Minggu, 04 Januari 2015

Puisi : Petiolus

Kini ku susun tulisan ini
Entah bagaimana mencandranya

Waktu kian majemuk
Lengkap dengan ikhtisarnya
Menguraikan segala kisah tentangmu
Selanjutnya tentang falsafah persahabatan

Ungkapan verbal nan jauh dari nyata
Kini menjelma doa

Kau tegakkan asa
Bertalian erat
Lazimnya kisah roman

Kini sampailah pada hijau yang sungguh hijau
Kemudian akan runtuh
Menjadi kekuningan

Kau bersama kisahmu
Meniadakan perbedaan
Menjadi oase
Yang tak kunjung surut

Untuk sahabatku yang senantiasa menjadi tangkai daun, yang mendukung setiap helaiannya,  hingga mendapat sinar mentari…

Hervy Marmianory Yudo

Selasa, 16 September 2014

Opinion : 100 PERSEN INDONESIA !




"Tantangan yang kita hadapi sangat berat", kata Pak SBY dalam pidato pertamanya sebagai Presiden RI yang ke-6.

Beratnya tantangan kita sebagai Bangsa Indonesia ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa sebagai Bangsa kita masih menghadapi : (1) Rendahnya kualitas keberagaman dan karakter; (2) semakin terkikisnya nasionalitas, rasa persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia; (3) masih rendahnya kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan; (4) masih rendahnya tingkat kecerdasan, keterampilan hidup, dan competitiveness untuk menghadapi persaingan global yang dipimpin oleh para innovation regime; (5) masih rendahnya budaya keunggulan, baik belajar dan berbagai turunannya, budaya tertib hukum, budaya kualitas, kerjasama, kerja keras, dan kerja cerdas, team-net, profesionalitas, pelayanan, apresiasi, hemat dan menabung, wiraswasta, dan lain sebagainya; (6) masih rendahnya kualitas kebudayaan Bangsa ini, terutama menyangkut pola pikir, pola sikap, dan nilai yang sesuai dengan tuntutan perubahan dan tangguh dari pengaruh-pengaruh negatifnya.

Sementara itu, birokrasi pemerintahan kita pun masih jauh dari profesionalitas, pelayanan, transparansi, dan akuntabilitas, Sehingga tingkat korupsi sangat dan kian tinggi. Dan itu justru terjadi di negara yang sedang dilanda badai krisis.

Dengan begitu, Indonesia bukan lagi negara korupsi, tapi sudah menjadi negara kleptokrasi. Negeri yang produktif dalam jual beli hukum, negara yang para penguasanya hanya menjadikan jabatan dan kekuasaan semata-mata untuk memperkaya diri, keluarga, dan kelompok kepentingannya.

Dengan miris kita lihat bersama, perusakan lingkungan baik legal maupun ilegal, pencurian kayu, pembakaran hutan, asap-asap meracuni hingga mengganggu stabilitas negara tetangga, itu semua terus berlanjut seperti tak bisa dihentikan, menambah coreng-moreng wajah kita di hadapan warga dunia. Persoalan ini sudah mencapai tahap yang harus diwaspadai. Lalu apalagi yang akan kita andalkan guna perbaikan masa depan Bangsa Indonesia ?

Di sisi lainnya, kita didesak oleh ekonomi pasar dan globalisasi oleh negara-negara Barat yang bukan rahasia umum sarat akan kepentingan penguasa modal yang kapitalistik, rakus bahkan predatorik. Di tangan mereka yang tak memiliki hati nuranilah sesungguhnya proses peminggiran, dehumanisasi, pemiskinan, dan pembodohan bisa efektif, dengan mengatasnamakan negara, pembangunan, bantuan dan kerja sama internasional. Di tangan mereka pula imperialisme dan terorisme ekonomi, politik, budaya dan gaya hidup global serta negara kuat atas negara lemah berjalan sangat mulus, nyaris tanpa perlawanan.

Lalu bagaimana ? Mau dibawa kemana Bangsa kita ? Yang terpenting yang harus kita perhatikan bersama, Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa kita sudah 69 tahun merdeka dan berdaulat, kita ini 100 PERSEN INDONESIA !

Senin, 15 September 2014

Puisi : Absurditas Otak



Malangnya, kini penghargaan berbentuk materialitas dan hedonitas
Akibatnya hulu hingga hilir termakan kapitalisme
Eksploitasi konsumerisme

Batas-batas tak lagi dipandang
Teori sebab-akibat hanya angin lalu
Hutan terbakar, api dan asap bukan barang baru

Kini mistikalitas dan spiritualitas terabai
Makna hidup nan fitri tak lagi berarti

Eksistensialis yang tak pernah setuju
Melenggang maju
Berkawan debu
Tak gentar walau peluru melaju






Saat alam dan budaya direka-reka
Penuh terka
Segala bentuk kehidupan hanya tinggal sisa
Bencana dan kepunahan kian tiba

DIMANA OTAK KITA ?!


Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading