Kamis, 03 April 2014

Puisi : Hening


Seperti tragedi, ia menghadirkan kebahagiaan
Menantang analisis logis dan bukti empiris
Tafsiran yang dirasionalkan
Rasa ini kompleks

Sebuah langkah besar
Fakta yang tak pernah terbayangkan
Apa yang sebelumnya hanya ada di kuil-kuil bawah sadar
Tatanan suci tak terlukis

Dari ketiadaan
Mencoba melangkah
Melampaui kata-kata dan sensasi
Mengemas dimensinya yang abadi, kekal
Sehimpunan kebenaran kasih sayang
Seolah menjelma dari kedalaman bebatuan

Kini tak lagi gelap
dapat dipahami, bahkan masuk akal
Terpaut, merayap dari dalam peti mati

Seperti langit
Menjulang, makna batin dari semua keberadaan

Kamis, 06 Maret 2014

Puisi : Yang Tertanam


Burung-burung di dalam sangkar...
Memperkuat ingatan itu...
Kita  berada di tepian tipis ini...
Kisah klasik yang tak runtut...
Sebuah intelek abstrak yang tak tersembuhkan...

Bahkan kau bertahan sebagai residual lain...
Sebuah konsonan yang bermakna...

Panah sudah ada di sampan...
Mungkin ini pesta-perang...
Jejak-jejak tak terhitung banyaknya...
Tak bernyawa...
Pray, Love, Remember...

Naramu tersimpan rapi...
Bermetafora dalam memoriku...
Konteks yang tak terkondisi...

Maknamu eksplisit...
Seperti awan...


*Last but not least, 
"Kebahagiaan adalah silau. Ia terkatung-katung, kemudian jatuh. Tertanam di bawah roda kehidupan."
dariku untukmu, 'Renyta Ayu Putri'.

-Muchammad Thoyib Achmad Salim-

Selasa, 04 Maret 2014

Puisi : Belum Ada Judul



Matahari masih terang ketika aku tiba di rumah...
Aku mengangguk dengan pasti...
Ku ambil buku catatan harian yang ku simpan di atas lemari kayu tua...
Mulai ku tuliskan beberapa prosa tentangmu...

Doa dan kalimat-kalimat panjang tak karuan...
Ku pastikan sampai ke tangan Tuhan...
Dan, akhirnya tibalah senja...
Rasanya tak cukup hanya sekali...

Berbaris tanyaku tentangmu...
Cukuplah sekali itu, ya sekali itu saja...
biarkanlah kisah kita tergerai begitu saja...
Pandangan kosong anak 8 tahun...
Meringkuk menahan isak itu...
Memandangmu terus meniup gelembung-gelembung kecil...
Takdir kan jadi milikmu...
Bersama peri-peri kecil...

Pohon cemara itu berada di tepi jalan...
Tentu saja bersama petikan gitar...
Tak perlu waktu lama menyadari aku mengambang...
Aku melayang di tengah kehampaan...
Di tengah riuh doa, aku ingin menangis, mungkin sekali saja...

Bulan-bulan berlalu tanpa terasa...
Namun kebisingan itu mendadak berhenti...
Aku terus menulis, seakan otakku menjelma menjadi sungai...
Sungai tak berhilir...
Setiba di rumah, ingatan tentangmu tak kunjung lepas dari benakku...

Mataku pun tak bosan mengamati rembulan malam ini...
Rasanya penuh dengan bunga warna-warni...
Ukiran-ukiran itu muncul saja di otakku...
Barulah hatiku merasa lega, sangat lega...


BERSAMBUNG.....

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading