Rabu, 14 Oktober 2020

Kebaikan Srikaya bagi Ibu Hamil, Penuh Manfaat

Buah yang satu ini tumbuh cukup subur di Indonesia. Rasanya yang manis menjadi daya pikat bagi para penikmat buah. Bahkan srikaya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Secara spesifik, buah srikaya juga baik dikonsumsi oleh ibu hamil. Apa saja ya manfaatnya. Mari kita simak!


1. Melancarkan Pencernaan
Seperti yang kita ketahui bahwa srikaya mampu mencegah diare. Eits! Tidak hanya itu lho. Bagi ibu hamil, srikaya juga mampu melancarkan pencernaan. Tidak jarang ibu hamil mengalami masalah sembelit, dengan mengkonsumsi srikaya akan mampu membantu memudahkan ibu hamil untuk buang air besar.

2. Baik untuk Perkembangan Janin
Kandungan vitamin A atau karoten dalam buah srikaya mampu membantu proses perkembangan janin di dalam rahim. Beberapa di antaranya yaitu berperan dalam membangun saraf, otak dan sistem kekebalan tubuh pada janin. Selain itu vitamin A sangat penting bagi kesehatan kulit dan mata.


3. Menghindari Mual pada Ibu Hamil
Buah srikaya mengandung vitamin B6 yang dapat mengurangi resiko mual dan muntah pada kehamilan trimester pertama. Tentu saja hal ini dapat membantu para ibu hamil untuk menjalani kehamilan dengan nyaman.

4. Mengatasi nyeri tubuh
Ibu hamil seringkali merasakan pegal dan juga nyeri di beberapa bagian tubuh. Salah satu penyebabnya adalah rasa lelah pada tulang akibat beberapa perubahan siklus hormon pada tubuh. Kandungan kalsium pada srikaya tentu saja dapat membantu ibu hamil untuk memperkuat tulangnya, sehingga nyeri saat kehamilan dapat berkurang.

5. Mengurangi resiko preklamsia
Preklamsia merupakan kondisi yang seringkali terjadi pada kehamilan trimester akhir. Kondisi ini digejalai dengan naiknya tekanan darah pada ibu hamil. Tingginya tekanan darah ini dapat diturunkan dengan mengkonsumsi srikaya, karena kandungan antioksidan yang baik bagi peredaran darah dalam tubuh.

6. Kandungan kalori yang tinggi
Srikaya memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Tingginya kalori ini dapat menjadi sumber energi bagi ibu hamil yang mengkonsumsinya. Cara yang mudah untuk mengembalikan tenaga saat ibu hamil kelelahan.
Kalori yang tinggi dibarengi dengan lemak dan karohidrat pada srikaya, juga mampu mencegah ibu hamil mengalamin anemia. Anemia ini sangat berbahaya lho bagi janin. Ibu hamil harus waspada, ya!

Berikut tadi merupakan manfaat buah srikaya bagi ibu hamil. Semoga bermanfaat ya Mom!

Manfaat Buah Srikaya bagi Kesehatan, Salah Satunya Mencegah Kanker

Buah Srikaya merupakan buah yang berasal dari daerah tropis. Daging buah srikaya yang manis ini sering menarik minat orang untuk melahapnya. Buah yang sering kita temukan di pasaran ini, siapa sangka memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Srikaya memiliki sumber zat besi dan energi yang baik bagi tubuh. Tidak hanya buahnya, bahkan daun, batang, dan juga biji srikaya memiliki manfaat yang sama baiknya.


Berikut ini merupakan manfaat Buah Srikaya bagi kesehatan tubuh.

1. Menghindari gangguan sistem pencernaan
Buah srikaya mengandung antioksidan dan karbohidrat kompleks yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri baik di dalam usus. Sehingga Srikaya sangat direkomendasikan untuk menjaga tubuh dari gangguan sistem pencernaan, seperti diare.

2. Menjaga daya tahan tubuh
Mengkonsumsi srikaya dapat membuat tubuh kita menjadi lebih sehat dan tahan dalam melawan berbagai penyakit. Sebabnya buah berkulit hijau ini kaya akan kandungan vitamin C dan antioksidan.

3. Mengurangi risiko kanker
Pada dasarnya antioksidan sangat ampuh dalam menghindari risiko kanker. Karena zat antioksidan akan melawan radikal bebas penyebab kanker yang ada di dalam tubuh. Kandungan antioksidan di dalam srikaya dapat mengurangi risiko terkena kanker.

4. Mencegah hipertensi dan penyakit kardiovaskular
Srikaya memiliki kandungan kalium, magnesium, antioksidan, dan juga serat yang tinggi. Kandungan zat tersebut terbukti mampu mencegah tekanan darah tinggi. Karena tekanan darah tinggi bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), maka mengkonsumsi srikaya dipercaya mampu mengurangi risiko penyakit tersebut.

5. Menjaga kestabilan gula darah
Terdapat studi yang menyebut bahwa ekstrak daun srikaya mampu menjaga kadar gula darah agar tetap stabil dan juga sekaligus menurunkan dosis insulin. Indeks glikemik yang dimiliki srikaya juga berada di taraf sedang. Sehingga meskipun buah ini manis, buah ini tetap aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.

6. Memusnahkan ketombe dan kutu rambut
Tidak hanya buah dan daunnya, biji srikaya pun juga dipercaya memiliki manfaat yang tidak kalah baiknya. Biji srikaya disebut mampu mengatasi masalah ketombe dan kutu rambut. Pengaplikasiannya dilakukan dengan mencampurkan ekstrak biji srikaya dengan minyak kelapa, kemudian dioleskan ke permukaan rambut. Namun dalam mengaplikasikan ini, perlu kehati-hatian agar larutan tersebut tidak mengenai mata. Karena akibatnya dapat membuat peradangan pada kornea mata, atau disebut juga dengan keratitis.

Itu tadi adalah sebagian manfaat baik dari buah srikaya. Namun dalam mengkonsumsinya harus berhati-hati, ya, guys. Karena tanaman srikaya juga mengandung racun yang disebut annonain. Jumlah annonain terbanyak terdapat pada biji dan juga kulitnya. Sehingga tidak disarankan untuk memakan biji dan kulit srikaya. Beberapa penelitian menunjukkan zat tersebut dapat menjadi salah satu penyebab Parkinson.

Kurban sebagai Momentum Kebangkitan

Hari raya Idul Adha telah kita songsong bersama. Setelah shalat Ied, hingga tiga hari berikutnya, umat Islam yang memiliki kecukupan finansial dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban, baik berupa unta, sapi maupun domba.

Syariat ini merujuk pada puncak kepatuhan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Melalui sebuah mimpi, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra kesayangan yang telah lama ia nantikan kehadirannya. Mimpi yang datangnya berulang kali itu, ia yakini sebagai sebuah firman yang harus dilaksanakan segera. 

Dari riwayat inilah, terdapat sebuah esensi bahwa berkurban sebenarnya adalah bentuk dari pemenuhan salah satu perintah syariat (Allah). Esensi tersebut juga termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 1-3 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” Ayat tersebut kemudian dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Barang siapa yang memperoleh kelapangan, namun ia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.”

Namun, melihat situasi bangsa kita yang sedang dihadapkan pada kondisi yang memprihatinkan, di tengah semakin bertambahnya masyarakat yang sengsara sebagai dampak pandemi virus korona, perlu kiranya memaknai ibadah kurban sebagai momentum kebangkitan atas carut marutnya keadaan sosial-ekonomi bangsa saat ini. Di samping, sebagai upaya revitalisasi terhadap kadar keimanan dan ketakwaan kita dalam melaksanakan perintah Tuhan Yang Maha kuasa.

Masalahnya kini, apakah proses ritual-formal ibadah kurban, termasuk penyembelihan hewan benar-benar membuka kesadaran sosial masyarakat kita? Atau, hanya sekadar dimaknai sebagai sebuah proses pendistribusian daging, lalu kemudian lenyap tak bermakna, sehingga tidak dapat menjadi solusi atas situasi bangsa yang sedang papa?

Oleh sebab itu, re-interpretasi terhadap ibadah kurban harus meliputi faktor-faktor yang dapat menunjang terjadinya kesadaran masyarakat. Dalam Islam, makna suatu ibadah tidak bisa dilepaskan, setidaknya dari dua hal, yaitu aspek vertikal (hablun min Allah) dan aspek horizontal (hablun min al-nas). Kedua aspek ini tidak bisa dilihat secara parsial, namun harus dipandang secara integral, utuh, dan komprehensif, tak terkecuali dalam ibadah kurban.

Aspek vertikal (hablun min Allah) ibadah kurban adalah bahwa semangat kurban merupakan salah satu syariat yang bertujuan menguji keimanan dan tingkat kecintaan seorang hamba kepada penciptanya. Apakah harta dan segala yang ia miliki memalingkan dirinya dari Allah SWT. Meski sebenarnya, cinta kepada harta maupun sanak famili merupakan fitrah manusia, tetapi seharusnya, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi prioritas di atas segalanya.

Aspek ini, paling tidak, menunjukkan bahwa ketika seorang manusia berkurban, maka ia telah memenuhi sebagian dari sabda Tuhannya. Begitu juga sebaliknya, ketika dia tidak melaksanakannya, maka ketaatan dan kecintaannya terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya dianggap kurang optimal.

Sejarah mencatat, bahwa banyak dari sahabat Nabi yang tetap melaksanakan ibadah kurban walau secara finansial mereka dalam keadaan serba kekurangan. Hal itu merupakan sebuah bukti kecintaan (mahabbah) mereka kepada Allah dan Rasul-Nya yang begitu menggebu, sehingga mampu mengalahkan kecintaan mereka terhadap dirinya sendiri.

zaini abdullah from kuantan,pahang, Malaysia / CC BY

Kedua, aspek horizontal yakni perintah Tuhan kepada umat Islam yang mampu, agar mendistribusikan dagingnya kepada mereka yang membutuhkan. Perintah ini sekaligus menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu memiliki semangat (ghiroh) untuk senantiasa berusaha membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan yang diberikan pun tidak selalu harus berupa materi, melainkan bisa juga dengan apa pun yang dapat kita sumbangkan demi penyelesaian problematika sosial. Misalnya, sumbangan pikiran, motivasi, tenaga, dan lain sebagainya.

Melalui aspek kedua ini, secara otomatis, orang yang setiap tahun melaksanakan kurban, secara hakikat belum dapat disebut ‘berkurban’ jika dalam dirinya belum tertanam semangat untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebaliknya, meskipun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kurban, tetapi selama dalam dirinya telah terpatri semangat untuk selalu berusaha meringankan beban penderitaan orang lain, mereka inilah (yang secara substansial) layak disebut sebagai pengurban sejati.

Imam Ghazali pun pernah menyiratkan hal ini dalam masterpiecenya, Ihya al-Ilmu ad-Din, bahwa penyembelihan hewan kurban tidak lain merupakan sebuah entitas penyembelihan sifat kehewanan manusia. Oleh sebab itu, kurban semestinya dapat mempertajam kepekaan dan tanggung jawab sosial (social responsibility) kita. Dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk berkurban, diharapkan timbul rasa persaudaraan di kalangan masyarakat.

Karenanya, panggilan berkurban hendaklah disikapi secara multidimensi dan penuh sinkronisasi antara kedua aspeknya, baik secara vertikal maupun horizontal. Memaknainya hanya dengan satu aspek saja, dapat menimbulkan ketertimpangan kondisi antara moralitas dan sosialnya.

Memaknai ibadah kurban semacam ini, merupakan sebuah keniscayaan bagi kita yang sedang berada di titik nadir dan masih bergelut dengan korona, dengan harapan, masyarakat dapat menyadari pentingnya saling berbagi, membantu dan saling meringankan kegetiran sesama anak bangsa.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading