Kamis, 19 November 2020

Inilah Perbedaan antara Kutub Utara dan Selatan


Seperti yang kita ketahui bumi memiliki dua kutub yang berada di sisi Utara dan Selatan. Di bagian Utara bumi Kutub Utara, baliknya di bagian selatan bumi adalah Kutub Selatan. Dua kutub ini memiliki suhu udara yang sangat dingin, Tetapi apakah kalian tahu bahwa kedua kutub ini memiliki perbedaan-perbedaan yang cukup banyak. Berikut ini adalah beberapa perbedaan yang dapat kami rangkum.

Penamaan

Dua kutub ini memiliki penamaan yang unik. Kutub Utara disebut juga sebagai arktik. Sedangkan Kutub Selatan dikenal sebagai Antartika.

Lautan versus daratan

Jika dilihat dari Atlas, kedua kutub ini sama-sama berupa dataran bersalju. Tetapi sejatinya mereka memiliki unsur pembentuk yang berbeda. Kutub Utara adalah lautan yang membeku Karena suhu dingin di sana. Di bagian Utara bumi terdapat banyak benua dan negara. Sehingga meskipun kutub utara adalah sebuah lautan yang membeku, mereka masih dikelilingi oleh daratan di sekitarnya.

Berbeda dengan kutub selatan. Kutub selatan adalah daratan seperti benua lain pada umumnya. Suhu yang sangat dingin Daratan di Kutub Selatan tertutup oleh salju. Namun kutub selatan tidak dikelilingi oleh daratan dari benua lainnya. Dia benar-benar dikelilingi oleh lautan. Oleh karenanya, dia juga disebut sebagai Benua Antartika

Suhu udara

Dua kutub baik Utara dan Selatan sama-sama memiliki suhu yang sangat dingin hingga mampu menciptakan salju sepanjang tahun. Namun keduanya memiliki suhu rata-rata yang berbeda. Di Kutub Utara, meskipun berupa lautan yang membeku, suhu udaranya berapa sekitar minus 34 derajat Celcius. Sedangkan di Kutub Selatan, yang berupa daratan, memiliki suhu rata-rata yang lebih dingin, yaitu sekitar minus 49 derajat Celcius. Bahkan dalam keadaan tertentu suhu di Kutub Selatan dapat mencapai minus 89 derajat Celcius.

Penduduk

Perbedaan yang paling mencolok dari kedua kutub ini adalah manusia penghuninya. Suhu Kutub Utara yang notabene lebih hangat daripada Kutub Selatan, masih memungkinkan untuk dihuni oleh manusia. Tercatat kurang lebih sekitar 3000 jiwa penghuni di Kutub Utara. Umumnya penduduk di kutub utara adalah pendatang dari negara-negara sekitarnya, sehingga mereka memiliki beragam suku. Beberapa di antaranya adalah suku yupik, kalaalit, dan sami. Berbeda dengan kutub selatan, sampai saat ini belum tercatat ada manusia yang berhasil menghuninya.

Fauna

Setiap daerah di bumi selalu memiliki ragam fauna yang bermacam-macam. Tergantung pada ekosistemnya. Tentu saja di kutub utara dan kutub selatan memiliki hewan bertahan di daerah bersuhu dingin. Namun jika dibandingkan Kutub Utara memiliki ragam fauna yang lebih banyak. Beberapa di antaranya adalah beruang kutub rusa kutub dan juga.

Sedangkan di Kutub Selatan hanya terdapat hewan Pinguin. Hal ini disebabkan karena suhu yang berbeda ada di kedua kutub. Hewan kutub yang ada di Kutub Utara tidak mampu tinggal di Kutub Selatan karena mereka tidak tahan terhadap suhu yang jauh lebih ekstrem. Sedangkan pinguin yang ada di Kutub Selatan tidak dapat tinggal di kutub utara karena suhu udaranya tidak sedingin Kutub Selatan.

Pemanasan global

Pemanasan global atau yang kita kenal dengan global warming beberapa tahun terakhir menjadi sangat marak. Berbagai penyebab mengakibatkan kerusakan lapisan ozon sehingga akhirnya membuat es yang ada di kedua kutub bumi mengalami pencairan.

Pada kenyataannya lapisan ozon yang berada di Kutub Selatan mengalami kerusakan yang lebih parah daripada lapisan ozon yang ada di Kutub Utara. Namun karena struktur Kutub Utara yang dibentuk dari lautan yang membeku membuatnya menjadi lebih mudah mencair daripada Kutub Selatan.

Itu tadi adalah beberapa perbedaan antara kutub utara dan kutub selatan. Banyak orang mengira bahwa kedua kutub itu adalah benar-benar daratan atau lautan yang membeku namun keduanya sungguh berbeda. Apakah Setelah mengetahui perbedaannya kamu berminat untuk tinggal salah satu bumi?

Jumat, 13 November 2020

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)


Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif disebut juga dengan model pembelajaran berkelompok. Dalam pembelajaran kooperatif, setiap anggota dalam kelompok akan secara terstruktur memiliki tanggung jawab individu dan saling tergantung satu sama lain, sehingga dibutuhkan interaksi dan keahlian dalam bekerja sama.

Sistem pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk atau kriteria dalam metode belajar konstruktivis. Setiap kelompok terdiri dari anggota yang memiliki keberagaman dalam tingkat kemampuan akademik dan juga perbedaan sosial. Pembagian kelompok seperti ini diharapkan mampu membuat individu yang kurang paham, menjadi terbantu dan lebih paham setelah berkelompok dengan individu lain yang memiliki kapasitas yang lebih baik. Sehingga, dalam pembelajaran kooperatif, proses belajar tidak dapat dikatakan selesai apabila salah satu individu dalam kelompok belum menguasai materi.

Baca juga : Metode Pembelajaran Student Team-Achievements Divisions (STAD)

Roger dan Johnson (dalam Lie, 2002) berpendapat bahwa meskipun pembelajaran kooperatif selalu mengandalkan kerja sama dan proses belajar berkelompok, bukan berarti setiap pembelajaran dengan metode belajar kelompok dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang kooperatif. Ada lima unsur yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan sebagai pembelajaran yang kooperatif, yaitu:

1.   Ketergantungan positif antar anggotanya

Untuk mendapatkan keberhasilan dalam sebuah kerja kelompok, sangat dibutuhkan usaha dari setiap anggotanya. Suatu kelompok perlu bekerja secara terstruktur agar dalam pembagian tugasnya dapat berkaitan, dan setiap anggota memiliki ketergantungan yang positif terhadap setiap anggota kelompok lainnya.

2.   Tanggung jawab perseorangan

Pendidik dapat menyiapkan tugas berkelompok sedemikian rupa agar setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan kelompoknya.

3.   Kegiatan tatap muka dan bediskusi

Suatu kelompok dapat dikatakan kooperatif apabila mereka dalam proses belajar melakukan tahapan diskusi untuk menyatukan sinergi dan menyusun srategi dalam mencapai penyelesaian tugas atau tujuan kelompok.

4.   Komunikasi interpersonal para anggotanya

Keterampilan komunikasi individu dapat mempengaruhi keberhasilan dalam suatu kelompok. Keterampilan ini dapat berupa kemampuan mendengar dan mengutarakan gagasan. Suatu kelompok belum dikatakan kooperatif apabila salah satu anggotanya belum mencapai titik “mampu berkomunikasi” dengan baik kepada sesama anggota kelompok lainnya. Karena bagaimanapun tujuan belajar kelompok adalah untuk memperkaya pengalaman belajar, baik secara kognisi maupun mental.

5.   Terdapat evaluasi

Proses evaluasi tentu menjadi sangat penting untuk dilakukan. Pengajar perlu memberikan kesempatan bagi kelompok untuk melakukan evaluasi terhadap proses belajar mereka, agar ke depannya dapat melaksanakan pembelajaraan yang lebih kooperatif.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah tercapainya hasil belajar yang optimal sekaligus mengembangkan keterampilan sosial individu. Dalam pembelajaran kooperatif keberhasilan suatu kelompok tidak didasarkan pada hasil persaingan antara kelompok satu dengan yang lainnya, tetapi lebih kepada hasil belajar individu-individu dalam kelompok tersebut.

Ibrahim, et al. (2000) merangkum tiga tujuan yang setidaknya harus dicapai dalam metode pembelajaran kooperatif, yaitu : 1) hasil belajar akademik yang merata pada setiap individu dalam kelompok; 2) menciptakan rasa saling menghargai dan menerima perbedaan antar setiap individu; 3) mengajarkan keterampilan sosial dalam berkolaborasi dan bekerja sama dengan individu yang berbeda-beda.

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa metode untuk dapat diterapkan yaitu:

1) Student Teams-Achievement Divisions (STAD),

2) CIRC

3) Jigsaw

4) Learning Together

5) Group Investigation

6) Cooperative Scripting

 Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Kamis, 12 November 2020

Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis


Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Pendekatan Konstruktivis adalah metode belajar yang memberi kesempatan kepada individu yang belajar (murid atau mahasiswa) untuk secara aktif berperan dalam memahami informasi atau dalam memecahkan persoalan. Pembelajaran Konstruktivis tidak berorientasi penuh pada penjelasan atau materi yang diberikan oleh pendidik, namun, peran pendidik lebih seperti seorang pembimbing dan pemberi fasilitas, agar murid terbantu dalam proses belajarnya. Berikut ini merupakan kriteria yang umumnya ada di dalam proses belajar dengan pendekatan konstruktivis.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Top-Down Processing (Pemrosesan Atas-Bawah)

Dalam teori belajar konstruktivis, pemrosesan informasi umumnya menggunakan strategi top-down (dari atas ke bawah). Maksudnya adalah murid atau individu memulai pembelajaran dengan cara menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks dan autentik terlebih dahulu untuk dapat memahami makna dasar dari informasi yang diberikan.

Pada pembelajaran konvensional, umumnya murid diminta untuk memulai belajar dari hal yang mendasar (strategi bottom-up) seperti misalnya belajar membaca dengan memulai dari belajar menghapalkan alfabet, mengeja per-suku kata, dan seterusnya.

Sebaliknya, pada pembelajaran konstruktivis, murid akan diperkenalkan pada masalah yang lebih kompleks terlebih dahulu, kemudian melalui proses kognisi, dituntut untuk mencari hal yang mendasari permasalahan kompleks tersebut.

Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Belajar dengan pendekatan konstruktivis selalu memanfaatkan proses pembelajaran yang kooperatif. Pembelajaran kooperatif yang dimaksud adalah belajar bersama kelompok atau disebut juga dengan pembelajaran sosial. Individu dianggap akan lebih mudah memahami dan kemungkinan terjadinya miskonsepsi akan lebih sedikit karena dalam proses belajarnya, individu dihadapkan pada pandangan-pandangan yang berbeda dari masing-masing individu di dalam kelompoknya.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Discovery Learning

Menurut Johnson, discovery learning merupakan metode belajar dengan berusaha untuk menemukan maksud dan memperoleh pemahaman yang dalam terkait suatu informasi (Soemanto, 2003). Pada discovery learning murid dibimbing untuk menemukan sendiri konsep, rumus, atau pola dari informasi yang diolahnya. Metode ini dirasa dapat meningkatkan keaktifan murid dalam belajar serta membangkitkan rasa ingin tahu yang lebih besar. Dengan menerapkan discovery learning, seorang individu akan terbantu untuk menganalisa, memahami, dan mengambil keputusan sendiri terkait penemuannya. Metode ini dirancang agar individu, dalam mencapai suatu pemahaman, berorientasi pada prosesnya.

Menurut Trowbridge dan Bybee (1990) discovery learning terbagi atas dua jenis, yaitu (1) penemuan terbimbing (guided inquiry); dan (2) penemuan bebas (free inquiry). Dalam guided inquiry, guru memberikan data dan persoalan kepada murid untuk mereka jawab, simpulkan, atau selesaikan. Namun, pada free inquiry murid sendirilah yang mengumpulkan data untuk mencari jawaban dan penyelesaian dari persoalan yang mereka hadapi. Kelebihan dari metode discovery learning, murid dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses belajar dan meningkatkan skill siswa dalam memecahkan permasalahan. Namun, metode ini biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama, karena tidak semua murid dapat dengan cepat memahami pembelajaran dengan metode discovery learning. Selain itu, ada beberapa topik atau materi yang lebih cocok disampaikan dengan metode lainnya.

Self-Regulated Learning

Self-Regulated Learning merupakan belajar dengan melakukan kontrol terhadap perilaku dan motivasi dalam penggunaan metakognitif (Pintrich, 1995). Dalam pembelajaran ini, murid akan dituntut untuk mampu mengarahkan, merencanakan, mengorganisasikan, dan mengevaluasi diri dalam proses memahami suatu informasi. Apabila individu berhasil melaksanakan self-regulated learning dalam proses belajarnya, perilaku dan kognitif individu tersebut akan menjadi terarah pada saat belajar.

Kemampuan individu dalam mengembangkan self-regulated learning-nya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengaruh lingkungan, sumber informasi, dan juga pengaruh dari diri sendiri.

Scaffolding

Metode scaffolding dalam belajar adalah dengan memberikan bantuan kepada individu yang belajar (murid) dari individu yang memiliki kapasitas pengetahuan yang lebih matang (guru, teman, atau orang tua) agar individu tersebut memiliki pemahaman atau dapat menuntaskan suatu permasalahan tertentu yang sebelumnya tidak dikuasai. Hal ini dimaksudkan agar seorang murid dapat menyelesaikan persoalan yang tingkatnya lebih tinggi dari kompetensi atau perkembangan kognitif murid. Bantuan yang dapat diberikan dapat berupa pandangan atau gagasan yang terbuka agar murid dapat mengolahnya dengan baik. Dalam pembelajaran scaffolding murid akan termotivasi dalam belajar karena ada gagasan yang membantunya dalam berpikir. Selain itu petunjuk-petunjuk yang didapatkan oleh murid dapat memudahkan mereka dalam mengelola informasi, sehingga proses belajar menjadi lebih sederhana dan murid tidak merasa frustrasi akibat kurangnya pengetahuan.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Rabu, 11 November 2020

Pengertian Teori Belajar Konstruktivis


TEORI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVIS

Konstruktivisme memiliki arti “membangun”. Dalam sebuah pembelajaran konstruktivis, guru dan murid akan membangun bersama-sama konsep dan materi yang akan dipelajari. Dalam model pembelajaran ini, murid tidak hanya dituntut untuk mengimitasi dan membayangkan apa yang diajarkan oleh guru, tetapi mereka diminta secara aktif untuk menyaring, memberi arti, dan menguji informasi atas informasi yang diterima.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Dalam metode pembelajaran ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya. Guru seperti memberikan fasilitas tangga, dan membiarkan murid-muridnya untuk memanjat tangga tersebut. Keaktifan tiap individu sangat berperan penting dalam pendekatan ini sehingga pendekatan ini juga disebut dengan student centered (pembelajaran yang berpusat pada murid). Dalam pendekatan ini peran guru adalah sebagai “pemandu dari samping”, bukan “orang bijaksana di atas panggung”. Guru berperan dalam membantu murid untuk memahami maksud dari informasi yang mereka pelajari (Weinberger & McCombs, 2010; Windschitl, 1999).

Proses belajar dengan pendekatan konstruktivis akan membiasakan murid untuk menemukan ide dan memecahkan masalahnya sendiri. Dengan demikian, dalam pendekatan konstruktivis, suatu pembelajaran harus dikemas dalam label “membangun” bukan hanya sekedar “menerima” informasi.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme

Sejarah Teori Pembelajaran Konstruktivis bermula dari gagasan yang dicetuskan oleh Piaget dan Vigotsky. Mereka menyatakan bahwa sistem kognisi seseorang akan berubah apabila informasi yang pernah diterima diproses kembali bersamaan dengan informasi baru lainnya. Hal ini dapat didukung dengan pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar. Karena dalam kelompok belajar akan ada pertukaran dan percampuran gagasan yang sebelumnya telah dipahami oleh individu-individu dalam kelompok, sehingga proses konstruksi akan mudah tercapai.

Berikut ini merupakan 4 prinsip utama dalam gagasan yang dikemukakan oleh Vygotsky:

1.   Social Learning

Dalam prinsip pembelajaran sosial (social learning), individu membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain, misalnya teman-temannya, untuk dapat melihat konsep atau gagasan yang dipikirkan oleh teman-temannya. Metode ini dapat membantu individu untuk memiliki proses berpikir yang terbuka.


2.   Zone of Proximal Development (ZPD)

Zona perkembangan proksimal merupakan fungsi atau kemampuan yang belum matang dari seorang individu. Fungsi atau kemampuan individu dipercaya Vygotsky akan berkembang dan terbantu proses kematangannya apabila individu berinteraksi dengan teman sebaya ataupun orang dewasa yang perkembangan kemampuannya lebih matang. Selain itu, Vygotsky juga mengungkapkan bahwa proses belajar terbaik seorang individu adalah ketika dirinya berada di fase ZPD pada kemampuan yang dimaksud.

Baca juga: Teori Belajar Behaviorisme


3.   Cognitive Apprenticeship

Cognitive Apprenticeship merupakan tahap-tahap di mana seseorang mulai mendapatkan suatu keahlian melalui interaksinya dengan orang lain. Metode pembelajaran ini juga dapat diterapkan seorang guru kepada murid-muridnya dengan membentuk kelompok yang heterogen untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks. Sehingga individu dalam kelompok yang memiliki kemampuan atau keahlian yang lebih baik, akan memberikan pandangan bagi individu yang kemampuannya kurang.


4.   Mediated Learning

Mediated learning disebut juga dengan situated learning, Yaitu dengan mensituasikan proses pembelajaran seperti realitas dalam hidup. Konsep ini menekankan pada pembelajaran yang termediasi (Kozulin & Presseisen, 1995).  Murid diberikan tugas yang cukup kompleks dan realistis, kemudian diberikan mediasi dengan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugasnya.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Kamis, 29 Oktober 2020

Daftar 99 Asmaul Husna dalam Tulisan Arab, Latin, Beserta Artinya



Berikut ini adalah daftar 99 Asmaul Husna dalam tulisan arab, latin beserta artinya dalam Bahasa Indonesia.

No

Arab

Latin

Artinya

1

ٱلْرَّحْمَـانُ

Ar Rahman

Yang Maha Pengasih

2

ٱلْرَّحِيْمُ

Ar Rahiim

Yang Maha Penyayang

3

ٱلْمَلِكُ

Al Malik

Yang Maha Merajai

4

ٱلْقُدُّوسُ

Al Quddus

Yang Maha Suci

5

ٱلْسَّلَامُ

As Salaam

Yang Maha Memberi Keselamatan

6

ٱلْمُؤْمِنُ

Al Mu`min

Yang Maha Memberi Keamanan

7

ٱلْمُهَيْمِنُ

Al Muhaimin

Yang Maha Mengatur

8

ٱلْعَزِيزُ

Al Aziz

Yang Maha Perkasa

9

ٱلْجَبَّارُ

Al Jabbar

Yang Maha Gagah

10

ٱلْمُتَكَبِّرُ

Al Mutakabbir

Yang Maha Memiliki Kebesaran

11

ٱلْخَالِقُ

Al Khaliq

Yang Maha Pencipta

12

ٱلْبَارِئُ

Al Baari

Yang Maha Melepaskan

13

ٱلْمُصَوِّرُ

Al Mushawwir

Yang Maha Membentuk Rupa

14

ٱلْغَفَّارُ

Al Ghaffaar

Yang Maha Pengampun

15

ٱلْقَهَّارُ

Al Qahhaar

Yang Maha Memaksa

16

ٱلْوَهَّابُ

Al Wahhaab

Yang Maha Pemberi Karunia

17

ٱلْرَّزَّاقُ

Ar Razzaaq

Yang Maha Pemberi Rezeki

18

ٱلْفَتَّاحُ

Al Fattaah

Yang Maha Pembuka Rahmat

19

ٱلْعَلِيمُ

Al `Aliim

Yang Maha Mengetahui

20

ٱلْقَابِضُ

Al Qaabidh

Yang Maha Menyempitkan

21

ٱلْبَاسِطُ

Al Baasith

Yang Maha Melapangkan

22

ٱلْخَافِضُ

Al Khaafidh

Yang Maha Merendahkan

23

ٱلْرَّافِعُ

Ar Raafi

Yang Maha Meninggikan

24

ٱلْمُعِزُّ

Al Mu`izz

Yang Maha Memuliakan

25

ٱلْمُذِلُّ

Al Mudzil

Yang Maha Pemberi Kehinaan

26

ٱلْسَّمِيعُ

Al Samii

Yang Maha Mendengar

27

ٱلْبَصِيرُ

Al Bashiir

Yang Maha Melihat

28

ٱلْحَكَمُ

Al Hakam

Yang Maha Menghakimi

29

ٱلْعَدْلُ

Al `Adl

Yang Maha Adil

30

ٱلْلَّطِيفُ

Al Lathiif

Yang Maha Lembut

31

ٱلْخَبِيرُ

Al Khabiir

Yang Maha Mengenal

32

ٱلْحَلِيمُ

Al Haliim

Yang Maha Penyantun

33

ٱلْعَظِيمُ

Al `Azhiim

Yang Maha Agung



34

ٱلْغَفُورُ

Al Ghafuur

Yang Maha Pengampun

35

ٱلْشَّكُورُ

As Syakuur

Yang Maha Pembalas Budi/Berterima Kasih

36

ٱلْعَلِيُّ

Al `Aliy

Yang Maha Tinggi

37

ٱلْكَبِيرُ

Al Kabiir

Yang Maha Besar

38

ٱلْحَفِيظُ

Al Hafizh

Yang Maha Memelihara

39

ٱلْمُقِيتُ

Al Muqiit

Yang Maha Pemberi Kecukupan

40

ٱلْحَسِيبُ

Al Hasiib

Yang Maha Membuat Perhitungan

41

ٱلْجَلِيلُ

Al Jaliil

Yang Maha Luhur

42

ٱلْكَرِيمُ

Al Kariim

Yang Maha Mulia

43

ٱلْرَّقِيبُ

Ar Raqiib

Yang Maha Mengawasi

44

ٱلْمُجِيبُ

Al Mujiib

Yang Maha Mengabulkan

45

ٱلْوَاسِعُ

Al Waasi

Yang Maha Luas

46

ٱلْحَكِيمُ

Al Hakiim

Yang Maha Bijaksana

47

ٱلْوَدُودُ

Al Waduud

Yang Maha Mengasihi

48

ٱلْمَجِيدُ

Al Majiid

Yang Maha Mulia

49

ٱلْبَاعِثُ

Al Baa`its

Yang Maha Membangkitkan

50

ٱلْشَّهِيدُ

As Syahiid

Yang Maha Menyaksikan

51

ٱلْحَقُّ

Al Haqq

Yang Maha Benar

52

ٱلْوَكِيلُ

Al Wakiil

Yang Maha Memelihara

53

ٱلْقَوِيُّ

Al Qawiyyu

Yang Maha Kuat

54

ٱلْمَتِينُ

Al Matiin

Yang Maha Kukuh

55

ٱلْوَلِيُّ

Al Waliyy

Yang Maha Melindungi

56

ٱلْحَمِيدُ

Al Hamiid

Yang Maha Terpuji

57

ٱلْمُحْصِيُ

Al Muhshii

Yang Maha Menghitung

58

ٱلْمُبْدِئُ

Al Mubdi

Yang Maha Memulai

59

ٱلْمُعِيدُ

Al Mu`iid

Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

60

ٱلْمُحْيِى

Al Muhyii

Yang Maha Menghidupkan

61

ٱلْمُمِيتُ

Al Mumiitu

Yang Maha Mematikan

62

ٱلْحَىُّ

Al Hayyu

Yang Maha Hidup

63

ٱلْقَيُّومُ

Al Qayyuum

Yang Maha Mandiri

64

ٱلْوَاجِدُ

Al Waajid

Yang Maha Penemu

65

ٱلْمَاجِدُ

Al Maajid

Yang Maha Mulia

66

ٱلْوَاحِدُ

Al Wahid

Yang Maha Tunggal



67

ٱلْأَحَد

Al Ahad

Yang Maha Esa

68

ٱلْصَّمَدُ

As Shamad

Yang Maha Dibutuhkan

69

ٱلْقَادِرُ

Al Qaadir

Yang Maha Berkehendak

70

ٱلْمُقْتَدِرُ

Al Muqtadir

Yang Maha Berkuasa

71

ٱلْمُقَدِّمُ

Al Muqaddim

Yang Maha Mendahulukan

72

ٱلْمُؤَخِّرُ

Al Mu`akkhir

Yang Maha Mengakhirkan

73

ٱلأَوَّلُ

Al Awwal

Yang Maha Awal

74

ٱلْآخِرُ

Al Aakhir

Yang Maha Akhir

75

ٱلْظَّاهِرُ

Az Zhaahir

Yang Maha Nyata

76

ٱلْبَاطِنُ

Al Baathin

Yang Maha Ghaib

77

ٱلْوَالِي

Al Waali

Yang Maha Memerintah

78

ٱلْمُتَعَالِي

Al Muta`aalii

Yang Maha Tinggi

79

ٱلْبَرُّ

Al Barru

Yang Maha Penderma

80

ٱلْتَّوَّابُ

At Tawwaab

Yang Maha Penerima Taubat

81

ٱلْمُنْتَقِمُ

Al Muntaqim

Yang Maha Pemberi Balasan

82

ٱلْعَفُوُّ

Al Afuww

Yang Maha Pemaaf

83

ٱلْرَّؤُفُ

Ar Ra`uuf

Yang Maha Pengasuh

84

مَالِكُ ٱلْمُلْكُ

Malikul Mulk

Yang Maha Penguasa Kerajaan

85

ذُو ٱلْجَلَالِ وَٱلْإِكْرَامُ

Dzul Jalaali Wal Ikraam

Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

86

ٱلْمُقْسِطُ

Al Muqsith

Yang Maha Pemberi Keadilan

87

ٱلْجَامِعُ

Al Jamii`

Yang Maha Mengumpulkan

88

ٱلْغَنيُّ

Al Ghaniyy

Yang Maha Kaya

89

ٱلْمُغْنِيُّ

Al Mughnii

Yang Maha Pemberi Kekayaan

90

ٱلْمَانِعُ

Al Maani

Yang Maha Pembela

91

ٱلْضَّارُ

Ad Dhaar

Yang Maha Penimpa Kemudharatan

92

ٱلْنَّافِعُ

An Nafii

Yang Maha Memberi Manfaat

93

ٱلْنُّورُ

An Nuur

Yang Maha Bercahaya

94  

ٱلْهَادِي

Al Haadii

Yang Maha Pemberi Petunjuk

95  

ٱلْبَدِيعُ

Al Badii’

Yang Maha Pencipta

96  

ٱلْبَاقِي

Al Baaqii

Yang Maha Kekal

97  

ٱلْوَارِثُ

Al Waarits

Yang Maha Mewarisi

98  

ٱلْرَّشِيدُ

Ar Rasyiid

Yang Maha Pandai, Yang Maha Benar

99 

ٱلْصَّبُورُ

As Shabuur

Yang Maha Sabar


Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading