Selasa, 19 Januari 2021

Bencana sebagai Cermin Peradaban


Belum tuntas duka kita dan para keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan kepulauan seribu beberapa waktu lalu, kini Indonesia kembali diliputi nestapa setelah serentetan bencana menerpa negara yang kita cinta bersama. Menilik data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), sejak awal bulan hingga tanggal 16 Januari 2021, tercatat telah terjadi 136 bencana alam di Indonesia. Terdiri dari banjir sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 kejadian, gempa bumi 2 kejadian dan gelombang pasang 2 kejadian.

Ratusan bencana tersebut menyebabkan 80 korban jiwa, 858 orang luka-luka, dan sebanyak 405.584 orang terdampak dan harus diungsikan. Berbagai media cetak dan elektronik, bahkan hingga para pegiat media sosial berlomba-lomba mengumpulkan berita aktual, sebagian besar berfokus untuk memuat penuturan sekaligus argumen dari para ahli dan birokrat penanggulangan bencana terkait sebab musabab dari berbagai peristiwa bencana di awal tahun ini. 

Tanpa kita sadari, pola pemberitaan semacam ini senantiasa berulang dalam setiap kejadian bencana. Meski dari sudut pandang saintifik, hal ini mungkin menjadi sebuah daya tarik tersendiri, namun di sisi lain, kita juga perlu mempertimbangkan bahwa ketakutan generik masyarakat juga dapat timbul dari berbagai pemberitaan yang memuat penjelasan dari para ahli. Hal ini diakibatkan oleh penjelasan-penjelasan yang sering menyebutkan baik secara tersirat ataupun tersurat bahwa wilayah Indonesia adalah wilayah yang memiliki kerentanan akan bencana yang tinggi. Sudut pandang geografis dan geologis Indonesia adalah dua hal pokok yang sering dijadikan argumentasi. Namun, sadarkah kita, bahwa dengan posisi geografis dan geologis tersebut, bencana, khususnya yang selama ini disebut sebagai bencana alam, adalah sebuah keniscayaan di wilayah Indonesia?

Arogansi dan Individualisme
Sejatinya, perilaku alam senantiasa bersifat netral, sedangkan anggapan baik dan buruknya adalah hal lain yang muncul karena paradigma manusia yang cenderung arogan dan individualis. Alam dengan segala dinamikanya telah ditakdirkan bersifat pasif oleh Tuhan, sehingga apa yang ditampakkan hanyalah merupakan sebuah respon yang wajar, apa adanya. Alam dapat diibaratkan menjadi sebuah cermin, yang hanya bisa memantulkan apa yang ada di hadapannya. Hukum tabur tuai menjadi sebuah keniscayaan.

Tanah longsor, banjir, gempa bumi, erupsi gunung berapi, dan berbagai macam bencana alam lainnya sejatinya telah ada sejak terciptanya bumi ini, jauh sebelum kehadiran umat manusia. Maka dari itu, ada atau tidaknya manusia, bumi pun tetap akan berperilaku sesuai dengan kodratnya. Tanahnya tetap akan melongsori lereng-lereng terjal, hujan-hujannya yang deras akan setia mengguyur wilayah-wilayah tropisnya, gempa tetap akan terjadi di berbagai sudut bumi, bahkan gunung-gunungnya pun tetap akan bererupsi. Karena memang begitulah dinamika natural dari bumi ini, yang justru membuktikan bahwa bumi ini sedang dan masih hidup.

Sebagai gambaran faktual sekaligus aktual, bahwa erupsi Gunung Semeru pada 1 Desember 2020, yang diikuti oleh guguran awan panas dari puncak mahameru, bukanlah yang pertama kali terjadi. Hasil penelitian terkini membeberkan fakta bahwa erupsi serupa cukup sering terjadi, bahkan erupsi pertama dari atap pulau jawa ini, tercatat terjadi sekitar 200 tahun lalu. Tepatnya pada 8 November 1818.

Seandainya pencatatan dan penelitian geologi dilakukan untuk rentang waktu yang lebih panjang, maka tak menutup kemungkinan bagi kita untuk memperoleh bukti bahwa erupsi serupa juga pernah terjadi dalam rentang waktu ribuan, ratusan ribu, atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Yang perlu kita cermati sekaligus renungi dalam setiap kejadian bencana ini ialah, bahwa efek primer dari sebuah bencana, sebut saja erupsi gunung berapi, bahkan dengan guguran lava pijar yang besar sekali pun, tidak akan secara langsung mengakibatkan kematian. Yang justru menyebabkan kematian adalah robohnya bangunan, longsornya tanah, kebakaran, atau hal-hal lain yang merupakan efek sekunder dari erupsi tersebut. Jadi, kalau kita mampu membuat bangunan dan rumah yang tahan gempa, niscaya kita tidak akan menjadi korban gempa akibat tertimpa rumah atau bangunan kita sendiri. Kalau kita tidak tinggal di dataran pantai yang rawan tsunami, niscaya kita pun tak akan jadi korban tsunami. Kalau kita tak membangun rumah di lereng terjal, niscaya kita tak akan menjadi korban tanah longsor. Kalau kita tidak menebangi hutan secara membabi buta, tidak tinggal di bantaran sungai, dan tidak membuang sampah sembarangan, niscaya kita juga tidak akan mengalami musibah banjir. Begitu pun dalam kehidupan bersosial, jika kita senantiasa berlaku baik terhadap sesama tanpa memandang latar belakang apapun, niscaya kesenjangan sosial bisa diminimalisasi.

Di sisi lain, kita juga mesti sadar, bahwa mekanisme alami yang terjadi dan seringkali dipersepsikan sebagai sebuah bencana inilah yang memunculkan daratan Indonesia dari dasar samudera sejak jutaan tahun lalu, kemudian pada akhirnya terbentuklah gugusan pulau, bukit, dan gunung dengan segala keeksotisannya. Dari mekanisme ‘bencana’ itu pula, kemudian menghasilkan retakan-retakan yang menjadi ruang bagi minyak bumi, emas, perak, tembaga, dan beragam bahan tambang lainnya.

Erupsi gunung berapilah yang juga membuat tanah-tanah di Indonesia menjadi subur dan menyimpan cadangan air yang sangat melimpah di dalam tanah. Longsor dan banjirlah yang menghamparkan sedimen dan membentuk dataran yang subur dan nyaman untuk ditinggali manusia. Curah hujan kita yang amat tinggi juga membuat berbagai flora tumbuh subur, hingga dapat menjadi sumber penghidupan bagi makhluk yang lain, termasuk manusia. Kemudian, atas semua dinamika di atas, terlepas dari stigma kemanusiaan atas bencana yang terjadi, adilkah jika kita menyalahkan berbagai perilaku bumi sebagai penyebab terjadinya sebuah bencana?

Muhasabah Kemanusiaan
Kita sebagai insan yang senantiasa mendambakan kesejahteraan, tak pernah terlintas sedikit pun untuk menghendaki berbagai bencana, walau kita juga tak mungkin menafikan bahwa itu merupakan takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Namun demikian, hal ini mesti kita sikapi secara lebih arif dan bijak sebagai bentuk muhasabah demi terwujudnya keseimbangan alam yang baik untuk semua.

Segala bencana yang terjadi sejatinya tak pernah terlepas dari intervensi kita sebagai  pengelolanya. Hal ini pun sebagai pengingat bagi kita bahwa berarti masih terdapat banyak tingkah laku kita yang mesti diperbaiki. Selama perilaku kita masih belum menunjukkan keseriusan untuk merawat alam sekitar, pun kepada sesama manusia, niscaya bencana-bencana lainnya masih akan terus membayangi.

Sebagian dari kita, bahkan telah ‘mengkambinghitamkan’ Tuhan ketika bencana menimpa. Mereka berujar bahwa ini merupakan manifestasi dari kemurkaan Tuhan atas perilaku buruk kita. Namun yang seringkali kita lupa, bukankah kasih sayang-Nya jauh mendahului murka-Nya? alangkah lebih elok jika kita mempersepsikan bahwa Ia menjadikan bencana ini sebagai cermin atas perilaku kita. Ia melalui bencana ini hendak membangkitkan kesadaran kita untuk segera mengubah perilaku buruk kita menjadi lebih baik. Karenanya, cermin ini masih akan terus dihadapkan oleh-Nya sepanjang perilaku kita kepada diri kita sendiri, lingkungan, dan sesama manusia masih buruk. Dia sebagai Dzat yang Maha Indah tentu menginginkan kita sebagai khalifahNya untuk dapat hidup nyaman dengan berbagai potensi keindahan.

Jadi, untuk bagian bumi yang saat ini disebut sebagai wilayah Indonesia, berbagai potensi kebencanaan adalah sebuah keniscayaan. Karena, memang begitulah kodrat bumi sebagai tempat tinggal kita umat manusia ini telah ditetapkan. Seluruh fenomena alam tersebut adalah tanda bahwa bumi kita hidup. Tinggal bagaimana kita yang menghuninya ini dapat ‘memberikan’ penghidupan yang baik bagi bumi atau tidak. Karena, hidup pun tak berarti sehat.

Sebagai sebuah muhasabah, bahwa sesungguhnya bencana adalah jalan Tuhan untuk membangkitkan kesadaran kita. Adalah tangan lembut yang membuat seorang anak mampu merangkak dari semula hanya duduk, kemudian berdiri, berjalan tertatih dan kemudian mampu berlari. Inti dari sebuah bencana bukanlah melulu soal kerugian, kehilangan, kesakitan, kepedihan, atau pun penderitaan. Ia adalah sebuah cermin besar bagi umat manusia. Ia mestinya senantiasa membangkitkan kesadaran, bahwa ternyata wajah peradaban kita masih penuh noda dan bahkan mungkin tidak sedang baik-baik saja.

Rabu, 13 Januari 2021

Mengatasi Ikan Mas Koki Berenang Terbalik

Halo semuanya.

Tidak dipungkiri, masa-masa pandemi mengharuskan kita untuk biasa hidup di rumah saja dan tidak keluar apabila tidak ada kebutuhan. Oleh karenanya banyak sekali trend kegiatan bermunculan untuk mengisi waktu luang di rumah. Salah satunya adalah dengan memelihara hewan.

Yang baru-baru ini sangat marak di dunia pets adalah memelihara ikan. Baik ikan cupang, ikan komet, ikan mas koki, dan jenis ikan-ikan lainnya.

Secara spesifik artikel kali ini akan membahas mengenai salah satu permasalahan saat memelihara ikan mas koki, yaitu masalah ikan berenang terbalik. Masalah ini menjadi salah satu yang kerap terjadi saat memelihara ikan mas koki.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas

Penyakit dan Gejala

Ikan mas koki yang berenang terbalik dikarenakan ikan tersebut sedang mengalami gangguan gelembung renang. Ikan mas koki memiliki organ gelembung renang yang berfungsi untuk membantu mereka berenang di air. Gangguan gelembung renang dapat diakibatkan oleh infeksi, sembelit ataupun gangguan organ lainnya.

Biasanya ikan yang mengalami gangguan ini, akan menunjukkan gejala-gejala unik, yaitu mereka akan cenderung berenang dalam keadaan miring, bahkan terbalik. Selain itu, ikan akan terlihat kesulitan mengontrol tubuhnya. Ikan mas koki akan cenderung mengapung, dan kesulitan menyelam ke dasar akuarium. 

Gangguan ini dapat dibilang cukup sering terjadi pada ikan mas koki, khususnya ikan mas koki yang memiliki tubuh bulat. Dalam beberapa kasus, apabila gangguan gelembung renang diakibatkan oleh penyakit infeksi bakteri, hal ini dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Namun sebagian besar kasus, ikan yang berenang terbalik dapat diobati dengan berbagai cara.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas

Penyebab

Biasanya, gangguan ini diakibatkan oleh pola makan ikan yang kurang baik. Ikan mas koki memiliki nafsu makan yang sangat tinggi. Meskipun sudah diberi makan, mereka akan tetap makan jika diberi lagi. Kebiasaan ikan mas koki inilah yang dapat menjadi salah satu penyebab umum terjadinya gangguan gelembung renang. Apalagi jika makanan ikan mas koki hanya pelet saja dan tidak ada makanan lain yang mengandung serat untuk menyeimbangkan gizi ikan.

Pelet ikan mengandung udara di dalamnya, sehingga apabila ikan makan pelet terlalu banyak, maka perutnya akan dipenuhi dengan udara. Kurangnya gizi dalam pelet ikan juga menyebabkan ikan kekurangan serat. Kedua hal tersebut lah yang dapat mencetus penyakit sembelit pada ikan. Jika pencernaan ikan terganggu, gelembung renang di dalam tubuh ikan akan terdesak sehingga menyebabkan keseimbangan ikan terganggu dan menyebabkan ikan kesulitan mengendalikan diri saat berenang.

Dalam kasus yang ekstrim, gangguan gelembung renang dapat diakibatkan oleh infeksi bakteri, sehingga ikan membutuhkan pengobatan yang sesuai. Kamu dapat melihat gejalanya, apabila ikan mas koki tidak lagi bernafsu saat makan. Berbeda jika ikan masih sangat bernafsu saat makan, maka kemungkinan besar adalah ikan hanya mengalami gangguan gelembung renang akibat pola makan yang tidak sehat.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas

Cara Mengatasi

Bagi ikan yang mengalami gangguan gelembung renang karena pola makan yang tidak sehat, maka kamu perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  • Puasakan ikan

Untuk sementara waktu, jangan memberi ikan makan terlebih dahulu. Kamu dapat melakukannya dengan cara bertahap. Diawali dengan tidak memberinya makan selama sehari, kemudian dua hari, hingga tiga hari. Ikan mas koki dapat bertahan tanpa makanan hingga tiga hari. Namun jangan sampai memuasakan ikan hingga lebih dari tiga hari ya!

Biarkan ikan puasa selama satu hingga tiga hari, sehingga dapat memberikan ikan waktu yang cukup untuk mencerna makanan yang masih ada di dalam perutnya. Dengan melancarkan pencernaan ikan, akan mengurangi tekanan terhadap gelembung renang. Perhatikan, apabila ikan berangsur normal, maka memang benar penyebabnya adalah pola makan yang tidak baik.

  • Ganti makanan dengan makanan kaya serat

Makanan untuk ikan mas koki tidak hanya didapat dari pelet ikan saja. Ikan mas koki juga membutuhkan gizi yang cukup yang dapat diperoleh dari makanan sehat lainnya, seperti buah dan cacing. Pastikan bahwa makanan-makanan tersebut dapat dikonsumsi dengan baik oleh ikan mas koki.

  • Rendam pelet ikan

Untuk mengurangi kandungan udara pada pelet ikan, kamu dapat merendamnya terlebih dahulu agar udara di dalam pelet ikan dapat terlepas. Rendam pelet ikan dengan segelas air akuarium selama 10 - 15 menit atau tunggu hingga pelet cukup lembek. Setelahnya pelet tersebut dapat diberikan kepada ikan mas koki di akuarium.

Baca juga: Mengatasi kutu kura-kura pada ikan mas


Jika cara-cara tersebut tidak berhasil, maka kamu perlu mencurigai adanya infeksi. Ikan yang mengalami infeksi bakteri maka diperlukan pengobatan isolasi, atau dengan cara mengobatinya di tanki yang berbeda dengan ikan-ikan lainnya.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan akuarium, karena akuarium yang bersih akan menciptakan lingkungan yang sehat bagi ikan kita.

 


Selasa, 12 Januari 2021

Cara Memotong Kuku Iguana

Halo semuanya. Kali ini kami akan memberikan cara atau tutorial memotong kuku Iguana.

Kuku tergolong bagian tubuh iguana yang cepat tumbuh. Bentuknya yang panjang dan runcing cenderung akan melukai orang yang menggendongnya. Maka dari itu salah satu perawatannya adalah dengan memotong kukunya.


Luka akibat kuku iguana

Tentu saja tidak seperti memotong kuku manusia, saat memotong kuku iguana, kita harus memperhatikan beberapa hal agar iguana tidak jumpy dan tetap nyaman. Kali ini model iguananya adalah iggy dengan usia kurang lebih 10 bulan. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan saat memotong kuku iguana.

Baca juga: Fakta Seputar Iguana - Wajib Tau sebelum Memeliharanya


1. Gendong Iguana dengan Nyaman

Pegang atau gendong iguana, hindari memegang terlalu erat dan hindari menyentuh ekornya. Buat posisinya senyaman mungkin, sehingga kaki dan tangan iguana dapat terlihat dan terjangkau oleh pemotong kuku.



2. Lakukan dengan Berurutan

Kamu dapat memotong kuku diawali dengan bagian kaki belakang atau depan terlebih dahulu. Namun yang paling penting adalah lakukan secara berurutan mulai dari posisi kaki yang paling mudah dijangkau. Hal ini dilakukan untuk membuat iguana mengerti bahwa kukunya akan dipotong, tanpa harus menarik-narik kaki yang tidak dijangkau terlebih dahulu. Setelah iguana paham bahwa yang kamu lakukan tidak menyakitinya, maka dia tidak akan menolak ketika kaki lainnya digerakkan untuk mendapatkan posisi paling nyaman.

Baca juga: Fakta Seputar Iguana - Wajib Tau sebelum Memeliharanya



3. Potong bagian runcingnya saja

Saat memotong kuku iguana, kamu cukup potong bagian runcingnya saja. Jangan potong terlalu panjang karena akan melukai dan menyakiti iguana. Jika terlalu dalam, iguana akan sedikit kaget/terjingkat hingga berontak karena kesakitan. Lakukan perlahan-lahan agar iguana tidak merasa terganggu.

Untuk memperjelas tutorial atau cara memotong kuku iguana, saya sudah sediakan link video di bawah ini. Klik untuk menonton videonya. Semoga bermanfaat!

Baca juga: Fakta Seputar Iguana - Wajib Tau sebelum Memeliharanya





Featured Post

Hai. Kali ini berbeda dari artikel biasanya yang lebih sering menuliskan tentang pengetahuan umum. Karena saya akan menceritakan pengalaman ...

Continue reading