping

Shaping merupakan pembentukan suatu perilaku yang benar-benar baru atau yang tidak pernah dilakukan oleh individu, dengan memberikan reinforcement berturut-turut dalam proses kemunculan perilaku baru tersebut. Misalnya, saat orang tua mengajari anak untuk mengatakan “Mama”. Pada mulanya anak akan mencoba belajar dengan mengucap, “mmm, mmm, mmm”. Ini merupakan respon awal anak saat belajar mengucapkan mama. Kemudian sering berkembangnya kemampuan anak dalam merespon stimulus, maka anak mulai bisa menyebutkan kata “mama” dengan benar.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Maintenance

Agar tidak terjadi extinction, maka diperlukan upaya untuk menjaga perilaku yang telah terbentuk tersebut. Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan reinforcement terjadwal untuk beberapa waktu, hingga kemudian perilaku tersebut dapat muncul sendiri meskipun tanpa reinforcement.

Jadwal Reinforcement

Jadwal Reinforcement disebut juga sebagai jadwal penguatan. Berikut ini merupakan jadwal penguatan yang dapat diterapkan dalam membentuk perilaku seseorang agar tidak mengalami extinction:

  • Fixed Ratio: Diberikan teratur setiap sejumlah respon tertentu.
  • Variable Ratio: Diberikan setiap sejumlah respon yang tidak tetap.
  • Fixed Interval: Diberikan teratur setiap kurun waktu tertentu.
  • Variable Interval: Diberikan setiap kurun waktu yang acak.
Beberapa Tokoh yang mengemukakan teori belajar dengan konsep behaviorisme adalah:

Selasa, 08 Desember 2020

Metode Pembelajaran Jigsaw

Jigsaw merupakan salah satu teknik dalam pembelajaran kooperatif. Dalam metode ini setiap individu memiliki tanggung jawab yang besar dalam proses belajar mereka. Mereka diharapkan aktif dan terampil dalam kelompok agar dapat mengembangkan pemahaman terhadap informasi yang diterima. Setiap individu dalam kelompok jigsaw tidak hanya berusaha untuk memahami penjelasan materi, tetapi juga dituntut untuk bisa menjelaskan meteri yang dia pelajari kepada setiap anggota di dalam kelompoknya.

Baca Juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Balajar Kelompok)

Langkah-langkah dalam melakukan pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw adalah:

  1. Membentuk kelompok awal yang anggotanya sejumlah materi-materi yang akan dipelajari, dan setiap anggotanya diberikan amanah untuk menjadi staf ahli dalam materi tertentu. Misalnya, dalam satu proses belajar mengajar, akan ada 5 materi yang dipelajari, maka jumlah anggota grup awal adalah 5 orang,
  2. Membentuk kelompok staf ahli. Kelompok staf ahli beranggotakan individu yang telah diberi amanah sesuai materinya,
  3. Kelompok staf ahli berkumpul untuk mempelajari materi tertentu, mendiskusikan, dan memahaminya bersama-sama,
  4. Setiap anggota staf ahli kembali ke kelompok asalnya masing-masing,
  5. Setiap anggota staf ahli menjelaskan materi yang dipelajarinya dari kelompok staf ahli kepada setiap anggota di kelompok asal.
  6. Sebagai evaluasi, pendidik memberikan kuis atau rangkaian pertanyaan untuk diselesaikan secara kelompok maupun individu.

Untuk mempermudah pemahaman terhadap langkah-langkah tersebut, maka berikut telah kami buatkan ilustrasinya.

 

Metode Pembelajaran Jigsaw (Ilustrasi:Rere)

Dalam melaksanakan metode jigsaw, pendidik hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, agar setiap anggota staf ahli dapat menguasai materi dan menjelaskannya kembali kepada anggota kelompok asalnya.

Baca Juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Balajar Kelompok)

Kekurangan dalam penerapan metode ini adalah lamanya proses pembelajaran karena tidak semua individu dapat memahami instruksi jigsaw. Semakin banyak individu, materi, atau kelompok yang terlibat, maka penerapan jigsaw akan semakin rumit.

Namun ada beberapa kelebihan dalam menjalankan metode ini yaitu, melatih kepercayaan diri individu karena telah dipercaya untuk memahami suatu materi dan menjelaskannya kepada kelompoknya. Selain itu, apabila metode pembelajaran jigsaw dapat berjalan sesuai instruksi, maka hal ini dapat mempermudah pendidik dalam proses mengajar. Adanya staf ahli dalam setiap kelompok, dapat membuat setiap individu menghargai sesamanya.

Senin, 30 November 2020

Metode Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compotition (CIRC)


Dalam metode Cooperative Integrated Reading and Compotition
 (CIRC), tujuan pembelajaran difokuskan pendidik agar setiap individu dapat memahami suatu informasi melalui bacaan. Kelompok yang dibuat dalam metode ini bekerja untuk membantu satu sama lain, hingga setiap anggota dapat mempelajari, menganalisis, dan menulis atau mengungkap Kembali informasi dari suatu bacaan.

Baca juga: Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Dengan tujuan yang jelas demikian, maka terbentuklah Langkah-langkah yang harus terpenuhi saat mengaplikasikan metode CIRC, yaitu;

  1. membentuk kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 anggota;
  2. memberikan bahan bacaan sesuai dengan topik;
  3. meminta setiap anggota kelompok untuk saling membacakan dan mencatat ide-ide yang ditemukan dari bacaan tersebut;
  4. kelompok mendiskusikan ide-ide yang mereka temukan, kemudian dirangkai untuk dipresentasikan;
  5. pendidik mengevaluasi dan memberikan kesimpulan mengenai topik.

Menggunakan metode ini dapat melatih siswa untuk bekerja sama, saling menghargai pendapat, juga menyampaikan tanggapan secara bebas mengenai apa yang telah dipahami bersama kelompoknya. Namun, terdapat kekurangan dalam metode ini, karena kesempatan untuk mempresentasikan gagasan hanya dimiliki oleh satu anggota kelompok. Seringkali kesempatan seperti ini akan diberikan kepada anggota yang aktif dan pandai, sehingga anggota yang kurang aktif tidak akan terlihat menonjol. 

Baca juga: Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Kekurangan lain dari metode CIRC adalah adanya kemungkinan perbedaan persepsi dalam mengumpulkan dan mengolah gagasan, karena anggota kelompok memiliki latar belakang yang heterogen. Hal tersebut dapat membuat kelompok tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun bagaimanapun juga dalam pembelajaran kooperatif, tujuan utamanya adalah untuk melatih kemampuan sosial individu, sehingga hal semacam ini harusnya dapat memotivasi setiap anggota agar dapat mencapai kemampuan sosial yang baik.

Baca juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Kamis, 26 November 2020

Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)


Student Team Achievement Division (STAD) dikembangkan oleh Robert Slavin, dkk. STAD dapat disebut sebagai metode yang paling sederhana dalam model pembelajaran kooperatif. Metode ini dapat dijadikan permulaan saat seorang pendidik mulai memutuskan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Tahapan STAD

Dalam metode ini, pendidik dapat membagi kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-6 orang. Anggota kelompok harus heterogen berdasarkan tingkat kemampuan akademik yang didapatkan dari skor awal individu. Juga heterogen berdasarkan jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sifat. Dalam satu kelompok setidaknya ada individu yang pandai, rata-rata, dan kurang pandai, laki-laki dan perempuan, individu yang pendiam dan terbuka, individu dari suku A dan suku B, begitu seterusnya.

Pendidik kemudian memberikan atau menjelaskan materi kepada setiap kelompok sebagai pendahuluan agar individu dalam setiap kelompok memahami hal apa saja yang harus mereka pelajari. Pendidik juga memberikan pandangan atau contoh permasalahan kepada kelompok agar mereka dapat mengembangkan konsep dari materi tersebut. Pengembangan ini juga dapat dilakukan dengan memberikan soal-soal dan mempersilahkan individu secara acak untuk menjawab persoalan tersebut.

Kegiatan berkelompok dalam metode STAD dimulai ketika guru memberikan lembar kerja siswa yang berisikan materi dan permasalahan pada setiap kelompok. Kelompok yang bertugas secara kooperatif mendiskusikan penyelesaian berdasarkan materi yang telah mereka pahami.

Peran pendidik hanya sampai memberikan perintah serta memberikan bantuan dengan mengulang konsep dan menjawab apabila kelompok memiliki pertanyaan.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Setelah kegiatan pemberian materi oleh pendidik dan diskusi oleh masing-masing kelompok, pendidik memberikan tes secara individual. Anggota di dalam kelompok masing-masing diberikan pertanyaan dan tidak berhak mendapatkan bantuan dari anggota lainnya.

Pendidik memberikan nilai secara individual berdasarkan jawaban yang diberikan. Kemudian nilai individu diakumulasikan untuk disumbangkan sebagai nilai kelompok. Semakin tinggi nilai setiap individu, maka akan menambah kontribusinya dalam nilai kelompok. Berdasarkan pencapaian masing-masing anggota inilah, suatu kelompok mendapatkan penghargaan.

Pendidik dapat melakukan rotasi kelompok setelah satu periode penilaian dengan pertimbangan skor baru yang didapatkan masing-masing individu.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Keunggulan STAD

Dalam metode ini setiap individu dituntut untuk memberikan kontribusi kepada kelompoknya agar dapat mencapai tujuan bersama. Setiap individu akan merasa bertanggung jawab untuk memahami materi dan persoalan yang disajikan dalam kelompok, sekaligus juga bertanggung jawab atas temannya agar tidak memberikan kontribusi yang buruk dalam kelompok dengan memberikan motivasi dan membantu dalam menguasai materi.

Metode ini juga cukup mudah diterapkan pada setiap tingkat pendidikan. Seringkali diterapkan pada pelajaran-pelajaran ilmu pasti seperti sains dan matematika. Rentang periode penilaian yang memungkinkan untuk rotasi kelompok, menjadikan distribusi bantuan terhadap individu-individu yang memiliki pemahaman kurang menjadi lebih merata.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)


Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading