Kamis, 26 November 2020

Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)


Student Team Achievement Division (STAD) dikembangkan oleh Robert Slavin, dkk. STAD dapat disebut sebagai metode yang paling sederhana dalam model pembelajaran kooperatif. Metode ini dapat dijadikan permulaan saat seorang pendidik mulai memutuskan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Tahapan STAD

Dalam metode ini, pendidik dapat membagi kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-6 orang. Anggota kelompok harus heterogen berdasarkan tingkat kemampuan akademik yang didapatkan dari skor awal individu. Juga heterogen berdasarkan jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sifat. Dalam satu kelompok setidaknya ada individu yang pandai, rata-rata, dan kurang pandai, laki-laki dan perempuan, individu yang pendiam dan terbuka, individu dari suku A dan suku B, begitu seterusnya.

Pendidik kemudian memberikan atau menjelaskan materi kepada setiap kelompok sebagai pendahuluan agar individu dalam setiap kelompok memahami hal apa saja yang harus mereka pelajari. Pendidik juga memberikan pandangan atau contoh permasalahan kepada kelompok agar mereka dapat mengembangkan konsep dari materi tersebut. Pengembangan ini juga dapat dilakukan dengan memberikan soal-soal dan mempersilahkan individu secara acak untuk menjawab persoalan tersebut.

Kegiatan berkelompok dalam metode STAD dimulai ketika guru memberikan lembar kerja siswa yang berisikan materi dan permasalahan pada setiap kelompok. Kelompok yang bertugas secara kooperatif mendiskusikan penyelesaian berdasarkan materi yang telah mereka pahami.

Peran pendidik hanya sampai memberikan perintah serta memberikan bantuan dengan mengulang konsep dan menjawab apabila kelompok memiliki pertanyaan.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Setelah kegiatan pemberian materi oleh pendidik dan diskusi oleh masing-masing kelompok, pendidik memberikan tes secara individual. Anggota di dalam kelompok masing-masing diberikan pertanyaan dan tidak berhak mendapatkan bantuan dari anggota lainnya.

Pendidik memberikan nilai secara individual berdasarkan jawaban yang diberikan. Kemudian nilai individu diakumulasikan untuk disumbangkan sebagai nilai kelompok. Semakin tinggi nilai setiap individu, maka akan menambah kontribusinya dalam nilai kelompok. Berdasarkan pencapaian masing-masing anggota inilah, suatu kelompok mendapatkan penghargaan.

Pendidik dapat melakukan rotasi kelompok setelah satu periode penilaian dengan pertimbangan skor baru yang didapatkan masing-masing individu.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Keunggulan STAD

Dalam metode ini setiap individu dituntut untuk memberikan kontribusi kepada kelompoknya agar dapat mencapai tujuan bersama. Setiap individu akan merasa bertanggung jawab untuk memahami materi dan persoalan yang disajikan dalam kelompok, sekaligus juga bertanggung jawab atas temannya agar tidak memberikan kontribusi yang buruk dalam kelompok dengan memberikan motivasi dan membantu dalam menguasai materi.

Metode ini juga cukup mudah diterapkan pada setiap tingkat pendidikan. Seringkali diterapkan pada pelajaran-pelajaran ilmu pasti seperti sains dan matematika. Rentang periode penilaian yang memungkinkan untuk rotasi kelompok, menjadikan distribusi bantuan terhadap individu-individu yang memiliki pemahaman kurang menjadi lebih merata.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)


Rabu, 25 November 2020

Pergeseran Nilai Seorang Guru


Sepanjang kehidupan kita, terlepas dari apa pun profesi dan status sosial kita saat ini, kita pasti pernah mendapatkan gemblengan dan sentuhan ‘magis’ seorang guru. Guru tak selalu mereka yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah institusi pendidikan tertentu, hakikatnya, siapa pun yang telah dengan ikhlas mengajarkan satu ilmu pada kita, maka dialah guru yang patut kita muliakan. Itulah satu realitas sosial yang tak mungkin dinafikan sepanjang sejarah peradaban manusia. Maka dari itu, peran guru dalam kehidupan ini menjadi satu hal yang esensial. Oleh sebab itu, dalam hal ini guru berperan sebagai mesin pencetak sekaligus motor keilmuan, tindak-tanduk, hingga tatanan peradaban yang ke depan mampu menjaga kesinambungan antargenerasi. Sebagai sebuah sosok yang mulia, guru tak hanya mentransformasikan ilmu kepada seorang siswa, namun lebih jauh dari itu, ikut berperan dalam membentuk manusia yang mampu memanusiakan manusia. Bahkan, dalam tradisi sufistik, orisinalitas dan keabsahan sang guru (mursyid), sangat ditentukan kepada siapa dia berguru (sanad keilmuan). Hal ini semata-mata untuk memastikan kemurnian dan kesahihan amaliah yang diajarkannya. 

Secara etimologi, guru berasal dari bahasa Sanskerta dan terdiri atas dua kata, yaitu gu (kegelapan) dan ru (menghilangkan). Karenanya, peran substansi seorang guru ialah memberikan pencerahan kepada seorang siswa, ‘minadzulumati ilannuur’, mengantarkan para pencari ilmu dari keadaan yang penuh dengan ‘kegelapan’ (jahiliah) menuju suatu titik pencerahan. Jahiliah di sini tak hanya dapat dimaknai sebagai sebuah kondisi ketidaktahuan dari aspek saintifik, namun juga meliputi aspek-aspek moralitas yang jauh dari normal sosial. Mengingat peran mulianya, dalam tradisi pesantren, menghormati guru sama pentingnya dengan memuliakan ilmu (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya).

Namun, seiring berjalannya waktu, kita pun tak dapat memungkiri bahwa telah terjadi pergeseran nilai atas sosok dan profil seorang guru. Problematika seputar guru sesungguhnya telah menjadi problem nasional yang berkepanjangan, sebut saja masalah kesejahteraan yang tak sebanding dengan beban yang harus dipikul, hingga yang paling baru adalah tentang profesionalisme guru yang terus diperdebatkan.

Jika ditarik ke belakang, kita pun akan menemukan salah satu akar permasalahan yang kini santer dipersoalkan, sebagai obyek regulasi, guru telah ‘dikorbankan’. Potret guru entah sengaja atau tidak, telah tercetak buram, kemudian dibingkai dengan citra sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Gelar inilah yang kemudian membuat sosok guru dan masyarakat secara umum menjadi ternina bobokkan, sehingga banyak dari kita memahami bahwa guru tak lain hanya merupakan profesi yang ‘nrimo ing pandum’, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Guru digambarkan menjadi sosok yang siap menderita, legowo, menerima apa pun kebijakan yang diproduksi oleh pemerintah, sederhana, tanpa pamrih, dan hal-hal ‘utopis’ lainnya. Image inilah yang sesungguhnya harus segera diluruskan. Guru, betapa pun mulianya, adalah tetap seorang guru, dan pahlawan tetaplah pahlawan. Keduanya kendati serupa, namun tetap tak sama.

Gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang melekat pada profesi guru itulah yang menyebabkan guru menjadi terhegemoni dalam bingkai kegagahan yang sesungguhnya juga memiliki sisi ke-tak berdayaan. Profesi guru seolah terkungkung dalam prosa indah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Sehingga, guru kian tergambarkan sebagai seorang resi, yang sehari-hari tak lagi memikirkan materi dan harta duniawi, lebih jauh, muncul stigma bahwa guru tak pantas untuk sekedar hidup cukup.

Sekali lagi, guru bukanlah resi dalam cerita pewayangan, yang tugasnya hanya mencetak para ksatria agar senantiasa membela kebenaran, tanpa memperdulikan kebutuhan hidupnya. Sesungguhnya yang harus dipahami, guru di Republik ini adalah sosok nyata yang hidup berdampingan dengan kita sebagai warga negara. Guru adalah guru, ia bukanlah resi. Guru di Republik ini adalah guru yang masih menginginkan terpenuhinya kebutuhan hidup di samping tentu keinginan mencerdaskan anak didiknya. Maka, sudah saatnya bangsa dan masyarakat Indonesia menempatkan guru dalam deretan profesi yang terhormat lainnya. Sehingga, guru dihargai karena profesinya sebagai guru, sebagaimana kita menghormati dan menghargai profesi-profesi lainnya secara profesional. 

Guru adalah guru, profesionalisme guru semestinya ditempatkan pada ukuran bagaimana ia mencerdaskan anak didiknya. Oleh sebab itu, sudah saatnya guru memiliki wibawa secara ekonomi, politik, sosial budaya, dan intelektual di hadapan masyarakat. Wibawa yang dimiliki oleh guru, akan menempatkan sosok guru sebagai sosok yang dinilai, dihargai, dan dihormati secara profesional. Bukan karena iba, kesederhanaan, atau bahkan karena gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang melekat padanya.

Dengan terbebasnya guru dari predikat-predikat semu di atas, diharapkan suatu saat akan muncul ‘Ki Hadjar Dewantara’ baru yang benar-benar menjadi pahlawan, yang mencurahkan hidupnya untuk mengabdi demi kemaslahatan peradaban dan dunia pendidikan. Dirgahayu, Bapak-Ibu Guru Republik Indonesia!

Minggu, 22 November 2020

Eksperimen : Telur, Air Putih dan Air Garam

Egg experiment by Science Photo Library NDLA.no CC BY-NC-SA-4.0

Hai semuanya. Kali ini kami akan menulis mengenai ekspeimen telur dengan air garam. Normalnya, saat dimasukkan ke dalam air, telur akan tenggelam. Namun kali ini mari kita coba melakukan eksperimen dengan memasukkan telur ke dalam air yang telah dicampuri garam dan air putih biasa. Bagaimanakah hasilnya. Mari ikuti instruksi berikut.

 Instruksi:

  1. Pertama-tama siapkan satu butir telur, gelas, air, dan juga garam
  2. Tuangkan air ke dalam gelas hingga mencapai setengah volume gelas.
  3. Masukkan 6 sendok makan garam ke dalam gelas, lalu aduk hingga larut.
  4. Tahap selanjutnya, tuangkan ke dalam gelas, air putih yang belum tercampur garam. Tuangkan secara hati-hati dan perlahan agar air putih tidak bercampur dengan air garam. Lakukan sampai gelas hampir penuh.
  5. Masukkan telur ke dalam gelas, dan perhatikan apa yang terjadi terhadap telur itu.

Penjelasan:

Dalam eksperimen ini, jika kamu berhasil, kamu akan melihat telurmu mengapung di dalam gelas. Hal ini disebabkan karena air yang mengandung garam lebih padat daripada air putih biasa. Semakin padat air, maka benda akan semakin mudah mengapung, apalagi jika masa jenisnya lebih kecil. Ketika kamu memasukkan telur ke dalam gelas tersebut, telur akan masuk ke dalam air, namun tidak sampai tenggelam di bawah. Telur akan mengapung tepat di atas air garam yang ada di bawah air biasa. Namun jika ketika kamu menuangkan air biasa kurang berhati-hati, maka kemungkinan air akan tercampur dengan air garam. Hal ini akan menyebabkan telur mengapung lebih tinggi, dan tidak di tengah-tengah gelas.

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading