Rabu, 14 Oktober 2020

Kurban sebagai Momentum Kebangkitan

Hari raya Idul Adha telah kita songsong bersama. Setelah shalat Ied, hingga tiga hari berikutnya, umat Islam yang memiliki kecukupan finansial dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban, baik berupa unta, sapi maupun domba.

Syariat ini merujuk pada puncak kepatuhan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Melalui sebuah mimpi, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra kesayangan yang telah lama ia nantikan kehadirannya. Mimpi yang datangnya berulang kali itu, ia yakini sebagai sebuah firman yang harus dilaksanakan segera. 

Dari riwayat inilah, terdapat sebuah esensi bahwa berkurban sebenarnya adalah bentuk dari pemenuhan salah satu perintah syariat (Allah). Esensi tersebut juga termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 1-3 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat tersebut kemudian dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Barang siapa yang memperoleh kelapangan, namun ia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.”

Namun, melihat situasi bangsa kita yang sedang dihadapkan pada kondisi yang memprihatinkan, di tengah semakin bertambahnya masyarakat yang sengsara sebagai dampak pandemi virus korona, perlu kiranya memaknai ibadah kurban sebagai momentum kebangkitan atas carut marutnya keadaan sosial-ekonomi bangsa saat ini. Di samping, sebagai upaya revitalisasi terhadap kadar keimanan dan ketakwaan kita dalam melaksanakan perintah Tuhan Yang Maha kuasa.

Masalahnya kini, apakah proses ritual-formal ibadah kurban, termasuk penyembelihan hewan benar-benar membuka kesadaran sosial masyarakat kita? Atau, hanya sekadar dimaknai sebagai sebuah proses pendistribusian daging, lalu kemudian lenyap tak bermakna, sehingga tidak dapat menjadi solusi atas situasi bangsa yang sedang papa?

Oleh sebab itu, re-interpretasi terhadap ibadah kurban harus meliputi faktor-faktor yang dapat menunjang terjadinya kesadaran masyarakat. Dalam Islam, makna suatu ibadah tidak bisa dilepaskan, setidaknya dari dua hal, yaitu aspek vertikal (hablun min Allah) dan aspek horizontal (hablun min al-nas). Kedua aspek ini tidak bisa dilihat secara parsial, namun harus dipandang secara integral, utuh, dan komprehensif, tak terkecuali dalam ibadah kurban.

Aspek vertikal (hablun min Allah) ibadah kurban adalah bahwa semangat kurban merupakan salah satu syariat yang bertujuan menguji keimanan dan tingkat kecintaan seorang hamba kepada penciptanya. Apakah harta dan segala yang ia miliki memalingkan dirinya dari Allah SWT. Meski sebenarnya, cinta kepada harta maupun sanak famili merupakan fitrah manusia, tetapi seharusnya, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi prioritas di atas segalanya.

Aspek ini, paling tidak, menunjukkan bahwa ketika seorang manusia berkurban, maka ia telah memenuhi sebagian dari sabda Tuhannya. Begitu juga sebaliknya, ketika dia tidak melaksanakannya, maka ketaatan dan kecintaannya terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya dianggap kurang optimal.

Sejarah mencatat, bahwa banyak dari sahabat Nabi yang tetap melaksanakan ibadah kurban walau secara finansial mereka dalam keadaan serba kekurangan. Hal itu merupakan sebuah bukti kecintaan (mahabbah) mereka kepada Allah dan Rasul-Nya yang begitu menggebu, sehingga mampu mengalahkan kecintaan mereka terhadap dirinya sendiri.

zaini abdullah from kuantan,pahang, Malaysia / CC BY

Kedua, aspek horizontal yakni perintah Tuhan kepada umat Islam yang mampu, agar mendistribusikan dagingnya kepada mereka yang membutuhkan. Perintah ini sekaligus menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu memiliki semangat (ghiroh) untuk senantiasa berusaha membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan yang diberikan pun tidak selalu harus berupa materi, melainkan bisa juga dengan apa pun yang dapat kita sumbangkan demi penyelesaian problematika sosial. Misalnya, sumbangan pikiran, motivasi, tenaga, dan lain sebagainya.

Melalui aspek kedua ini, secara otomatis, orang yang setiap tahun melaksanakan kurban, secara hakikat belum dapat disebut ‘berkurban’ jika dalam dirinya belum tertanam semangat untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebaliknya, meskipun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kurban, tetapi selama dalam dirinya telah terpatri semangat untuk selalu berusaha meringankan beban penderitaan orang lain, mereka inilah (yang secara substansial) layak disebut sebagai pengurban sejati.

Imam Ghazali pun pernah menyiratkan hal ini dalam masterpiecenya, Ihya al-Ilmu ad-Din, bahwa penyembelihan hewan kurban tidak lain merupakan sebuah entitas penyembelihan sifat kehewanan manusia. Oleh sebab itu, kurban semestinya dapat mempertajam kepekaan dan tanggung jawab sosial (social responsibility) kita. Dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk berkurban, diharapkan timbul rasa persaudaraan di kalangan masyarakat.

Karenanya, panggilan berkurban hendaklah disikapi secara multidimensi dan penuh sinkronisasi antara kedua aspeknya, baik secara vertikal maupun horizontal. Memaknainya hanya dengan satu aspek saja, dapat menimbulkan ketertimpangan kondisi antara moralitas dan sosialnya.

Memaknai ibadah kurban semacam ini, merupakan sebuah keniscayaan bagi kita yang sedang berada di titik nadir dan masih bergelut dengan korona, dengan harapan, masyarakat dapat menyadari pentingnya saling berbagi, membantu dan saling meringankan kegetiran sesama anak bangsa.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Sabtu, 29 Juni 2019

Bianglala di Ujung Jendela

Jum’at, 28 Juni 2019, pukul 16.00 WIB.

            Aku tergeragap, terbangun dari sisa-sisa lamunanku, agak pulas menuju lapisan mimpi. Beberapa kebisingan menderu layu di daun telingaku, sayu-sayup mereka berseteru menguasai alam sadarku. Begitu samar dan lamat. Dada tak lagi bebas, ia perlahan menyesak. Aku pun hanya bisa diam, pikiran pun masih gamang. Hingga lambat laun, suara-suara yang sebelumnya, kian terdengar jelas. Ternyata itu suara seseorang, eh bukan, beberapa orang. Bebunyian itu mengalun dalam nada-nada yang dinamis, berdialog satu sama lain, mengeluarkan berbagai irama.
            Salaya membayang di depan mata. Beberapa sungai kanal bersautan membentuk lengan panjang  yang terus melambai kepadamu. Pagoda-pagoda istimewa sontak menjelma menjadi karib yang membersamai segera. Tak lupa beberapa komplek apartemen membentang, setumpukan gedung pun menjulang yang mungkin kelak tak sempat memberimu ruang lengang sekedar sapa, atau ruang lapang untuk sekedar tertawa dan saling menukar pandang dengan kami yang di sini. Setelah ini, mungkin hari-hari kita akan didominasi oleh samarnya bayang-bayang, yang sesekali diliputi oleh kaburnya putih kabut.
            Lalu, akan ada masa dimana semua menjadi gelap, dan bahkan mungkin hitam pekat. Yaah, aku sadar, begitulah kehidupan. Katamu, hampir tak ada yang benar-benar statis di dunia ini, ya kan? Siapa yang bisa menjamin bahwa irama ini akan tetap hidup? Sometimes, mungkin kita bisa saling memaksa, tapi apalah arti jika hanya basa-basi belaka.
            **        
Tujuanmu menyeberangi samudera dan berpindah pasar malam adalah mendapatkan pendidikan kan? Tapi, semisal aku diberikan kesempatan untuk menasihatimu, maka nasihatku adalah, “Jangan sekedar bersekolah!”. Kenapa? karena sekolah dan pendidikan adalah dua hal yang berbeda. Pun, ijazah dan kemampuan adalah dua hal yang tak sama. Sebagai contoh kasus, yang masih hangat, dan sempat ku utarakan padamu kemarin sore, kita sama-sama dihebohkan oleh sebuah isu jual-beli ijazah palsu dari salah seorang figur publik yang ingin mencapai posisi/struktural tertentu.
Hal ini kian membuktikan, bahwa dewasa ini, gelar akademik hanya menjadi semacam atribut yang digunakan untuk bersolek, menambah prestise dan rasa percaya diri, serta jalan pintas untuk mencapai penghormatan dari publik, plus berbagai kemudahan hidup lainnya. Soal apakah itu menandakan pemiliknya menguasai suatu bidang ilmu yang dikaitkan dengan gelar itu atau tidak, agaknya, hal itu, kini menjadi tidak penting lagi.
Menghadapi zaman yang serba artifisial ini, apa boleh buat, pupur dan gincu dianggap lebih penting ketimbang segala yang substansial. Everything is money, bahkan untuk sebuah gelar akademik, kehormatan, dan bahkan harga diri. Hal ini juga semakin menohok kita dengan serangkaian pertanyaan tentang apa sih guna bersekolah? Tanpa bermaksud menafikan pendidikan formal, di sini aku hanya ingin melihat dari suatu sudut pandang filosofi dan esensial. Bahwa sekolah akan menjadi sangat berbahaya jika itu hanya dijadikan sebagai suatu sarana formalitas yang mengaburkan esensi dari sebuah pendidikan itu sendiri.
Yang harus ditekankan di sini ialah, terselenggaranya proses pendidikan yang mampu memberikan pencerahan dalam arti luas, baik itu lewat literasi, otodidak via internet, atau bahkan melibatkan diri secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Kedepan, harapannya, melalui sebuah proses pendidikan yang substansial itu, dapat dihasilkan sumber daya manusia yang memang berkemampuan dan berkarakter kuat, orisinal, serta tangguh guna menghadapi dinamika dunia yang serba cepat, sehingga, mereka semua akan memiliki potensi untuk dapat menebar manfaat bagi sesamanya dan berinvestasi bagi generasi setelahnya. Ketika esensi ini dipahami, kita tidak akan cukup jika harus cerdas sendirian, namun juga akan terpicu untuk turut mencerdaskan masyarakat. Tidak turut andil dalam melebarkan jurang kesenjangan dengan menjadi penjajah masyarakat, tapi justru menjadi pusat rujukan bagi mereka para pencari jawaban kehidupan. Semoga apa yang kau harap lewat kepergianmu ini tercapai dan membawa keberkahan.
**

Meja Kerja, pukul 16.07 WIB.

Lagi-lagi, terdengar derap langkah yang perlahan menjauh, tiada henti, silih berganti. Dinding yang lusuh ini agaknya bukan benar-benar dinding yang bisa menahanmu, juga kalian. Dia sekedar batasan ruang yang bersifat fana. Bianglala di ujung jendela kini terlihat samar. Sesekali ia tampak, sesekali lenyap. Yang nyata hanyalah waktu, waktu yang disampaikan oleh jam dinding di sebrang meja kerjaku.
            Yang ku tau, sekarang masih sekitar pukul 16, masih sore, dan kita masih hidup di bawah langit yang sama. Setidaknya, Tuhan telah memberkatiku dengan pertemuan kita, begitu pun dirimu mungkin akan memberikan kejutan yang lain melalui perpisahan ini. Hmm, benar katamu, kini aku bisa sepenuhnya menyepakati, bahwa ‘No matter how badly the bond between us might end, know that i will never forget you or the memories we made’. Tuhan, terima kasih!!!
            **
            Bagi seorang penikmat pasar malam, kehadiran bianglala merupakan anugerah terindah. Ketika hadirnya tak lagi ada, agaknya pasar malam tak lagi sempurna. Sebenarnya, masih terdapat banyak sekali pertanyaan yang menggelayuti pikiranku dan ingin ku tanyakan padamu: tentang kelokan kali brantas yang membentang dari kanjuruhan ke jenggala; tentang aroma sedap kopi arabica dan tembakau madura, tentang rapalan doa agar awan sudi untuk tak menangis, tentang tulisan yang membuat kita utuh, tentang mimpi-mimpi dan berbagai percobaan meraihnya, tentang bagaimana bersikap ketika kita berada pada situasi hectic dan pathetic di waktu yang bersamaan, juga tentang memandang kehidupan.
            Bagaimanapun, pasar malam ini memberiku kesempatan untuk mengenalmu, lebih jauh dan lebih baik lagi. Kedepan, bila Tuhan (kembali) memberiku kesempatan yang demikian berharga, aku rela melakukannya. Hmm mungkin boleh untuk ribuan kali, bersamamu, juga badut-badut yang lain. Sungguh.
            Terima kasih! Hanya ini, akhirnya, yang dapat kusampaikan, itu pun melalui tulisan ini. Tapi yakinlah, ucapan ini tulus kok, aku menjamin bahwa tidak ada hasrat ingin memuji atau hal-hal mulia lainnya yang menghendaki balasan dari pujian itu. Walau kata Killua Zoldyck, ‘berterima kasih terhadap sahabat itu tidak keren’, tapi terima kasih tetaplah penting, dan, hari ini, mungkin juga untuk hari-hari setelahnya, aku merasakan betapa terima kasih itu memang diperlukan. Sangat, malah.
            Ku harap, perpisahan ini akan diselimuti oleh kebahagiaan. Tanpa ada mata yang berkaca-kaca, tangis yang ditahan, dan hal-hal menyedihkan lainnya. Rasanya, kalaupun harus menangis, mungkin akan kulakukan di dalam hati saja deh hehehe.
            Selepas ini, aku dan beberapa badut yang tetap tinggal akan kembali meramaikan pasar malam yang kau tinggalkan, kami tetap harus berpesta di sini kan? ada atau pun tiada dirimu. Sedangkan bagimu, pun akan memulai langkah baru, di pasar malam yang lain, bersama badut-badut lain, memasuki ruang mimpi yang lain, menyaksikan bianglala lain berputar, malam demi malam. Begitulah barangkali hehe.
            Walau akan menjadi paradoks, tapi, ku harap dirimu akan menjadi badut yang tidak terlalu sibuk ‘ngurusin’ orang lain, hingga lupa akan tugasmu sendiri. Kamu musti sadar bahwa dirimu juga memiliki pasar malammu sendiri. Semoga, selepas kepergianmu, kamu bisa menghibur, tidak hanya pengunjung yang datang, tapi juga Tuan dan dirimu sendiri.
**
Pesanku; melengkapi diskusi kita malam itu. Bumi ini adalah sajadah, tempat para hamba, termasuk badut-badut seperti kita untuk bersujud. Mau di Surabaya, ataupun di Salaya, semua sama saja. Semoga kamu tetap diberikan rezeki berupa kehidupan yang benar, yang jauh dari kefasikan dan kemungkaran, yang kesemuanya itu dapat diilhami dari setiap gerakan sholat, yang mana sebenarnya perintah sholat itu sendiri timbul dari ‘bahasa nurani’, yang kemudian dimanifestasikan menjadi beberapa simbol dan gerakan-gerakan lahiriah. Sehingga, didapatkan sebuah kerangka konsep; dari batin menuju lahir.
Berdiri; maknanya adalah, kita musti teguh dan tegak terhadap setiap pendirian, kokoh dan kuat terhadap sebuah keyakinan, adil, tidak miring sebelah, dan jujur apa adanya. Hendaknya, seperti itulah kita hidup. Ketika kelak kita berpindah pasar malam, jangan hanya karena itu musuh atau bukan dari golongan kita, lalu kita bersikap tidak adil, jangan hanya karena orang itu kita benci lalu kita bersikap tidak jujur.
Rukuk; maknanya tawadhu' rendah hati dan tidak bersikap sombong, congkak apalagi merasa lebih dari orang lain.
Sujud; artinya tunduk dan patuh, yaitu tunduk dan patuh terhadap segala syariatNya dan ridho terhadap segala qodo’ dan qadarNya.
Duduk; bermakna sabar, bahwa dalam kehidupan ini akan selalu terdapat banyak ujian dan rintangan. Sebagai seorang badut yang baik, ku harap dirimu mampu untuk menekuni kesabaran, qona'ah, dan menerima setiap ketetapanNya dengan ikhlas, sama seperti menyikapi ke-18 percobaanmu sebelum ini, hehehe.
Salam, tengok kanan kiri; bermakna bahwa kita harus peka terhadap lingkungan sekitar kita. Ketika di antara para badut lain itu mungkin ada yang membutuhkan uluran tanganmu, ketika dirimu mampu, maka bantulah mereka. Inget! jadilah lebih peka! Hehehe.
Hakikat sholat ini menjadi penting supaya dirimu tidak sampai pada tataran ‘fawaillul lil mushollin’, celaka karena sekedar memahami syariatnya saja, namun tak mengenal hakikat dari sholat itu sendiri, yang notabene merupakan lakunya hidup ini sendiri, maka dari itu, hakikat sholat yang sesungguhnya adalah bukan sekedar dibatasi antara takbiratul ihram dan salam kita saja, tapi juga bagaimana kita hidup setelah salam itu, keseimbangan vertikal-horizontal itulah yang membuat sholat kita dapat mencegah dari keadaan fasik dan munkar. 
Kita juga musti mengingat bahwa salah satu tujuan mulia dari sholat adalah merendah, merunduk, tidak sekalipun merasa lebih tinggi dari yang lain, ketika diri ini masih menyimpan rasa demdam, iri, hasad, ujub, riya’, atau bahkan sampai memfitnah dan lain semacamnya, maka kiranya ada yang salah dengan sholat kita, mungkin sholat kita baru sampai pada tahap tutorial saja. Jadilah pionir perdamaian, damainya hati di antara inner circle mu, toh, di sana dirimu juga akan jadi bagian dari kaum minoritas. Keseimbangan dan perdamaian dapat terwujud ketika yang mayoritas mengayomi yang minoritas, dan sebaliknya, yang minoritas pun menghormati yang mayoritas. Jadilah cerminan islam yang sebenarnya, yang mampu menjadi rahmat bagi semua J
**

Ahad, 21 Juli 2019 pukul 09.40 WIB.

“Mas, aku kayaknya mau pulang, aku gabisa datang ke (nikahannya) mas robi, Ibuk (Nenekku) meninggal mas”
Sungguh sebuah pesan pendek yang seketika bak guntur di siang bolong. Pukul 09.17 WIB kita masih cekikikan, sejatinya kita akan bertemu sekian menit lagi untuk bersama-sama menghadiri walimatul ‘ursy seorang teman dan dilanjutkan mengantarmu pulang sekaligus bersilaturahmi ke rumahmu di Mojokerto. Tak dinyana, kabar duka itu datang tiba-tiba dan mengubah semuanya. Rencana siang itu berbalik 360o.
Aku mafhum, pada momen-momen sebelum ini, dirimu kerap kali menceritakan bagaimana masa-masa indah bersama nenek. Nenek yang kau panggil ‘Ibuk’ itu adalah salah satu sosok yang paling berperan dalam pembentukan karakter dan kepribadianmu hingga saat ini. Sosok yang sebenarnya akan kau temui esok hari sebelum hijrahmu ke negeri seberang, kini harus kau temui lebih cepat. Sosok yang menjadikanmu senantiasa spesial sebagai salah seorang cucu yang paling Beliau sayangi, kini telah pergi meninggalkan sejuta ‘pitutur’ untuk selalu diteladani.
Sontak aku teringat ungkapanmu beberapa momen silam, bahwa hidup hadir sepaket antara keceriaan dan kesedihan. Yap! Bisa jadi, keduanya hadir sebagai sebuah rangkaian dari qada’ dan qadar-nya yang harus senantiasa kita jalani dan renungi, kita olah dan kita kaji.
Ingatlah Mbak, keterpurukan adalah sebuah keniscayaan bagi setiap kita yang fana. Yang jadi pembeda hanyalah bagaimana kita merenungi hikmah di balik setiap kejadian dan ujian yang kita hadapi, karena sejatinya di situlah puncak keikhlasan. 
Aku tau, aku pun paham bahwa ini tak akan pernah mudah, ujian ini datang di saat yang sulit, saat dimana kau hendak pergi. Namun yang harus terus kau pahami dan sadari, bahwa air hujan yang jernih kerap kali datang dari awan gelap yang menggelayuti. Dirimu, juga kami, tak elok jika terus meratapi. Tempatkanlah diri sebagai seorang saksi, bahwa yang telah diajarkan oleh Nenek adalah bakti terbaiknya kepada Ilahi. Sejauh apapun gelombang menjauh pergi, pada pantai jualah ia kembali, pada pesisir itulah dia kan menepi.

Ila ruha Hj. Sri Purwati, lahal fatihah~

Jumat, 25 Mei 2018

Identitas Diri dan Stigma

'Kita dulu dipertautkan Tuhan dalam keheningan perasaan, lengkap beserta melodi-melodinya, seperti angin yang menyeka mawar~'

Prosa itu saya ungkapkan 4 tahun silam kepada wanita blesteran Jawa-Tionghoa yang kemudian luluh dan berkenan menambatkan hatinya pada saya. Menikah dengan seseorang yang berbeda suku, apalagi keturunan Tionghoa merupakan hal yang cukup tabu di keluarga besar saya, maklum, karena pada dasarnya, keluarga saya berasal dari desa yang notabene kesan eksklusifitas ke-Jawa-annya masih amat kental. Meski demikian, tidak mempengaruhi sedikitpun penerimaan keluarga besar saya terhadap istri, walau di luar sana, stigma dan isu tentang ke-Tionghoa-an tidak banyak berubah. Inilah yang menurut saya aplikasi real dari sebuah konsep adi luhung warisan budaya Nusantara bernama toleransi.

Cina Benteng Wedding by Wikimedia Commons CC BY-SA 3.0

Stigma negatif terkait ke-Tionghoa-an tak bisa dilepaskan dari munculnya Tiongkok sebagai salah satu kekuatan besar dunia. Hal ini membuat banyak orang Indonesia menjadi ketakutan dan cenderung paranoid terhadap apa saja yang berkaitan dengan Tiongkok, khususnya masyarakatnya, yang kini kita kenal dengan masyarakat Tionghoa. Kini, entah siapa yang mengawali, malah ada narasi seakan-akan Tiongkok akan melakukan invasi besar-besaran ke Ibu Pertiwi, yang dapat mengancam kelangsungan hidup kita sebagai warga negara Indonesia secara individual dan sebagai bangsa maupun negara. 

Kalau kita tarik jauh ke belakang, di zaman pergerakan, semua ketakutan (yang tidak jelas) yang kini terjadi, tidak lepas dari sejarah panjang politik identitas yang diberlakukan VOC untuk menjaga agar kaum Jawa dan keturunan Tionghoa tidak bersatu dan menyaingi perdagangan VOC. Kemudian dilanjutkan oleh Orde Baru yang banyak melakukan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa. Selama masa Orde Baru inilah, berbagai stigma dan prasangka terhadap warga keturunan berkembang.

Ada yang bilang, orang Tionghoa itu pelit. Bagi saya, hal itu tidak sepenuhnya benar, buktinya, saya pernah bertemu orang Tionghoa yang memang benar-benar pelit, namun di lain kesempatan, saya juga bertemu orang yang memiliki perangai serupa dari suku dan ras lain. 

Ada yang bilang, orang Tionghoa itu tamak. Bagi saya, hal itu tidak sepenuhnya benar, buktinya, saya pernah kenal orang Tionghoa yang memang benar-benar tamak, namun di lain kesempatan, saya juga bertemu orang yang memiliki perangai serupa dari suku dan ras lain.

Ada yang bilang, orang Tionghoa itu suka memeras. Saya pun pernah mendengar hal serupa, namun saya juga kerap menemui orang yang memiliki perangai sejenis dari suku dan ras lain.

Ada yang bilang, orang Tionghoa tidak suka berbaur. Memang ada orang Tionghoa yang saya kenal yang tidak suka berbaur. Namun saya juga tau bahwa ada orang dari suku dan ras lain yang juga begitu.

Ada lagi yang bilang, bahwa orang Tionghoa itu mata duitan, semuanya kaya. Beberapa dari yang saya kenal memang demikian, tapi ada juga yang begitu dari suku dan ras lain.

Di samping itu semua, saya juga sering berjumpa dengan banyak orang Tionghoa yang sangat penyayang dan murah hati. Mereka suka melakukan kerja sosial kepada kelompok masyarakat mana pun yang kurang beruntung. Saya juga punya sahabat-sahabat dari keturunan Tionghoa yang sangat pendengar, sabar, murah hati, dan senang sekali berbagi apa pun yang mereka punya. Mereka juga orang-orang yang sangat toleran dan menghormati orang lain, termasuk menghormati perbedaan antara mereka dengan saya.

Saya bahagia sekali berkesempatan mengenal banyak orang Tionghoa, dan bahkan bisa menikahi salah seorang dari keturunannya. Sama bahagianya dengan mengenal banyak orang Jawa, orang Dayak, orang Madura, orang Sunda, dan orang-orang dari suku dan ras lain. Juga orang-orang dengan agama yang berbeda dengan saya. Perkenalan dengan banyak orang yang berlatar belakang berbeda ini mengajarkan saya banyak hal, satu yang paling penting adalah

Ke-suku-an dan ras hanya menjelaskan dari mana asal seseorang, tapi tidak menjelaskan apa pun mengenai karakter orang itu. Agama hanya menjelaskan apa yang dia yakini, tetapi sama sekali tidak bisa menjelaskan mengenai bagaimana dirinya sebagai seorang manusia.

Satu-satunya cara untuk dapat benar-benar mengetahui dan memahami mengenai bagaimana ‘way of lifeorang-orang dari suku, ras, dan agama lain adalah dengan membuka diri terhadap mereka. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa di balik semua identitas suku, ras, dan agama, setiap orang adalah sama dengan kita, satu dalam bingkai kemanusiaan. Semuanya saya yakin sama-sama menginginkan agar bisa hidup damai. Sama-sama ingin bekerja dalam rasa aman, sama-sama ingin memberi yang terbaik bagi keluarga, sama-sama ingin bermanfaat bagi orang lain, sama-sama ingin menyayangi dan disayangi, sama-sama ingin menjadi bagian dari masyarakat, dan sama-sama ingin membawa perubahan positif bagi peradaban dunia.

Last but not least, suku, ras, dan agama, bukanlah siapa mereka sesungguhnya. 

Suku, ras, dan agama akan tetap mulia tanpa campur tangan manusia, sedangkan kita akan tetap cidera jika tanpa campur tangan ketiganya. 

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading