Kamis, 10 Desember 2020

Teori Belajar Behaviorisme


Manusia terus belajar sepanjang hidupnya. Hampir semua pengetahuan, sikap, keterampilan, dan perilaku manusia dibentuk, diubah, dan berkembang melalui kegiatan belajar. Kegiatan belajar juga dapat terjadi kapan saja, dan di mana saja. Belajar merupakan suatu kegiatan berproses karena tidak terjadi secara instan, misalnya disebabkan oleh perkembangan (tumbuh lebih tinggi). Definisi lain belajar adalah perubahan pada individu disebabkan oleh pengalaman (lihat Mazur, 1990). Proses pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Salah satu pendekatannya adalah pendekatan behavioral.

Dalam sebuah pembelajaran, pendekatan behaviorisme menekankan pada aspek-aspek yang dapat diamati. Menurut teori behavorisme, belajar merupakan perubahan dari tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dan seseorang dapat dikatakan belajar apabila dia mampu menunjukkan peubahan dalam betingkah laku.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Contoh dari perubahan perilaku dalam belajar salah satunya adalah, ketika seorang anak pertama kalinya naik escalator di mall biasanya akan mengalami rasa takut. Namun ketika sudah dicoba beberapa kali, rasa takut itu akan hilang dan anak menjadi terbiasa. Perubahan perilaku “takut” menjadi “terbiasa” adalah suatu perwujudan dari belajar. Anak mempelajari bahwa menaiki escalator sebenarnya tidak menakutkan. Pendekatan behaviorisme dalam pembelajaran menjelaskan bahwa hanya perilaku yang dapat diamati saja yang dapat diuku secara langsung.

Dalam mempelajari teori behaviorisme, perlu dipahami bahwa munculnya atau berubahnya sebuah perilaku dipengaruhi oleh suatu kondisi. Apabila kondisi tersebut menyenangkan, maka disebut sebagai reinforcement. Namun apabila kondisi tersebut tidak menyenangkan, maka disebut sebagai punishment.

Reinforcement

Reinforcement merupakan stimulus yang diberikan untuk meningkatkan kemungkinan seseorang memunculkan perilaku tertentu. Dalam mencapai tujuan ini, reinforcement diberikan dalam dua bentuk, yaitu reinforcement positif dan negatif. Reinforcement positif dimunculkan dengan cara memberikan stimulus menyenangkan, sehingga dapat memperkuat dan meningkatkan frekuensi suatu perilaku. Sedangkan reinforcement negatif adalah dengan mengurangi atau menghilangkan stimulus tidak menyenangkan untuk meningkatkan atau memperkuat suatu perilaku.

Reinforcement juga dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pemenuhan kebutuhannya, yaitu primary reinforcement dan secondary reinforcement. Primary reinforcement merupakan stimulus yang berupa pemenuhan kebutuhan biologis, seperti makan, minum, dan tidur. Sedangkan secondary reinforcement adalah stimulus yang bukan pemenuhan kebutuhan biologis dan sifatnya harus dipelajari karena setiap individu memiliki kebutuhannya masing-masing, seperti uang, pujian, nilai, dan lain-lain.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Punishment

Punishment merupakan stimulus yang tidak menyenangkan. Stimulus ini diberikan untuk menurunkan kemungkinan munculnya suatu perilaku yang tidak diinginkan. Terdapat dua jenis punishment yang dapat digunakan untuk mengurangi suatu perilaku, yaitu presentation punishment dan removal punishment. Presentation punishment yaitu mengurangi perilaku tertentu dengan memberikan stimulus yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan bagi objek. Sedangkan removal punishment adalah dengan mengurangi atau menghilangkan stimulus yang menyenangkan.

Extinction

Extinction atau pelenyapan merupakan sebuah proses hilangnya perilaku atau respons. Suatu perilaku yang telah mengalami penguatan tidak lagi diberi stimulus dalam periode tertentu. Oleh karenanya, mengakibatkan perilaku tersebut berhenti muncul.

Karakteristik dari proses extinction yaitu suatu perilaku mengalami peningkatan dari segi intensitas, frekuensi, dan durasi, namun tiba-tiba berkurang hingga menghilang, atau tidak muncul sama sekali. Peningkatan perilaku selama proses extinction ini disebut dengan extinction burst.

Shaping

Shaping merupakan pembentukan suatu perilaku yang benar-benar baru atau yang tidak pernah dilakukan oleh individu, dengan memberikan reinforcement berturut-turut dalam proses kemunculan perilaku baru tersebut. Misalnya, saat orang tua mengajari anak untuk mengatakan “Mama”. Pada mulanya anak akan mencoba belajar dengan mengucap, “mmm, mmm, mmm”. Ini merupakan respon awal anak saat belajar mengucapkan mama. Kemudian sering berkembangnya kemampuan anak dalam merespon stimulus, maka anak mulai bisa menyebutkan kata “mama” dengan benar.

Baca juga: Pengertian Teori Belajar Konstruktivis

Maintenance

Agar tidak terjadi extinction, maka diperlukan upaya untuk menjaga perilaku yang telah terbentuk tersebut. Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan reinforcement terjadwal untuk beberapa waktu, hingga kemudian perilaku tersebut dapat muncul sendiri meskipun tanpa reinforcement.

Jadwal Reinforcement

Jadwal Reinforcement disebut juga sebagai jadwal penguatan. Berikut ini merupakan jadwal penguatan yang dapat diterapkan dalam membentuk perilaku seseorang agar tidak mengalami extinction:

  • Fixed Ratio: Diberikan teratur setiap sejumlah respon tertentu.
  • Variable Ratio: Diberikan setiap sejumlah respon yang tidak tetap.
  • Fixed Interval: Diberikan teratur setiap kurun waktu tertentu.
  • Variable Interval: Diberikan setiap kurun waktu yang acak.
Beberapa Tokoh yang mengemukakan teori belajar dengan konsep behaviorisme adalah:

Selasa, 08 Desember 2020

Metode Pembelajaran Jigsaw

Jigsaw merupakan salah satu teknik dalam pembelajaran kooperatif. Dalam metode ini setiap individu memiliki tanggung jawab yang besar dalam proses belajar mereka. Mereka diharapkan aktif dan terampil dalam kelompok agar dapat mengembangkan pemahaman terhadap informasi yang diterima. Setiap individu dalam kelompok jigsaw tidak hanya berusaha untuk memahami penjelasan materi, tetapi juga dituntut untuk bisa menjelaskan meteri yang dia pelajari kepada setiap anggota di dalam kelompoknya.

Baca Juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Balajar Kelompok)

Langkah-langkah dalam melakukan pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw adalah:

  1. Membentuk kelompok awal yang anggotanya sejumlah materi-materi yang akan dipelajari, dan setiap anggotanya diberikan amanah untuk menjadi staf ahli dalam materi tertentu. Misalnya, dalam satu proses belajar mengajar, akan ada 5 materi yang dipelajari, maka jumlah anggota grup awal adalah 5 orang,
  2. Membentuk kelompok staf ahli. Kelompok staf ahli beranggotakan individu yang telah diberi amanah sesuai materinya,
  3. Kelompok staf ahli berkumpul untuk mempelajari materi tertentu, mendiskusikan, dan memahaminya bersama-sama,
  4. Setiap anggota staf ahli kembali ke kelompok asalnya masing-masing,
  5. Setiap anggota staf ahli menjelaskan materi yang dipelajarinya dari kelompok staf ahli kepada setiap anggota di kelompok asal.
  6. Sebagai evaluasi, pendidik memberikan kuis atau rangkaian pertanyaan untuk diselesaikan secara kelompok maupun individu.

Untuk mempermudah pemahaman terhadap langkah-langkah tersebut, maka berikut telah kami buatkan ilustrasinya.

 

Metode Pembelajaran Jigsaw (Ilustrasi:Rere)

Dalam melaksanakan metode jigsaw, pendidik hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, agar setiap anggota staf ahli dapat menguasai materi dan menjelaskannya kembali kepada anggota kelompok asalnya.

Baca Juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Balajar Kelompok)

Kekurangan dalam penerapan metode ini adalah lamanya proses pembelajaran karena tidak semua individu dapat memahami instruksi jigsaw. Semakin banyak individu, materi, atau kelompok yang terlibat, maka penerapan jigsaw akan semakin rumit.

Namun ada beberapa kelebihan dalam menjalankan metode ini yaitu, melatih kepercayaan diri individu karena telah dipercaya untuk memahami suatu materi dan menjelaskannya kepada kelompoknya. Selain itu, apabila metode pembelajaran jigsaw dapat berjalan sesuai instruksi, maka hal ini dapat mempermudah pendidik dalam proses mengajar. Adanya staf ahli dalam setiap kelompok, dapat membuat setiap individu menghargai sesamanya.

Selasa, 01 Desember 2020

Terorisme dan Jihad sebagai Diskursus Publik


Belakangan ini, fenomena terorisme kembali menyedot perhatian khalayak Indonesia. Meski atensi sebagian publik tetap tertuju pada kasus-kasus terkait pandemi serta ajakan jihad melalui perubahan lafadz adzan yang viral di sosial media, tampaknya, fenomena terorisme tetap menjadi diskursus utama di Republik ini.

Hal ini dipicu oleh serangkaian teror yang diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora cs. pada Jumat (27/11) sekitar pukul 10.00 Wita di sebuah Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tak hanya membunuh satu keluarga, Ali Kalora cs juga membakar sejumlah rumah dan mengambil barang-barang warga.

MIT sendiri merupakan salah satu kelompok militan di Indonesia. Kelompok ini menjadi otak dari banyak aksi teror di Sulawesi Tengah. MIT yang bermarkas di Poso juga sering disebut sebagai corong organisasi gerilyawan Islam Irak-Suriah (ISIS). Munculnya ISIS tak bisa dipisahkan dari runyamnya konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya kawasan Irak dan Suriah. Fenomena ini kemudian seiring waktu merambah dan mendapat banyak pengikut di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan negara kita bersama Filipina pernah mendapat julukan sebagai the forefront of al-Qaeda in the Southeast Asia

ISIS sebagai sebuah gerakan lebih tepat dikatakan sebagai neo-Khawarij yang menganggap pemahaman di luar mereka adalah salah. Kelompok Khawarij inilah yang pada zaman salaf menunjukkan sikap pembangkangan pada khalifah Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah (kw) dan pada akhirnya menginisiasi pembunuhan Sayyidina Ali kw dan bahkan para pemimpin Islam lainnya. Pada banyak hal, neo-Khawarij ini kemudian identik dengan kelompok al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden.

Fenomena Jihad dalam Tataran Global
ISIS bagi sebagian orang merupakan sebuah daya tarik, hingga mereka pun rela berbaiat untuk mendukungnya. Indonesia sebagai basis umat islam terbesar sekaligus paling heterogen di dunia, tak ayal ikut menjadi pangsa pasar yang menggiurkan. Fenomena jihad ISIS kian menjadi gerakan global yang cukup berpengaruh secara signifikan di Indonesia, yang sebenarnya jika ditilik lebih mendalam, hanya berkutat pada mis-interpretasi dan brainwashing seputar peperangan dan kesyahidan.

Sentuhan emosional-spiritual itu nampaknya berhasil memprovokasi sekaligus menghipnotis sebagian masyarakat Indonesia untuk ikut bergabung bersama ISIS. Penggunaan teknologi modern seperti internet dan sosial media untuk mempropagandakan agendanya dan merekrut anggota baru menjadi salah satu sebab bagaimana fenomena jihad yang pada awalnya hanya bersifat lokal di Timur Tengah saja, kini dapat menjadi sebuah fenomena global, hingga ter-import ke negeri kita.

Pidato Abu Bakar al-Baghdadi selaku pendiri ISIS yang diunggah di YouTube dan dilihat oleh ribuan atau bahkan jutaan netizen adalah bentuk propaganda bahwa sistem kekhalifahan dapat berdiri di zaman negara bangsa ini. Tak ayal, ajakan ini bak membius sebagian umat Islam yang merindukan sistem kekhalifahan pasca-Kekhalifahan Turki Ustmani runtuh pada awal abad ke-20. Baiat Santoso selaku pencetus sekaligus pemimpin tertinggi (Amir) MIT kepada ISIS yang diunggah ke Youtube pada 30 Juni 2014 adalah salah satu bentuk strategi propaganda dan perekrutan anggota baru untuk bergabung dalam gerakan jihad ini di Indonesia.

Perlu Ketegasan Pemerintah
Propaganda busuk yang dilakukan oleh sekian underbow ISIS yang bahkan berhasil mengecoh banyak umat islam harus disikapi secara tegas dan tuntas. Terminologi jihad yang secara serampangan dan sepihak ditafsirkan oleh ISIS dan para pengikutnya jelas merupakan sebuah pendiskreditan martabat dan jati diri Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Hal-hal tersebut juga telah sangat gamblang mereduksi makna jihad yang sebenarnya amat luas dan kontekstual.

Pembajakan makna jihad dengan ajakan untuk memerangi pihak liyan di luar golongannya jelas merugikan kemuliaan Islam, dan bahkan dapat memunculkan kembali isu islamophobia di kalangan masyarakat dunia. Itulah mengapa perbuatan tercela kaum neo-Khawarij semacam ini perlu disikapi secara serius dan penuh perhitungan.

Sebagai kaum muslimin sekaligus representasi dari agama islam yang penuh moderasi, para cendekiawan muslim yang moderat dan progresif hendaknya dapat mengisi celah-celah kekosongan yang ada pada media-media global dan sosial media agar tak dikuasai oleh diskursus pemikiran yang fundamentalis dan menyesatkan. Para ‘alim setidaknya harus mulai memviralkan Islam yang damai, toleran, progresif, dan berkemajuan pada umat melalui teknologi modern dan media global.

Meskipun fenomena terorisme dan jihad ini oleh sebagian orang dianggap tidak terlalu penting, namun, jika dibiarkan begitu saja, tak menutup kemungkinan bahwa gerakan semacam ini dapat menjadi sebuah ancaman yang destruktif. Karenanya, pemerintah harus bersikap tegas terhadap gerakan-gerakan semacam ini. Langkah preventif tentu menjadi opsi yang patut dipertimbangkan alih-alih memilih tindakan yang represif-eksploitatif. 

Kita melihat bahwa fenomena propaganda peperangan yang dialihbahasakan menjadi jihad di era yang penuh kedamaian ini jelas tidaklah relevan. Tak hanya kelompok teroris yang patut diwaspadai, kita juga tak boleh lengah dengan organisasi-organisasi yang juga sering melakukan tindak kekerasan baik verbal maupun nonverbal terhadap kelompok selain mereka. Teranyar adalah munculnya fenomena ajakan jihad melalui penggantian lafadz adzan ‘hayya alash-sholah’ (marilah sholat) menjadi ‘hayya alal jihad’ (marilah jihad) sambil menenteng pelbagai senjata yang viral di sosial media beberapa waktu lalu hingga sempat membuat resah masyarakat. Kelompok ini juga perlu mendapat atensi khusus nan serius oleh pemerintah sebelum bermetamorfosis menjadi sebuah organisasi radikal ketika berjumpa dengan momentumnya seperti halnya di Irak dan Suriah.

Yang tak kalah penting, pemerintah seyogianya perlu melibatkan organisasi-organisasi yang memang selama ini telah membuktikan komitmennya pada negara seperti halnya Muhammadiyah dan NU untuk dapat bersama-sama melakukan langkah-langkah preventif-edukatif terhadap proliferasi gerakan radikal semacam MIT.

Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading