Jumat, 25 Mei 2018

Identitas Diri dan Stigma

'Kita dulu dipertautkan Tuhan dalam keheningan perasaan, lengkap beserta melodi-melodinya, seperti angin yang menyeka mawar~'

Prosa itu saya ungkapkan 4 tahun silam kepada wanita blesteran Jawa-Tionghoa yang kemudian luluh dan berkenan menambatkan hatinya pada saya. Menikah dengan seseorang yang berbeda suku, apalagi keturunan Tionghoa merupakan hal yang cukup tabu di keluarga besar saya, maklum, karena pada dasarnya, keluarga saya berasal dari desa yang notabene kesan eksklusifitas ke-Jawa-annya masih amat kental. Meski demikian, tidak mempengaruhi sedikitpun penerimaan keluarga besar saya terhadap istri, walau di luar sana, stigma dan isu tentang ke-Tionghoa-an tidak banyak berubah. Inilah yang menurut saya aplikasi real dari sebuah konsep adi luhung warisan budaya Nusantara bernama toleransi.

Cina Benteng Wedding by Wikimedia Commons CC BY-SA 3.0

Stigma negatif terkait ke-Tionghoa-an tak bisa dilepaskan dari munculnya Tiongkok sebagai salah satu kekuatan besar dunia. Hal ini membuat banyak orang Indonesia menjadi ketakutan dan cenderung paranoid terhadap apa saja yang berkaitan dengan Tiongkok, khususnya masyarakatnya, yang kini kita kenal dengan masyarakat Tionghoa. Kini, entah siapa yang mengawali, malah ada narasi seakan-akan Tiongkok akan melakukan invasi besar-besaran ke Ibu Pertiwi, yang dapat mengancam kelangsungan hidup kita sebagai warga negara Indonesia secara individual dan sebagai bangsa maupun negara. 

Kalau kita tarik jauh ke belakang, di zaman pergerakan, semua ketakutan (yang tidak jelas) yang kini terjadi, tidak lepas dari sejarah panjang politik identitas yang diberlakukan VOC untuk menjaga agar kaum Jawa dan keturunan Tionghoa tidak bersatu dan menyaingi perdagangan VOC. Kemudian dilanjutkan oleh Orde Baru yang banyak melakukan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa. Selama masa Orde Baru inilah, berbagai stigma dan prasangka terhadap warga keturunan berkembang.

Ada yang bilang, orang Tionghoa itu pelit. Bagi saya, hal itu tidak sepenuhnya benar, buktinya, saya pernah bertemu orang Tionghoa yang memang benar-benar pelit, namun di lain kesempatan, saya juga bertemu orang yang memiliki perangai serupa dari suku dan ras lain. 

Ada yang bilang, orang Tionghoa itu tamak. Bagi saya, hal itu tidak sepenuhnya benar, buktinya, saya pernah kenal orang Tionghoa yang memang benar-benar tamak, namun di lain kesempatan, saya juga bertemu orang yang memiliki perangai serupa dari suku dan ras lain.

Ada yang bilang, orang Tionghoa itu suka memeras. Saya pun pernah mendengar hal serupa, namun saya juga kerap menemui orang yang memiliki perangai sejenis dari suku dan ras lain.

Ada yang bilang, orang Tionghoa tidak suka berbaur. Memang ada orang Tionghoa yang saya kenal yang tidak suka berbaur. Namun saya juga tau bahwa ada orang dari suku dan ras lain yang juga begitu.

Ada lagi yang bilang, bahwa orang Tionghoa itu mata duitan, semuanya kaya. Beberapa dari yang saya kenal memang demikian, tapi ada juga yang begitu dari suku dan ras lain.

Di samping itu semua, saya juga sering berjumpa dengan banyak orang Tionghoa yang sangat penyayang dan murah hati. Mereka suka melakukan kerja sosial kepada kelompok masyarakat mana pun yang kurang beruntung. Saya juga punya sahabat-sahabat dari keturunan Tionghoa yang sangat pendengar, sabar, murah hati, dan senang sekali berbagi apa pun yang mereka punya. Mereka juga orang-orang yang sangat toleran dan menghormati orang lain, termasuk menghormati perbedaan antara mereka dengan saya.

Saya bahagia sekali berkesempatan mengenal banyak orang Tionghoa, dan bahkan bisa menikahi salah seorang dari keturunannya. Sama bahagianya dengan mengenal banyak orang Jawa, orang Dayak, orang Madura, orang Sunda, dan orang-orang dari suku dan ras lain. Juga orang-orang dengan agama yang berbeda dengan saya. Perkenalan dengan banyak orang yang berlatar belakang berbeda ini mengajarkan saya banyak hal, satu yang paling penting adalah

Ke-suku-an dan ras hanya menjelaskan dari mana asal seseorang, tapi tidak menjelaskan apa pun mengenai karakter orang itu. Agama hanya menjelaskan apa yang dia yakini, tetapi sama sekali tidak bisa menjelaskan mengenai bagaimana dirinya sebagai seorang manusia.

Satu-satunya cara untuk dapat benar-benar mengetahui dan memahami mengenai bagaimana ‘way of lifeorang-orang dari suku, ras, dan agama lain adalah dengan membuka diri terhadap mereka. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa di balik semua identitas suku, ras, dan agama, setiap orang adalah sama dengan kita, satu dalam bingkai kemanusiaan. Semuanya saya yakin sama-sama menginginkan agar bisa hidup damai. Sama-sama ingin bekerja dalam rasa aman, sama-sama ingin memberi yang terbaik bagi keluarga, sama-sama ingin bermanfaat bagi orang lain, sama-sama ingin menyayangi dan disayangi, sama-sama ingin menjadi bagian dari masyarakat, dan sama-sama ingin membawa perubahan positif bagi peradaban dunia.

Last but not least, suku, ras, dan agama, bukanlah siapa mereka sesungguhnya. 

Suku, ras, dan agama akan tetap mulia tanpa campur tangan manusia, sedangkan kita akan tetap cidera jika tanpa campur tangan ketiganya. 

Senin, 19 Februari 2018

Tentang Sesuatu yang Dinamakan Perasaan

Selama ini orang bebas memberikan label kepada saya mengenai sesuatu yang dinamakan perasaan. Dari seorang lelaki yang terlalu jual mahal, lelaki yang terlalu menyayangi harga dirinya hingga lelaki yang kerap tidak peka dan tidak peduli. Biarlah, mereka bebas memberi nilai. Namun, tahukah bahwa saya sesungguhnya tidak begitu mampu mengontrol perasaan saya dengan baik dan benar. Kerap saya menemukan diri saya menjadi orang bodoh yang nilainya merah dalam urusan memahami "rasa". 

Beberapa kali sudah, hati ini sempat terkait dengan beberapa orang. Tak banyak dan sungguh sedikit. Termasuk wanita itu. Namun sungguh sekali lagi, saya benar-benar berusaha mengendalikan perasaan ini, untuk tidak terlalu jauh jatuh atau terjebak dalam asumsi-asumsi pribadi yang mematikan juga memalukan. Sebelum ada sebuah ikatan, insya Allah, logika saya ini masih beroperasi dengan baik. Menghalau perasaan yang sifatnya liar dan semaunya sendiri.

Lalu, ijinkan saya bercerita tentang suatu hal yang tidak bisa saya ceritakan, namun saya ingin orang-orang untuk maklum-kan. Saya tidak bisa bicara, karena mulut bisa saja berbohong. Tapi tulisan saya tidak.

Saya menyukaimu kemarin dan hari ini, besok atau lusa saya tidak tahu.

------

Malam itu udara tidak tipis seperti di atas awan. Tekanannya normal dan wajar. Angin bertiup pelan berbisik perlahan di antara desis rokok yang saya sulut dan denting gelas-gelas aluminium yang disela gelak tawa. Kemudian, sebuah pertanyaan terlontar. Kalimat yang ditunggu-tunggu selama 23 tahun saya hidup dunia. Keluar dari seseorang, yang bahkan kehadirannya tidak terlalu saya pusingkan.

Saya resmi berada pada titik bifurkasi. Titik percabangan yang apabila terjadi perubahan kecil akan mengarah pada chaos. Ketidakteraturan dalam sebuah keteraturan. Saya terjebak, dan saya menyukai kekacauan ini. Hingga akhirnya saya sadar, mungkin saat itu saya kehilangan kendali akan logika. Hingga saya begitu permisif dengan asumsi-asumsi pribadi yang sudah berjalan terlampau jauh. 

Apalah arti sebuah titik percabangan dan chaos. Bila sebuah partikel tidak bisa memutuskan ke jalur mana dia akan memilih. Seperti saya yang memilih untuk stagnan. Memilih berlarut-larut dalam sendunya perasaan. Berusaha mati-matian untuk tidak jatuh. Namun malah, bertahan. Kalah karena keadaan. Saya kalah, kali ini kalah. 

Kami dipertemukan dengan saput-saput gyrus dan sulcus yang berbeda. Ukuran batang otak yang berbeda dan kecepatan transfer sinyal pada sinaps yang demikian berbeda. Pun juga cara memahami yang berbeda. Namun, banyak hal-hal kecil yang sama-sama kita coba untuk mafhum-kan. Benar? 

Boleh saya mencatat?

Mungkin dia bisa saja lupa, atau menganggap semuanya hanya hampa. Bukan apa-apa.

Ada yang berbeda saat kedua mata kami beradu sepersekian detik di sebuah pagi yang tergesa-gesa. Dari ungkapan spontan yang tahu-tahu pernah diabadikan dalam-dalam. Lagu sendu yang sengaja dikumandangkan kemudian diulang-ulang. Perdebatan kecil yang menyenangkan. Cerita-cerita yang tak pernah habis disampaikan dan tak pernah selesai dibahasakan. Juga tak lupa, pertunjukan-pertunjukan receh yang sama-sama kita tertawakan. 

Oh iya jangan lupa, jawaban-jawaban yang tidak pernah disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan aneh yang disisipkan, di setiap perbincangan. 

Baiklah .. begitu saja. 

Sampai di titik ini.

Saya menyadari, bahwa kesenangan selalu datang satu paket dengan kekecewaan. Seperti dua sisi mata uang.

Ungkapan menyakitkan pun pernah melayang-layang. Tak pernah luput, namun tak pernah saya tangkap. Pemberian-pemberian yang tak pernah diarsip dan dibersihkan. Langkah-langkah besar yang terkesan meninggalkan juga perkataan-perkataan yang terkesan menggampangkan. 

Hal-hal itu semua tidak saya lupakan. Baik buruk, bahagia sedih, yin dan yang. Semua melekat dengan baik, tertulis rapi dalam lembaran-lembaran buku harian lusuh di sudut almari. Sejak saat itu, saya suka melihat logika dan perasaan saya bersitegang, kemudian saya dengan pasrah mengikuti mana yang dominan.

Biarlah, logika terkadang bisa sangat menyakitkan. Atau perasaan yang seringnya sangat memalukan. Saya ikuti saja, saya terlatih berani menghadapi segala konsekuensi dari pilihan-pilihan saya. 

Singkat.

Hingga pada suatu hari..

Perasaan juga akan mengalami badai suatu saat. Namanya juga badai, kejadiannya tidak bisa diprediksi. Mau tak mau, siap tak siap ada yang harus pergi. Secara prediksi, saya siap. Namun saya tak menyangka. Bahwa ini sudah terlalu dalam. Saya kehilangan.

Jangan menanam bila tak ingin kehilangan apa-apa (Soe Hok Gie)

Tidak ada niat untuk menanam, namun ada benih yang jatuh tidak sengaja dan ia tumbuh tanpa permisi. Tolong, siapapun. Sesuatu ini hidup, terus bertumbuh dan kadang saya tidak tega membunuhnya. 

Ia pergi. Tidak ada lagi sosoknya, dalam panggung yang sehari-hari berjalan rutin dan ritmis. Dia yang berbagi peran dengan mbak-mbak parkir yang mengunyah camilan setiap pagi, dengan ibu-ibu berbau balsam di toilet ujung ruangan, dengan wangi khas pembersih lantai yang tergesa-gesa atau deru kipas angin yang tak pernah seharmoni dengan pendingin ruangan. 

Lantas, saya menyadari. Bahwa-- seperti apa yang pernah kami sepakati. Pada waktunya, hidup adalah sebuah sistem pelepasan. Kemudian, jarak akan menghasilkan jutaan pertanyaan, menyesaki daftar-daftar tanda tanya yang belum pernah terjawab.

Sungguh, saya tidak ingin menyerah mencari jawaban, namun rasanya hidup memang sedang bermain-main. Mengajak saya mengikuti alurnya sebelum benar-benar bertemu sebuah kesimpulan. 

Apakah saya tahu bagaimana perasaannya terhadap saya? 

Tidak. Saya tidak pernah tahu. Tidak pernah sekalipun. 

Saya ini apa, berharap pada sesuatu yang kehadirannya setipis kabut di pagi hari. Yang dulu sering saya jumpai saat mengendarai sepeda angin ke sekolah. Kabut sangat tipis, yang datang dan pergi. Dia mirip dengan kabut itu.

.....

Banyak alasan yang membuat saya begini. Saya mencintai diri saya. Bersamanya, terlihat sulit-- karena diri ini terlihat menyedihkan. Saya takut ia menganggap remeh semuanya. 

Saya juga takut, saya tidak cukup dewasa untuk menjaga perasaan saya. Saya takut ia terluka. 

Saya takut saya tidak cukup baik untuknya. 

Saya takut saya bukan saya, ketika bersamanya.

Atau, dia bukan dia, saat bersama saya.

Benar katanya..

Seperti puisi Candra Malik.

"Cinta yang meredupkan nyali"

Jadi ini rasa apa?

Saya putuskan menulis tulisan ini. Karena saya tidak bisa berbicara dengan cara lain, selain dengan tulisan. Tulisan adalah sejujur-jujurnya diri saya. Tanpa pretensi apa-apa. 

Ya Muqollibal Qulub.

Hanya Allah yang Maha membolak balikkan hati. Hanya Allah yang mampu menghendaki kejadian seperti ini. Hanya kepada Allah, aku berlindung. 

Sudah saya ikhlaskan semuanya. Dengan atau tanpa dia. Dunia tidak akan berubah.


PS: 

Kamu tahu, kenapa ia begitu berbeda? 

Karena ia mengizinkan saya menatap matanya dalam-dalam saat saya bertanya mengenai puisi sihir hujan. Dari dulu, tidak pernah ada yang begitu, menurutnya.

Selasa, 16 Mei 2017

Cerita Pendek : Berdiri

Mega di Pawitra
Tidak terasa matahari sudah tinggi, enak-enak nyruput kopi, si Atun rewel lagi. "Aku takut turun Mas, pasti oleng dan jatuh".

Masrun senyum sambil nggremeng,"kok ya tega nyalahin motoriknya, wong kalau jalan ya normal-normal saja".
"Gremeng apa Mas?" Tanyaku.

"He kalian pernah dengar nama Bang Zulkarnain dan Sabar Gorky?!".
Aku ingat siapa mereka ini, orang buntung tangan dan kaki yang jadi pemanjat dan pendaki. Pengetahuan Masrun sudah tak di ragukan lagi, mungkin gegara doyan baca sejak dini. Maulid memanggilku, minta tolong fotoin dirinya di spot agak jauh dari tenda. "Lib, aku kok was-was juga ya turunnya" curhat Maulid.

Aku jawab,"Kamu pasti bisa".

"Tadi katamu, dulu jalannya berliku?" Bantah maulid.
Tholib & Maulid berdiskusi
di sela-sela turunan
"Lhah, tadi kan udah tak kasih tahu. Dan ternyata tim ekspedisi sejarah Ubaya sudah nemu sejarahnya. Aku tahunya juga baru saja. Mungkin Pawitra sendiri yang membakarnya, biar kita tahu ada jalur kuno disitu."

"Jangan bilang bumi yang ngasih tahu", Maulid nyeletuk. Masrun dan aku guya guyu.

Masrun yang sedari tadi menyimak angkat bicara juga,"Ingat waktu Kelud mbledug? Itu terjadi ketika Bupati Blitar dan Kediri rebutan wilayah Kelud".
"Maksudmu, kelud gak terima keindahannya di buat sengketa?" Aku merespon Masrun.
"Bisa saja, lha wong itu kediri sampai jogja terkena bencana, tapi Mblitar pas di bawahnya tenang-tenang saja". Jawab Masrun.

"Aku jadi korbannya Mas!, tapi kok bisa ya, mungkin angin kencang dari selatan yg membelokkannya".
"Atau sungkan, mau jatuh di atas makam para raja Nusantara" jawab Masrun.
"Utak atik gatuk Mas, tapi memang sih, ada makamnya Raden Wijaya, dan makam Soekarno juga disana."

Batinku, tadi bicara jalurnya Pawitra malah sampai ke makam raja. "Pantes Mas, orang dulu kuat dan sakti, Beribadah saja harus ngoyo setengah mati".

"Lalu tempat apa yg bakal didatangi setengah mati oleh orang taat, kuat, dan sakti?" Masrun menimpali.

Dari kiri: Tholib, Maulid, & Atun
ndoprok mengatur nafas
Maulid mencoba urun opini,"Tempat suci? Semedi? Biar dekat Sang Hyang Widi?"

"Ya itu kenapa Allah mengutus para wali, mengedukasi, kalau Tuhan itu ada di seluruh bumi bahkan di dalam hati dan lebih dekat dari urat nadi, tidak hanya tempat tinggi apalagi matahari. Pinjem korek Lib". Masrun wajahnya serius santai seperti biasa, sambil ndoprok kami bertiga lanjut bicara.
"Gini, intinya Pawitra itu sama halnya dengan Argodumilah dan Argopuro. Puncaknya dipakai orang untuk bertapa, toh sampai sekarang buktinya. Mungkin mereka lah yang tahu penjaga jawa dan rahasianya".

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading