Selasa, 01 Desember 2020

Terorisme dan Jihad sebagai Diskursus Publik


Belakangan ini, fenomena terorisme kembali menyedot perhatian khalayak Indonesia. Meski atensi sebagian publik tetap tertuju pada kasus-kasus terkait pandemi serta ajakan jihad melalui perubahan lafadz adzan yang viral di sosial media, tampaknya, fenomena terorisme tetap menjadi diskursus utama di Republik ini.

Hal ini dipicu oleh serangkaian teror yang diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora cs. pada Jumat (27/11) sekitar pukul 10.00 Wita di sebuah Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tak hanya membunuh satu keluarga, Ali Kalora cs juga membakar sejumlah rumah dan mengambil barang-barang warga.

MIT sendiri merupakan salah satu kelompok militan di Indonesia. Kelompok ini menjadi otak dari banyak aksi teror di Sulawesi Tengah. MIT yang bermarkas di Poso juga sering disebut sebagai corong organisasi gerilyawan Islam Irak-Suriah (ISIS). Munculnya ISIS tak bisa dipisahkan dari runyamnya konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya kawasan Irak dan Suriah. Fenomena ini kemudian seiring waktu merambah dan mendapat banyak pengikut di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan negara kita bersama Filipina pernah mendapat julukan sebagai the forefront of al-Qaeda in the Southeast Asia

ISIS sebagai sebuah gerakan lebih tepat dikatakan sebagai neo-Khawarij yang menganggap pemahaman di luar mereka adalah salah. Kelompok Khawarij inilah yang pada zaman salaf menunjukkan sikap pembangkangan pada khalifah Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah (kw) dan pada akhirnya menginisiasi pembunuhan Sayyidina Ali kw dan bahkan para pemimpin Islam lainnya. Pada banyak hal, neo-Khawarij ini kemudian identik dengan kelompok al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden.

Fenomena Jihad dalam Tataran Global
ISIS bagi sebagian orang merupakan sebuah daya tarik, hingga mereka pun rela berbaiat untuk mendukungnya. Indonesia sebagai basis umat islam terbesar sekaligus paling heterogen di dunia, tak ayal ikut menjadi pangsa pasar yang menggiurkan. Fenomena jihad ISIS kian menjadi gerakan global yang cukup berpengaruh secara signifikan di Indonesia, yang sebenarnya jika ditilik lebih mendalam, hanya berkutat pada mis-interpretasi dan brainwashing seputar peperangan dan kesyahidan.

Sentuhan emosional-spiritual itu nampaknya berhasil memprovokasi sekaligus menghipnotis sebagian masyarakat Indonesia untuk ikut bergabung bersama ISIS. Penggunaan teknologi modern seperti internet dan sosial media untuk mempropagandakan agendanya dan merekrut anggota baru menjadi salah satu sebab bagaimana fenomena jihad yang pada awalnya hanya bersifat lokal di Timur Tengah saja, kini dapat menjadi sebuah fenomena global, hingga ter-import ke negeri kita.

Pidato Abu Bakar al-Baghdadi selaku pendiri ISIS yang diunggah di YouTube dan dilihat oleh ribuan atau bahkan jutaan netizen adalah bentuk propaganda bahwa sistem kekhalifahan dapat berdiri di zaman negara bangsa ini. Tak ayal, ajakan ini bak membius sebagian umat Islam yang merindukan sistem kekhalifahan pasca-Kekhalifahan Turki Ustmani runtuh pada awal abad ke-20. Baiat Santoso selaku pencetus sekaligus pemimpin tertinggi (Amir) MIT kepada ISIS yang diunggah ke Youtube pada 30 Juni 2014 adalah salah satu bentuk strategi propaganda dan perekrutan anggota baru untuk bergabung dalam gerakan jihad ini di Indonesia.

Perlu Ketegasan Pemerintah
Propaganda busuk yang dilakukan oleh sekian underbow ISIS yang bahkan berhasil mengecoh banyak umat islam harus disikapi secara tegas dan tuntas. Terminologi jihad yang secara serampangan dan sepihak ditafsirkan oleh ISIS dan para pengikutnya jelas merupakan sebuah pendiskreditan martabat dan jati diri Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. Hal-hal tersebut juga telah sangat gamblang mereduksi makna jihad yang sebenarnya amat luas dan kontekstual.

Pembajakan makna jihad dengan ajakan untuk memerangi pihak liyan di luar golongannya jelas merugikan kemuliaan Islam, dan bahkan dapat memunculkan kembali isu islamophobia di kalangan masyarakat dunia. Itulah mengapa perbuatan tercela kaum neo-Khawarij semacam ini perlu disikapi secara serius dan penuh perhitungan.

Sebagai kaum muslimin sekaligus representasi dari agama islam yang penuh moderasi, para cendekiawan muslim yang moderat dan progresif hendaknya dapat mengisi celah-celah kekosongan yang ada pada media-media global dan sosial media agar tak dikuasai oleh diskursus pemikiran yang fundamentalis dan menyesatkan. Para ‘alim setidaknya harus mulai memviralkan Islam yang damai, toleran, progresif, dan berkemajuan pada umat melalui teknologi modern dan media global.

Meskipun fenomena terorisme dan jihad ini oleh sebagian orang dianggap tidak terlalu penting, namun, jika dibiarkan begitu saja, tak menutup kemungkinan bahwa gerakan semacam ini dapat menjadi sebuah ancaman yang destruktif. Karenanya, pemerintah harus bersikap tegas terhadap gerakan-gerakan semacam ini. Langkah preventif tentu menjadi opsi yang patut dipertimbangkan alih-alih memilih tindakan yang represif-eksploitatif. 

Kita melihat bahwa fenomena propaganda peperangan yang dialihbahasakan menjadi jihad di era yang penuh kedamaian ini jelas tidaklah relevan. Tak hanya kelompok teroris yang patut diwaspadai, kita juga tak boleh lengah dengan organisasi-organisasi yang juga sering melakukan tindak kekerasan baik verbal maupun nonverbal terhadap kelompok selain mereka. Teranyar adalah munculnya fenomena ajakan jihad melalui penggantian lafadz adzan ‘hayya alash-sholah’ (marilah sholat) menjadi ‘hayya alal jihad’ (marilah jihad) sambil menenteng pelbagai senjata yang viral di sosial media beberapa waktu lalu hingga sempat membuat resah masyarakat. Kelompok ini juga perlu mendapat atensi khusus nan serius oleh pemerintah sebelum bermetamorfosis menjadi sebuah organisasi radikal ketika berjumpa dengan momentumnya seperti halnya di Irak dan Suriah.

Yang tak kalah penting, pemerintah seyogianya perlu melibatkan organisasi-organisasi yang memang selama ini telah membuktikan komitmennya pada negara seperti halnya Muhammadiyah dan NU untuk dapat bersama-sama melakukan langkah-langkah preventif-edukatif terhadap proliferasi gerakan radikal semacam MIT.

Senin, 30 November 2020

Metode Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Compotition (CIRC)


Dalam metode Cooperative Integrated Reading and Compotition
 (CIRC), tujuan pembelajaran difokuskan pendidik agar setiap individu dapat memahami suatu informasi melalui bacaan. Kelompok yang dibuat dalam metode ini bekerja untuk membantu satu sama lain, hingga setiap anggota dapat mempelajari, menganalisis, dan menulis atau mengungkap Kembali informasi dari suatu bacaan.

Baca juga: Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Dengan tujuan yang jelas demikian, maka terbentuklah Langkah-langkah yang harus terpenuhi saat mengaplikasikan metode CIRC, yaitu;

  1. membentuk kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 anggota;
  2. memberikan bahan bacaan sesuai dengan topik;
  3. meminta setiap anggota kelompok untuk saling membacakan dan mencatat ide-ide yang ditemukan dari bacaan tersebut;
  4. kelompok mendiskusikan ide-ide yang mereka temukan, kemudian dirangkai untuk dipresentasikan;
  5. pendidik mengevaluasi dan memberikan kesimpulan mengenai topik.

Menggunakan metode ini dapat melatih siswa untuk bekerja sama, saling menghargai pendapat, juga menyampaikan tanggapan secara bebas mengenai apa yang telah dipahami bersama kelompoknya. Namun, terdapat kekurangan dalam metode ini, karena kesempatan untuk mempresentasikan gagasan hanya dimiliki oleh satu anggota kelompok. Seringkali kesempatan seperti ini akan diberikan kepada anggota yang aktif dan pandai, sehingga anggota yang kurang aktif tidak akan terlihat menonjol. 

Baca juga: Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)

Kekurangan lain dari metode CIRC adalah adanya kemungkinan perbedaan persepsi dalam mengumpulkan dan mengolah gagasan, karena anggota kelompok memiliki latar belakang yang heterogen. Hal tersebut dapat membuat kelompok tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun bagaimanapun juga dalam pembelajaran kooperatif, tujuan utamanya adalah untuk melatih kemampuan sosial individu, sehingga hal semacam ini harusnya dapat memotivasi setiap anggota agar dapat mencapai kemampuan sosial yang baik.

Baca juga: Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Kamis, 26 November 2020

Metode Pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD)


Student Team Achievement Division (STAD) dikembangkan oleh Robert Slavin, dkk. STAD dapat disebut sebagai metode yang paling sederhana dalam model pembelajaran kooperatif. Metode ini dapat dijadikan permulaan saat seorang pendidik mulai memutuskan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)

Tahapan STAD

Dalam metode ini, pendidik dapat membagi kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-6 orang. Anggota kelompok harus heterogen berdasarkan tingkat kemampuan akademik yang didapatkan dari skor awal individu. Juga heterogen berdasarkan jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sifat. Dalam satu kelompok setidaknya ada individu yang pandai, rata-rata, dan kurang pandai, laki-laki dan perempuan, individu yang pendiam dan terbuka, individu dari suku A dan suku B, begitu seterusnya.

Pendidik kemudian memberikan atau menjelaskan materi kepada setiap kelompok sebagai pendahuluan agar individu dalam setiap kelompok memahami hal apa saja yang harus mereka pelajari. Pendidik juga memberikan pandangan atau contoh permasalahan kepada kelompok agar mereka dapat mengembangkan konsep dari materi tersebut. Pengembangan ini juga dapat dilakukan dengan memberikan soal-soal dan mempersilahkan individu secara acak untuk menjawab persoalan tersebut.

Kegiatan berkelompok dalam metode STAD dimulai ketika guru memberikan lembar kerja siswa yang berisikan materi dan permasalahan pada setiap kelompok. Kelompok yang bertugas secara kooperatif mendiskusikan penyelesaian berdasarkan materi yang telah mereka pahami.

Peran pendidik hanya sampai memberikan perintah serta memberikan bantuan dengan mengulang konsep dan menjawab apabila kelompok memiliki pertanyaan.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Setelah kegiatan pemberian materi oleh pendidik dan diskusi oleh masing-masing kelompok, pendidik memberikan tes secara individual. Anggota di dalam kelompok masing-masing diberikan pertanyaan dan tidak berhak mendapatkan bantuan dari anggota lainnya.

Pendidik memberikan nilai secara individual berdasarkan jawaban yang diberikan. Kemudian nilai individu diakumulasikan untuk disumbangkan sebagai nilai kelompok. Semakin tinggi nilai setiap individu, maka akan menambah kontribusinya dalam nilai kelompok. Berdasarkan pencapaian masing-masing anggota inilah, suatu kelompok mendapatkan penghargaan.

Pendidik dapat melakukan rotasi kelompok setelah satu periode penilaian dengan pertimbangan skor baru yang didapatkan masing-masing individu.

Baca juga : Model Pembelajaran dalam Pendekatan Konstruktivis

Keunggulan STAD

Dalam metode ini setiap individu dituntut untuk memberikan kontribusi kepada kelompoknya agar dapat mencapai tujuan bersama. Setiap individu akan merasa bertanggung jawab untuk memahami materi dan persoalan yang disajikan dalam kelompok, sekaligus juga bertanggung jawab atas temannya agar tidak memberikan kontribusi yang buruk dalam kelompok dengan memberikan motivasi dan membantu dalam menguasai materi.

Metode ini juga cukup mudah diterapkan pada setiap tingkat pendidikan. Seringkali diterapkan pada pelajaran-pelajaran ilmu pasti seperti sains dan matematika. Rentang periode penilaian yang memungkinkan untuk rotasi kelompok, menjadikan distribusi bantuan terhadap individu-individu yang memiliki pemahaman kurang menjadi lebih merata.

Baca juga : Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Belajar Kelompok)


Featured Post

Belakangan ini, fenomena terorisme kembali menyedot perhatian khalayak Indonesia. Meski atensi sebagian publik tetap tertuju pada kasus-kasu...

Continue reading